Between Two Family

Sesuai dengan apa yang direncanakan oleh Bunda di hari Senin kemarin, maka weekend ini pun diadakan pertemuan antara dua keluarga tersebut. Keluarga Arsena dan Alvano. Raut wajah yang terlihat malam ini tampak bahagia, tidak ada yang terlihat bersedih. Termasuk Arsena dan Alvano, keduanya diam namun menampilkan senyum tipis di wajah mereka.

“Ayana, ayo kita mulai, apa dulu yang mau dibahas, nih?” ucap Bunda memulai perbincangan malam ini.

“Gini, sebelumnya, Arsena, Tante seneng banget denger kalian mau nerusin ini ke arah yang serius, jujur aja Tante kaget banget waktu Alvano kemarin bilang setuju dan dia bilang terserah Tante aja mana yang terbaik, Alvano nurut dan Alvano ga ngerasa keberatan, gitu katanya kemarin, Na, padahal sebelumnya kaya yang mau nolak gitu, ihh, ternyata di prank.” Tante Ayana menjelaskan panjang lebar, Ia sedikit terkekeh. Matanya berbinar menatap Arsena.

“Ya, Tante langsung semangat dengernya, nah ga lama dari situ, Bunda kamu nelfon, bilang kalo Arsena juga setuju, kita rencanain pertemuan ini deh, lebih cepat, lebih baik, iya kan?” tanya Tante Ayana meminta persetujuan dari Ayah dan Om Saka. Ayahnya Alvano.

Arsena menaikkan bibirnya pelan, “Iya, Tante, Arsena juga ga keberatan, kok.” ucapnya. Ia memandang pelan ke arah Alvano yang juga ikut tertawa melihat sang Mama yang semangat menjelaskan. Aura bahagia para orang tua terasa menular ke dalam dirinya.

“Nah, karena semuanya sudah setuju, kita langsung mulai voting tanggal aja gimana? Arsena sama Adek eh Alvano, maunya kapan?” tanya Tante Ayana to the point mengarah kepada Arsena dan Alvano.

“Masalah gedung, catering, undangan, dan lain-lain itu gampang, biar nanti Tante sama Papanya Alvano yang ngurus, ya?” lanjut Tante Ayana melirik suaminya.

Om Arsaka atau ayahnya Alvano merupakan pemilik Hotel ternama di Bandung, cabangnya juga sudah tersebar di beberapa kota di Indonesia, oleh karena itu tentu urusan mengenai hal itu diserahkan kepada Tante Ayana dan Om Arsaka. Arsena pun baru mengetahuinya semalam setelah diceritakan oleh Bunda. Alvano semasa kuliah tidak pernah secara gamblang menceritakan tentang keluarganya yang kaya, meskipun itu sudah terlihat dari gaya hidup, dan pakaian sehari-harinya yang nampak mewah.

“Iya, nanti biar diskusi sama kita juga, ya, Ay.” jawab Bunda tersenyum.

“Alvano nurut aja sama maunya Arsena,” seru Alvano kemudian. Membuat Arsena mengernyitkan dahinya sembari menatap tidak setuju ke arah Alvano. Ia juga tidak pandai memilih tanggal dan waktu yang bagus.

“Arsena mau nya sebulan lagi, Tante, kira-kira bulan Desember nanti.” saran Arsena akhirnya setelah terdiam cukup lama. Para orang tua menganggukkan kepalanya, setuju dengan saran yang diberikan Arsena. Tante Ayana nampak sibuk mencatat obrolan penting malam itu di tablet yang dibawanya. Tidak mau ketinggalan satu pun poin penting malam ini.

“Ohya, Ma, Alvano mau ngajak Arsena keluar bentar.” pamit Alvano kepada Tante Ayana yang sontak mengejutkan mereka, Ia menghampiri Arsena yang duduk bersebrangan dengannya.

“Eh, iya, Dek. Ajak aja Arsenanya, nanti kalian taunya hasil jadi aja deh,” jawab Tante Ayana tertawa pelan. Tersenyum menggoda kepada Alvano dan Arsena.

Arsena yang sedang duduk pun hanya mengangguk, Ia beranjak dari kursi dan mengikuti Alvano dari belakang. Alvano yang merasakan Arsena berjalan di belakangnya segera menarik tangan Arsena agar berjalan di sampingnya.

“Jalan kok di belakang gue?” bisik Alvano yang terdengar berat di telinga Arsena. Arsena terdiam. Ia menenangkan jantungnya yang berdegup cepat.

'Alvano, kasih aba-aba dulu, coba, kasian jantung gue'

~~~

“Apa kabar, Na?”

Alvano menghela nafas, akhirnya pertanyaan itu terlontar juga dari mulutnya. Ia menahannya sudah lama sejak pertemuan pertama mereka malam itu. Pertemuan pertama setelah berapa tahun tidak bertemu.

Dari lubuk hatinya yang paling dalam, sejujurnya Alvano sangat merindukan Arsena, merindukan senyum dan segala tingkah laku gadis itu. Arsena berhasil membuat hidupnya begitu berwarna selama mereka bersama dulu, 5 tahun bukanlah waktu yang singkat.

Masalah besar dilanjutkan dengan pertengkaran yang kemudian terjadi di masa lalu membuat mereka harus mengakhiri hubungan. Dan hal itu masih membekas di hati Alvano. Itulah yang menyebabkannya mencoba mengeraskan hati.

Namun, pertemuan yang terjadi akhir-akhir ini membuat hatinya goyah. Ia tidak bisa menahan diri dengan hanya berdiam di hadapan Arsena. Hatinya masih memiliki degupan jantung yang sama untuk gadis itu. Tidak pernah berubah.

“Aku berusaha baik-baik aja, Alvano. Kamu gimana?” jawab Arsena mengeluarkan senyum hangatnya. Ia menggerakkan ayunan yang mereka duduki. Ayunan itu pun bergoyang perlahan.

Hati Alvano kembali berdesir melihat senyuman itu. Ia berdeham. Menghilangkan rasa gugup yang tiba-tiba menghampirinya.

“Gue baik,” balas Alvano singkat.

“Aku boleh nanya?” tanya Arsena. “Kenapa kamu jadinya mau nerusin perkenalan ini?” lanjutnya.

“Gue rasa alasan kita sama, Na.” Alvano menjawab sembari menatap dalam gadis yang ada di hadapannya.

Arsena terlihat salah tingkah, Ia mengangkat sebelah tangannya dan memegang lehernya, gugup.

'disamping karena ayah dan bunda, alesan gue mau, karna gue masih sayang sama, lo, Al, lo masih sayang sama gue?'

“Kenapa?” tanya Alvano kemudian melihat Arsena yang terdiam setelah mendengarkan jawabannya.

“Nggak papa, kok. Aku cuma lagi memproses malem ini.” jawab Arsena cepat, Ia mencoba menghilangkan kegugupannya. Tidak tahu bahwa Alvano pun sama gugupnya.

“Jangan khawatir soal tanggal, undangan dan segala macem, orang tua kita pasti mengusahakan yang terbaik.” jelas Alvano.

Arsena tersenyum mengangguk. Ia pun tahu benar akan hal itu. Orang tua nya dan orang tua Alvano pasti memberikan yang terbaik untuk mereka.

'Ini bener sebulan lagi kita nikah?' batin Arsena.

Ia kembali memandang Alvano. Mereka terdiam cukup lama sebelum memutuskan kembali masuk ke dalam restoran tempat dimana orang tua mereka berkumpul.

©nadswrites