A Night with Ayah and Bunda
Kepulangan Arsena dari Depok disambut dengan bahagia oleh kedua orang tua nya, terutama bunda, raut wajahnya yang bahagia begitu jelas terlihat.
Arsena terkekeh pelan, meskipun kepergian ini sudah tidak terhitung yang keberapa kali, Ayah dan Bunda selalu menyambutnya seolah ini merupakan kepulangan dari dinas luar kota pertamanya.
Arsena tentu sangat memaklumi itu, Ia adalah seorang anak tunggal di keluarga Wijaya, mungkin itu juga yang menyebabkan Ayah dan Bunda sangat menyayangi dirinya.
“Kak, gimana? lancar kan?” tanya Bunda sambil berjalan merangkul Arsena. Diiringi Ayah yang membantu membawa oleh-oleh yang dibeli Arsena dari Depok.
Arsena tersenyum. “Lancar, Bun, seperti biasa, Alhamdulillah ga ada halangan,” jawabnya.
Mereka mendudukkan diri di kursi ruang keluarga. Ayah pun menghidupkan televisi dengan suara pelan agar suasana malam ini tidak terlalu sepi.
“Yah, Bun, Kakak ke kamar dulu, ya, mandi terus beres-beres bentar, Ayah sama Bunda jangan tidur dulu, Kakak masih ada yang mau diomongin malam ini.” ucap Arsena akhirnya, mengatakan hal yang membuatnya tidak bisa tidur nyenyak semalaman.
“Oke, Kak, Ayah sama Bunda tunggu disini.” jawab Ayah mengelus rambut Arsena.
Arsena mengangguk, Ia pun beranjak menuju kamarnya. Hati nya berdegup, Ia takut untuk mengatakannya pada Ayah dan Bunda namun hal tersebut harus dikatakan. Ia butuh nasihat dan pendapat orang tua nya meskipun Arsena yakin mereka mendukung apapun keputusannya.
~~~
“Bunda,” panggil Arsena.
Ia tampak fresh dengan piyama tidur dan rambutnya yang masih basah. Bunda segera menggerakkan badan, mengode Arsena untuk duduk disampingnya.
“Jadi mau ngomongin apa, Kak?” tanya Ayah kemudian sembari minum secangkir kopi.
Arsena menghela nafas, Ia meyakinkan dirinya untuk bicara.
“Alvano, Yah, Bun. Kakak kemarin sebenarnya ketemu sama dia di Depok, kita sempet ngobrol-ngobrol,”
“Bunda kok ga kaget ya, Kak.” potong Bunda, tersenyum geli kepada Arsena. “Bahkan, kalian pergi ke Depoknya aja barengan, kan?” lanjutnya.
Arsena sedikit melebarkan matanya.
“Jadi, Bunda tau?” serunya kemudian.
Bunda tertawa pelan, membuat Arsena mengernyitkan dahi.
“Bunda nebak aja, Kak. Jadi bener kalian pergi bareng? Kok bisa?” tanya Bunda.
Arsena mendengus. Lagi-lagi Ia terjebak oleh pertanyaan Bunda. Arsena pun langsung menceritakan semua kejadian yang dialaminya di Depok. Termasuk perkataan Alvano yang menyatakan bahwa Ia akan melanjutkan perkenalan mereka ke arah yang serius. Namun, Arsena melewatkan satu hal. Ia belum menceritakan kepada Bunda dan Ayah bahwa Alvano adalah mantan pacarnya. Pacar pertama Arsena.
“Bunda seneng denger kalian setuju mau lanjutin perkenalan ini.” tutur Bunda setelah mendengarkan cerita Arsena.
“Tante Ayana juga pasti seneng banget, dia suka sama kamu, Kak, padahal kalian baru ketemu sebentar malem itu, katanya Arsena aura baiknya menguar walaupun cuma diem aja,” lanjut Bunda terkekeh pelan.
Ayah mengangguk setuju. “Iya, Kak, Ayah juga seneng dengernya, Ayah tau Kakak juga pasti udah mikirin ini mateng-mateng kan? Apa yang buat Kakak yakin untuk nerusin sama Alvano? Bener cuma karena obrolan kalian di Depok itu?”
Arsena menundukkan kepalanya. Ia bingung harus menjawab bagaimana setelah mendengar perkataan sang Ayah.
“Yah, Bun, Kakak mau liat kalian di pernikahan, Kakak. Kakak tau tujuan Ayah dan Bunda itu pasti yang terbaik, kalian selama ini ga menuntut banyak, masa Kakak ga bisa nurutin permintaan kalian?” terang Arsena. Ia tersenyum hangat kepada kedua orang tua nya.
“Lagian Ayah sama Bunda percaya kan sama Alvano? Kakak juga percaya sama dia, Yah, Bun.”
Ucapan tersebut menerbitkan senyum di bibir Ayah dan Bunda. Arsena pun turut lega melihatnya, Ia senang bisa membuat orang tua nya tersenyum bahagia seperti malam ini.
“Kalo gitu, Bunda sama Ayah bakal kabarin orang tua nya Alvano besok ya, Kak? Biar nanti enaknya gimana kita diskusiin dulu, yang jelas ga akan lama-lama, iya kan, Yah?” celetuk Bunda. Ia sangat bersemangat.
Ayah dan Arsena hanya mengangguk mendengarnya. Menyetujui perkataan Bunda.
'Bahagia terus ya, Bunda, Ayah' batin Arsena. Ia tersenyum.
©nadswrites