at doulex cafe
Arsena duduk termenung di bangku kafe. Menikmati semilir angin yang membelai rambutnya pelan. Arloji di tangan kanannya sudah menunjukkan pukul delapan lewat lima belas menit, namun sosok yang ditunggu belum juga terlihat.
...sekali ini ku mohon padamu ada yang ingin kusampaikan sempatkanlah...
Iringan musik dari lagu terkenal yang diputar seolah menyindirnya. Arsena menghembuskan nafas berat. Memutuskan untuk tetap menunggu sampai satu jam ke depan. Namun, apabila melewati batas yang ditentukannya, Ia akan meninggalkan kafe tersebut.
~~~
“Arsena.”
Panggilan seseorang sontak membuat Arsena mendongakkan kepalanya.
'Alvano? Sejak kapan dia dateng?'
Tanpa memperdulikan wajah kaget Arsena, Alvano segera duduk di bangku yang ada di depannya. Raut wajahnya yang datar membuat Arsena tidak bisa menebak apa yang ada di fikiran pria itu.
“Maaf terlambat, tadi gue ada kerjaan bentar.” ucap Alvano kemudian, meminta maaf, namun matanya memandang ke buku menu yang ada di tangannya.
“Gapapa kok, aku juga belum lama,” jawab Arsena.
Ia mengeluarkan senyum hangatnya mendengar ucapan maaf yang dilontarkan Alvano. Ia tau Alvano adalah seseorang yang disipilin, tidak mungkin membiarkan orang lain menunggu lama tanpa penjelasan.
“Alvano,” panggil Arsena kemudian. Ia berdeham.
Alvano pun mengalihkan pandangannya dari buku menu, menatap Arsena. Ia menaikkan sebelah alisnya seolah bertanya. Kenapa?
“Sampai kapan di Depok?” tanya Arsena. Ia merutuki mulutnya yang meluncurkan pertanyaan basa basi itu.
“Kenapa emang?” balas Alvano yang justru balik bertanya kepada Arsena. “Langsung aja, mau ngomong apa malem ini,” lanjutnya.
Arsena mendengus. Menyalahkan diri sendiri yang berani-beraninya mengajak Alvano bertemu, hingga harus berakhir dengan obrolan kaku seperti ini.
“Apa pendapat kamu tentang perkenalan yang direncanain orang tua kita?” tanya Arsena akhirnya. Mencoba mencari tau sebenarnya apa yang dirasakan Alvano saat perkenalan itu terjadi.
Alvano kembali menaikkan sebelah alisnya, menatap mata Arsena.
“Gue nurutin apa kata orang tua aja, bener kata mereka gue udah 25 tahun, udah pas banget kalo mau nikah,” jelas Alvano singkat.
Kemudian, Ia sedikit menundukkan kepala, “Gue gatau kalo itu lo, Na.” lirihnya, berharap Arsena tidak mendengarnya.
Namun telinga Arsena masih bisa mendengar bisikan lirih tersebut. Ia menaikkan bibirnya, tersenyum.
“Alvano.” ucapan Arsena kali ini terdengar jauh lebih serius dari yang sebelumnya, Ia terus menatap mata Alvano hingga sepasang mata itu juga menatapnya.
“Berapa hari ini aku ngerasain Ayah sama Bunda keliatan beda, mereka terus nasehatin aku buat jaga diri baik-baik, mereka selalu ngingetin aku kalo mereka udah tua, ga mungkin jagain aku terus.”
Arsena mulai menceritakan kegelisahannya kepada Alvano. Ia pun merasakan suara nya yang bergetar saat bercerita. Arsena sama sekali tidak ragu untuk bercerita karena Ia sudah begitu mengenal Alvano, seseorang yang selalu menjadi tempat berkeluh kesahnya, dulu.
“Aku bukannya berfikiran negatif atau gimana, tapi kayanya ngelihat aku nikah dan dijagain orang yang tepat itu mungkin bisa jadi permintaan mereka yang terakhir.”
Arsena melanjutkan, semakin lama suaranya terdengar semakin pelan. Membuat Alvano yang sedari tadi mendengarkan, mengernyitkan dahinya, Ia tidak menyetui perkataan Arsena tersebut.
“Orang tua lo pasti bangga banget sama lo, Na. Itu bukan permintaan terakhir mereka, mereka bakal selalu ada di samping lo sampe mereka dapet cucu.” ucap Alvano, mencoba menenangkan Arsena.
Kalimat itu meluncur begitu saja, yang Ia tahu, Ia tidak mau melihat Arsena mengeluarkan air matanya malam ini.
Arsena tertawa pelan mendengar kalimat yang terlontar dari bibir Alvano. Sedih yang dirasakannya menguap.
“Ada ada aja kamu, sekalinya ngomong, ngebahas cucu.” canda Arsena, namun Ia senang, setidaknya tidak ada emosi yang begitu diperlihatkan oleh Alvano kepadanya malam ini.
'mungkin moodnya lagi bagus abis makan lava cake buatan aku,' batin Arsena. Ia terkekeh sendiri.
Menciptakan raut bingung yang tergambar di wajah Alvano, namun sedetik setelah itu raut wajahnya berubah menjadi begitu serius.
“Arsena.” suara Alvano terdengar berat.
“Gue mutusin buat nerusin perkenalan yang direncanain orang tua kita ke arah yang serius.”
Arsena terdiam. Tubuhnya terasa membeku. Apa maksud Alvano? Ke arah yang serius? Bukannya dari kemarin Alvano secara tersirat menolaknya? Ataukah hanya karena firasat buruk yang diungkapkannya tadi membuat Alvano merubah pikirannya?
“Pulang bareng, gue tau lo naik taksi.” suara Alvano kembali terdengar di tengah lamunan Arsena. Ia tampak begitu santai, mengode Arsena untuk mengikutinya ke tempat parkir.
'Aku ga ngerti apa tujuan kamu, Alvano' batin Arsena sambil melangkahkan kaki pelan dibelakang Alvano.
Ucapan Alvano terus terngiang di otaknya. Membuatnya tidak mampu memikirkan hal yang lain.
©nadswrites