apologies card
Arsena memandang jendela kamar hotel dengan gelisah, langit malam yang indah tidak sesuai dengan suasana hatinya kini, sedari tadi ia mencoba menghubungi Alvano, namun hanya berakhir dengan suara operator yang menandakan sang pemilik handphone tidak menerima panggilannya.
Waktu sudah menunjukkan pukul 22.00 dan sosok Alvano belum juga terlihat. Arsena yang sudah menyiapkan bunga dan bahkan berdandan cantik, hanya bisa terdiam dan menghembuskan nafasnya berat.
'Alvano, kamu dimana sih? Masa iya gugup gara gara kejadian tadi sampe begini?'
Tak lama kemudian, suara pintu kamar terbuka membuat Arsena dengan cepat membalikkan badan, ia menyembunyikan bunga yang telah disiapkannya dibalik tubuhnya. Sosok Alvano pun mendekat, lelaki itu tampak membawa bunga dan juga sekotak pizza.
Alvano meletakkan terlebih dahulu pizza tersebut di atas meja, sebelum akhirnya kembali mendekati Arsena dengan membawa bunga. Arsena menahan senyumnya, ia menunjukkan bunga yang sedari tadi disembunyikannya begitu lelaki itu berdiri dihadapannya.
Hal itu sontak membuat keduanya tertawa bersama.
“Ternyata kita sama-sama nyiapin bunga, ya,” ucap Arsena terkekeh pelan.
“Iya, Na. Yaudah, ayo tukeran bunga,” jawab Alvano, ia mengulurkan bunga yang dipegangnya.
Masih dengan tawa yang belum juga hilang, Arsena mengangguk setuju. Mereka pun saling memberi bunga yang sudah disiapkan.
Begitu bunga pemberian Alvano sampai di tangannya, Arsena terdiam. Atensinya teralihkan pada sebuah kartu ucapan yang bertengger manis di atas bunga itu.
'Im so sorry, Na. Maaf aku ga bisa kontrol,'
Alvano
Arsena tersenyum. Sejujurnya ia sama sekali tak keberatan. Toh, mereka sudah menikah. Namun, melihat Alvano begitu menghargainya hingga memberi bunga dan kartu ucapan ini membuat Arsena terharu. Entah kenapa, matanya mulai berkaca-kaca.
“Its okay, Al, aku juga minta maaf ya?” ucap Arsena kemudian. Ia mengibaskan tangannya di depan matanya. Menghalau air mata yang hendak turun.
Alvano terenyuh melihat pemandangan itu, ia tersenyum dan melangkahkan kaki lebih dekat ke arah gadisnya. Tangan Alvano terulur, mengelus pelan rambut Arsena.
“Kenapa malah nangis, sih?” tanya Alvano, ia menatap mata Arsena yang memerah.
Arsena hanya menggelengkan kepalanya, ia menahan tangannya yang sangat ingin memeluk lelaki di hadapannya.
Namun, beberapa detik kemudian, Arsena benar-benar mengulurkan tangannya, ia memeluk erat tubuh Alvano.
Alvano terdiam sesaat, ia merasakan jantungnya berdebar begitu cepat.
Perlahan, Alvano akhirnya mengangkat tangannya dan balik memeluk Arsena. Sesekali lelaki itu mengusap punggung gadis yang dipeluknya.
Arsena tersenyum lega. Ia semakin tak mau melepaskan pelukan mereka. Ia begitu menikmati dekapan hangat Alvano malam ini.
Langit malam indah yang terlihat di jendela melengkapi pemandangan hangat di kamar mereka.
©nadswrites