at campus
Suasana di kampus pagi ini begitu cerah. Beberapa mahasiswa asyik duduk sembari mengobrol di koridor kampus, mereka tersenyum dan menyapa Arsena saat gadis itu lewat, membuat ia menyadari betapa ia merindukan suasana seperti ini.
Arsena menarik nafasnya pelan dan terus melangkahkan kaki menuju ruangannya.
“Dek!” panggilan seseorang membuat langkah Arsena terhenti. Terlihat sosok Bu Wanda melambaikan tangannya. Bu Wanda merupakan rekan kerja Arsena dan mereka berada di ruangan yang sama.
“Eh, Ibu! udah sampai aja?” jawab Arsena begitu mereka berjalan berdampingan.
“Iya, Ibu ada kelas jam 08.30 nanti,” Bu Wanda memberi tahu Arsena sembari melirik arloji di tangan kanannya.
“Ibu mau ngasih tau kamu kalau dosen baru itu bakalan seruangan sama kita juga, Dek.”
“Namanya Pak Dio,” lanjut Bu Wanda.
Arsena menaikkan alisnya. Jadi mereka akan ditempatkan di ruangan yang sama?
“Aah, iya Bu. Pak Dio udah di ruangan?” tanya Arsena.
“Tadi belum ada, gatau kalau sekarang,” jawab Bu Wanda.
Mereka berdua terdiam sejenak sebelum akhirnya sampai di ruangan. Terlihat meja dan kursi yang sepertinya baru ditempatkan di ruangan tersebut.
“Kamu sudah sarapan, Dek?” tanya Bu Wanda lagi. Ia tampak berdiri di dekat pintu, hendak keluar dari ruangan.
“Udah, Bu.” jawab Arsena tersenyum. Ia mengeluarkan laptop dari tasnya.
“Ibu sarapan dulu, ya.” pamit Bu Wanda kemudian.
Arsena mengangguk, ia mulai menghidupkan laptopnya dan membuka power point yang akan menjadi bahan ajarnya nanti di pukul 10. Gadis itu larut dalam pekerjaannya sebelum akhirnya mendengar ketukan pintu.
'Pasti ini si dosen baru ya? Pak Dio?' fikir Arsena. Ia pun beranjak dari duduknya dan membukakan pintu.
Terlihat sosok lelaki dengan kemeja dan tatanan rambutnya yang rapi.
Arsena tersenyum tipis dan mempersilakan sosok itu masuk, “Pak Dio, ya?” tanyanya kemudian.
Sosok lelaki yang ternyata benar Pak Dio itu menganggukkan kepalanya. Ia tersenyum dan mengulurkan tangan, mereka berkenalan sekilas sebelum akhirnya kembali duduk di kursi masing-masing.
Arsena kembali larut dalam pekerjaannya. Ia tidak menyadari sosok bernama Pak Dio itu beberapa kali melirik dan memperhatikan gerak-geriknya.
©nadswrites