dinner
Arsena tersenyum dalam diam. Ia masih memandangi bola pemberian Alvano di tangannya. Jantungnya berdegup kencang setelah membaca tulisan yang ada di bola tersebut, semburat merah pun muncul samar di pipinya. Ia begitu salah tingkah.
“Arsena?” panggilan itu sontak membuat Arsena mendongakkan kepalanya. Sosok Alvano terlihat dengan senyum tipisnya dan sebelah tangan yang masuk ke saku celana.
“E-eh Alvano?” balas Arsena, tak bisa menyembunyikan kegugupannya.
“Ayo bareng? Dinner?” ajak Alvano, lagi.
Arsena terdiam sejenak sebelum akhirnya menganggukkan kepalanya membuat Alvano tersenyum. Lelaki itu pun menggenggam lembut tangan Arsena.
Mereka berjalan beriringan sampai akhirnya masuk ke mobil. Perjalanan itu hening, namun alunan lagu yang diputar mencairkan suasana di antara mereka berdua.
~~~
“Ini dimana, Al?” tanya Arsena begitu Alvano menghentikan mobilnya di sebuah tempat yang terlihat seperti studio musik.
“Ayo turun.”
Alih-alih menjawab, Alvano justru mengajak Arsena untuk segera turun dari mobil. Gadis itu mengernyitkan dahinya, namun ia tetap diam dan mengikuti perkataan Alvano.
Setelah sampai tepat di depan studio tersebut, Alvano mengeluarkan kunci dari sakunya dan membuka pintu. Alvano masuk terlebih dulu yang kemudian diikuti oleh Arsena.
Arsena terpesona begitu ia melihat suasana di dalam studio, terdapat berbagai macam alat musik dan beberapa foto Alvano yang terpajang di dinding.
Namun, lelaki itu terus melangkah dan menaiki tangga yang terdapat di ujung ruangan, membuat Arsena tersadar dan segera melangkah mengikuti Alvano.
5 menit kemudian, tangga tersebut mengantarkan mereka ke sebuah rooftop dengan pemandangan malam yang begitu indah. Membuat Arsena terdiam dan membeku cukup lama.
'Alvano ngajakin dinner aja, kan?' batin Arsena.
Meskipun pemandangan yang tersedia di atas rooftop ini menggambarkan jelas bahwa ajakan malam ini bukan hanya sekadar dinner biasa. Rooftop yang sudah dihias dengan lampu-lampu yang indah, ditambah cahaya lilin yang bersinar dari atas meja yang sudah disiapkan, dengan dua kursi di sisi depan dan belakangnya.
Arsena masih diam sampai akhirnya sebuah alunan musik membuyarkan lamunannya. Seketika ia menyadari bahwa Alvano sudah menghilang dari pandangan, gadis itu segera memalingkan pandangannya ke belakang. Terlihatlah sosok Alvano tengah memetik gitar yang kemudian diikuti lantunan indah suaranya.
“So I won't hesitate no more, no more, it cannot wait, I'm sure... There's no need to complicate, our time is short... This is our fate, I'm yours...”
Lantunan lagu I'm Yours milik Jason Mraz yang dinyanyikan Alvano malam ini membuat Arsena seakan terhipnotis dan tak mengedipkan matanya selama lelaki itu bernyanyi. Sedetikpun, Arsena tidak pernah membayangkan hal ini akan terjadi. Lelaki yang sudah disukainya sejak lama kini bernyanyi untuknya, ditemani pemandangan malam yang begitu indah.
“Arsena?” lirih Alvano pelan sesaat setelah selesai menyanyikan lagunya. Lelaki itu gugup, melangkah mendekati Arsena dan menatap dalam mata gadis yang ada di hadapannya.
“I fell for you..”
“Are you fall for me too?”
Perkataan Alvano tersebut terdengar begitu jelas di telinga Arsena. Membuat jantung gadis berambut panjang itu kembali berdegup begitu kencang, ia ingin segera menjawab namun dirinya terlalu gugup untuk mengeluarkan suaranya.
Akhirnya, Arsena kembali memilih untuk menganggukkan kepalanya, ia tersenyum lembut menatap Alvano yang tengah berdiri di depannya, menunggu jawaban.
Anggukan Arsena tersebut begitu melegakan hati Alvano. Rasa gugup yang dirasakannya sedari tadi perlahan mulai mereda. Lelaki itu menggenggam kedua tangan Arsena.
“Let's make it official, Na.” ucapnya kemudian, mengecup pelan dahi Arsena.
Kecupan yang menyebabkan efek kupu-kupu di perut keduanya.
Mereka melanjutkan sisa malam itu dengan penuh tawa, menikmati makan malam yang sudah disiapkan sebelumnya.
©nadswrites