at apartment, together.
Arsena mengerjapkan kedua matanya. Bulu matanya bergerak dengan lembut lalu perlahan ia memandang ke atas. Gelap namun dinding-dinding langitnya berisi pantulan cahaya berbintang. Arsena seketika terbangun. Napasnya tak beraturan memikirkan dimana dia sekarang. Beberapa detik kemudian Arsena menyadari sesuatu, kepalanya sibuk merangkai kejadian sebelumnya sampai saat ini.
'Ohya, tadi abis belanja bareng Alvano, apa aku ketiduran di mobil? terus ini udah sampe di apart? Alvano gendong aku kesini?'
“Lo ketiduran.” suara berat itu membuat Arsena memalingkan pandangannya ke arah pintu. Tampak sosok Alvano masuk dengan kantong belanjaan di kedua tangannya. Cowok itu menaruhnya terlebih dahulu di dekat pintu, kemudian duduk di sofa yang ada di hadapan Arsena. Ia merapikan rambutnya sejenak.
“Gue tinggal bentar tadi buat ambil belanjaan.” jelas Alvano kemudian. Seakan paham dengan kebingungan yang tergambar jelas di wajah Arsena sebelum gadis itu bertanya.
Arsena mengangguk mengerti, Ia merasa bersalah karena ketiduran di mobil. Rangkaian acara di resepsi pernikahannya malam ini membuat seluruh badannya pegal.
“Maaf ya, Al. Aku ketiduran, makasih udah gendong kesini, pasti berat.” lirih Arsena. Ia menyentuh perlahan sebelah tangan Alvano. Cowok itu hanya berdeham singkat, sedikit menjauhkan badan dari Arsena, hingga sentuhan itu terlepas.
'Alvano ga nyaman, ya?' batin Arsena.
“Sana cuci muka,” ucap Alvano.
Arsena mengangguk, hendak berdiri, namun tiba-tiba tangan Alvano menahannya.
“Gue ke dapur dulu, baju lo di lemari,” ucap Alvano. Ia berlalu sembari membawa kantong belanjaan yang diletakannya di dekat pintu tadi, cowok itu tidak menunggu jawaban yang akan keluar dari bibir Arsena. Membuat Arsena kembali mengerjapkan matanya, Ia hanya memandang punggung Alvano yang kemudian menghilang di balik pintu.
'Ini di kamar nya Alvano?'
Seakan menyadari sesuatu, Arsena segera mencari dimana keberadaan handuk, dan langsung masuk ke dalam kamar mandi.
'Ga akan tidur sekamar sama Alvano, kan?'
~~~
“Alvano?” panggil Arsena begitu ia selesai membersihkan dirinya. Berkeliling sejenak di apartemen yang pernah dikunjunginya berapa tahun silam. Letak perabotannya sudah banyak berubah, tidak seperti yang terdapat di dalam ingatan Arsena.
Suasana di luar kamar tampak sepi, sosok Alvano belum juga terlihat.
Tak lama kemudian, suara gemericik air dari kamar mandi yang terdapat di dapur menjawab kebingungan Arsena yang tengah berkeliling. Ia mendudukan dirinya di kursi, menunggu Alvano.
15 menit berlalu, akhirnya Alvano membuka pintu kamar mandi tersebut. Cowok itu tidak memakai baju, hanya melilitkan handuk di pinggangnya. Membuat Arsena yang sedari tadi memperhatikan pintu itu sontak melebarkan mata. Ia merasakan pipinya memanas dan segera mengalihkan pandangan ke arah yang lain selain badan Alvano. Arsena tahu Alvano mempunyai badan yang bagus, tapi kenapa juga Alvano tidak menyelesaikannya terlebih dahulu sebelum membuka pintu?
Namun, Arsena teringat, tadi saat Ia mencari baju di lemari kamar yang ditidurinya, nampak baju-baju Alvano juga telah tersusun rapi di dalam lemari. Membuatnya menyadari bahwa Alvano tidak sempat mengambil baju ganti karena keberadaannya di kamar tersebut.
“Gue ganti baju dulu,” ucap Alvano.
Meninggalkan Arsena yang hanya menunduk sesaat setelah ia keluar dari kamar mandi. Gadis itu tampak salah tingkah dan sibuk sendiri dengan apa yang ada di dalam fikirannya, membuat Alvano menaikkan bibir, tersenyum tipis. Alvano kemudian tersadar dan langsung menggelengkan kepalanya. Ia segera berjalan menuju kamar. Kamar mereka berdua. Ya, Alvano tidak pernah sekalipun berfikir untuk pisah kamar dengan Arsena semenjak mereka resmi menikah malam ini.
©nadswrites