At Arsena's House
—flashback
Ayah menghela nafas berat. Matanya tampak lelah, namun tetap berusaha menampilkan senyuman di hadapan Bunda dan Sena.
“Kak, kakak kan udah 25 tahun, belum pernah Ayah lihat bawa pacar ke rumah?”
Ayah mengawali percakapan serius malam ini.
“Belum, Yah. Kakak belum sempat mikirin begituan,” lirih Sena. Ia meringis pelan.
Ayah dan Bunda hanya tersenyum pelan ke arah Sena.
“Kak, mau kan kalo dikenalin ke anak sahabat Bunda?”
Sena mengernyitkan dahi.
“Anak sahabat Bunda? Siapa, Bun?”
“Anaknya Tante Ayana, inget gak, Kak?”
Bunda menjelaskan sembari mengambil handphone di atas meja. Bunda pun menunjukkan sebuah foto.
“Ohh, Tante Ayana? Yang pernah ikut arisan di rumah kita kan, Bun?”
“Iya bener, Kak. Bagus deh kalo Kakak inget.”
Bunda tersenyum puas. Ayah pun terlihat menganggukkan kepalanya, senang dengan respon yang ditunjukkan Sena.
“Jadi, mau ya, Kak?” tanya Bunda lagi.
“Iya, Bun. Kakak mau.” jawab Sena kemudian. Ia tersenyum pelan.
'Mana tega nolak permintaan kalian, Yah, Bun' lanjutnya dalam hati.
Ayah merentangkan tangannya, hendak memeluk Sena.
Sena mendekat, Ia masuk ke dalam dekapan hangat sang ayah.
“Kakak tau kan, Ayah sama Bunda udah mulai menua, gabisa jagain dan nemenin Kakak terus.” bisik Ayah pelan ditelinga Sena.
“Walaupun Kakak udah sebesar ini, Ayah sama Bunda selalu khawatir sama Kakak, takut ada apa-apa sama Kakak.” Bunda melanjutkan sambil mendekat, ikut bergabung ke pelukan hangat ayah dan anak tersebut.
Tiba-tiba Sena merasakan matanya basah. Satu hingga dua tetes air mata perlahan membuat pandangannya mengabur. Sena semakin mengeratkan pelukannya, ia terisak. Entah kenapa suasana malam ini terasa begitu sedih. Sena ingin menghentikan waktu untuk sementara. Agar bisa sedikit lebih lama merasakan pelukan Ayah dan Bunda.
©nadswrites