Big Ben, London.
“Masih mau disini?”
Alvano bertanya pelan sembari mendekap erat tubuh gadis yang ada di sampingnya. 30 menit sudah terlewati, lampu-lampu yang begitu indah diiringi dengan lalu lintas yang lengang membuat Alvano dan Arsena begitu menikmati suasana di Big Ben malam ini.
“Belum, Al. Aku mau sampe loncengnya bunyi.” jawab Arsena, ia tersenyum senang membayangkan suara dentang jam nasional London itu yang tentu akan terdengar sangat jelas oleh mereka berdua.
“Pasti bakalan jelas banget, Na.” ucap Alvano kemudian seakan membaca pikiran istrinya.
“Iyaa, Al, pastinya! Eh, kita foto lagi dulu ajaa!” seru Arsena, ia segera mengarahkan kamera handphone nya, mengambil belasan sampai puluhan selfie dengan Alvano. Lelaki itu hanya bisa menganggukkan kepalanya, ia pasrah dengan sang istri yang memang hobi mengabadikan momen mereka berdua di dalam kamera.
~~~
Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 23.50, sebentar lagi, tepatnya pukul 00.00 lonceng Big Ben akan berdentang, Arsena tampak begitu antusias, ia tersenyum semangat sambil menikmati es krim yang ada di tangannya. Sesekali gadis itu memandang Alvano dalam diam, mengambil foto tanpa disadari sang suami.
“Na, lima menit lagi,” ucap Alvano kemudian, ia mengambil handphone nya dan merekam video Arsena. Lelaki itu tak mau kehilangan momen dimana lonceng Big Ben berdentang, juga ekspresi sang istri nanti.
“Iya, Al!! Aduh, aku deg-deg an,” jawab Arsena, gadis itu tak memalingkan pandangannya. Ia tidak sadar bahwa Alvano sedang merekam dirinya.
“AL!! LONCENGNYA!!” seru Arsena begitu dentang lonceng Big Ben terdengar, gadis itu terdiam sembari mendengarkan lonceng Big Ben yang berdentang hingga dua belas kali di pukul 12 malam ini.
Alvano pun turut terdiam, entah mengapa ia merasakan perasaan yang tengah dirasakan istrinya. Jauh di dalam hatinya, lelaki itu merasa begitu emosional dan terharu saat mendengar dentangan lonceng tersebut. Ia sangat mensyukuri keputusannya liburan di London bersama Arsena. Kebahagiaan dan memori indah yang mereka jalani saat ini, tak mampu digantikan dengan apapun.
“Yahh udah berhenti, Al...” lirih Arsena saat dentang lonceng tersebut berhenti, ia tampak sedih.
Alvano mengelus pelan kepala sang istri dengan sebelah tangannya, ia mematikan sejenak kamera handphone nya yang masih merekam sejak tadi.
“Nanti kita pasti bisa kesini dan dengerin lagi, Na, jangan sedih, ya?” ucap lelaki itu, memandang lekat mata istrinya.
“Janji, ya? Kita bakal kesini dan dengerin loncengnya lagi?” tanya Arsena, matanya balik menatap Alvano dengan penuh harapan.
Alvano mengangguk sembari tersenyum, ia mengecup bibir Arsena dan menepuk puncak kepalanya pelan, mencoba menghibur sang istri.
Arsena merasakan pipinya memerah, ia tersenyum lega, menghamburkan dirinya dalam dekapan hangat Alvano. Berterima kasih juga sangat bersyukur.
“Aku sama kamu, harus sehat dan bahagia terus kaya gini, ya, Al?” lirih Arsena kemudian, ia berbisik di telinga Alvano sebelum melepaskan pelukan mereka.
“Yes, of course, we will...” jawab Alvano, berharap dan mendoakan hal yang sama.
©nadswrites