<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/">
  <channel>
    <title>nadswrites</title>
    <link>https://nadswrites.writeas.com/</link>
    <description></description>
    <pubDate>Sat, 04 Apr 2026 08:11:53 +0000</pubDate>
    <item>
      <title>You First. </title>
      <link>https://nadswrites.writeas.com/you-first?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[Arsena tersenyum lega begitu melihat akhirnya sang buah hati tertidur nyaman. Sekitar 15 menit gadis kecil yang bernama Ara tersebut rewel menunggu sang ayah, namun, dikarenakan ayahnya yang tak kunjung pulang, ia pun lelah dan tertidur dalam gendongan Arsena. &#xA;&#xA;Arsena segera menuju kamar dan meletakkan Ara di tempat tidurnya, ia juga menyelimuti sang anak dan mematikan lampu. Setelah memastikan suasana aman dan nyaman, Arsena meninggalkan kamar dan menuju ruang tengah. Ia melirik jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 8 malam, perempuan itu sedikit khawatir memikirkan suaminya yang belum juga pulang. &#xA;&#xA;Namun, ternyata pemikiran itu tak bertahan lama, suara mesin mobil terdengar memasuki rumah, dapat dipastikan itu merupakan Alvano, seseorang yang sudah ditunggunya. Sebelum membukakan pintu rumah, Arsena berjalan pelan menuju dapur, ia memastikan semua masakan sudah dihangatkan dan siap disantap oleh sang suami nantinya. Arsena tersenyum puas melihat masakannya, ia pun beralih menuju pintu hendak menyambut Alvano. &#xA;&#xA;&#34;Adek dimana? Udah tidur?&#34; Tanya Alvano saat melihat hanya Arsena yang menyambutnya. &#xA;&#xA;&#34;Iya, udah tidur, Pa. Kamu bersih-bersih dulu, abisnya makan, ya?&#34; Jawab Arsena, ia mengambil alih tas dan jas yang dibawa Alvano. Lelaki itu menurut, ia mencuri ciuman sekilas di dahi sang istri. &#xA;&#xA;Arsena tersenyum sebelum kemudian berlalu dan masuk ke kamar. &#xA;&#xA;— — — &#xA;&#xA;Arsena menarik napasnya perlahan, perempuan itu kini berdiri di hadapan cermin, tangannya memegang lipstick merah yang tadi dipakainya di kantor. Tentu saja ia masih mengingat percakapannya dengan Alvano via chat tadi siang. &#xA;&#xA;Arsena sangat mengerti maksud dari suaminya itu, oleh karenanya, akhirnya ia pun memoles bibirnya dengan lipstick yang sedari tadi ia pegang. Perempuan itu tersenyum puas begitu melihat pantulan wajahnya di cermin. &#xA;&#xA;&#34;Na?&#34; Panggilan itu membuyarkan lamunan Arsena. Ia membalikkan badan dan melihat Alvano yang kini tampak fresh sehabis mandi. Lelaki itu sudah memakai pakaian tidurnya. &#xA;&#xA;Langkahnya pasti mendekati Arsena. Terlihat senyuman miring yang membuat Arsena menahan napas. &#xA;&#xA;&#34;Kamu pake lagi?&#34; Tanya Alvano. Ia menaikkan alisnya menggoda Arsena. &#xA;&#xA;&#34;I— Iya, kan kata kamu tadi—&#34; &#xA;&#xA;Perkataan itu terputus. Alvano sudah mempertemukan bibirnya dengan milik sang istri. Ia sudah cukup lama menahan &#39;godaan&#39; tersebut sejak tadi pagi. Lelaki itu tentu tidak mau melakukannya di depan sang anak yang masih kecil. Dan kini, gadis kecilnya sudah tertidur seolah merestui kedua orang tuanya berbuat sesuatu yang lain. &#xA;&#xA;Arsena yang awalnya terkejut, kini mulai rileks dan menikmati ciuman lembut Alvano. Keduanya pun memejamkan mata. Dengan bibir yang tertaut satu sama lain, Arsena sudah sepenuhnya menopang beban tubuhnya pada dekapan Alvano. Gerakan tangan Alvano yang menghujani pinggang dan punggungnya terus menghantarkan gelora rasa hangat yang mereka rasakan berdua. &#xA;&#xA;Suara nafas yang bersahutan juga kecipak basah kini memenuhi kamar mereka. Keduanya seolah berpacu dengan waktu. &#xA;&#xA;Setelah puas dengan penyatuan bibir tersebut, ciuman Alvano turun ke leher jenjang Arsena. Lelaki itu juga melingkarkan kaki sang istri di pinggangnya, untuk kemudian ia gendong dan menuju ke ranjang dengan cumbuan yang tidak lepas. &#xA;&#xA;&#34;Nghh...&#34; Akhirnya suara itu keluar juga. Arsena mendesah singkat yang begitu jelas terdengar oleh Alvano. &#xA;&#xA;Setelah mendengar desahan singkat itu, pikiran Alvano semakin melambung jauh. Sebelah tangannya yang berada di pinggang perlahan merambat naik dan menyentuh bagian dada Arsena. &#xA;&#xA;&#34;All... kamu bener ga makan dulu?&#34; bisik Arsena pelan di telinga Alvano. Membuat lelaki itu mendongakkan kepalanya menatap sang puan, ia hanya menaikkan alisnya, sebelum kemudian membuka bajunya sendiri.&#xA;&#xA;Alvano mengecup bibir Arsena, &#34;Aku mau makan kamu dulu.&#34; jawabnya, dilanjutkan dengan tangannya yang kini kembali bergerak melepaskan pakaian Arsena. &#xA;&#xA;Arsena tersenyum kecil, ia merasakan kedua pipinya menghangat. Alvano bisa saja mengatakan sesuatu yang tidak bisa ditolak Arsena, membuat perempuan itu akhirnya luluh. &#xA;&#xA;Keduanya melanjutkan percumbuan panas itu sampai benar-benar tiba di puncaknya. Suasana malam yang sunyi juga sang buah hati yang lelap begitu mendukung keduanya untuk melakukan penyatuan tersebut. &#xA;&#xA;Saat ini, biarkan mereka berbagi kehangatan dengan sesi-sesi yang hanya dapat mereka nikmati sendiri. &#xA;&#xA;— — — ]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p>Arsena tersenyum lega begitu melihat akhirnya sang buah hati tertidur nyaman. Sekitar 15 menit gadis kecil yang bernama Ara tersebut rewel menunggu sang ayah, namun, dikarenakan ayahnya yang tak kunjung pulang, ia pun lelah dan tertidur dalam gendongan Arsena.</p>

<p>Arsena segera menuju kamar dan meletakkan Ara di tempat tidurnya, ia juga menyelimuti sang anak dan mematikan lampu. Setelah memastikan suasana aman dan nyaman, Arsena meninggalkan kamar dan menuju ruang tengah. Ia melirik jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 8 malam, perempuan itu sedikit khawatir memikirkan suaminya yang belum juga pulang.</p>

<p>Namun, ternyata pemikiran itu tak bertahan lama, suara mesin mobil terdengar memasuki rumah, dapat dipastikan itu merupakan Alvano, seseorang yang sudah ditunggunya. Sebelum membukakan pintu rumah, Arsena berjalan pelan menuju dapur, ia memastikan semua masakan sudah dihangatkan dan siap disantap oleh sang suami nantinya. Arsena tersenyum puas melihat masakannya, ia pun beralih menuju pintu hendak menyambut Alvano.</p>

<p>“Adek dimana? Udah tidur?” Tanya Alvano saat melihat hanya Arsena yang menyambutnya.</p>

<p>“Iya, udah tidur, Pa. Kamu bersih-bersih dulu, abisnya makan, ya?” Jawab Arsena, ia mengambil alih tas dan jas yang dibawa Alvano. Lelaki itu menurut, ia mencuri ciuman sekilas di dahi sang istri.</p>

<p>Arsena tersenyum sebelum kemudian berlalu dan masuk ke kamar.</p>

<p>— — —</p>

<p>Arsena menarik napasnya perlahan, perempuan itu kini berdiri di hadapan cermin, tangannya memegang <em>lipstick</em> merah yang tadi dipakainya di kantor. Tentu saja ia masih mengingat percakapannya dengan Alvano via <em>chat</em> tadi siang.</p>

<p>Arsena sangat mengerti maksud dari suaminya itu, oleh karenanya, akhirnya ia pun memoles bibirnya dengan <em>lipstick</em> yang sedari tadi ia pegang. Perempuan itu tersenyum puas begitu melihat pantulan wajahnya di cermin.</p>

<p>“Na?” Panggilan itu membuyarkan lamunan Arsena. Ia membalikkan badan dan melihat Alvano yang kini tampak <em>fresh</em> sehabis mandi. Lelaki itu sudah memakai pakaian tidurnya.</p>

<p>Langkahnya pasti mendekati Arsena. Terlihat senyuman miring yang membuat Arsena menahan napas.</p>

<p>“Kamu pake lagi?” Tanya Alvano. Ia menaikkan alisnya menggoda Arsena.</p>

<p>“I— Iya, kan kata kamu tadi—”</p>

<p>Perkataan itu terputus. Alvano sudah mempertemukan bibirnya dengan milik sang istri. Ia sudah cukup lama menahan &#39;godaan&#39; tersebut sejak tadi pagi. Lelaki itu tentu tidak mau melakukannya di depan sang anak yang masih kecil. Dan kini, gadis kecilnya sudah tertidur seolah merestui kedua orang tuanya berbuat sesuatu yang lain.</p>

<p>Arsena yang awalnya terkejut, kini mulai rileks dan menikmati ciuman lembut Alvano. Keduanya pun memejamkan mata. Dengan bibir yang tertaut satu sama lain, Arsena sudah sepenuhnya menopang beban tubuhnya pada dekapan Alvano. Gerakan tangan Alvano yang menghujani pinggang dan punggungnya terus menghantarkan gelora rasa hangat yang mereka rasakan berdua.</p>

<p>Suara nafas yang bersahutan juga kecipak basah kini memenuhi kamar mereka. Keduanya seolah berpacu dengan waktu.</p>

<p>Setelah puas dengan penyatuan bibir tersebut, ciuman Alvano turun ke leher jenjang Arsena. Lelaki itu juga melingkarkan kaki sang istri di pinggangnya, untuk kemudian ia gendong dan menuju ke ranjang dengan cumbuan yang tidak lepas.</p>

<p>“Nghh...” Akhirnya suara itu keluar juga. Arsena mendesah singkat yang begitu jelas terdengar oleh Alvano.</p>

<p>Setelah mendengar desahan singkat itu, pikiran Alvano semakin melambung jauh. Sebelah tangannya yang berada di pinggang perlahan merambat naik dan menyentuh bagian dada Arsena.</p>

<p>“All... kamu bener ga makan dulu?” bisik Arsena pelan di telinga Alvano. Membuat lelaki itu mendongakkan kepalanya menatap sang puan, ia hanya menaikkan alisnya, sebelum kemudian membuka bajunya sendiri.</p>

<p>Alvano mengecup bibir Arsena, “Aku mau makan kamu dulu.” jawabnya, dilanjutkan dengan tangannya yang kini kembali bergerak melepaskan pakaian Arsena.</p>

<p>Arsena tersenyum kecil, ia merasakan kedua pipinya menghangat. Alvano bisa saja mengatakan sesuatu yang tidak bisa ditolak Arsena, membuat perempuan itu akhirnya luluh.</p>

<p>Keduanya melanjutkan percumbuan panas itu sampai benar-benar tiba di puncaknya. Suasana malam yang sunyi juga sang buah hati yang lelap begitu mendukung keduanya untuk melakukan penyatuan tersebut.</p>

<p>Saat ini, biarkan mereka berbagi kehangatan dengan sesi-sesi yang hanya dapat mereka nikmati sendiri.</p>

<p>— — —</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://nadswrites.writeas.com/you-first</guid>
      <pubDate>Sun, 27 Nov 2022 16:48:43 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>have you ever thought? </title>
      <link>https://nadswrites.writeas.com/have-you-ever-thought?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[&#34;Lo mau balik beneran, No?&#34; &#xA;&#xA;Itu merupakan pertanyaan yang sama untuk yang ketiga kalinya dikeluarkan oleh sang sahabat, Juna. Dan untuk yang ketiga kalinya pula Alvano menganggukkan kepalanya, kali ini lelaki itu juga mengacungkan jempol. &#xA;&#xA;&#34;Iya, gue balik.&#34; jawab Alvano akhirnya, ia mendekati Juna sekilas untuk tos ala lelaki sebelum kemudian berlalu meninggalkan lapangan yang sudah tampak sepi malam ini. Ya, ia dan Juna memutuskan untuk bermain basket setelah lama tak bersua. Alvano dan Juna merupakan teman sejak duduk di bangku sekolah menengah pertama sebelum akhirnya Alvano pindah ke kota lain, namun, dua minggu ini lelaki itu kembali dan mereka pun bertemu lagi. &#xA;&#xA;Alvano terus berjalan menuju parkiran tempat di mana mobilnya terparkir. Ia hendak menginjak pedal gas sebelum dering suara ponsel menginterupsi kegiatannya, lelaki itu pun mengangkat panggilan tersebut dan menunda perjalanan. &#xA;&#xA;&#34;Iya, Teh? Kenapa?&#34; &#xA;&#xA;&#34;...&#34;&#xA;&#xA;&#34;Obat apa?&#34; &#xA;&#xA;&#34;...&#34; &#xA;&#xA;&#34;Oke, Adek mampir ke apotek nanti.&#34; &#xA;&#xA;&#39;Tut&#39; &#xA;&#xA;Sambungan terputus, ternyata sang kakak yang menelponnya. Kakak perempuannya yang biasa ia panggil Teh Alana itu merasakan badannya hangat dan pusing, juga sedikit menggigil. Ia meminta tolong pada Alvano agar membelikannya obat penurun demam sebelum pulang, yang tentu saja disanggupi oleh lelaki itu. &#xA;&#xA;Alvano pun melanjutkan perjalanannya yang tadi tertunda. Ia juga menghidupkan radio mobilnya. Alunan lagu I&#39;m Yours milik Jason Mraz menyapa lembut telinganya. &#xA;&#xA;— — — &#xA;&#xA;&#34;Ini kembaliannya, makasih, Kak.&#34; ucap karyawan apotek tersebut yang disambut anggukan singkat Alvano. Ia memutuskan mampir di apotek yang berada dekat perumahan Juna.&#xA;&#xA;Alvano pun keluar dari apotek dan masuk ke dalam mobil. Lelaki itu menghidupkan mesin, namun, ia tak langsung menginjak pedal gas, Alvano meraih ponselnya dan melihat sejenak notifikasi yang muncul. Terdapat pesan dari Mama dan Teh Alana, juga beberapa chat dari Juna yang mengingatkan tentang sekolah barunya besok.&#xA;&#xA;Alvano hendak memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku sebelum suara pintu mobil terbuka disertai atensi seseorang mengejutkan dirinya. Lelaki itu lantas menoleh dengan cepat, sedikit takut mengingat ini sudah larut malam dan banyaknya rampok kendaraan di malam hari. &#xA;&#xA;&#34;Yah, obat— &#34; &#xA;&#xA;Suara seorang gadis menyambut indera pendengaran Alvano. Ia membulatkan matanya memastikan dirinya tak salah lihat. Seorang gadis berkuncir kuda mengenakan hoodie biru muda. Sosok itulah yang membuka pintu mobilnya. Alvano mengernyitkan dahi, tatapannya bertemu dengan tatapan sang gadis. &#xA;&#xA;Gadis itu menghentikan ucapannya, dan Alvano masih mampu melihat semburat merah di pipinya dalam keremangan cahaya di mobil. Ia ingin tertawa melihat raut malu dari gadis itu, namun tentu saja lelaki itu mempertahankan wajah datarnya. Alvano masih ingin melihat reaksi si gadis lebih lanjut. &#xA;&#xA;&#34;Eh, maaf, ya! Maaf banget, gue kira ini mobil ayah gue...&#34; &#xA;&#xA;&#34;Maaf sekali lagi, gue bener-bener ga sengaja maaf yaa...&#34;&#xA;&#xA;&#34;Maaf—&#34; &#xA;&#xA;Ucapan gadis si pemilik suara itu terputus begitu tatapannya kembali bertemu dengan tatapan mata Alvano si pemilik mobil. Alvano yang kini menaikkan sedikit bibirnya mendengar ucapan maaf berulang si gadis disertai nada cemas yang kentara. &#xA;&#xA;Alvano akhirnya mengacungkan jempolnya seolah berkata tidak apa-apa. Gadis yang masih menampakkan raut malu itu menundukkan kepalanya sekali lagi sebelum menutup pintu mobil. &#xA;&#xA;&#34;Arsenaa, kapan sih lo ga malu-maluin diri sendiri?!&#34;&#xA;&#xA;Gerutuan kecil itu tertangkap samar di telinga Alvano, membuatnya tersenyum tipis. &#xA;&#xA;&#39;Arsena?&#39;&#xA;&#xA;Lelaki itu menggelengkan kepalanya cepat sebelum akhirnya menginjak pedal gas dan benar-benar meninggalkan apotek. &#xA;&#xA;Pada detik ini, malam hening disertai sinar sempurna bulan purnama terasa tak lagi sama dengan sebelumnya. &#xA;&#xA;— &#xA;&#xA;— &#xA;&#xA;— &#xA;&#xA;— &#xA;&#xA;&#34;A&#39;! Alvanoo? Papaa? Mikirin apa hayoo?!&#34; &#xA;&#xA;Panggilan berulang disertai lambaian tangan sang istri membuyarkan lamunan Alvano. &#xA;&#xA;Ia menaikkan bibirnya, masih terbayang kejadian masa lalu yang baru saja terlintas, otaknya masih mengingat dengan jelas pertemuan pertama mereka ternyata. Pertemuan pertama yang dilanjutkan dengan jutaan pertemuan setelahnya. Tidak pernah terpikirkan di benak Alvano saat itu bahwa gadis malam itu bersekolah di sekolah yang sama dengan dirinya.&#xA;&#xA;&#34;Malah senyum?&#34; ucapan heran dari Arsena yang kini berdiri di hadapan Alvano membuat lelaki itu mengalihkan pandangannya. Ia menatap hangat sepasang mata milik istrinya itu. Mata ini, mata yang sudah terekam di benak Alvano sejak kejadian di apotek malam itu. &#xA;&#xA;&#34;Aku inget pas pertama kali kita ketemu.&#34; jawab Alvano, ia terkekeh dan mengacak pelan rambut Arsena begitu melihat raut malu sang istri. &#xA;&#xA;&#34;Kok masih diinget aja, sih? Itu malu-maluin banget tau, Alll...&#34; rengek Arsena. Gadis itu membalikkan badannya sebelum dengan cepat tangan Alvano menahannya. &#xA;&#xA;&#34;Kenapa harus dilupain? Belum pernah ada yang gitu sebelumnya,&#34; &#xA;&#xA;&#34;Kamu yang pertama.&#34; ucap Alvano, ia tertawa, menggoda Arsena. Membuat istrinya itu mendengus kesal. &#xA;&#xA;Namun, raut kesal itu tak bertahan lama. Alvano kemudian mengeluarkan ucapan yang mampu membuat Arsena terdiam. &#xA;&#xA;&#34;Perempuan yang hampir masuk mobil aku malam itu ternyata perempuan yang bakal aku liat seumur hidup, dan aku bersyukur.&#34; &#xA;&#xA;&#34;Aku bersyukur untuk semua pertemuan kita.&#34; &#xA;&#xA;Tatapan hangat sang suami disertai ucapan yang sangat melelehkan hati kecil Arsena. Gadis itu pun berjinjit, membisikkan sesuatu di telinga Alvano. &#xA;&#xA;&#34;Aku bersyukur laki-laki itu kamu, Al.&#34; &#xA;&#xA;Bisikan yang membuat Alvano menundukkan kepalanya, mencium pipi Arsena gemas. &#xA;&#xA;Keduanya bertatapan dan saling mengulum senyum, sebelum suara tangis si kecil membuat Arsena memutuskan tatapan itu dan berjalan cepat menuju sumber suara. &#xA;&#xA;Pemandangan yang Alvano sukai setiap harinya. Pemandangan yang membuatnya selalu bersyukur untuk kehidupannya sampai saat ini. Lelaki itu tidak akan menyesali setiap detiknya. &#xA;&#xA;Siapa yang menyangka bahwa perempuan malam itu merupakan perempuan yang akan mengisi hari-harinya seumur hidup?&#xA;&#xA;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p>“Lo mau balik beneran, No?”</p>

<p>Itu merupakan pertanyaan yang sama untuk yang ketiga kalinya dikeluarkan oleh sang sahabat, Juna. Dan untuk yang ketiga kalinya pula Alvano menganggukkan kepalanya, kali ini lelaki itu juga mengacungkan jempol.</p>

<p>“Iya, gue balik.” jawab Alvano akhirnya, ia mendekati Juna sekilas untuk tos ala lelaki sebelum kemudian berlalu meninggalkan lapangan yang sudah tampak sepi malam ini. Ya, ia dan Juna memutuskan untuk bermain basket setelah lama tak bersua. Alvano dan Juna merupakan teman sejak duduk di bangku sekolah menengah pertama sebelum akhirnya Alvano pindah ke kota lain, namun, dua minggu ini lelaki itu kembali dan mereka pun bertemu lagi.</p>

<p>Alvano terus berjalan menuju parkiran tempat di mana mobilnya terparkir. Ia hendak menginjak pedal gas sebelum dering suara ponsel menginterupsi kegiatannya, lelaki itu pun mengangkat panggilan tersebut dan menunda perjalanan.</p>

<p>“Iya, Teh? Kenapa?”</p>

<p>”...”</p>

<p>“Obat apa?”</p>

<p>”...”</p>

<p>“Oke, Adek mampir ke apotek nanti.”</p>

<p>&#39;Tut&#39;</p>

<p>Sambungan terputus, ternyata sang kakak yang menelponnya. Kakak perempuannya yang biasa ia panggil Teh Alana itu merasakan badannya hangat dan pusing, juga sedikit menggigil. Ia meminta tolong pada Alvano agar membelikannya obat penurun demam sebelum pulang, yang tentu saja disanggupi oleh lelaki itu.</p>

<p>Alvano pun melanjutkan perjalanannya yang tadi tertunda. Ia juga menghidupkan radio mobilnya. Alunan lagu I&#39;m Yours milik Jason Mraz menyapa lembut telinganya.</p>

<p>— — —</p>

<p>“Ini kembaliannya, makasih, Kak.” ucap karyawan apotek tersebut yang disambut anggukan singkat Alvano. Ia memutuskan mampir di apotek yang berada dekat perumahan Juna.</p>

<p>Alvano pun keluar dari apotek dan masuk ke dalam mobil. Lelaki itu menghidupkan mesin, namun, ia tak langsung menginjak pedal gas, Alvano meraih ponselnya dan melihat sejenak notifikasi yang muncul. Terdapat pesan dari Mama dan Teh Alana, juga beberapa chat dari Juna yang mengingatkan tentang sekolah barunya besok.</p>

<p>Alvano hendak memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku sebelum suara pintu mobil terbuka disertai atensi seseorang mengejutkan dirinya. Lelaki itu lantas menoleh dengan cepat, sedikit takut mengingat ini sudah larut malam dan banyaknya rampok kendaraan di malam hari.</p>

<p>“Yah, obat— “</p>

<p>Suara seorang gadis menyambut indera pendengaran Alvano. Ia membulatkan matanya memastikan dirinya tak salah lihat. Seorang gadis berkuncir kuda mengenakan hoodie biru muda. Sosok itulah yang membuka pintu mobilnya. Alvano mengernyitkan dahi, tatapannya bertemu dengan tatapan sang gadis.</p>

<p>Gadis itu menghentikan ucapannya, dan Alvano masih mampu melihat semburat merah di pipinya dalam keremangan cahaya di mobil. Ia ingin tertawa melihat raut malu dari gadis itu, namun tentu saja lelaki itu mempertahankan wajah datarnya. Alvano masih ingin melihat reaksi si gadis lebih lanjut.</p>

<p>“Eh, maaf, ya! Maaf banget, gue kira ini mobil ayah gue...”</p>

<p>“Maaf sekali lagi, gue bener-bener ga sengaja maaf yaa...”</p>

<p>“Maaf—”</p>

<p>Ucapan gadis si pemilik suara itu terputus begitu tatapannya kembali bertemu dengan tatapan mata Alvano si pemilik mobil. Alvano yang kini menaikkan sedikit bibirnya mendengar ucapan maaf berulang si gadis disertai nada cemas yang kentara.</p>

<p>Alvano akhirnya mengacungkan jempolnya seolah berkata tidak apa-apa. Gadis yang masih menampakkan raut malu itu menundukkan kepalanya sekali lagi sebelum menutup pintu mobil.</p>

<p><em>“Arsenaa, kapan sih lo ga malu-maluin diri sendiri?!”</em></p>

<p>Gerutuan kecil itu tertangkap samar di telinga Alvano, membuatnya tersenyum tipis.</p>

<p><em>&#39;Arsena?&#39;</em></p>

<p>Lelaki itu menggelengkan kepalanya cepat sebelum akhirnya menginjak pedal gas dan benar-benar meninggalkan apotek.</p>

<p>Pada detik ini, malam hening disertai sinar sempurna bulan purnama terasa tak lagi sama dengan sebelumnya.</p>

<p>—</p>

<p>—</p>

<p>—</p>

<p>—</p>

<p>“<em>A&#39;!</em> Alvanoo? Papaa? Mikirin apa hayoo?!”</p>

<p>Panggilan berulang disertai lambaian tangan sang istri membuyarkan lamunan Alvano.</p>

<p>Ia menaikkan bibirnya, masih terbayang kejadian masa lalu yang baru saja terlintas, otaknya masih mengingat dengan jelas pertemuan pertama mereka ternyata. Pertemuan pertama yang dilanjutkan dengan jutaan pertemuan setelahnya. Tidak pernah terpikirkan di benak Alvano saat itu bahwa gadis malam itu bersekolah di sekolah yang sama dengan dirinya.</p>

<p>“Malah senyum?” ucapan heran dari Arsena yang kini berdiri di hadapan Alvano membuat lelaki itu mengalihkan pandangannya. Ia menatap hangat sepasang mata milik istrinya itu. Mata ini, mata yang sudah terekam di benak Alvano sejak kejadian di apotek malam itu.</p>

<p>“Aku inget pas pertama kali kita ketemu.” jawab Alvano, ia terkekeh dan mengacak pelan rambut Arsena begitu melihat raut malu sang istri.</p>

<p>“Kok masih diinget aja, sih? Itu malu-maluin banget tau, Alll...” rengek Arsena. Gadis itu membalikkan badannya sebelum dengan cepat tangan Alvano menahannya.</p>

<p>“Kenapa harus dilupain? Belum pernah ada yang gitu sebelumnya,”</p>

<p>“Kamu yang pertama.” ucap Alvano, ia tertawa, menggoda Arsena. Membuat istrinya itu mendengus kesal.</p>

<p>Namun, raut kesal itu tak bertahan lama. Alvano kemudian mengeluarkan ucapan yang mampu membuat Arsena terdiam.</p>

<p>“Perempuan yang hampir masuk mobil aku malam itu ternyata perempuan yang bakal aku liat seumur hidup, dan aku bersyukur.”</p>

<p>“Aku bersyukur untuk semua pertemuan kita.”</p>

<p>Tatapan hangat sang suami disertai ucapan yang sangat melelehkan hati kecil Arsena. Gadis itu pun berjinjit, membisikkan sesuatu di telinga Alvano.</p>

<p>“Aku bersyukur laki-laki itu kamu, Al.”</p>

<p>Bisikan yang membuat Alvano menundukkan kepalanya, mencium pipi Arsena gemas.</p>

<p>Keduanya bertatapan dan saling mengulum senyum, sebelum suara tangis si kecil membuat Arsena memutuskan tatapan itu dan berjalan cepat menuju sumber suara.</p>

<p>Pemandangan yang Alvano sukai setiap harinya. Pemandangan yang membuatnya selalu bersyukur untuk kehidupannya sampai saat ini. Lelaki itu tidak akan menyesali setiap detiknya.</p>

<p><em>Siapa yang menyangka bahwa perempuan malam itu merupakan perempuan yang akan mengisi hari-harinya seumur hidup?</em></p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://nadswrites.writeas.com/have-you-ever-thought</guid>
      <pubDate>Sat, 15 Oct 2022 18:20:24 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>resepsionis </title>
      <link>https://nadswrites.writeas.com/resepsionis?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[Arsena masih terdiam memandang Alvano yang melangkah mendekatinya. Suaminya itu tampak begitu memesona siang ini dengan jas hitam dan bahkan kacamata, sedikit berlebihan sebenarnya, namun, sebagai seorang pimpinan, tentu saja tidak ada yang berani memprotes Alvano. Bahkan, dalam jangkauan mata Arsena, beberapa karyawan justru melirik ke arah mereka dan mulai berbisik-bisik, turut terpesona dengan kehadiran Alvano di lantai bawah ini. Bisikan yang membuat Arsena sedikit kesal. &#xA;&#xA;&#34;Papapa...&#34; suara kecil Ara membuyarkan isi fikiran Arsena, ia bahkan tidak menyadari sang suami yang sudah berdiri di hadapannya.&#xA;&#xA;&#34;Hai, Papa.&#34; sapa Arsena akhirnya, ia melambaikan tangan Ara yang ada di gendongannya. Gadis kecil itu menggerakkan kakinya semangat, tampak sangat senang dengan kehadiran papanya. &#xA;&#xA;&#34;Mama sama Adek udah lama nungguin, ya?&#34; ucap Alvano memandang hangat keduanya, ia mengecup sekilas dahi Arsena yang kemudian membuat Ara mengeluarkan gestur mengulurkan tangan seperti hendak meminta gendong Alvano, gadis kecil itu sepertinya protes karna ayahnya hanya mencium ibunya.&#xA;&#xA;Alvano terkekeh pelan, ia lantas segera mengambil Ara untuk ia gendong. Menciumi pipi gembul gadis itu lama. &#34;Adek juga kebagian cium, kok.&#34; ucapnya. &#xA;&#xA;Lelaki itu lantas menggandeng tangan Arsena dengan sebelah tangannya yang lain. Mereka pun berjalan beriringan menuju lift khusus pimpinan. Tentu masih dengan lirikan-lirikan para karyawan.&#xA;&#xA;Namun, sebelum sampai di lift, Alvano seolah teringat dengan perbuatan resepsionisnya yang tidak membiarkan Arsena menyusulnya keatas, ia pun menyuruh Arsena agar menunggu sebentar di depan lift, sementara Ia dengan Ara yang masih berada dalam gendongannya menghampiri meja resepsionis tersebut. &#xA;&#xA;Sepuluh menit kemudian, Alvano kembali dengan senyum misteriusnya membuat Arsena mengernyitkan dahi. Gadis itu penasaran dengan apa yang dikatakan sang suami kepada si resepsionis. &#xA;&#xA;&#34;Kamu bilang apa, Al?&#34; tanya Arsena sedikit berbisik begitu mereka sudah berada di lift. &#xA;&#xA;&#34;Rahasia.&#34; jawab Alvano singkat. Membuat Arsena membulatkan matanya, ia tidak menyerah. &#xA;&#xA;&#34;Bilang apa?&#34; tanya Arsena lagi, kali ini dengan tekanan di setiap perkataannya. &#xA;&#xA;Alvano tersenyum tipis sebelum menjawab. &#34;Well, ternyata dia ga cukup pintar buat kerja disini, dia bahkan ga ngenalin Mrs. Pratama dan bikin kamu nunggu, padahal aku udah bilang kalau kamu mau dateng.&#34; &#xA;&#xA;Arsena terdiam, pipinya mengeluarkan semburat merah dan tersenyum malu mendengar jawaban Alvano. &#xA;&#xA;&#39;Mrs. Pratama sounds so good,&#39; batin Arsena. &#xA;&#xA;Senyumannya tak kunjung hilang sampai lift tersebut berbunyi, menandakan mereka sudah sampai di lantai yang dituju. &#xA;&#xA;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p>Arsena masih terdiam memandang Alvano yang melangkah mendekatinya. Suaminya itu tampak begitu memesona siang ini dengan jas hitam dan bahkan kacamata, sedikit berlebihan sebenarnya, namun, sebagai seorang pimpinan, tentu saja tidak ada yang berani memprotes Alvano. Bahkan, dalam jangkauan mata Arsena, beberapa karyawan justru melirik ke arah mereka dan mulai berbisik-bisik, turut terpesona dengan kehadiran Alvano di lantai bawah ini. Bisikan yang membuat Arsena sedikit kesal.</p>

<p>“Papapa...” suara kecil Ara membuyarkan isi fikiran Arsena, ia bahkan tidak menyadari sang suami yang sudah berdiri di hadapannya.</p>

<p>“Hai, Papa.” sapa Arsena akhirnya, ia melambaikan tangan Ara yang ada di gendongannya. Gadis kecil itu menggerakkan kakinya semangat, tampak sangat senang dengan kehadiran papanya.</p>

<p>“Mama sama Adek udah lama nungguin, ya?” ucap Alvano memandang hangat keduanya, ia mengecup sekilas dahi Arsena yang kemudian membuat Ara mengeluarkan gestur mengulurkan tangan seperti hendak meminta gendong Alvano, gadis kecil itu sepertinya protes karna ayahnya hanya mencium ibunya.</p>

<p>Alvano terkekeh pelan, ia lantas segera mengambil Ara untuk ia gendong. Menciumi pipi gembul gadis itu lama. “Adek juga kebagian cium, kok.” ucapnya.</p>

<p>Lelaki itu lantas menggandeng tangan Arsena dengan sebelah tangannya yang lain. Mereka pun berjalan beriringan menuju lift khusus pimpinan. Tentu masih dengan lirikan-lirikan para karyawan.</p>

<p>Namun, sebelum sampai di lift, Alvano seolah teringat dengan perbuatan resepsionisnya yang tidak membiarkan Arsena menyusulnya keatas, ia pun menyuruh Arsena agar menunggu sebentar di depan lift, sementara Ia dengan Ara yang masih berada dalam gendongannya menghampiri meja resepsionis tersebut.</p>

<p>Sepuluh menit kemudian, Alvano kembali dengan senyum misteriusnya membuat Arsena mengernyitkan dahi. Gadis itu penasaran dengan apa yang dikatakan sang suami kepada si resepsionis.</p>

<p>“Kamu bilang apa, Al?” tanya Arsena sedikit berbisik begitu mereka sudah berada di lift.</p>

<p>“Rahasia.” jawab Alvano singkat. Membuat Arsena membulatkan matanya, ia tidak menyerah.</p>

<p>“Bilang apa?” tanya Arsena lagi, kali ini dengan tekanan di setiap perkataannya.</p>

<p>Alvano tersenyum tipis sebelum menjawab. “<em>Well,</em> ternyata dia ga cukup pintar buat kerja disini, dia bahkan ga ngenalin Mrs. Pratama dan bikin kamu nunggu, padahal aku udah bilang kalau kamu mau dateng.”</p>

<p>Arsena terdiam, pipinya mengeluarkan semburat merah dan tersenyum malu mendengar jawaban Alvano.</p>

<p><em>&#39;Mrs. Pratama sounds so good,&#39;</em> batin Arsena.</p>

<p>Senyumannya tak kunjung hilang sampai lift tersebut berbunyi, menandakan mereka sudah sampai di lantai yang dituju.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://nadswrites.writeas.com/resepsionis</guid>
      <pubDate>Mon, 10 Oct 2022 10:50:58 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>ketemu</title>
      <link>https://nadswrites.writeas.com/ketemu?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[&#xA;ketemu&#xA;&#xA;Alunan lagu My Everything milik Ariana Grande terdengar indah di telinga Marsha. Gadis itu tengah duduk manis di koridor fakultas sembari memakai headset, menunggu sosok lelaki yang sudah berjanji akan menjemput. &#xA;&#xA;Awalnya, Marsha menolak untuk dijemput, ia ingin mereka bertemu di tempat pertemuan saja. Namun, Alaskar menolak. Mantan pacarnya itu ingin menjemputnya langsung, baru kemudian menuju tempat pertemuan yang ternyata dirahasiakan. Marsha mendengus pelan, jantungnya tiba-tiba berdegup lebih cepat. Terlihat, sosok Alaskar dari kejauhan perlahan berjalan menuju tempatnya duduk. &#xA;&#xA;&#34;Marsha?&#34; sapa Alaskar begitu mereka bersitatap. Marsha hanya menaikkan alisnya, gadis itu beranjak dan membenarkan letak tas yang dibawanya. &#xA;&#xA;&#34;Kamu cantik.&#34; puji Alaskar kemudian, ia tersenyum menatap hangat mata Marsha. &#xA;&#xA;&#34;Apa sih, yuk,&#34; dengus Marsha, gadis itu berjalan cepat mendahului Alaskar. Dapat didengarnya tawa samar lelaki itu, membuatnya sedikit malu karna kesal. &#xA;&#xA;— — — &#xA;&#xA;&#34;Alaskar?!&#34; &#xA;&#xA;&#34;Ini...&#34; &#xA;&#xA;&#34;KAMU NGAJAKIN AKU OUTBOND?!&#34; &#xA;&#xA;Marsha berseru heboh begitu mereka sampai di destinasi yang sedari tadi dirahasiakan Alaskar, ia bahkan tidak menyadari bahasanya yang berubah menjadi aku-kamu. Lelaki itu begitu misterius dan hanya diam sepanjang perjalanan. Hanya alunan lagu dari radio yang mengiringi mereka selama di mobil.  &#xA;&#xA;Alaskar yang melihat seruan heboh sang mantan pacar, hanya tersenyum. Ia begitu puas melihat reaksi Marsha, tepat sesuai dugaannya. Sewaktu mereka berpacaran dulu, Marsha kerap kali mengkode ingin diajak outbond bersama. Gadis itu ingin berkencan secara anti mainstream, katanya. &#xA;&#xA;&#34;Iya, Sha. Kamu seneng? Aku inget kalau kamu selalu pengen kita outbond bareng,&#34; jawab Alaskar, turut ber-aku kamuan kepada Marsha. &#xA;&#xA;Marsha menatap lama Alaskar, gadis itu mengangguk sembari tersenyum antusias. Ia bahkan melupakan segala kekesalannya, juga hutang penjelasan Alaskar. &#xA;&#xA;Alaskar kemudian membuka bagasi mobilnya, lelaki itu mengeluarkan sepasang jaket couple dari sana, memberikan satu kepada sang gadis. &#xA;&#xA;&#34;Nanti bakalan dingin, kamu harus pake jaketnya, Sha.&#34; ucap Alaskar. &#xA;&#xA;Tanpa banyak membantah, Marsha mengambil jaket tersebut dan langsung memakainya, mood gadis itu benar-benar baik saat ini. Membuat Alaskar tersenyum hangat sembari memperhatikan Marsha. &#xA;&#xA;&#39;Bisa-bisanya gue jahatin dia kemarin,&#39; batin Alaskar. Ia sangat menyesal. &#xA;&#xA;— — — &#xA;&#xA;&#34;Kita mau naik apa dulu, nih?&#34; tanya Alaskar begitu mereka sudah memasuki kawasan outbond. &#xA;&#xA;&#34;Flying Fox, yuk, Ar! Aku penasaran bangett,&#34; jawab Marsha penuh semangat. &#xA;&#xA;&#34;Haha, yuk, Sha. Tapi, itu sendiri-sendiri gapapa? Berani?&#34; tanya Alaskar lagi, seolah meledek Marsha.&#xA;&#xA;Marsha sontak membulatkan matanya, menatap tajam Alaskar, &#34;Berani, dong! Kamu kali yang ga berani,&#34; tandasnya. &#xA;&#xA;Alaskar hanya tertawa menanggapi. &#xA;&#xA;Setelah mengurus persoalan pembelian tiket dan keamanan, Alaskar dan Marsha pun menaiki flying fox dengan ukuran yang cukup tinggi. Mereka bersebrangan. &#xA;&#xA;Alaskar dan Marsha bersitatap sekilas sebelum flying fox tersebut meluncur, jarak mereka rumayan jauh, membuat keduanya harus menyipitkan mata. &#xA;&#xA;&#34;ALASKAR JELEK!&#34; Marsha berteriak puas sesaat setelah flying fox-nya meluncur, gadis itu tertawa dan menikmati pemandangan hijau dari atas. Ia tersenyum senang. &#xA;&#xA;Alaskar hanya mampu menggelengkan kepalanya mendengar teriakan Marsha, lelaki itu kemudian turut menikmati pemandangan, semua terlihat hijau, begitu indah dan asri. Ia selalu menyukai kegiatan yang berhubungan dengan alam sedari dulu. &#xA;&#xA;— — — &#xA;&#xA;&#34;Gimana, seneng gak?&#34; &#xA;&#xA;Alaskar bertanya begitu mereka duduk di cafetaria wahana outbond tersebut. Keduanya sudah cukup puas setelah mencoba beberapa wahana yang ada di sana. Kini, waktu sudah menunjukkan pukul setengah delapan malam, Marsha dan Alaskar sudah harus mengisi perut setelah lama bermain. &#xA;&#xA;&#34;Seneng banget! Makasih ya, Ar.&#34; jawab Marsha, ia mengeluarkan senyum manisnya. Gadis itu meminum lemon iced tea yang dipesannya masih dengan senyuman yang tak juga luntur. &#xA;&#xA;&#34;Marsha,&#34; panggil Alaskar pelan, tatapan lelaki itu berubah menjadi serius. &#xA;&#xA;&#34;Iya, Ar?&#34; sahut Marsha, sedikit bingung. &#xA;&#xA;&#34;Aku mau jelasin yang kemarin, Sha,&#34; ucap Alaskar lagi, membuat Marsha mengernyitkan dahinya. Sontak, gadis itu membulatkan mata, ia seakan tersadar dengan alasan mengapa ia berada di sini bersama Alaskar. Mantan pacarnya. Bisa-bisanya gadis itu melupakan fakta bahwa keduanya telah putus. &#xA;&#xA;&#34;Oh, iya, jelasin aja, Ar, aku dengerin.&#34; jawab Marsha tegas. &#xA;&#xA;Alaskar menghembuskan nafasnya pelan, ia pun mulai menceritakan satu per-satu kejadian kemarin. &#xA;&#xA;Mulai dari rapat yang benar-benar tidak bisa ia batalkan, dikarenakan datangnya alumni yang begitu tiba-tiba, kemudian mengenai Luna yang ternyata bukan hanya Alaskar yang menemani, Alaskar ditemani dua anggota BEM lain yang juga menemani Luna, namun gadis itu membuat instastory seolah hanya Alaskar yang menemaninya. &#xA;&#xA;Alaskar juga menginap di rumah sakit bukan karena Luna, melainkan menemani sepupunya yang sedang sakit. Mamanya mengirim pesan mendadak mengabarkan bahwa tantenya ada urusan yang kemudian meminta tolong Alaskar untuk menggantikannya. Namun, nampaknya memang kesialan menimpa Alaskar, mereka bertemu di lift saat hendak pulang, menghasilan foto yang membuat Marsha salah paham. &#xA;&#xA;Marsha terdiam sembari mendengar penjelasan Alaskar, kini, gadis itu turut diserang rasa bersalah. &#xA;&#xA;&#34;Ar, maaf yaa, aku—&#34; &#xA;&#xA;&#34;Engga, Sha, jangan minta maaf. Bukan salah kamu,&#34; &#xA;&#xA;Alaskar memotong ucapan Marsha.&#xA;&#xA;&#34;Harusnya aku langsung jelasin ke kamu kemarin, tapi aku bingung sendiri karna kamu udah salah paham, dan aku mikir buat dapetin maaf kamu dulu, baru aku jelasin.&#34; lanjutnya. &#xA;&#xA;&#34;Maaf, ya, Sha? Harusnya aku lebih peka sama perasaan kamu, Luna bukan siapa-siapa, Sha.&#34; ucap Alaskar lagi, lelaki itu kembali menegaskan kepada Marsha. &#xA;&#xA;Marsha tersenyum hangat, rasa kesal dan marahnya menguap entah kemana. Melihat langsung penyesalan Alaskar, juga usaha lelaki itu mendapatkan maaf darinya, hingga saat ini mereka bermain outbond bersama cukup membuat Marsha sedikit melupakan kesalahan Alaskar. Gadis itu juga merasa bersalah karna main hakim sendiri, tidak mendengarkan penjelasan Alaskar terlebih dulu. Harusnya ia bersabar lebih lama.&#xA;&#xA;&#34;Udah aku maafin, Ar. Aku juga minta maaf, ya? Maaf karna ga dengerin penjelasan kamu dulu.&#34; ucap Marsha lembut, tangannya meraih tangan Alaskar yang ada di atas meja. &#xA;&#xA;&#34;Dimaafin aja nih?&#34; tanya Alaskar, lelaki itu menaikkan alisnya seperti menggoda Marsha membuat gadis itu kembali didera kebingungan. &#xA;&#xA;&#34;Balikan juga, yuk?&#34; lanjut Alaskar begitu ringan membuat Marsha seketika menepuk pelan tangan yang tadi dipegangnya itu dengan kesal. &#xA;&#xA;Marsha terlihat salah tingkah dan mengalihkan pandangannya, membuat Alaskar tertawa. &#xA;&#xA;&#34;Diem ih, Ar, apasih! Enteng banget bilangnyaa,&#34;  cetus Marsha lagi membuat Alaskar semakin tertawa puas. Ia senang karna telah berhasil menggoda gadisnya itu. Eh? Balikan juga belum! &#xA;&#xA;&#34;Mikir apa? Udah ah, yuk, pulang!&#34; &#xA;&#xA;Suara Marsha membuyarkan lamunan Alaskar. Ia pun beranjak dari duduknya dan menyusul langkah Marsha. &#xA;&#xA;Merangkul erat gadis itu begitu mereka berjalan berdampingan. Membuat Marsha berseru kesal, namun tak menolak rangkulan si mantan pacar. &#xA;&#xA;&#34;Alaskaarr!&#34; &#xA;&#xA;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<h1 id="ketemu" id="ketemu">ketemu</h1>

<p>Alunan lagu <em>My Everything</em> milik Ariana Grande terdengar indah di telinga Marsha. Gadis itu tengah duduk manis di koridor fakultas sembari memakai headset, menunggu sosok lelaki yang sudah berjanji akan menjemput.</p>

<p>Awalnya, Marsha menolak untuk dijemput, ia ingin mereka bertemu di tempat pertemuan saja. Namun, Alaskar menolak. Mantan pacarnya itu ingin menjemputnya langsung, baru kemudian menuju tempat pertemuan yang ternyata dirahasiakan. Marsha mendengus pelan, jantungnya tiba-tiba berdegup lebih cepat. Terlihat, sosok Alaskar dari kejauhan perlahan berjalan menuju tempatnya duduk.</p>

<p>“Marsha?” sapa Alaskar begitu mereka bersitatap. Marsha hanya menaikkan alisnya, gadis itu beranjak dan membenarkan letak tas yang dibawanya.</p>

<p>“Kamu cantik.” puji Alaskar kemudian, ia tersenyum menatap hangat mata Marsha.</p>

<p>“Apa sih, yuk,” dengus Marsha, gadis itu berjalan cepat mendahului Alaskar. Dapat didengarnya tawa samar lelaki itu, membuatnya sedikit malu karna kesal.</p>

<p>— — —</p>

<p>“Alaskar?!”</p>

<p>“Ini...”</p>

<p>“KAMU NGAJAKIN AKU OUTBOND?!”</p>

<p>Marsha berseru heboh begitu mereka sampai di destinasi yang sedari tadi dirahasiakan Alaskar, ia bahkan tidak menyadari bahasanya yang berubah menjadi aku-kamu. Lelaki itu begitu misterius dan hanya diam sepanjang perjalanan. Hanya alunan lagu dari radio yang mengiringi mereka selama di mobil.</p>

<p>Alaskar yang melihat seruan heboh sang mantan pacar, hanya tersenyum. Ia begitu puas melihat reaksi Marsha, tepat sesuai dugaannya. Sewaktu mereka berpacaran dulu, Marsha kerap kali mengkode ingin diajak outbond bersama. Gadis itu ingin berkencan secara anti <em>mainstream,</em> katanya.</p>

<p>“Iya, Sha. Kamu seneng? Aku inget kalau kamu selalu pengen kita outbond bareng,” jawab Alaskar, turut ber-aku kamuan kepada Marsha.</p>

<p>Marsha menatap lama Alaskar, gadis itu mengangguk sembari tersenyum antusias. Ia bahkan melupakan segala kekesalannya, juga hutang penjelasan Alaskar.</p>

<p>Alaskar kemudian membuka bagasi mobilnya, lelaki itu mengeluarkan sepasang jaket <em>couple</em> dari sana, memberikan satu kepada sang gadis.</p>

<p>“Nanti bakalan dingin, kamu harus pake jaketnya, Sha.” ucap Alaskar.</p>

<p>Tanpa banyak membantah, Marsha mengambil jaket tersebut dan langsung memakainya, mood gadis itu benar-benar baik saat ini. Membuat Alaskar tersenyum hangat sembari memperhatikan Marsha.</p>

<p><em>&#39;Bisa-bisanya gue jahatin dia kemarin,&#39;</em> batin Alaskar. Ia sangat menyesal.</p>

<p>— — —</p>

<p>“Kita mau naik apa dulu, nih?” tanya Alaskar begitu mereka sudah memasuki kawasan outbond.</p>

<p>“<em>Flying Fox,</em> yuk, Ar! Aku penasaran bangett,” jawab Marsha penuh semangat.</p>

<p>“Haha, yuk, Sha. Tapi, itu sendiri-sendiri gapapa? Berani?” tanya Alaskar lagi, seolah meledek Marsha.</p>

<p>Marsha sontak membulatkan matanya, menatap tajam Alaskar, “Berani, dong! Kamu kali yang ga berani,” tandasnya.</p>

<p>Alaskar hanya tertawa menanggapi.</p>

<p>Setelah mengurus persoalan pembelian tiket dan keamanan, Alaskar dan Marsha pun menaiki <em>flying fox</em> dengan ukuran yang cukup tinggi. Mereka bersebrangan.</p>

<p>Alaskar dan Marsha bersitatap sekilas sebelum <em>flying fox</em> tersebut meluncur, jarak mereka rumayan jauh, membuat keduanya harus menyipitkan mata.</p>

<p>“ALASKAR JELEK!” Marsha berteriak puas sesaat setelah <em>flying fox-</em>nya meluncur, gadis itu tertawa dan menikmati pemandangan hijau dari atas. Ia tersenyum senang.</p>

<p>Alaskar hanya mampu menggelengkan kepalanya mendengar teriakan Marsha, lelaki itu kemudian turut menikmati pemandangan, semua terlihat hijau, begitu indah dan asri. Ia selalu menyukai kegiatan yang berhubungan dengan alam sedari dulu.</p>

<p>— — —</p>

<p>“Gimana, seneng gak?”</p>

<p>Alaskar bertanya begitu mereka duduk di cafetaria wahana outbond tersebut. Keduanya sudah cukup puas setelah mencoba beberapa wahana yang ada di sana. Kini, waktu sudah menunjukkan pukul setengah delapan malam, Marsha dan Alaskar sudah harus mengisi perut setelah lama bermain.</p>

<p>“Seneng banget! Makasih ya, Ar.” jawab Marsha, ia mengeluarkan senyum manisnya. Gadis itu meminum <em>lemon iced tea</em> yang dipesannya masih dengan senyuman yang tak juga luntur.</p>

<p>“Marsha,” panggil Alaskar pelan, tatapan lelaki itu berubah menjadi serius.</p>

<p>“Iya, Ar?” sahut Marsha, sedikit bingung.</p>

<p>“Aku mau jelasin yang kemarin, Sha,” ucap Alaskar lagi, membuat Marsha mengernyitkan dahinya. Sontak, gadis itu membulatkan mata, ia seakan tersadar dengan alasan mengapa ia berada di sini bersama Alaskar. Mantan pacarnya. Bisa-bisanya gadis itu melupakan fakta bahwa keduanya telah putus.</p>

<p>“Oh, iya, jelasin aja, Ar, aku dengerin.” jawab Marsha tegas.</p>

<p>Alaskar menghembuskan nafasnya pelan, ia pun mulai menceritakan satu per-satu kejadian kemarin.</p>

<p>Mulai dari rapat yang benar-benar tidak bisa ia batalkan, dikarenakan datangnya alumni yang begitu tiba-tiba, kemudian mengenai Luna yang ternyata bukan hanya Alaskar yang menemani, Alaskar ditemani dua anggota BEM lain yang juga menemani Luna, namun gadis itu membuat <em>instastory</em> seolah hanya Alaskar yang menemaninya.</p>

<p>Alaskar juga menginap di rumah sakit bukan karena Luna, melainkan menemani sepupunya yang sedang sakit. Mamanya mengirim pesan mendadak mengabarkan bahwa tantenya ada urusan yang kemudian meminta tolong Alaskar untuk menggantikannya. Namun, nampaknya memang kesialan menimpa Alaskar, mereka bertemu di <em>lift</em> saat hendak pulang, menghasilan foto yang membuat Marsha salah paham.</p>

<p>Marsha terdiam sembari mendengar penjelasan Alaskar, kini, gadis itu turut diserang rasa bersalah.</p>

<p>“Ar, maaf yaa, aku—”</p>

<p>“Engga, Sha, jangan minta maaf. Bukan salah kamu,”</p>

<p>Alaskar memotong ucapan Marsha.</p>

<p>“Harusnya aku langsung jelasin ke kamu kemarin, tapi aku bingung sendiri karna kamu udah salah paham, dan aku mikir buat dapetin maaf kamu dulu, baru aku jelasin.” lanjutnya.</p>

<p>“Maaf, ya, Sha? Harusnya aku lebih peka sama perasaan kamu, Luna bukan siapa-siapa, Sha.” ucap Alaskar lagi, lelaki itu kembali menegaskan kepada Marsha.</p>

<p>Marsha tersenyum hangat, rasa kesal dan marahnya menguap entah kemana. Melihat langsung penyesalan Alaskar, juga usaha lelaki itu mendapatkan maaf darinya, hingga saat ini mereka bermain outbond bersama cukup membuat Marsha sedikit melupakan kesalahan Alaskar. Gadis itu juga merasa bersalah karna main hakim sendiri, tidak mendengarkan penjelasan Alaskar terlebih dulu. Harusnya ia bersabar lebih lama.</p>

<p>“Udah aku maafin, Ar. Aku juga minta maaf, ya? Maaf karna ga dengerin penjelasan kamu dulu.” ucap Marsha lembut, tangannya meraih tangan Alaskar yang ada di atas meja.</p>

<p>“Dimaafin aja nih?” tanya Alaskar, lelaki itu menaikkan alisnya seperti menggoda Marsha membuat gadis itu kembali didera kebingungan.</p>

<p>“Balikan juga, yuk?” lanjut Alaskar begitu ringan membuat Marsha seketika menepuk pelan tangan yang tadi dipegangnya itu dengan kesal.</p>

<p>Marsha terlihat salah tingkah dan mengalihkan pandangannya, membuat Alaskar tertawa.</p>

<p>“Diem ih, Ar, apasih! Enteng banget bilangnyaa,”  cetus Marsha lagi membuat Alaskar semakin tertawa puas. Ia senang karna telah berhasil menggoda gadisnya itu. Eh? Balikan juga belum!</p>

<p>“Mikir apa? Udah ah, yuk, pulang!”</p>

<p>Suara Marsha membuyarkan lamunan Alaskar. Ia pun beranjak dari duduknya dan menyusul langkah Marsha.</p>

<p>Merangkul erat gadis itu begitu mereka berjalan berdampingan. Membuat Marsha berseru kesal, namun tak menolak rangkulan si mantan pacar.</p>

<p>“Alaskaarr!”</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://nadswrites.writeas.com/ketemu</guid>
      <pubDate>Wed, 28 Sep 2022 07:59:48 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>E P I L O G </title>
      <link>https://nadswrites.writeas.com/e-p-i-l-o-g-rm6f?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[Past, Present, Future. &#xA;&#xA;Arsena kira perpisahannya dengan Alvano beberapa tahun silam menandakan berakhirnya hubungan mereka. Ternyata, perpisahan tersebut hanyalah bagian dari proses perjalanan keduanya. Arsena menyadari, terkadang dalam suatu hubungan, perpisahan merupakan proses agar bisa saling kembali menemukan. &#xA;&#xA;Keputusan untuk menuruti perintah ayah bundanya beberapa tahun lalu merupakan satu dari banyak hal yang ia syukuri. Arsena tentu sangat mengingat kejadian tersebut dalam hatinya, momen dimana dirinya kembali bertemu Alvano. Momen mereka saling menemukan juga awal dari perjalanan baru keduanya. &#xA;&#xA;Bahkan kini, kehadiran bayi perempuan kecil bernama Ara melengkapi kebahagiaan keluarganya. Arsena tidak pernah menyangka, baik dirinya maupun Alvano sudah melangkah sejauh ini. Tentu saja Arsena sangat bersyukur setiap harinya, kehadiran Ara bagaikan hadiah terbesar yang telah diberikan Tuhan. &#xA;&#xA;&#34;Mamamama, pa, na?&#34; &#xA;&#xA;(Mama, Papa dimana?) &#xA;&#xA;Suara kecil sang buah hati membuyarkan lamunan Arsena, ia pun tersenyum dan mengalihkan perhatian sepenuhnya kepada Ara.&#xA;&#xA;&#34;Papa masih kerja, Sayang. Bentar lagi Papa pulang? Adek udah kangen papa, ya?&#34; jawab Arsena lembut, gadis itu kemudian meraih Ara ke dalam rengkuhannya. Menggendong sang anak yang kini sudah berusia 11 bulan. &#xA;&#xA;Ara mengerjapkan matanya, gadis kecil itu menganggukkan kepala dan tersenyum. Seolah mengerti dengan jawaban yang dilontarkan mamanya. Senyuman yang disambut kekehan Arsena. Ia sangat menyayangi gadis kecilnya itu. &#xA;&#xA;&#34;Papa pulang!&#34; seruan Alvano dari arah pintu membuat Arsena tidak kunjung melunturkan senyuman. Ia pun melangkahkan kaki menuju pintu, mendekati Alvano. Sebelumnya, Arsena sudah menaruh Ara di stroller terlebih dulu. &#xA;&#xA;&#34;Hai papa,&#34; ucap Arsena sembari mendorong stroller, tatapan mereka bertemu. Terlihat, Ara melambai-lambaikan tangannya begitu melihat kehadiran sang papa. Tampak lebih bahagia dari sebelumnya. &#xA;&#xA;&#34;Papapapap...&#34; gumaman Ara membuat Alvano dan Arsena tertawa. &#xA;&#xA;Alvano hendak meraih Ara ke dalam gendongannya sebelum sang istri dengan cepat melarang lelaki itu. &#xA;&#xA;&#34;Kamu cuci tangan dulu sana, bersih-bersih, baru abisnya boleh main sama Ara.&#34; ucap Arsena tegas. Membuat Alvano menarik kembali tangannya dan mengangguk pasrah, menuruti perintah istrinya itu. &#xA;&#xA;Arsena pun mengambil tas dan barang yang dibawa Alvano. Menepuk pelan punggung lelakinya. Alvano tersenyum, ia mencuri ciuman sekilas di pipi sang istri sebelum akhirnya masuk ke kamar mandi. Tentunya dengan delikan tajam dari Arsena. &#xA;&#xA;&#34;A&#39;! Kamu mah!&#34; &#xA;&#xA;— — — &#xA;&#xA;&#34;Adek hari ini ngapain aja?&#34; &#xA;&#xA;Alvano bertanya sembari menciumi pipi gembul Ara. Lelaki itu sudah mandi, dan kini mereka tengah bergulingan di atas kasur. Alvano mendudukkan Ara di atas perutnya. &#xA;&#xA;&#34;Mamamam...&#34; jawab Ara, gadis kecil itu memasukkan jarinya ke dalam mulut. &#xA;&#xA;&#34;Main sama Mama, ya?&#34; &#xA;&#xA;&#34;Eh, Adek, jarinya jangan dimasukkin ke mulut, banyak kumannya.&#34; lanjut Alvano, ia kemudian meletakkan Ara di sampingnya. Mengeluarkan jari yang sedari tadi diemut sang anak. &#xA;&#xA;Lelaki itu tersenyum memandangi Ara. Bayi kecilnya itu merupakan duplikat dirinya sewaktu masih bayi, kalau kata Arsena ia hanyalah tempat mengandung Ara saja, karna nyaris tidak ada yang menurun dari Arsena kecuali rambut coklatnya. &#xA;&#xA;&#34;Ngapain kamu senyum-senyum?&#34; suara Arsena mengagetkan keduanya. Alvano tertawa pelan. &#xA;&#xA;&#34;Tuh Dek, liat, Mama kamu cantik banget, ya?&#34; &#xA;&#xA;Alih-alih menjawab lelaki itu justru bertanya kepada Ara, menggoda Arsena. Pertanyaan yang tidak mendapat jawaban apapun dari Ara, gadis kecil itu sepertinya sudah mengantuk, beberapa kali ia memejamkan matanya. &#xA;&#xA;&#34;Anak kamu udah ngantuk tuh, Pa.&#34; ucap Arsena, ia mengelus pelan punggung Ara, menina-bobokan sang buah hati. Membuat Ara nampak semakin nyaman, matanya memejam sempurna. Gadis kecil itu benar-benar sudah mengantuk rupanya. &#xA;&#xA;&#34;Anak kita, Ma.&#34; ralat Alvano kemudian, yang hanya dijawab dengan kekehan dan gelengan kepala Arsena. &#xA;&#xA;&#34;Dia anteng banget ya kalau udah tidur gitu.&#34; komentar Alvano. Melihat Ara yang kini sudah sangat tenang, hanya perutnya yang nampak naik turun menandakan pernapasan bayi kecil itu. &#xA;&#xA;&#34;Iya, Pa. Ara kalau udah tidur anteng banget, beda cerita kalau dia udah nangis tengah malem.&#34; jawab Arsena, sedikit mengeluh namun juga menyukai gangguan kecil di malam hari itu. Ya, di usia Ara yang masih 11 bulan, tentu saja bayi kecil itu sedang aktif-aktifnya, ia sangat suka membangunkan kedua orangtuanya di malam hari. &#xA;&#xA;Alvano tertawa, lelaki itu meraih Arsena ke dalam pelukannya. Mencium dahi juga pipi sang istri. &#xA;&#xA;Alvano sangat bersyukur memilih Arsena sebagai pasangan hidupnya, ia tidak bisa membayangkan hidup tanpa gadis itu. Keputusan menikahi Arsena merupakan keputusan terbaik yang pernah ia buat. Bahkan kini setelah kehadiran Ara, Arsena yang sudah menjadi ibu tersebut tidak pernah berhenti membuatnya jatuh cinta. Sifat keibuan yang melekat di diri Arsena sudah terlihat sejak hari pertama Ara dilahirkan, istrinya itu tidak pernah sedetikpun meninggalkan anak mereka, ia juga selalu makan makanan yang sehat dan bergizi guna memberikan asi yang sempurna untuk Ara.&#xA;&#xA;Tidak terasa sudah 11 bulan berlalu semenjak hari Ara dilahirkan, sebentar lagi bayi kecil mereka itu berusia genap satu tahun. &#xA;&#xA;&#34;Ara bentar lagi satu tahun, Ma.&#34; ucap Alvano, melonggarkan pelukan mereka. &#xA;&#xA;&#34;Iya, ga terasa ya,&#34; jawab Arsena, menaikkan bibirnya. &#xA;&#xA;&#34;Kita bikin birthday party buat Ara, gimana?&#34; tanya lelaki itu kemudian, menatap Arsena. &#xA;&#xA;&#34;Boleh, aku mau bangett. Ara pasti bakalan seneng nanti ngeliat keluarganya pada ngumpul, kakek nenek sama auntynya juga.&#34; jawab Arsena, menyetujui saran dari Alvano tersebut. &#xA;&#xA;Alvano mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia meraih tangan Arsena yang sedari tadi ia genggam, menciumnya. &#xA;&#xA;&#34;Rasanya ga pernah cukup aku bilang makasih sama kamu, Na. Makasih yaa, udah jadi Mama dan istri terbaik...&#34;  &#xA;&#xA;Ucapan Alvano itu membuat Arsena menyunggingkan senyumnya hangat. Ia menatap mata Alvano dalam dan lama. &#xA;&#xA;&#34;Makasih udah jadi Papa dan suami terbaik...&#34; jawab Arsena. &#xA;&#xA;Mereka bertatapan lama dan tersenyum satu sama lain. Tatapan yang menjelaskan banyak makna yang tidak bisa di deskripsikan oleh kata-kata. Mereka berdua tau, bahwa selama mereka bersama, apapun yang terjadi kedepannya tentu mampu mereka hadapi. Halangan dan rintangan apapun nampak tidak mustahil untuk ditaklukan selagi mereka bersama. &#xA;&#xA;&#34;Arsena, kamu kejebak sama aku.&#34; tutur Alvano, lelaki itu merubah tatapannya menjadi begitu serius. &#xA;&#xA;Arsena menggelengkan kepalanya cepat, &#34;Enggak, Al. Kamu yang kejebak sama aku.&#34; tandas gadis itu. Membuat keduanya tertawa, mereka kemudian memandang Ara yang masih terlelap. Buah hati mereka. Hal yang paling indah di kehidupan keduanya. &#xA;&#xA;— — — ]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><em>Past, Present, Future.</em></p>

<p>Arsena kira perpisahannya dengan Alvano beberapa tahun silam menandakan berakhirnya hubungan mereka. Ternyata, perpisahan tersebut hanyalah bagian dari proses perjalanan keduanya. Arsena menyadari, terkadang dalam suatu hubungan, perpisahan merupakan proses agar bisa saling kembali menemukan.</p>

<p>Keputusan untuk menuruti perintah ayah bundanya beberapa tahun lalu merupakan satu dari banyak hal yang ia syukuri. Arsena tentu sangat mengingat kejadian tersebut dalam hatinya, momen dimana dirinya kembali bertemu Alvano. Momen mereka saling menemukan juga awal dari perjalanan baru keduanya.</p>

<p>Bahkan kini, kehadiran bayi perempuan kecil bernama Ara melengkapi kebahagiaan keluarganya. Arsena tidak pernah menyangka, baik dirinya maupun Alvano sudah melangkah sejauh ini. Tentu saja Arsena sangat bersyukur setiap harinya, kehadiran Ara bagaikan hadiah terbesar yang telah diberikan Tuhan.</p>

<p><em>“Mamamama, pa, na?”</em></p>

<p>(Mama, Papa dimana?)</p>

<p>Suara kecil sang buah hati membuyarkan lamunan Arsena, ia pun tersenyum dan mengalihkan perhatian sepenuhnya kepada Ara.</p>

<p>“Papa masih kerja, Sayang. Bentar lagi Papa pulang? Adek udah kangen papa, ya?” jawab Arsena lembut, gadis itu kemudian meraih Ara ke dalam rengkuhannya. Menggendong sang anak yang kini sudah berusia 11 bulan.</p>

<p>Ara mengerjapkan matanya, gadis kecil itu menganggukkan kepala dan tersenyum. Seolah mengerti dengan jawaban yang dilontarkan mamanya. Senyuman yang disambut kekehan Arsena. Ia sangat menyayangi gadis kecilnya itu.</p>

<p>“Papa pulang!” seruan Alvano dari arah pintu membuat Arsena tidak kunjung melunturkan senyuman. Ia pun melangkahkan kaki menuju pintu, mendekati Alvano. Sebelumnya, Arsena sudah menaruh Ara di <em>stroller</em> terlebih dulu.</p>

<p>“Hai papa,” ucap Arsena sembari mendorong <em>stroller,</em> tatapan mereka bertemu. Terlihat, Ara melambai-lambaikan tangannya begitu melihat kehadiran sang papa. Tampak lebih bahagia dari sebelumnya.</p>

<p><em>“Papapapap...”</em> gumaman Ara membuat Alvano dan Arsena tertawa.</p>

<p>Alvano hendak meraih Ara ke dalam gendongannya sebelum sang istri dengan cepat melarang lelaki itu.</p>

<p>“Kamu cuci tangan dulu sana, bersih-bersih, baru abisnya boleh main sama Ara.” ucap Arsena tegas. Membuat Alvano menarik kembali tangannya dan mengangguk pasrah, menuruti perintah istrinya itu.</p>

<p>Arsena pun mengambil tas dan barang yang dibawa Alvano. Menepuk pelan punggung lelakinya. Alvano tersenyum, ia mencuri ciuman sekilas di pipi sang istri sebelum akhirnya masuk ke kamar mandi. Tentunya dengan delikan tajam dari Arsena.</p>

<p>“<em>A&#39;!</em> Kamu mah!”</p>

<p>— — —</p>

<p>“Adek hari ini ngapain aja?”</p>

<p>Alvano bertanya sembari menciumi pipi gembul Ara. Lelaki itu sudah mandi, dan kini mereka tengah bergulingan di atas kasur. Alvano mendudukkan Ara di atas perutnya.</p>

<p><em>“Mamamam...”</em> jawab Ara, gadis kecil itu memasukkan jarinya ke dalam mulut.</p>

<p>“Main sama Mama, ya?”</p>

<p>“Eh, Adek, jarinya jangan dimasukkin ke mulut, banyak kumannya.” lanjut Alvano, ia kemudian meletakkan Ara di sampingnya. Mengeluarkan jari yang sedari tadi diemut sang anak.</p>

<p>Lelaki itu tersenyum memandangi Ara. Bayi kecilnya itu merupakan duplikat dirinya sewaktu masih bayi, kalau kata Arsena ia hanyalah tempat mengandung Ara saja, karna nyaris tidak ada yang menurun dari Arsena kecuali rambut coklatnya.</p>

<p>“Ngapain kamu senyum-senyum?” suara Arsena mengagetkan keduanya. Alvano tertawa pelan.</p>

<p>“Tuh Dek, liat, Mama kamu cantik banget, ya?”</p>

<p>Alih-alih menjawab lelaki itu justru bertanya kepada Ara, menggoda Arsena. Pertanyaan yang tidak mendapat jawaban apapun dari Ara, gadis kecil itu sepertinya sudah mengantuk, beberapa kali ia memejamkan matanya.</p>

<p>“Anak kamu udah ngantuk tuh, Pa.” ucap Arsena, ia mengelus pelan punggung Ara, menina-bobokan sang buah hati. Membuat Ara nampak semakin nyaman, matanya memejam sempurna. Gadis kecil itu benar-benar sudah mengantuk rupanya.</p>

<p>“Anak kita, Ma.” ralat Alvano kemudian, yang hanya dijawab dengan kekehan dan gelengan kepala Arsena.</p>

<p>“Dia anteng banget ya kalau udah tidur gitu.” komentar Alvano. Melihat Ara yang kini sudah sangat tenang, hanya perutnya yang nampak naik turun menandakan pernapasan bayi kecil itu.</p>

<p>“Iya, Pa. Ara kalau udah tidur anteng banget, beda cerita kalau dia udah nangis tengah malem.” jawab Arsena, sedikit mengeluh namun juga menyukai gangguan kecil di malam hari itu. Ya, di usia Ara yang masih 11 bulan, tentu saja bayi kecil itu sedang aktif-aktifnya, ia sangat suka membangunkan kedua orangtuanya di malam hari.</p>

<p>Alvano tertawa, lelaki itu meraih Arsena ke dalam pelukannya. Mencium dahi juga pipi sang istri.</p>

<p>Alvano sangat bersyukur memilih Arsena sebagai pasangan hidupnya, ia tidak bisa membayangkan hidup tanpa gadis itu. Keputusan menikahi Arsena merupakan keputusan terbaik yang pernah ia buat. Bahkan kini setelah kehadiran Ara, Arsena yang sudah menjadi ibu tersebut tidak pernah berhenti membuatnya jatuh cinta. Sifat keibuan yang melekat di diri Arsena sudah terlihat sejak hari pertama Ara dilahirkan, istrinya itu tidak pernah sedetikpun meninggalkan anak mereka, ia juga selalu makan makanan yang sehat dan bergizi guna memberikan asi yang sempurna untuk Ara.</p>

<p>Tidak terasa sudah 11 bulan berlalu semenjak hari Ara dilahirkan, sebentar lagi bayi kecil mereka itu berusia genap satu tahun.</p>

<p>“Ara bentar lagi satu tahun, Ma.” ucap Alvano, melonggarkan pelukan mereka.</p>

<p>“Iya, ga terasa ya,” jawab Arsena, menaikkan bibirnya.</p>

<p>“Kita bikin <em>birthday party</em> buat Ara, gimana?” tanya lelaki itu kemudian, menatap Arsena.</p>

<p>“Boleh, aku mau bangett. Ara pasti bakalan seneng nanti ngeliat keluarganya pada ngumpul, kakek nenek sama <em>aunty</em>nya juga.” jawab Arsena, menyetujui saran dari Alvano tersebut.</p>

<p>Alvano mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia meraih tangan Arsena yang sedari tadi ia genggam, menciumnya.</p>

<p>“Rasanya ga pernah cukup aku bilang makasih sama kamu, Na. Makasih yaa, udah jadi Mama dan istri terbaik...”</p>

<p>Ucapan Alvano itu membuat Arsena menyunggingkan senyumnya hangat. Ia menatap mata Alvano dalam dan lama.</p>

<p>“Makasih udah jadi Papa dan suami terbaik...” jawab Arsena.</p>

<p>Mereka bertatapan lama dan tersenyum satu sama lain. Tatapan yang menjelaskan banyak makna yang tidak bisa di deskripsikan oleh kata-kata. Mereka berdua tau, bahwa selama mereka bersama, apapun yang terjadi kedepannya tentu mampu mereka hadapi. Halangan dan rintangan apapun nampak tidak mustahil untuk ditaklukan selagi mereka bersama.</p>

<p>“Arsena, kamu kejebak sama aku.” tutur Alvano, lelaki itu merubah tatapannya menjadi begitu serius.</p>

<p>Arsena menggelengkan kepalanya cepat, “Enggak, Al. Kamu yang kejebak sama aku.” tandas gadis itu. Membuat keduanya tertawa, mereka kemudian memandang Ara yang masih terlelap. Buah hati mereka. Hal yang paling indah di kehidupan keduanya.</p>

<p>— — —</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://nadswrites.writeas.com/e-p-i-l-o-g-rm6f</guid>
      <pubDate>Tue, 13 Sep 2022 15:22:15 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>E P I L O G</title>
      <link>https://nadswrites.writeas.com/e-p-i-l-o-g?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[&#xA;E P I L O G &#xA;&#xA;Past, Present, Future. &#xA;&#xA;Arsena kira perpisahannya dengan Alvano beberapa tahun silam menandakan berakhirnya hubungan mereka. Ternyata, perpisahan tersebut hanyalah bagian dari proses perjalanan keduanya. Arsena menyadari, terkadang dalam suatu hubungan, perpisahan merupakan proses agar bisa saling kembali menemukan. &#xA;&#xA;Keputusan untuk menuruti perintah ayah bundanya beberapa tahun lalu merupakan satu dari banyak hal yang ia syukuri. Arsena tentu sangat mengingat kejadian tersebut dalam hatinya, momen dimana dirinya kembali bertemu Alvano. Momen mereka saling menemukan juga awal dari perjalanan baru keduanya. &#xA;&#xA;Bahkan kini, kehadiran bayi perempuan kecil bernama Ara melengkapi kebahagiaan keluarganya. Arsena tidak pernah menyangka, baik dirinya maupun Alvano sudah melangkah sejauh ini. Tentu saja Arsena sangat bersyukur setiap harinya, kehadiran Ara bagaikan hadiah terbesar yang telah diberikan Tuhan. &#xA;&#xA;&#34;Mamamama, pa, na?&#34; &#xA;&#xA;(Mama, Papa dimana?) &#xA;&#xA;Suara kecil sang buah hati membuyarkan lamunan Arsena, ia pun tersenyum dan mengalihkan perhatian sepenuhnya kepada Ara.&#xA;&#xA;&#34;Papa masih kerja, Sayang. Bentar lagi Papa pulang? Adek udah kangen papa, ya?&#34; jawab Arsena lembut, gadis itu kemudian meraih Ara ke dalam rengkuhannya. Menggendong sang anak yang kini sudah berusia 11 bulan. &#xA;&#xA;Ara mengerjapkan matanya, gadis kecil itu menganggukkan kepala dan tersenyum. Seolah mengerti dengan jawaban yang dilontarkan mamanya. Senyuman yang disambut kekehan Arsena. Ia sangat menyayangi gadis kecilnya itu. &#xA;&#xA;&#34;Papa pulang!&#34; seruan Alvano dari arah pintu membuat Arsena tidak kunjung melunturkan senyuman. Ia pun melangkahkan kaki menuju pintu, mendekati Alvano. Sebelumnya, Arsena sudah menaruh Ara di stroller terlebih dulu. &#xA;&#xA;&#34;Hai papa,&#34; ucap Arsena sembari mendorong stroller, tatapan mereka bertemu. Terlihat, Ara melambai-lambaikan tangannya begitu melihat kehadiran sang papa. Tampak lebih bahagia dari sebelumnya. &#xA;&#xA;&#34;Papapapap...&#34; gumaman Ara membuat Alvano dan Arsena tertawa. &#xA;&#xA;Alvano hendak meraih Ara ke dalam gendongannya sebelum sang istri dengan cepat melarang lelaki itu. &#xA;&#xA;&#34;Kamu cuci tangan dulu sana, bersih-bersih, baru abisnya boleh main sama Ara.&#34; ucap Arsena tegas. Membuat Alvano menarik kembali tangannya dan mengangguk pasrah, menuruti perintah istrinya itu. &#xA;&#xA;Arsena pun mengambil tas dan barang yang dibawa Alvano. Menepuk pelan punggung lelakinya. Alvano tersenyum, ia mencuri ciuman sekilas di pipi sang istri sebelum akhirnya masuk ke kamar mandi. Tentunya dengan delikan tajam dari Arsena. &#xA;&#xA;&#34;A&#39;! Kamu mah!&#34; &#xA;&#xA;— — — &#xA;&#xA;&#34;Adek hari ini ngapain aja?&#34; &#xA;&#xA;Alvano bertanya sembari menciumi pipi gembul Ara. Lelaki itu sudah mandi, dan kini mereka tengah bergulingan di atas kasur. Alvano mendudukkan Ara di atas perutnya. &#xA;&#xA;&#34;Mamamam...&#34; jawab Ara, gadis kecil itu memasukkan jarinya ke dalam mulut. &#xA;&#xA;&#34;Main sama Mama, ya?&#34; &#xA;&#xA;&#34;Eh, Adek, jarinya jangan dimasukkin ke mulut, banyak kumannya.&#34; lanjut Alvano, ia kemudian meletakkan Ara di sampingnya. Mengeluarkan jari yang sedari tadi diemut sang anak. &#xA;&#xA;Lelaki itu tersenyum memandangi Ara. Bayi kecilnya itu merupakan duplikat dirinya sewaktu masih bayi, kalau kata Arsena ia hanyalah tempat mengandung Ara saja, karna nyaris tidak ada yang menurun dari Arsena kecuali rambut coklatnya. &#xA;&#xA;&#34;Ngapain kamu senyum-senyum?&#34; suara Arsena mengagetkan keduanya. Alvano tertawa pelan. &#xA;&#xA;&#34;Tuh Dek, liat, Mama kamu cantik banget, ya?&#34; &#xA;&#xA;Alih-alih menjawab lelaki itu justru bertanya kepada Ara, menggoda Arsena. Pertanyaan yang tidak mendapat jawaban apapun dari Ara, gadis kecil itu sepertinya sudah mengantuk, beberapa kali ia memejamkan matanya. &#xA;&#xA;&#34;Anak kamu udah ngantuk tuh, Pa.&#34; ucap Arsena, ia mengelus pelan punggung Ara, menina-bobokan sang buah hati. Membuat Ara nampak semakin nyaman, matanya memejam sempurna. Gadis kecil itu benar-benar sudah mengantuk rupanya. &#xA;&#xA;&#34;Anak kita, Ma.&#34; ralat Alvano kemudian, yang hanya dijawab dengan kekehan dan gelengan kepala Arsena. &#xA;&#xA;&#34;Dia anteng banget ya kalau udah tidur gitu.&#34; komentar Alvano. Melihat Ara yang kini sudah sangat tenang, hanya perutnya yang nampak naik turun menandakan pernapasan bayi kecil itu. &#xA;&#xA;&#34;Iya, Pa. Ara kalau udah tidur anteng banget, beda cerita kalau dia udah nangis tengah malem.&#34; jawab Arsena, sedikit mengeluh namun juga menyukai gangguan kecil di malam hari itu. Ya, di usia Ara yang masih 11 bulan, tentu saja bayi kecil itu sedang aktif-aktifnya, ia sangat suka membangunkan kedua orangtuanya di malam hari. &#xA;&#xA;Alvano tertawa, lelaki itu meraih Arsena ke dalam pelukannya. Mencium dahi juga pipi sang istri. &#xA;&#xA;Alvano sangat bersyukur memilih Arsena sebagai pasangan hidupnya, ia tidak bisa membayangkan hidup tanpa gadis itu. Keputusan menikahi Arsena merupakan keputusan terbaik yang pernah ia buat. Bahkan kini setelah kehadiran Ara, Arsena yang sudah menjadi ibu tersebut tidak pernah berhenti membuatnya jatuh cinta. Sifat keibuan yang melekat di diri Arsena sudah terlihat sejak hari pertama Ara dilahirkan, istrinya itu tidak pernah sedetikpun meninggalkan anak mereka, ia juga selalu makan makanan yang sehat dan bergizi guna memberikan asi yang sempurna untuk Ara.&#xA;&#xA;Tidak terasa sudah 11 bulan berlalu semenjak hari Ara dilahirkan, sebentar lagi bayi kecil mereka itu berusia genap satu tahun. &#xA;&#xA;&#34;Ara bentar lagi satu tahun, Ma.&#34; ucap Alvano, melonggarkan pelukan mereka. &#xA;&#xA;&#34;Iya, Pa. Ga terasa ya,&#34; jawab Arsena, menaikkan bibirnya. &#xA;&#xA;&#34;Kita bikin birthday party buat Ara, gimana?&#34; tanya lelaki itu kemudian, menatap Arsena. &#xA;&#xA;&#34;Boleh, aku mau bangett. Ara pasti seneng ngeliat keluarganya ngumpul di hari ulang tahunnya dia, kakek nenek sama auntynya juga.&#34; jawab Arsena, menyetujui saran dari Alvano tersebut. &#xA;&#xA;Alvano mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia meraih tangan Arsena yang sedari tadi ia genggam, menciumnya. &#xA;&#xA;&#34;Rasanya ga pernah cukup aku bilang makasih sama kamu, Na. Makasih yaa, udah jadi Mama dan istri terbaik...&#34;  &#xA;&#xA;Ucapan Alvano itu membuat Arsena menyunggingkan senyumnya hangat. Ia menatap mata Alvano dalam dan lama. &#xA;&#xA;&#34;Makasih udah jadi Papa dan suami terbaik.&#34; jawab Arsena. &#xA;&#xA;Mereka bertatapan lama dan tersenyum satu sama lain. Tatapan yang menjelaskan banyak makna yang tidak bisa di deskripsikan oleh kata-kata. Mereka berdua tau, bahwa selama mereka bersama, apapun yang terjadi kedepannya tentu mampu mereka hadapi. Halangan dan rintangan apapun nampak tidak mustahil untuk ditaklukan selagi mereka bersama. &#xA;&#xA;&#34;Kamu kejebak sama aku, Na.&#34; tutur Alvano, lelaki itu tertawa. &#xA;&#xA;Arsena menggelengkan kepalanya cepat, &#34;Enggak, Pa. Kamu yang kejebak sama aku.&#34; tandas gadis itu. Membuat keduanya tertawa, mereka kemudian memandang Ara yang masih terlelap. Buah hati mereka. Hal yang paling indah di kehidupan keduanya. &#xA;&#xA;— — — ]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<h1 id="e-p-i-l-o-g" id="e-p-i-l-o-g">E P I L O G</h1>

<p><em>Past, Present, Future.</em></p>

<p>Arsena kira perpisahannya dengan Alvano beberapa tahun silam menandakan berakhirnya hubungan mereka. Ternyata, perpisahan tersebut hanyalah bagian dari proses perjalanan keduanya. Arsena menyadari, terkadang dalam suatu hubungan, perpisahan merupakan proses agar bisa saling kembali menemukan.</p>

<p>Keputusan untuk menuruti perintah ayah bundanya beberapa tahun lalu merupakan satu dari banyak hal yang ia syukuri. Arsena tentu sangat mengingat kejadian tersebut dalam hatinya, momen dimana dirinya kembali bertemu Alvano. Momen mereka saling menemukan juga awal dari perjalanan baru keduanya.</p>

<p>Bahkan kini, kehadiran bayi perempuan kecil bernama Ara melengkapi kebahagiaan keluarganya. Arsena tidak pernah menyangka, baik dirinya maupun Alvano sudah melangkah sejauh ini. Tentu saja Arsena sangat bersyukur setiap harinya, kehadiran Ara bagaikan hadiah terbesar yang telah diberikan Tuhan.</p>

<p><em>“Mamamama, pa, na?”</em></p>

<p>(Mama, Papa dimana?)</p>

<p>Suara kecil sang buah hati membuyarkan lamunan Arsena, ia pun tersenyum dan mengalihkan perhatian sepenuhnya kepada Ara.</p>

<p>“Papa masih kerja, Sayang. Bentar lagi Papa pulang? Adek udah kangen papa, ya?” jawab Arsena lembut, gadis itu kemudian meraih Ara ke dalam rengkuhannya. Menggendong sang anak yang kini sudah berusia 11 bulan.</p>

<p>Ara mengerjapkan matanya, gadis kecil itu menganggukkan kepala dan tersenyum. Seolah mengerti dengan jawaban yang dilontarkan mamanya. Senyuman yang disambut kekehan Arsena. Ia sangat menyayangi gadis kecilnya itu.</p>

<p>“Papa pulang!” seruan Alvano dari arah pintu membuat Arsena tidak kunjung melunturkan senyuman. Ia pun melangkahkan kaki menuju pintu, mendekati Alvano. Sebelumnya, Arsena sudah menaruh Ara di stroller terlebih dulu.</p>

<p>“Hai papa,” ucap Arsena sembari mendorong stroller, tatapan mereka bertemu. Terlihat, Ara melambai-lambaikan tangannya begitu melihat kehadiran sang papa. Tampak lebih bahagia dari sebelumnya.</p>

<p><em>“Papapapap...”</em> gumaman Ara membuat Alvano dan Arsena tertawa.</p>

<p>Alvano hendak meraih Ara ke dalam gendongannya sebelum sang istri dengan cepat melarang lelaki itu.</p>

<p>“Kamu cuci tangan dulu sana, bersih-bersih, baru abisnya boleh main sama Ara.” ucap Arsena tegas. Membuat Alvano menarik kembali tangannya dan mengangguk pasrah, menuruti perintah istrinya itu.</p>

<p>Arsena pun mengambil tas dan barang yang dibawa Alvano. Menepuk pelan punggung lelakinya. Alvano tersenyum, ia mencuri ciuman sekilas di pipi sang istri sebelum akhirnya masuk ke kamar mandi. Tentunya dengan delikan tajam dari Arsena.</p>

<p>“<em>A&#39;!</em> Kamu mah!”</p>

<p>— — —</p>

<p>“Adek hari ini ngapain aja?”</p>

<p>Alvano bertanya sembari menciumi pipi gembul Ara. Lelaki itu sudah mandi, dan kini mereka tengah bergulingan di atas kasur. Alvano mendudukkan Ara di atas perutnya.</p>

<p>“Mamamam...” jawab Ara, gadis kecil itu memasukkan jarinya ke dalam mulut.</p>

<p>“Main sama Mama, ya?”</p>

<p>“Eh, Adek, jarinya jangan dimasukkin ke mulut, banyak kumannya.” lanjut Alvano, ia kemudian meletakkan Ara di sampingnya. Mengeluarkan jari yang sedari tadi diemut sang anak.</p>

<p>Lelaki itu tersenyum memandangi Ara. Bayi kecilnya itu merupakan duplikat dirinya sewaktu masih bayi, kalau kata Arsena ia hanyalah tempat mengandung Ara saja, karna nyaris tidak ada yang menurun dari Arsena kecuali rambut coklatnya.</p>

<p>“Ngapain kamu senyum-senyum?” suara Arsena mengagetkan keduanya. Alvano tertawa pelan.</p>

<p>“Tuh Dek, liat, Mama kamu cantik banget, ya?”</p>

<p>Alih-alih menjawab lelaki itu justru bertanya kepada Ara, menggoda Arsena. Pertanyaan yang tidak mendapat jawaban apapun dari Ara, gadis kecil itu sepertinya sudah mengantuk, beberapa kali ia memejamkan matanya.</p>

<p>“Anak kamu udah ngantuk tuh, Pa.” ucap Arsena, ia mengelus pelan punggung Ara, menina-bobokan sang buah hati. Membuat Ara nampak semakin nyaman, matanya memejam sempurna. Gadis kecil itu benar-benar sudah mengantuk rupanya.</p>

<p>“Anak kita, Ma.” ralat Alvano kemudian, yang hanya dijawab dengan kekehan dan gelengan kepala Arsena.</p>

<p>“Dia anteng banget ya kalau udah tidur gitu.” komentar Alvano. Melihat Ara yang kini sudah sangat tenang, hanya perutnya yang nampak naik turun menandakan pernapasan bayi kecil itu.</p>

<p>“Iya, Pa. Ara kalau udah tidur anteng banget, beda cerita kalau dia udah nangis tengah malem.” jawab Arsena, sedikit mengeluh namun juga menyukai gangguan kecil di malam hari itu. Ya, di usia Ara yang masih 11 bulan, tentu saja bayi kecil itu sedang aktif-aktifnya, ia sangat suka membangunkan kedua orangtuanya di malam hari.</p>

<p>Alvano tertawa, lelaki itu meraih Arsena ke dalam pelukannya. Mencium dahi juga pipi sang istri.</p>

<p>Alvano sangat bersyukur memilih Arsena sebagai pasangan hidupnya, ia tidak bisa membayangkan hidup tanpa gadis itu. Keputusan menikahi Arsena merupakan keputusan terbaik yang pernah ia buat. Bahkan kini setelah kehadiran Ara, Arsena yang sudah menjadi ibu tersebut tidak pernah berhenti membuatnya jatuh cinta. Sifat keibuan yang melekat di diri Arsena sudah terlihat sejak hari pertama Ara dilahirkan, istrinya itu tidak pernah sedetikpun meninggalkan anak mereka, ia juga selalu makan makanan yang sehat dan bergizi guna memberikan asi yang sempurna untuk Ara.</p>

<p>Tidak terasa sudah 11 bulan berlalu semenjak hari Ara dilahirkan, sebentar lagi bayi kecil mereka itu berusia genap satu tahun.</p>

<p>“Ara bentar lagi satu tahun, Ma.” ucap Alvano, melonggarkan pelukan mereka.</p>

<p>“Iya, Pa. Ga terasa ya,” jawab Arsena, menaikkan bibirnya.</p>

<p>“Kita bikin <em>birthday party</em> buat Ara, gimana?” tanya lelaki itu kemudian, menatap Arsena.</p>

<p>“Boleh, aku mau bangett. Ara pasti seneng ngeliat keluarganya ngumpul di hari ulang tahunnya dia, kakek nenek sama <em>aunty</em>nya juga.” jawab Arsena, menyetujui saran dari Alvano tersebut.</p>

<p>Alvano mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia meraih tangan Arsena yang sedari tadi ia genggam, menciumnya.</p>

<p>“Rasanya ga pernah cukup aku bilang makasih sama kamu, Na. Makasih yaa, udah jadi Mama dan istri terbaik...”</p>

<p>Ucapan Alvano itu membuat Arsena menyunggingkan senyumnya hangat. Ia menatap mata Alvano dalam dan lama.</p>

<p>“Makasih udah jadi Papa dan suami terbaik.” jawab Arsena.</p>

<p>Mereka bertatapan lama dan tersenyum satu sama lain. Tatapan yang menjelaskan banyak makna yang tidak bisa di deskripsikan oleh kata-kata. Mereka berdua tau, bahwa selama mereka bersama, apapun yang terjadi kedepannya tentu mampu mereka hadapi. Halangan dan rintangan apapun nampak tidak mustahil untuk ditaklukan selagi mereka bersama.</p>

<p>“Kamu kejebak sama aku, Na.” tutur Alvano, lelaki itu tertawa.</p>

<p>Arsena menggelengkan kepalanya cepat, “Enggak, Pa. Kamu yang kejebak sama aku.” tandas gadis itu. Membuat keduanya tertawa, mereka kemudian memandang Ara yang masih terlelap. Buah hati mereka. Hal yang paling indah di kehidupan keduanya.</p>

<p>— — —</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://nadswrites.writeas.com/e-p-i-l-o-g</guid>
      <pubDate>Tue, 13 Sep 2022 15:21:50 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Baby Ara</title>
      <link>https://nadswrites.writeas.com/baby-ara?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[&#xA;Baby Ara&#xA;&#xA;Suara tangisan bayi yang masih merah itu membuat Alvano dan Arsena tersenyum haru, juga menghembuskan nafas lega.&#xA;&#xA;Alvano datang tepat di sepuluh menit sebelum sang istri melahirkan, semua terjadi begitu cepat. Rintihan Arsena hingga tarikan nafas istrinya saat melahirkan masih terbayang di benak Alvano. Juga genggaman tangannya yang begitu erat.&#xA;&#xA;Perjuangan seorang ibu dalam melahirkan bayinya sungguh tidak ternilai, Alvano sudah melihatnya langsung dan hatinya terenyuh, rasa ingin meminta maaf dan berterimakasih terus membayanginya, ia ingin mengucapkannya pada Arsena juga mamanya. &#xA;&#xA;Kini, setelah perjuangan yang cukup lama tersebut, sang bayi akhirnya lahir, Alvano menatap mata sang istri, mengecup dahinya lama.&#xA;&#xA;&#34;Aku minta maaf, Na... Makasih yaa— makasih banyak udah berjuang ngelahirin anak kita, aku sayang kalian berdua.&#34; &#xA;&#xA;Arsena tersenyum lembut, tangannya mengelus pelan tangan Alvano yang ada dalam genggamannya. &#xA;&#xA;&#34;Bapak, Ibu, dede bayinya perempuan, sehat, kondisi vital stabil, beratnya 3 kilogram dan panjang sekitar 49 cm.&#34; &#xA;&#xA;Suara seorang dokter yang membantu persalinan Arsena membuat keduanya memalingkan pandangan mereka. Dokter tersebut kemudian memperlihatkan sang bayi, membuat Arsena mengeluarkan air matanya. Rasa sakit saat melahirkan tadi sontak bagaikan menghilang sepenuhnya begitu melihat kehadiran anaknya. Anak mereka. &#xA;&#xA;Arsena mengulurkan tangannya, hendak menggendong bayinya, dokter tersebut tersenyum dan menyerahkannya perlahan. Bayi tersebut memang sudah dibersihkan oleh para perawat, dan sudah seharusnya digendong oleh sang ibu agar hangat. Sebelum nantinya akan dibawa ke ruang steril, untuk prosedur selanjutnya. &#xA;&#xA;&#34;You&#39;re so tiny,&#34; lirih Arsena. Perasaannya tidak mampu hanya dideskripsikan oleh kata-kata. Hatinya begitu bahagia. Tangannya yang kecil mengenggam pelan telunjuk Arsena. &#xA;&#xA;Alvano tersenyum memandang pemandangan tersebut, hatinya menghangat. Lelaki itu kemudian memberikan ciuman pelan di dahi sang bayi. &#xA;&#xA;&#34;Baby Ara...&#34; &#xA;&#xA;&#39;Aara Aleena Pratama&#39;&#xA;&#xA;Nama yang sudah disepakati oleh Arsena dan Alvano untuk anak pertama mereka itu. Nama yang memiliki arti anak kesayangan perempuan manis seperti sutra dari surga. Harapan juga doa Alvano dan Arsena untuk anak pertama mereka. &#xA;&#xA;— — — &#xA;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<h1 id="baby-ara" id="baby-ara">Baby Ara</h1>

<p>Suara tangisan bayi yang masih merah itu membuat Alvano dan Arsena tersenyum haru, juga menghembuskan nafas lega.</p>

<p>Alvano datang tepat di sepuluh menit sebelum sang istri melahirkan, semua terjadi begitu cepat. Rintihan Arsena hingga tarikan nafas istrinya saat melahirkan masih terbayang di benak Alvano. Juga genggaman tangannya yang begitu erat.</p>

<p>Perjuangan seorang ibu dalam melahirkan bayinya sungguh tidak ternilai, Alvano sudah melihatnya langsung dan hatinya terenyuh, rasa ingin meminta maaf dan berterimakasih terus membayanginya, ia ingin mengucapkannya pada Arsena juga mamanya.</p>

<p>Kini, setelah perjuangan yang cukup lama tersebut, sang bayi akhirnya lahir, Alvano menatap mata sang istri, mengecup dahinya lama.</p>

<p>“Aku minta maaf, Na... Makasih yaa— makasih banyak udah berjuang ngelahirin anak kita, aku sayang kalian berdua.”</p>

<p>Arsena tersenyum lembut, tangannya mengelus pelan tangan Alvano yang ada dalam genggamannya.</p>

<p>“Bapak, Ibu, dede bayinya perempuan, sehat, kondisi vital stabil, beratnya 3 kilogram dan panjang sekitar 49 cm.”</p>

<p>Suara seorang dokter yang membantu persalinan Arsena membuat keduanya memalingkan pandangan mereka. Dokter tersebut kemudian memperlihatkan sang bayi, membuat Arsena mengeluarkan air matanya. Rasa sakit saat melahirkan tadi sontak bagaikan menghilang sepenuhnya begitu melihat kehadiran anaknya. Anak mereka.</p>

<p>Arsena mengulurkan tangannya, hendak menggendong bayinya, dokter tersebut tersenyum dan menyerahkannya perlahan. Bayi tersebut memang sudah dibersihkan oleh para perawat, dan sudah seharusnya digendong oleh sang ibu agar hangat. Sebelum nantinya akan dibawa ke ruang steril, untuk prosedur selanjutnya.</p>

<p>“<em>You&#39;re so tiny,</em>” lirih Arsena. Perasaannya tidak mampu hanya dideskripsikan oleh kata-kata. Hatinya begitu bahagia. Tangannya yang kecil mengenggam pelan telunjuk Arsena.</p>

<p>Alvano tersenyum memandang pemandangan tersebut, hatinya menghangat. Lelaki itu kemudian memberikan ciuman pelan di dahi sang bayi.</p>

<p>“Baby Ara...”</p>

<p><em>&#39;Aara Aleena Pratama&#39;</em></p>

<p>Nama yang sudah disepakati oleh Arsena dan Alvano untuk anak pertama mereka itu. Nama yang memiliki arti anak kesayangan perempuan manis seperti sutra dari surga. Harapan juga doa Alvano dan Arsena untuk anak pertama mereka.</p>

<p>— — —</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://nadswrites.writeas.com/baby-ara</guid>
      <pubDate>Tue, 13 Sep 2022 04:13:00 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Bubble</title>
      <link>https://nadswrites.writeas.com/bubble?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[&#34;Na?&#34; &#xA;&#xA;&#34;Arsenaa? Aku udah pulang.&#34; &#xA;&#xA;&#34;Sayang?&#34; &#xA;&#xA;Keheningan menyambut Alvano begitu lelaki itu sampai di kamar hotel. Ia pun dengan cepat menaruh barang bawaannya, hendak memeriksa tiap sudut kamar hotel tersebut. &#xA;&#xA;Alvano memeriksa kamar mandi yang ternyata tidak terkunci, tidak ada tanda-tanda keberadaan Arsena disana. Lelaki itu menghembuskan nafasnya perlahan, meraih ponselnya di saku, menghubungi Arsena. Tidak tersambung, juga tidak kunjung terdengar suara apapun di kamar hotel tersebut, Alvano mulai merasa cemas. Ia lantas menghubungi layanan hotel sebelum akhirnya merasakan sepasang tangan menutup matanya. &#xA;&#xA;&#34;Aku udah siapin hadiah buat kamu,&#34; bisikan lembut Arsena menyusul terdengar di telinganya membuat Alvano menghembuskan nafas lega. Kekhawatirannya menghilang, meskipun ia sedikit kesal. Apa yang tengah direncanakan Arsena? &#xA;&#xA;&#34;Hitung sampe tiga ya, Al...&#34; ucap Arsena lagi. &#xA;&#xA;Alvano menganggukkan kepala, menuruti perkataan gadisnya sembari mulai menghitung. &#xA;&#xA;&#34;Satu... Dua... Tiga...&#34; &#xA;&#xA;Arsena tersenyum, ia pun melepaskan tangannya yang sedari tadi menutup mata Alvano. Lelaki itu membalikkan badan, menatap sang istri sebelum akhirnya memalingkan pandangannya ke arah yang ditunjuk Arsena. Alvano baru menyadari bahwa terletak sebuah proyektor mini di atas kasur. Ia kemudian memandang dinding di hadapannya yang perlahan menampilkan sebuah video. Lelaki itu meraih tangan Arsena untuk ia genggam, lalu kembali menatap video yang tengah diputar. Menikmati setiap detiknya. &#xA;&#xA;Alvano menyadari bahwa video yang tengah diputar merupakan kumpulan video selama mereka bersama. Percakapan-percakapan jaman dulu pun turut terbayang dalam benak Alvano.  &#xA;&#xA;Dimulai dari hukuman manis yaitu, duet pertama mereka saat SMA. &#xA;&#xA;&#34;Lo yang asyik dong mukanya, Al? Masa di panggung tapi datar banget sih? Ntar penontonnya tidur!&#34; &#xA;&#xA;Duet pertama yang berlanjut menjadi duet kedua dan seterusnya. &#xA;&#xA;&#34;Makasih ya, Al.&#34;&#xA;&#xA;Alvano yang terkenal dingin tersebut tetap mempertahankan raut datarnya. Ia menaikkan alis atas ucapan terima kasih Arsena.&#xA;&#xA;&#34;Makasih udah ngajakin aku duet lagi.&#34; &#xA;&#xA;Ucapan yang akhirnya membuat Alvano tersenyum tipis tanpa ia sadari.&#xA;&#xA;Kenal berbulan-bulan hingga kemudian jalan bersama. &#xA;&#xA;&#34;Kamu suka marvel juga, kan? Kita nonton endgame ya? Aku gasabar bangettt!! Penasaran endingnya bakal gimana...&#34;&#xA;&#xA;Alvano selalu suka tingkah antusias serta ceria Arsena sedari dulu.  Gadis itu memang pendiam, namun bisa berubah sedemikian terbuka apabila sudah dekat dengan seseorang. Termasuk Alvano. Lelaki yang memang sudah lama disukainya. &#xA;&#xA;Video tersebut masih berputar, hingga sampai saat mereka kuliah bersama.&#xA; &#xA;&#34;Alll! Hari ini temenin aku nugas, ya?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Kita lagi nugas bareng nih... sama si cowok sok sibuk.&#34;&#xA;&#xA;Ucapan-ucapan yang kerapkali dilontarkan Arsena saat mereka kuliah. Alvano menahan senyumannya sambil terus menatap video tersebut, hingga cuplikan saat mereka lulus dan merayakannya bersama. &#xA;&#xA;Tampilan video menjadi hitam selama beberapa menit, sebelum kemudian muncul rentetan kalimat yang nyaris tak terpikirkan di benak Alvano. Senyumnya melebar. Lelaki itu membacanya sembari menaikkan alis dan menatap Arsena. &#xA;&#xA;&#39;Perjalanan kita selama ini, Al. Our journey. Aku bersyukur dan ngerasa beruntung banget bisa kenal kamu, dari sma sampe kuliah, aku ga pernah nyesel sama keputusan buat terus sama kamu.&#39;&#xA;&#xA;&#39;Our connection was so strong, even when we&#39;re together... or not. Aku bersyukur punya kesempatan buat bisa sama kamu lagi, Al. Selalu.&#39;&#xA;&#xA;Video kembali menjadi hitam sesaat. Dan, akhirnya muncul kalimat yang menjadi penutup video tersebut. Kali ini Arsena yang membacanya lembut sambil menatap Alvano. &#xA;&#xA;&#34;Kamu ga keberatan, kan, buat terus lanjutin perjalanan kita? Kali ini bertiga, Al. Bertiga.&#34; &#xA;&#xA;Alvano terdiam, lelaki itu menatap lama Arsena. Gadis itu seakan mengerti, ia mengeluarkan foto USG yang sedari tadi ia simpan, menyerahkannya kepada sang suami. &#xA;&#xA;Alvano memandang foto USG yang ada di tangannya, ia perlahan menaikkan bibirnya, merangkai beberapa kejadian akhir-akhir ini di otaknya. Lelaki itu tertawa kecil, memeluk Arsena. Ternyata ini, penyebab keanehan Arsena, kenapa bisa ia tidak menyadarinya lebih cepat? &#xA;&#xA;&#34;Jadi, karna dia?&#34; &#xA;&#xA;&#34;Selama ini kamu baik-baik aja, kan? Ga mual-mual atau apa?&#34; &#xA;&#xA;Arsena balas memeluk Alvano. Begitu erat.&#xA;&#xA;&#34;Engga, kok. Tapi itu normal, Al, gejalanya emang beda-beda,&#34; kekeh Arsena.&#xA;&#xA;Alvano melepaskan pelukan mereka, lelaki itu berjongkok hingga kepalanya sejajar dengan perut sang istri. Alvano mengelus lembut perut Arsena juga menciumnya. &#xA;&#xA;&#34;We&#39;ll wait for you, little bubble...&#34; ucap Alvano pelan. &#xA;&#xA;Arsena tersenyum haru, ia merasakan matanya perlahan basah. Gadis itu mengelus kepala Alvano, membuat lelakinya itu mendongak. &#xA;&#xA;&#34;Makasih yaa, Na. Aku seneng, juga bersyukur. Banget.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Kita harus lewatin ini sama-sama terus, ya?&#34; &#xA;&#xA;Arsena menganggukkan kepalanya cepat, &#34;Pasti.&#34; &#xA;&#xA;Alvano pun beranjak, kembali mendekap hangat sang istri. Setelah ini semua tak akan sama lagi, ada kehidupan lain yang mereka nantikan. Bersama.&#xA;&#xA;———]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p>“Na?”</p>

<p>“Arsenaa? Aku udah pulang.”</p>

<p>“Sayang?”</p>

<p>Keheningan menyambut Alvano begitu lelaki itu sampai di kamar hotel. Ia pun dengan cepat menaruh barang bawaannya, hendak memeriksa tiap sudut kamar hotel tersebut.</p>

<p>Alvano memeriksa kamar mandi yang ternyata tidak terkunci, tidak ada tanda-tanda keberadaan Arsena disana. Lelaki itu menghembuskan nafasnya perlahan, meraih ponselnya di saku, menghubungi Arsena. Tidak tersambung, juga tidak kunjung terdengar suara apapun di kamar hotel tersebut, Alvano mulai merasa cemas. Ia lantas menghubungi layanan hotel sebelum akhirnya merasakan sepasang tangan menutup matanya.</p>

<p>“Aku udah siapin hadiah buat kamu,” bisikan lembut Arsena menyusul terdengar di telinganya membuat Alvano menghembuskan nafas lega. Kekhawatirannya menghilang, meskipun ia sedikit kesal. Apa yang tengah direncanakan Arsena?</p>

<p>“Hitung sampe tiga ya, Al...” ucap Arsena lagi.</p>

<p>Alvano menganggukkan kepala, menuruti perkataan gadisnya sembari mulai menghitung.</p>

<p>“Satu... Dua... Tiga...”</p>

<p>Arsena tersenyum, ia pun melepaskan tangannya yang sedari tadi menutup mata Alvano. Lelaki itu membalikkan badan, menatap sang istri sebelum akhirnya memalingkan pandangannya ke arah yang ditunjuk Arsena. Alvano baru menyadari bahwa terletak sebuah proyektor mini di atas kasur. Ia kemudian memandang dinding di hadapannya yang perlahan menampilkan sebuah video. Lelaki itu meraih tangan Arsena untuk ia genggam, lalu kembali menatap video yang tengah diputar. Menikmati setiap detiknya.</p>

<p>Alvano menyadari bahwa video yang tengah diputar merupakan kumpulan video selama mereka bersama. Percakapan-percakapan jaman dulu pun turut terbayang dalam benak Alvano.</p>

<p>Dimulai dari hukuman manis yaitu, duet pertama mereka saat SMA.</p>

<p><em>“Lo yang asyik dong mukanya, Al? Masa di panggung tapi datar banget sih? Ntar penontonnya tidur!”</em></p>

<p>Duet pertama yang berlanjut menjadi duet kedua dan seterusnya.</p>

<p><em>“Makasih ya, Al.”</em></p>

<p><em>Alvano yang terkenal dingin tersebut tetap mempertahankan raut datarnya. Ia menaikkan alis atas ucapan terima kasih Arsena.</em></p>

<p><em>“Makasih udah ngajakin aku duet lagi.”</em></p>

<p><em>Ucapan yang akhirnya membuat Alvano tersenyum tipis tanpa ia sadari.</em></p>

<p>Kenal berbulan-bulan hingga kemudian jalan bersama.</p>

<p><em>“Kamu suka marvel juga, kan? Kita nonton endgame ya? Aku gasabar bangettt!! Penasaran endingnya bakal gimana...”</em></p>

<p>Alvano selalu suka tingkah antusias serta ceria Arsena sedari dulu.  Gadis itu memang pendiam, namun bisa berubah sedemikian terbuka apabila sudah dekat dengan seseorang. Termasuk Alvano. Lelaki yang memang sudah lama disukainya.</p>

<p>Video tersebut masih berputar, hingga sampai saat mereka kuliah bersama.</p>

<p><em>“Alll! Hari ini temenin aku nugas, ya?”</em></p>

<p><em>“Kita lagi nugas bareng nih... sama si cowok sok sibuk.”</em></p>

<p>Ucapan-ucapan yang kerapkali dilontarkan Arsena saat mereka kuliah. Alvano menahan senyumannya sambil terus menatap video tersebut, hingga cuplikan saat mereka lulus dan merayakannya bersama.</p>

<p>Tampilan video menjadi hitam selama beberapa menit, sebelum kemudian muncul rentetan kalimat yang nyaris tak terpikirkan di benak Alvano. Senyumnya melebar. Lelaki itu membacanya sembari menaikkan alis dan menatap Arsena.</p>

<p><em>&#39;Perjalanan kita selama ini, Al. Our journey. Aku bersyukur dan ngerasa beruntung banget bisa kenal kamu, dari sma sampe kuliah, aku ga pernah nyesel sama keputusan buat terus sama kamu.&#39;</em></p>

<p><em>&#39;Our connection was so strong, even when we&#39;re together... or not. Aku bersyukur punya kesempatan buat bisa sama kamu lagi, Al. Selalu.&#39;</em></p>

<p>Video kembali menjadi hitam sesaat. Dan, akhirnya muncul kalimat yang menjadi penutup video tersebut. Kali ini Arsena yang membacanya lembut sambil menatap Alvano.</p>

<p>“Kamu ga keberatan, kan, buat terus lanjutin perjalanan kita? Kali ini bertiga, Al. Bertiga.”</p>

<p>Alvano terdiam, lelaki itu menatap lama Arsena. Gadis itu seakan mengerti, ia mengeluarkan foto USG yang sedari tadi ia simpan, menyerahkannya kepada sang suami.</p>

<p>Alvano memandang foto USG yang ada di tangannya, ia perlahan menaikkan bibirnya, merangkai beberapa kejadian akhir-akhir ini di otaknya. Lelaki itu tertawa kecil, memeluk Arsena. Ternyata ini, penyebab keanehan Arsena, kenapa bisa ia tidak menyadarinya lebih cepat?</p>

<p>“Jadi, karna dia?”</p>

<p>“Selama ini kamu baik-baik aja, kan? Ga mual-mual atau apa?”</p>

<p>Arsena balas memeluk Alvano. Begitu erat.</p>

<p>“Engga, kok. Tapi itu normal, Al, gejalanya emang beda-beda,” kekeh Arsena.</p>

<p>Alvano melepaskan pelukan mereka, lelaki itu berjongkok hingga kepalanya sejajar dengan perut sang istri. Alvano mengelus lembut perut Arsena juga menciumnya.</p>

<p>“<em>We&#39;ll wait for you, little bubble...</em>” ucap Alvano pelan.</p>

<p>Arsena tersenyum haru, ia merasakan matanya perlahan basah. Gadis itu mengelus kepala Alvano, membuat lelakinya itu mendongak.</p>

<p>“Makasih yaa, Na. Aku seneng, juga bersyukur. Banget.”</p>

<p>“Kita harus lewatin ini sama-sama terus, ya?”</p>

<p>Arsena menganggukkan kepalanya cepat, “Pasti.”</p>

<p>Alvano pun beranjak, kembali mendekap hangat sang istri. Setelah ini semua tak akan sama lagi, ada kehidupan lain yang mereka nantikan. Bersama.</p>

<p>———</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://nadswrites.writeas.com/bubble</guid>
      <pubDate>Wed, 07 Sep 2022 16:29:31 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>The One </title>
      <link>https://nadswrites.writeas.com/the-one?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[Arsena menghela napasnya panjang. Gadis itu bisa merasakan degupan jantungnya yang masih berdetak begitu cepat. Ia sudah menjelaskan semuanya sejak lima menit yang lalu. Namun, Alvano hanya diam, memandangnya tanpa kata. Lelaki itu nampak tengah memikirkan sesuatu. &#xA;&#xA;&#34;Udah aku duga...&#34; lirih Alvano kemudian.&#xA;&#xA;Ia berbisik kepada dirinya sendiri namun masih terdengar di telinga Arsena, membuat gadis itu mengernyitkan dahinya.&#xA;&#xA;&#34;Maksud kamu, Al?&#34; tanya Arsena. &#xA;&#xA;Alvano hanya tersenyum, ia mendekati sang istri dan kemudian membawanya ke dalam pelukan hangat. &#xA;&#xA;&#34;Aku udah kepikiran kalau alasan kamu karna mau lanjut s2, Na... begitu kita ketemu lagi, dan ngeliat kamu udah sukses jadi dosen, aku sempet mikir jangan-jangan ini,&#34; &#xA;&#xA;&#34;...alasan kamu yang dulu.&#34; &#xA;&#xA;Alvano berucap panjang sembari menepuk punggung Arsena pelan. Gadis itu pun mengangkat tangannya, balas memeluk sang suami. &#xA;&#xA;Arsena tersenyum, &#34;Makasih ya, Al... selama bertahun-tahun kita ga ketemu, aku bersyukur kita bisa dipertemukan lagi... dan,&#34; &#xA;&#xA;&#34;... kamu, kamu yang belum sama siapapun.&#34; ucap Arsena menggantung, ia menaikkan bibirnya dan melepaskan pelukan Alvano. Arsena memandang lekat mata lelaki itu. &#xA;&#xA;&#34;Kamu itu, satu dari satu-satunya calon suami yang aku semogakan, Al.&#34; tutur Arsena, mengakhiri ucapannya, ia tersenyum sendiri mendengar kata-kata tersebut keluar dari bibirnya. &#xA;&#xA;&#34;Kamu juga, Na, always.&#34; balas Alvano, mendekatkan diri dan mengecup dahi Arsena. &#xA;&#xA;&#34;Jangan ada rahasia lagi mulai sekarang, ya?&#34; Alvano berucap sembari menjulurkan jari kelingkingnya, matanya mengarah ke jari kelingking sang istri, hendak bermaksud untuk melakukan pinky promise.&#xA;&#xA;Cheesy memang, namun membuat mereka merindukan hal yang kerap mereka lakukan di jaman sma dulu.  &#xA;&#xA;Arsena terkekeh, sebelum akhirnya mengaitkan jari kelingking mereka. &#xA;&#xA;&#34;Promise...&#34; &#xA;&#xA;Tautan jari kelingking tersebut terlepas. Arsena kemudian bertanya lirih, &#34;Kamu ga marah, Al?&#34;&#xA;&#xA;Jauh di dalam hatinya, gadis itu sedikit bingung dengan reaksi Alvano yang jauh dari bayangannya. Lelaki itu terlihat begitu ikhlas.  &#xA;&#xA;Alvano menarik nafasnya perlahan sebelum akhirnya mengeluarkan rentetan kata-kata dari bibirnya. &#xA;&#xA;&#34;Buat apa? Semua udah lewat, lagian, aku juga salah karna ga ngejer kamu dulu, dan bikin keputusan ngelamar kamu secepet itu, Na, aku ga mikirin kamu yang mungkin belum siap, aku cuma mikirin nafsu masa muda aku aja,&#34; &#xA;&#xA;&#34;... Yang penting, sekarang kita disini, sama-sama, udah cukup, kan?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Let&#39;s start over.&#34; &#xA;&#xA;Arsena tersenyum, ia kembali masuk ke dalam pelukan hangat sang suami. &#xA;&#xA;&#39;Iya semua udah cukup, kan? Let&#39;s start over,&#39; batin Arsena. &#xA;&#xA;Tanpa gadis itu sadari, ia telah melupakan berita penting yang sebelumnya hendak ia bagi dengan Alvano. Hasil tes kehamilan yang masih tersimpan di saku bajunya. &#xA;&#xA;— — &#xA;&#xA;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p>Arsena menghela napasnya panjang. Gadis itu bisa merasakan degupan jantungnya yang masih berdetak begitu cepat. Ia sudah menjelaskan semuanya sejak lima menit yang lalu. Namun, Alvano hanya diam, memandangnya tanpa kata. Lelaki itu nampak tengah memikirkan sesuatu.</p>

<p>“Udah aku duga...” lirih Alvano kemudian.</p>

<p>Ia berbisik kepada dirinya sendiri namun masih terdengar di telinga Arsena, membuat gadis itu mengernyitkan dahinya.</p>

<p>“Maksud kamu, Al?” tanya Arsena.</p>

<p>Alvano hanya tersenyum, ia mendekati sang istri dan kemudian membawanya ke dalam pelukan hangat.</p>

<p>“Aku udah kepikiran kalau alasan kamu karna mau lanjut s2, Na... begitu kita ketemu lagi, dan ngeliat kamu udah sukses jadi dosen, aku sempet mikir jangan-jangan ini,”</p>

<p>”...alasan kamu yang dulu.”</p>

<p>Alvano berucap panjang sembari menepuk punggung Arsena pelan. Gadis itu pun mengangkat tangannya, balas memeluk sang suami.</p>

<p>Arsena tersenyum, “Makasih ya, Al... selama bertahun-tahun kita ga ketemu, aku bersyukur kita bisa dipertemukan lagi... dan,”</p>

<p>”... kamu, kamu yang belum sama siapapun.” ucap Arsena menggantung, ia menaikkan bibirnya dan melepaskan pelukan Alvano. Arsena memandang lekat mata lelaki itu.</p>

<p>“Kamu itu, satu dari satu-satunya calon suami yang aku semogakan, Al.” tutur Arsena, mengakhiri ucapannya, ia tersenyum sendiri mendengar kata-kata tersebut keluar dari bibirnya.</p>

<p>“Kamu juga, Na, <em>always.</em>” balas Alvano, mendekatkan diri dan mengecup dahi Arsena.</p>

<p>“Jangan ada rahasia lagi mulai sekarang, ya?” Alvano berucap sembari menjulurkan jari kelingkingnya, matanya mengarah ke jari kelingking sang istri, hendak bermaksud untuk melakukan <em>pinky promise.</em></p>

<p><em>Cheesy</em> memang, namun membuat mereka merindukan hal yang kerap mereka lakukan di jaman sma dulu.</p>

<p>Arsena terkekeh, sebelum akhirnya mengaitkan jari kelingking mereka.</p>

<p><em>“Promise...”</em></p>

<p>Tautan jari kelingking tersebut terlepas. Arsena kemudian bertanya lirih, “Kamu ga marah, Al?”</p>

<p>Jauh di dalam hatinya, gadis itu sedikit bingung dengan reaksi Alvano yang jauh dari bayangannya. Lelaki itu terlihat begitu ikhlas.</p>

<p>Alvano menarik nafasnya perlahan sebelum akhirnya mengeluarkan rentetan kata-kata dari bibirnya.</p>

<p>“Buat apa? Semua udah lewat, lagian, aku juga salah karna ga ngejer kamu dulu, dan bikin keputusan ngelamar kamu secepet itu, Na, aku ga mikirin kamu yang mungkin belum siap, aku cuma mikirin nafsu masa muda aku aja,”</p>

<p>”... Yang penting, sekarang kita disini, sama-sama, udah cukup, kan?”</p>

<p><em>“Let&#39;s start over.”</em></p>

<p>Arsena tersenyum, ia kembali masuk ke dalam pelukan hangat sang suami.</p>

<p><em>&#39;Iya semua udah cukup, kan? Let&#39;s start over,&#39;</em> batin Arsena.</p>

<p>Tanpa gadis itu sadari, ia telah melupakan berita penting yang sebelumnya hendak ia bagi dengan Alvano. Hasil tes kehamilan yang masih tersimpan di saku bajunya.</p>

<p>— —</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://nadswrites.writeas.com/the-one</guid>
      <pubDate>Sat, 23 Jul 2022 14:08:27 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>surprised.</title>
      <link>https://nadswrites.writeas.com/surprised?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[&#xA;surprised. &#xA;&#xA;Arsena memasuki sebuah gedung bertuliskan &#39;Chemistry Coffe Shop&#39; itu dengan langkah berat. Ya, kafe tersebut merupakan tujuannya, meskipun otaknya masih memikirkan sang pacar yang tak kunjung memberinya kabar. Kemana lelaki itu?&#xA;&#xA;&#39;Ting&#39; &#xA;&#xA;Suara bel kafe terdengar begitu Arsena membuka pintunya, gadis itu mendongakkan kepala, dan seketika ia mengernyitkan dahi. &#xA;&#xA;&#39;Kok sepi?&#39; batin Arsena bertanya. &#xA;&#xA;Sebagai pelanggan yang cukup rutin mengunjungi kafe, Arsena sangat mengetahui bahwa waktu sekarang ini biasanya merupakan waktu yang ramai di kafe. Gadis itu tidak menyangka bahwa pelariannya ke kafe ini pun disambut oleh keheningan dan suasana yang sepi. Arsena menghembuskan nafas, langkah kakinya terasa semakin berat. Ia pun mendudukkan diri di spot favoritnya di chemistry cafe. &#xA;&#xA;Seorang pelayan menghampirinya begitu lima menit berlalu, memberikan buku menu kepada Arsena, lamunannya pun buyar, gadis itu mulai membaca satu per satu menu yang masih tersedia. &#xA;&#xA;Tak lama kemudian, dentingan suara piano yang makin lama makin terdengar jelas berhasil membuat Arsena lagi-lagi mengalihkan perhatiannya. Gadis itu mendongakkan kepalanya kedepan sembari mengernyitkan dahi. &#xA;&#xA;&#39;Ada live music, ya, hari ini?&#39; batinnya. &#xA;&#xA;Namun, seketika Arsena membulatkan matanya sempurna, ia nyaris berdiri dari duduknya. Gadis itu tidak mungkin salah lihat. Itu Alvano. Sosok yang memainkan piano cukup jauh di hadapannya adalah Alvano. Sang pacar yang beberapa hari terakhir ini menghilang. &#xA;&#xA;&#39;Kok bisa?&#39; batinnya lagi. Rasa-rasanya Arsena tidak bisa menahan banyaknya pertanyaan yang muncul sesaat setelah ia menginjakkan di chemistry cafe malam ini. Mencoba menahan pertanyaan-pernyataan tersebut di otaknya, Arsena akhirnya memilih mendengarkan dengan seksama penampilan yang dibawakan Alvano malam ini. Tidak bisa memungkiri bahwa gadis itu sangat merindukan lelaki yang kini tengah bernyanyi tersebut.  &#xA;&#xA;&#34;... I used to wanna be, &#xA;living like there&#39;s only me,&#xA;But now i spend my time,&#xA;thinking bout a way to get you off my mind...&#34;&#xA;&#xA;Arsena terdiam. Seketika jantungnya berdegup lebih kencang dari biasanya. Ia merasakan kupu-kupu di perutnya, namun ia juga merasakan keringat yang menetes di dahinya. Gadis itu gugup sampai berkeringat dingin. Pertanyaan-pertanyaan kembali muncul di benaknya. &#xA;&#xA;&#39;Apa maksud Alvano?&#39;&#xA;&#xA;Kenapa lelaki itu muncul setelah dua minggu menghilang dari hadapan Arsena? Muncul dengan menyanyikan lagu favoritnya dan terlihat begitu serius. Arsena tidak mampu memahami semua ini. Otaknya seakan berhenti berpikir. &#xA;&#xA;&#34;Look at me now, I&#39;m falling... &#xA;Can&#39;t even talk, still sutterin&#39;&#xA;.....&#xA;All i wanna be, yeah, is somebody to you...&#34; &#xA;&#xA;Dentingan suara piano perlahan berhenti, bersamaan dengan lagu yang berakhir, juga sosok Alvano yang kini berdiri, memegang mikrophone, lelaki itu memandang lurus tepat ke arah dimana Arsena duduk. Membuat Arsena akhirnya ikut berdiri, melangkah mendekati Alvano. Menunggu apapun yang akan dibicarakan lelaki itu, meskipun jauh di dalam hatinya, gadis itu merasa bingung dan tidak siap dengan apapun yang akan dikatakan Alvano. &#xA;&#xA;&#34;Arsena?&#34; ucap Alvano mengawali. Terlihat ia mengusap lehernya berapa kali sebelum melanjutkan, &#34;Aku minta maaf dua minggu ini ga ngabarin kamu, ga ketemu dan kita seakan lost contact, yang pasti aku cuma mau kamu tau kalau aku ga akan ngelakuin hal apapun yang ngecewain kamu, Na.&#34; &#xA;&#xA;&#34;Selama dua minggu ini, aku udah mikirin ini mateng-mateng dan aku ngerasa kamu juga udah siap, kita udah kenal sejak sma, Na, bahkan kita juga mulai pacaran sejak itu, sampe sekarang, hati aku ga pernah berubah, cuma buat kamu, makanya, malem ini aku nyanyiin lagu favorit kamu, yang juga kebetulan mendukung suasana malem ini...&#34; &#xA;&#xA;&#34;Arsena...&#34; &#xA;&#xA;&#34;I&#39;m ready to get settled with you, are you?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Are you ready to settle down with me?&#34; &#xA;&#xA;Arsena terdiam, jantungnya seakan berhenti berdetak. Ia merasa sangat terharu dengan apa yang dilakukan Alvano malam ini. Gadis itu sangat tidak menyangka. Speechless. Jadi, selama dua minggu Alvano menyiapkan sebuah lamaran? Lamaran? Yang bahkan masih jauh dari pikiran Arsena. Gadis itu baru saja mendapatkan pengumuman kelulusan s2 nya, ia hendak memberi tahu Alvano akan kabar tersebut, namun, kini, Arsena hanya bisa terpaku. Ia terlalu terkejut dengan apa yang dilakukan Alvano malam ini. Otaknya butuh istirahat dan memikirkan ini semua dengan tenang. &#xA;&#xA;Tanpa sadar, gadis yang masih terpaku itu perlahan melangkahkan kakinya, bukan menuju Alvano, melainkan terus mundur kebelakang dan perlahan menghilang di balik pintu kafe. Meninggalkan Alvano yang baru saja menyatakan lamarannya balik terdiam dengan penuh pertanyaan dan kebingungan. Ia tidak mengerti. &#xA;&#xA;&#39;Kenapa Arsena berlari meninggalkannya begitu saja?&#39;&#xA;&#xA;—— &#xA;&#xA;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<h1 id="surprised" id="surprised">surprised.</h1>

<p>Arsena memasuki sebuah gedung bertuliskan &#39;Chemistry Coffe Shop&#39; itu dengan langkah berat. Ya, kafe tersebut merupakan tujuannya, meskipun otaknya masih memikirkan sang pacar yang tak kunjung memberinya kabar. Kemana lelaki itu?</p>

<p>&#39;Ting&#39;</p>

<p>Suara bel kafe terdengar begitu Arsena membuka pintunya, gadis itu mendongakkan kepala, dan seketika ia mengernyitkan dahi.</p>

<p><em>&#39;Kok sepi?&#39;</em> batin Arsena bertanya.</p>

<p>Sebagai pelanggan yang cukup rutin mengunjungi kafe, Arsena sangat mengetahui bahwa waktu sekarang ini biasanya merupakan waktu yang ramai di kafe. Gadis itu tidak menyangka bahwa pelariannya ke kafe ini pun disambut oleh keheningan dan suasana yang sepi. Arsena menghembuskan nafas, langkah kakinya terasa semakin berat. Ia pun mendudukkan diri di spot favoritnya di chemistry cafe.</p>

<p>Seorang pelayan menghampirinya begitu lima menit berlalu, memberikan buku menu kepada Arsena, lamunannya pun buyar, gadis itu mulai membaca satu per satu menu yang masih tersedia.</p>

<p>Tak lama kemudian, dentingan suara piano yang makin lama makin terdengar jelas berhasil membuat Arsena lagi-lagi mengalihkan perhatiannya. Gadis itu mendongakkan kepalanya kedepan sembari mengernyitkan dahi.</p>

<p><em>&#39;Ada live music, ya, hari ini?&#39;</em> batinnya.</p>

<p>Namun, seketika Arsena membulatkan matanya sempurna, ia nyaris berdiri dari duduknya. Gadis itu tidak mungkin salah lihat. Itu Alvano. Sosok yang memainkan piano cukup jauh di hadapannya adalah Alvano. Sang pacar yang beberapa hari terakhir ini menghilang.</p>

<p><em>&#39;Kok bisa?&#39;</em> batinnya lagi. Rasa-rasanya Arsena tidak bisa menahan banyaknya pertanyaan yang muncul sesaat setelah ia menginjakkan di chemistry cafe malam ini. Mencoba menahan pertanyaan-pernyataan tersebut di otaknya, Arsena akhirnya memilih mendengarkan dengan seksama penampilan yang dibawakan Alvano malam ini. Tidak bisa memungkiri bahwa gadis itu sangat merindukan lelaki yang kini tengah bernyanyi tersebut.</p>

<p><em>”... I used to wanna be,
living like there&#39;s only me,
But now i spend my time,
thinking bout a way to get you off my mind...”</em></p>

<p>Arsena terdiam. Seketika jantungnya berdegup lebih kencang dari biasanya. Ia merasakan kupu-kupu di perutnya, namun ia juga merasakan keringat yang menetes di dahinya. Gadis itu gugup sampai berkeringat dingin. Pertanyaan-pertanyaan kembali muncul di benaknya.</p>

<p><em>&#39;Apa maksud Alvano?&#39;</em></p>

<p>Kenapa lelaki itu muncul setelah dua minggu menghilang dari hadapan Arsena? Muncul dengan menyanyikan lagu favoritnya dan terlihat begitu serius. Arsena tidak mampu memahami semua ini. Otaknya seakan berhenti berpikir.</p>

<p><em>“Look at me now, I&#39;m falling...
Can&#39;t even talk, still sutterin&#39;
.....
All i wanna be, yeah, is somebody to you...”</em></p>

<p>Dentingan suara piano perlahan berhenti, bersamaan dengan lagu yang berakhir, juga sosok Alvano yang kini berdiri, memegang mikrophone, lelaki itu memandang lurus tepat ke arah dimana Arsena duduk. Membuat Arsena akhirnya ikut berdiri, melangkah mendekati Alvano. Menunggu apapun yang akan dibicarakan lelaki itu, meskipun jauh di dalam hatinya, gadis itu merasa bingung dan tidak siap dengan apapun yang akan dikatakan Alvano.</p>

<p>“Arsena?” ucap Alvano mengawali. Terlihat ia mengusap lehernya berapa kali sebelum melanjutkan, “Aku minta maaf dua minggu ini ga ngabarin kamu, ga ketemu dan kita seakan lost contact, yang pasti aku cuma mau kamu tau kalau aku ga akan ngelakuin hal apapun yang ngecewain kamu, Na.”</p>

<p>“Selama dua minggu ini, aku udah mikirin ini mateng-mateng dan aku ngerasa kamu juga udah siap, kita udah kenal sejak sma, Na, bahkan kita juga mulai pacaran sejak itu, sampe sekarang, hati aku ga pernah berubah, cuma buat kamu, makanya, malem ini aku nyanyiin lagu favorit kamu, yang juga kebetulan mendukung suasana malem ini...”</p>

<p>“Arsena...”</p>

<p><em>“I&#39;m ready to get settled with you, are you?”</em></p>

<p><em>“Are you ready to settle down with me?”</em></p>

<p>Arsena terdiam, jantungnya seakan berhenti berdetak. Ia merasa sangat terharu dengan apa yang dilakukan Alvano malam ini. Gadis itu sangat tidak menyangka. <em>Speechless.</em> Jadi, selama dua minggu Alvano menyiapkan sebuah lamaran? Lamaran? Yang bahkan masih jauh dari pikiran Arsena. Gadis itu baru saja mendapatkan pengumuman kelulusan s2 nya, ia hendak memberi tahu Alvano akan kabar tersebut, namun, kini, Arsena hanya bisa terpaku. Ia terlalu terkejut dengan apa yang dilakukan Alvano malam ini. Otaknya butuh istirahat dan memikirkan ini semua dengan tenang.</p>

<p>Tanpa sadar, gadis yang masih terpaku itu perlahan melangkahkan kakinya, bukan menuju Alvano, melainkan terus mundur kebelakang dan perlahan menghilang di balik pintu kafe. Meninggalkan Alvano yang baru saja menyatakan lamarannya balik terdiam dengan penuh pertanyaan dan kebingungan. Ia tidak mengerti.</p>

<p><em>&#39;Kenapa Arsena berlari meninggalkannya begitu saja?&#39;</em></p>

<p>——</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://nadswrites.writeas.com/surprised</guid>
      <pubDate>Fri, 22 Jul 2022 22:54:05 +0000</pubDate>
    </item>
  </channel>
</rss>