Cerita Kita Hari Ini.

“Alvano! Fotoin aku disitu, yaa?” ucap Arsena riang sambil menyerahkan kameranya kepada sang suami.

Alvano mengangguk menuruti instruksi Arsena, ia tersenyum begitu memperhatikan pose yang ditunjukkan gadisnya itu.

“Kasih aba-aba dulu, itungg!” seru Arsena lagi, membuat Alvano terkekeh sejenak sebelum akhirnya menekan tombol di kamera.

'Ckrek'

'Selalu cantik,' batin Alvano.

Tanpa sadar, lelaki itu terus memberi aba-aba dan memotret belasan foto Arsena dengan berbagai pose lainnya.

___

“Eh, Al, sini gantian aku yang fotoin kamu.” pinta Arsena kemudian begitu mereka sampai di Grosvenor Square, sebuah taman dengan nuansa hijau yang begitu kentara. Grosvenor Square terletak tak jauh dari Baker Street, destinasi mereka sebelumnya.

“Kamu aja yang foto, Na. Sini,” elak Alvano, lelaki itu hendak mengambil kamera Arsena.

Arsena menggelengkan kepalanya, menolak dengan tegas.

“Enggak, Al. Kamu yang aku fotoin, cepet,” tekan Arsena.

Alvano masih diam, hingga akhirnya gadis berambut panjang yang merupakan istrinya tersebut lebih memilih mengarahkan kamera ke wajahnya tanpa persetujuan, tampak mulai merekam kegiatan mereka.

“Kalau gamau difoto aku rekam, ya. Gaada penolakan,” bisik Arsena di telinga Alvano.

“Hai guys! Yang kalian liat sekarang itu suami aku, namanya Alvano, dia orangnya emang pemalu— Nah! gitu dong senyum, haha, kenapa ga dari tadi?”

Arsena asyik melakukan monolog di kameranya sembari terus merekam Alvano. Gadis itu tampak puas melihat sang suami yang terkadang terlihat begitu pede, namun dalam sekejap juga bisa menjadi begitu pemalu.

'Gemes banget sih, suami siapa?' batin Arsena dengan senyum yang tak lepas dari wajahnya.

___

“Al, mau langsung balik ke hotel?” tanya Arsena saat mereka sudah menaiki mobil. Keduanya tampak lelah setelah cukup lama berkeliling di sekitar Baker Street. Untung saja, Alvano menyewa sopir, sehingga mereka berdua bisa duduk tenang di kursi belakang.

“Iya, Na. Kamu masih mau jalan, emangnya?” jawab Alvano balik bertanya. Lelaki itu mengelus pelan pipi Arsena. Namun, elusan itu seketika berubah menjadi sebuah cubitan halus, membuat Arsena mendelik kaget.

“Kok dicubit?!” protesnya.

Alvano tertawa pelan, ia mengecup pipi Arsena yang tadi dicubitnya sebelum menjawab, “Gemes, pipi kamu empuk.”

Arsena menggeleng-gelengkan kepalanya bingung. Ia menaikkan sebelah alisnya, “Aneh banget, ck.”

“Ohiyaa, tadi aku mau bilang aku mau beli eskrim dulu, All, sebelum ke hotel,” ucap gadis itu kemudian, kembali teringat dengan pembahasan mereka sebelumnya.

“Ya?” pinta Arsena lagi menunjukkan puppy eyes andalannya.

“Haha, iya, ayo beli eskrim dulu,” jawab Alvano, menepuk pelan paha Arsena.

Lelaki itu kemudian berkata kepada supir untuk berhenti sejenak di sebuah gerai eskrim ternama di London. Snowflake Gelato, tempat eskrim yang selalu memiliki varian rasa baru di tiap musimnya, hal itulah yang membuat Alvano yakin bahwa Arsena akan menyukainya.

“Yayy!! Makan eskrim!” ucap Arsena riang, tersenyum hangat menatap Alvano.

Sorot mata gadis itu seakan menyiratkan bahwa ia sangat berterima kasih, juga menegaskan bahwa ia baik-baik saja. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi.

Alvano balas tersenyum, ia merangkul Arsena agar kembali mendekat. Membisikkan sebuah kata-kata di telinga sang istri.

“One four three, wife...”

©nadswrites