At Baker Street.
Bangunan-bangunan tinggi khas georgian building menyambut pemandangan Alvano dan Arsena begitu mereka sampai di Baker Street.
Beberapa orang terlihat berbaris untuk memasuki rumah bertanda 221B itu, atau biasa disebut dengan Sherlock Holmes Museum. Pembelian tiket masuknya sendiri bisa dibeli melalui toko merchandise yang ada di samping museum.
Tanpa pikir panjang lagi, Alvano mengajak Arsena untuk masuk ke barisan terlebih dulu, sebelum akhirnya ia meninggalkan gadis itu sejenak untuk membeli tiket. Untungnya, ini masih pagi, antriannya belum begitu ramai.
Arsena tersenyum tipis sembari menunggu, ia berdiri dengan penuh semangat, binar bahagia senantiasa terlihat di matanya. Tak lupa, gadis itu juga mengeluarkan kamera yang sudah ia kalungkan sedari tadi, mengambil beberapa objek yang menurutnya indah.
Tidak ada larangan mengambil foto disini, para wisatawan bebas mengambil foto, bahkan beberapa orang terlihat merekam kegiatan mereka.
~~~
“Na, nih tiketnya,” ucap Alvano membuyarkan lamunan Arsena. Gadis itu mendongak dan menyambut uluran tangan Alvano yang memberinya sebuah tiket. Arsena memandang tiketnya sedikit lama, ia tersenyum senang.
“Makasih ya, Al.” jawab gadis itu kemudian. Meraih tangan kiri Alvano untuk ia gandeng.
Setelah menunggu sebentar, akhirnya giliran mereka memasuki museum pun tiba. Karena begitu bersemangat, Arsena melepaskan gandengan tangan mereka, gadis itu berdiri dan berjalan lebih cepat di depan Alvano, membuat lelaki di belakangnya itu hanya terkekeh sembari mengawasi sang istri.
“Alvano, sini!! Yampun, kamu tau nggaa? Ini ruang duduknya Sherlock Holmes, tempat dia ngobrol-ngobrol dan diskusi bareng dr. Watson...” panggil Arsena riang, gadis itu tak memperdulikan pengunjung lain yang juga memperhatikannya. Pandangannya hanya tertuju pada Alvano, bertekad keras memperkenalkan tempat impiannya yang satu ini kepada lelaki itu.
“Al!! Liat, ini cerutunya, bisa mirip banget gituu...”
“Alvano! Kamu mau nyentuh apa sih, itu jangan disentuh, bersejarah tau...”
“Alvano! Buku-bukunya banyak banget... bener-bener persis kaya yang ada di novelnya,”
“Al, nanti kita beli topi detektif kaya gini juga, ya?”
Masih banyak lagi perkataan-perkataan yang diucapkan Arsena selama mereka berada di museum. Alvano menanggapi setiap perkataan gadis itu dengan senyum antusiasnya, sesekali ia juga bertanya mengenai barang-barang replika yang berada di museum.
Tentu saja, Alvano tidak mau menyurutkan semangat Arsena dalam berkomentar dan menjelaskan dengan reaksinya yang biasa saja. Meskipun dalam hati, Alvano ingin tertawa melihat ekspresi yang ditunjukkan Arsena, gadis itu terlihat begitu serius sebelum sedetik setelahnya ia tersenyum semangat saat mengamati barang-barang antik tersebut. Tak lupa, Alvano juga kerap mengambil foto Arsena, lelaki itu tak mau melewatkan sedetikpun senyum yang ditunjukkan istrinya hari ini. Alvano akan selalu mengenang senyum itu. Juga, raut bahagia dan antusiasnya.
“Alvano!” panggil Arsena kemudian.
“Habis ini kita mampir ke toko merchandise-nya ya? Harus beli barang-barang disana, boleh kan, Al?” tanya gadis itu menunjukkan puppy eyes-nya di hadapan Alvano.
“Iya, Na. Anything you want, liburan ini khusus buat kamu.” jawab Alvano, tersenyum hangat sembari sebelah tangannya mengacak rambut Arsena gemas, belum sempat gadis itu mengeluarkan kata-kata protesnya, Alvano mengecup kilat pipi Arsena, membungkamnya.
“IHH! Alvanooo,” gerutu Arsena, melangkah mengejar Alvano yang lebih dulu keluar museum.
Begitu pandangan keduanya bertemu, baik Alvano maupun Arsena terkekeh pelan, saling tertawa sebelum kemudian memasuki toko merchandise. Membeli barang-barang yang diinginkan Arsena.
©nadswrites