Bubble

“Na?”

“Arsenaa? Aku udah pulang.”

“Sayang?”

Keheningan menyambut Alvano begitu lelaki itu sampai di kamar hotel. Ia pun dengan cepat menaruh barang bawaannya, hendak memeriksa tiap sudut kamar hotel tersebut.

Alvano memeriksa kamar mandi yang ternyata tidak terkunci, tidak ada tanda-tanda keberadaan Arsena disana. Lelaki itu menghembuskan nafasnya perlahan, meraih ponselnya di saku, menghubungi Arsena. Tidak tersambung, juga tidak kunjung terdengar suara apapun di kamar hotel tersebut, Alvano mulai merasa cemas. Ia lantas menghubungi layanan hotel sebelum akhirnya merasakan sepasang tangan menutup matanya.

“Aku udah siapin hadiah buat kamu,” bisikan lembut Arsena menyusul terdengar di telinganya membuat Alvano menghembuskan nafas lega. Kekhawatirannya menghilang, meskipun ia sedikit kesal. Apa yang tengah direncanakan Arsena?

“Hitung sampe tiga ya, Al...” ucap Arsena lagi.

Alvano menganggukkan kepala, menuruti perkataan gadisnya sembari mulai menghitung.

“Satu... Dua... Tiga...”

Arsena tersenyum, ia pun melepaskan tangannya yang sedari tadi menutup mata Alvano. Lelaki itu membalikkan badan, menatap sang istri sebelum akhirnya memalingkan pandangannya ke arah yang ditunjuk Arsena. Alvano baru menyadari bahwa terletak sebuah proyektor mini di atas kasur. Ia kemudian memandang dinding di hadapannya yang perlahan menampilkan sebuah video. Lelaki itu meraih tangan Arsena untuk ia genggam, lalu kembali menatap video yang tengah diputar. Menikmati setiap detiknya.

Alvano menyadari bahwa video yang tengah diputar merupakan kumpulan video selama mereka bersama. Percakapan-percakapan jaman dulu pun turut terbayang dalam benak Alvano.

Dimulai dari hukuman manis yaitu, duet pertama mereka saat SMA.

“Lo yang asyik dong mukanya, Al? Masa di panggung tapi datar banget sih? Ntar penontonnya tidur!”

Duet pertama yang berlanjut menjadi duet kedua dan seterusnya.

“Makasih ya, Al.”

Alvano yang terkenal dingin tersebut tetap mempertahankan raut datarnya. Ia menaikkan alis atas ucapan terima kasih Arsena.

“Makasih udah ngajakin aku duet lagi.”

Ucapan yang akhirnya membuat Alvano tersenyum tipis tanpa ia sadari.

Kenal berbulan-bulan hingga kemudian jalan bersama.

“Kamu suka marvel juga, kan? Kita nonton endgame ya? Aku gasabar bangettt!! Penasaran endingnya bakal gimana...”

Alvano selalu suka tingkah antusias serta ceria Arsena sedari dulu. Gadis itu memang pendiam, namun bisa berubah sedemikian terbuka apabila sudah dekat dengan seseorang. Termasuk Alvano. Lelaki yang memang sudah lama disukainya.

Video tersebut masih berputar, hingga sampai saat mereka kuliah bersama.

“Alll! Hari ini temenin aku nugas, ya?”

“Kita lagi nugas bareng nih... sama si cowok sok sibuk.”

Ucapan-ucapan yang kerapkali dilontarkan Arsena saat mereka kuliah. Alvano menahan senyumannya sambil terus menatap video tersebut, hingga cuplikan saat mereka lulus dan merayakannya bersama.

Tampilan video menjadi hitam selama beberapa menit, sebelum kemudian muncul rentetan kalimat yang nyaris tak terpikirkan di benak Alvano. Senyumnya melebar. Lelaki itu membacanya sembari menaikkan alis dan menatap Arsena.

'Perjalanan kita selama ini, Al. Our journey. Aku bersyukur dan ngerasa beruntung banget bisa kenal kamu, dari sma sampe kuliah, aku ga pernah nyesel sama keputusan buat terus sama kamu.'

'Our connection was so strong, even when we're together... or not. Aku bersyukur punya kesempatan buat bisa sama kamu lagi, Al. Selalu.'

Video kembali menjadi hitam sesaat. Dan, akhirnya muncul kalimat yang menjadi penutup video tersebut. Kali ini Arsena yang membacanya lembut sambil menatap Alvano.

“Kamu ga keberatan, kan, buat terus lanjutin perjalanan kita? Kali ini bertiga, Al. Bertiga.”

Alvano terdiam, lelaki itu menatap lama Arsena. Gadis itu seakan mengerti, ia mengeluarkan foto USG yang sedari tadi ia simpan, menyerahkannya kepada sang suami.

Alvano memandang foto USG yang ada di tangannya, ia perlahan menaikkan bibirnya, merangkai beberapa kejadian akhir-akhir ini di otaknya. Lelaki itu tertawa kecil, memeluk Arsena. Ternyata ini, penyebab keanehan Arsena, kenapa bisa ia tidak menyadarinya lebih cepat?

“Jadi, karna dia?”

“Selama ini kamu baik-baik aja, kan? Ga mual-mual atau apa?”

Arsena balas memeluk Alvano. Begitu erat.

“Engga, kok. Tapi itu normal, Al, gejalanya emang beda-beda,” kekeh Arsena.

Alvano melepaskan pelukan mereka, lelaki itu berjongkok hingga kepalanya sejajar dengan perut sang istri. Alvano mengelus lembut perut Arsena juga menciumnya.

We'll wait for you, little bubble...” ucap Alvano pelan.

Arsena tersenyum haru, ia merasakan matanya perlahan basah. Gadis itu mengelus kepala Alvano, membuat lelakinya itu mendongak.

“Makasih yaa, Na. Aku seneng, juga bersyukur. Banget.”

“Kita harus lewatin ini sama-sama terus, ya?”

Arsena menganggukkan kepalanya cepat, “Pasti.”

Alvano pun beranjak, kembali mendekap hangat sang istri. Setelah ini semua tak akan sama lagi, ada kehidupan lain yang mereka nantikan. Bersama.

———