Good Morning!

I got my driver license last week just like we always talked about..

Suara nyanyian lagu terkenal tersebut perlahan membuat Arsena membuka kedua matanya. Tangannya mencari-cari letak handphone yang seingatnya ditaruh di bawah bantal. Ia pun mematikan alarm tersebut.

Arsena mengusap matanya sekilas, hendak beranjak dari kasur, namun sesuatu yang berat menahan perutnya. Sontak, ia melebarkan mata dan melihat sepasang tangan tengah memeluknya.

'ALVANO? yampun hampir lupa kalo semalem kita tidur berdua,' batin Arsena. Ia mengernyitkan dahi sejenak, berfikir mengapa mereka bisa berakhir dengan keadaan seperti ini. Gadis itu menggelengkan kepala, ia tak mau ambil pusing.

'Pasti Alvano yang meluk duluan,' fikirnya percaya diri.

Arsena memandang wajah Alvano yang nampak masih terlelap di dalam mimpi, tidak terganggu dengan pergerakan yang dilakukannya. Perlahan, ia memindahkan tangan lelaki itu.

Entah mendapatkan keberanian dari mana, Arsena mendekatkan wajahnya ke wajah Alvano, sebelum beberapa detik kemudian ia tersadar dan segera menjauh.

'Gila, Na. Barusan mau ngapain?' rutuknya dalam hati.

“Eugh..” suara lenguhan Alvano yang tiba-tiba itu sontak mengejutkan Arsena. Tangan lelaki itu dengan cepat menahan tangan Arsena yang hendak berdiri.

“Kabur, hm?” tanya Alvano. Ia tersenyum miring menatap Arsena yang hanya terdiam gugup.

“Udah, sana ke kamar mandi duluan, kita subuhan bareng.” ucap Alvano lagi sebelum Arsena membuka mulutnya. Gadis itu pun berdiri dan berlalu ke kamar mandi. Kekehan Alvano terdengar samar, membuat hatinya kesal.

Arsena merutuki dirinya sendiri yang bisa-bisanya menganggap Alvano masih tertidur nyenyak tadi.

'Na, na.. kapan ga malu-maluin depan Alvano?'

~~~

“Apa?”

Alvano bertanya begitu merasakan Arsena menyenggol bahunya, lelaki itu membalikkan badannya kebelakang dan melihat Arsena tersenyum menatapnya sembari menjulurkan tangannya.

“Salim dulu atuh A', kan abis jamaahan.” jawab Arsena masih dengan senyum manis di bibirnya. Ia menambahkan embel-embel Aa' bermaksud menggoda Alvano. Gadis itu menebalkan muka dan melupakan kejadian memalukan saat bangun tidur tadi.

Alvano mendengus, ia akhirnya mengulurkan tangan, membuat Arsena mencium tangannya.

“Nah, gini kan, enak, hehe,” ujar Arsena. Ia tersenyum puas.

Arsena kemudian membuka mukenanya, ia melipat sajadahnya dan sajadah Alvano.

“Abis ini siap-siap, Na. Kita sarapan diluar aja, mau ke rumah bunda sekalian ngambil barang-barang, lo,” ucap Alvano. Lelaki itu terlihat sedang mengancingkan sebuah koper.

“Oke, Al. Ohya, kenapa bawa koper?” jawab Arsena sembari bertanya bingung, menunjuk koper yang dirapikan Alvano.

“Kita mau ke bandara hari ini, mama papa yang ngasih tiket,” jelas Alvano singkat. Ia meraih handphone nya dan menunjukkan scan an pembelian tiket kepada Arsena.

Arsena melebarkan kedua matanya, “KOK GA BILANG DARI SEMALEM KALO HARI INI MAU PERGI, ALVANOO?!” ucapnya heboh, membuat Alvano menghembuskan nafas berat, salahnya sendiri kenapa baru memberi tahu. Semalam, ia terlalu mengantuk sesaat setelah merapikan kopernya dan menunggu Arsena masuk ke dalam kamar. Lelaki itu berakhir ketiduran tanpa sempat memberi tahu Arsena soal kepergian hari ini.

Sorry, semalem gue ketiduran duluan, yang penting sekarang udah dikasih tau, kan?” Alvano menjawab singkat sembari mengode Arsena untuk segera siap-siap.

Gadis itu mengedip-ngedipkan matanya dan mengangguk, meskipun hatinya kesal karena baru diberi tahu, namun ia senang karena mereka akan berlibur bersama.

Tak lupa, Arsena juga berniat berterima kasih kepada mertuanya itu. Ia tersenyum senang dan sangat bersemangat, membuat Alvano yang memperhatikan dari ekor matanya hanya mampu menggelengkan kepala melihat tingkah gadis yang kini adalah istrinya itu.

'Bahagia terus, Na,' batin Alvano.

©nadswrites