E P I L O G

Past, Present, Future.

Arsena kira perpisahannya dengan Alvano beberapa tahun silam menandakan berakhirnya hubungan mereka. Ternyata, perpisahan tersebut hanyalah bagian dari proses perjalanan keduanya. Arsena menyadari, terkadang dalam suatu hubungan, perpisahan merupakan proses agar bisa saling kembali menemukan.

Keputusan untuk menuruti perintah ayah bundanya beberapa tahun lalu merupakan satu dari banyak hal yang ia syukuri. Arsena tentu sangat mengingat kejadian tersebut dalam hatinya, momen dimana dirinya kembali bertemu Alvano. Momen mereka saling menemukan juga awal dari perjalanan baru keduanya.

Bahkan kini, kehadiran bayi perempuan kecil bernama Ara melengkapi kebahagiaan keluarganya. Arsena tidak pernah menyangka, baik dirinya maupun Alvano sudah melangkah sejauh ini. Tentu saja Arsena sangat bersyukur setiap harinya, kehadiran Ara bagaikan hadiah terbesar yang telah diberikan Tuhan.

“Mamamama, pa, na?”

(Mama, Papa dimana?)

Suara kecil sang buah hati membuyarkan lamunan Arsena, ia pun tersenyum dan mengalihkan perhatian sepenuhnya kepada Ara.

“Papa masih kerja, Sayang. Bentar lagi Papa pulang? Adek udah kangen papa, ya?” jawab Arsena lembut, gadis itu kemudian meraih Ara ke dalam rengkuhannya. Menggendong sang anak yang kini sudah berusia 11 bulan.

Ara mengerjapkan matanya, gadis kecil itu menganggukkan kepala dan tersenyum. Seolah mengerti dengan jawaban yang dilontarkan mamanya. Senyuman yang disambut kekehan Arsena. Ia sangat menyayangi gadis kecilnya itu.

“Papa pulang!” seruan Alvano dari arah pintu membuat Arsena tidak kunjung melunturkan senyuman. Ia pun melangkahkan kaki menuju pintu, mendekati Alvano. Sebelumnya, Arsena sudah menaruh Ara di stroller terlebih dulu.

“Hai papa,” ucap Arsena sembari mendorong stroller, tatapan mereka bertemu. Terlihat, Ara melambai-lambaikan tangannya begitu melihat kehadiran sang papa. Tampak lebih bahagia dari sebelumnya.

“Papapapap...” gumaman Ara membuat Alvano dan Arsena tertawa.

Alvano hendak meraih Ara ke dalam gendongannya sebelum sang istri dengan cepat melarang lelaki itu.

“Kamu cuci tangan dulu sana, bersih-bersih, baru abisnya boleh main sama Ara.” ucap Arsena tegas. Membuat Alvano menarik kembali tangannya dan mengangguk pasrah, menuruti perintah istrinya itu.

Arsena pun mengambil tas dan barang yang dibawa Alvano. Menepuk pelan punggung lelakinya. Alvano tersenyum, ia mencuri ciuman sekilas di pipi sang istri sebelum akhirnya masuk ke kamar mandi. Tentunya dengan delikan tajam dari Arsena.

A'! Kamu mah!”

— — —

“Adek hari ini ngapain aja?”

Alvano bertanya sembari menciumi pipi gembul Ara. Lelaki itu sudah mandi, dan kini mereka tengah bergulingan di atas kasur. Alvano mendudukkan Ara di atas perutnya.

“Mamamam...” jawab Ara, gadis kecil itu memasukkan jarinya ke dalam mulut.

“Main sama Mama, ya?”

“Eh, Adek, jarinya jangan dimasukkin ke mulut, banyak kumannya.” lanjut Alvano, ia kemudian meletakkan Ara di sampingnya. Mengeluarkan jari yang sedari tadi diemut sang anak.

Lelaki itu tersenyum memandangi Ara. Bayi kecilnya itu merupakan duplikat dirinya sewaktu masih bayi, kalau kata Arsena ia hanyalah tempat mengandung Ara saja, karna nyaris tidak ada yang menurun dari Arsena kecuali rambut coklatnya.

“Ngapain kamu senyum-senyum?” suara Arsena mengagetkan keduanya. Alvano tertawa pelan.

“Tuh Dek, liat, Mama kamu cantik banget, ya?”

Alih-alih menjawab lelaki itu justru bertanya kepada Ara, menggoda Arsena. Pertanyaan yang tidak mendapat jawaban apapun dari Ara, gadis kecil itu sepertinya sudah mengantuk, beberapa kali ia memejamkan matanya.

“Anak kamu udah ngantuk tuh, Pa.” ucap Arsena, ia mengelus pelan punggung Ara, menina-bobokan sang buah hati. Membuat Ara nampak semakin nyaman, matanya memejam sempurna. Gadis kecil itu benar-benar sudah mengantuk rupanya.

“Anak kita, Ma.” ralat Alvano kemudian, yang hanya dijawab dengan kekehan dan gelengan kepala Arsena.

“Dia anteng banget ya kalau udah tidur gitu.” komentar Alvano. Melihat Ara yang kini sudah sangat tenang, hanya perutnya yang nampak naik turun menandakan pernapasan bayi kecil itu.

“Iya, Pa. Ara kalau udah tidur anteng banget, beda cerita kalau dia udah nangis tengah malem.” jawab Arsena, sedikit mengeluh namun juga menyukai gangguan kecil di malam hari itu. Ya, di usia Ara yang masih 11 bulan, tentu saja bayi kecil itu sedang aktif-aktifnya, ia sangat suka membangunkan kedua orangtuanya di malam hari.

Alvano tertawa, lelaki itu meraih Arsena ke dalam pelukannya. Mencium dahi juga pipi sang istri.

Alvano sangat bersyukur memilih Arsena sebagai pasangan hidupnya, ia tidak bisa membayangkan hidup tanpa gadis itu. Keputusan menikahi Arsena merupakan keputusan terbaik yang pernah ia buat. Bahkan kini setelah kehadiran Ara, Arsena yang sudah menjadi ibu tersebut tidak pernah berhenti membuatnya jatuh cinta. Sifat keibuan yang melekat di diri Arsena sudah terlihat sejak hari pertama Ara dilahirkan, istrinya itu tidak pernah sedetikpun meninggalkan anak mereka, ia juga selalu makan makanan yang sehat dan bergizi guna memberikan asi yang sempurna untuk Ara.

Tidak terasa sudah 11 bulan berlalu semenjak hari Ara dilahirkan, sebentar lagi bayi kecil mereka itu berusia genap satu tahun.

“Ara bentar lagi satu tahun, Ma.” ucap Alvano, melonggarkan pelukan mereka.

“Iya, ga terasa ya,” jawab Arsena, menaikkan bibirnya.

“Kita bikin birthday party buat Ara, gimana?” tanya lelaki itu kemudian, menatap Arsena.

“Boleh, aku mau bangett. Ara pasti bakalan seneng nanti ngeliat keluarganya pada ngumpul, kakek nenek sama auntynya juga.” jawab Arsena, menyetujui saran dari Alvano tersebut.

Alvano mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia meraih tangan Arsena yang sedari tadi ia genggam, menciumnya.

“Rasanya ga pernah cukup aku bilang makasih sama kamu, Na. Makasih yaa, udah jadi Mama dan istri terbaik...”

Ucapan Alvano itu membuat Arsena menyunggingkan senyumnya hangat. Ia menatap mata Alvano dalam dan lama.

“Makasih udah jadi Papa dan suami terbaik...” jawab Arsena.

Mereka bertatapan lama dan tersenyum satu sama lain. Tatapan yang menjelaskan banyak makna yang tidak bisa di deskripsikan oleh kata-kata. Mereka berdua tau, bahwa selama mereka bersama, apapun yang terjadi kedepannya tentu mampu mereka hadapi. Halangan dan rintangan apapun nampak tidak mustahil untuk ditaklukan selagi mereka bersama.

“Arsena, kamu kejebak sama aku.” tutur Alvano, lelaki itu merubah tatapannya menjadi begitu serius.

Arsena menggelengkan kepalanya cepat, “Enggak, Al. Kamu yang kejebak sama aku.” tandas gadis itu. Membuat keduanya tertawa, mereka kemudian memandang Ara yang masih terlelap. Buah hati mereka. Hal yang paling indah di kehidupan keduanya.

— — —