at chemistry cafe
Arsena menghela nafasnya pelan, entah kenapa ia merasa gelisah karna pesan sang bunda. Namun, mencoba mengindahkan perasaan itu, Arsena terus memasuki cafe dan melangkahkan kaki dimana sang sahabat, Alody sudah duduk manis sembari melambaikan tangan.
“Ga baik tau Na, jalan sambil melamun gitu! sini cepet duduk!”
Alody menggerutu pelan, tangannya segera menarik kursi untuk Arsena.
“Ga fokus gue Dy, bunda ga biasanya nyuruh pulang cepet, ini aja gue ga bisa lama lama di cafe, udah ditungguin.”
Lagi, Arsena menghembuskan nafas berat. Entahlah. Ini terasa sederhana, namun Arsena memiliki skenario buruk yang sudah terpatri di otaknya.
“Udah udahh, nih gue pesenin choco latte buat lo, diminum, coklat itu efeknya nenangin, siapa tau perasaan gelisah lo berkurang,” saran Alody.
Arsena tersenyum, mengambil secangkir choco latte yang ada di meja.
“Lo ga mikir bakal dijodohin kan sama bunda lo?!”
Alody menambahkan, membuat Arsena tersedak saat itu juga. Matanya mendelik kepada Alody.
“Ihh maaf, gue bercandaa doang.” Alody meringis melihat tatapan Arsena.
Obrolan di cafe itu pun diakhiri dengan tawa pelan dari Arsena dan Alody. Mereka melupakan topik percakapan mereka sebelumnya dengan cepat.
© nadswrites