have you ever thought?

“Lo mau balik beneran, No?”

Itu merupakan pertanyaan yang sama untuk yang ketiga kalinya dikeluarkan oleh sang sahabat, Juna. Dan untuk yang ketiga kalinya pula Alvano menganggukkan kepalanya, kali ini lelaki itu juga mengacungkan jempol.

“Iya, gue balik.” jawab Alvano akhirnya, ia mendekati Juna sekilas untuk tos ala lelaki sebelum kemudian berlalu meninggalkan lapangan yang sudah tampak sepi malam ini. Ya, ia dan Juna memutuskan untuk bermain basket setelah lama tak bersua. Alvano dan Juna merupakan teman sejak duduk di bangku sekolah menengah pertama sebelum akhirnya Alvano pindah ke kota lain, namun, dua minggu ini lelaki itu kembali dan mereka pun bertemu lagi.

Alvano terus berjalan menuju parkiran tempat di mana mobilnya terparkir. Ia hendak menginjak pedal gas sebelum dering suara ponsel menginterupsi kegiatannya, lelaki itu pun mengangkat panggilan tersebut dan menunda perjalanan.

“Iya, Teh? Kenapa?”

”...”

“Obat apa?”

”...”

“Oke, Adek mampir ke apotek nanti.”

'Tut'

Sambungan terputus, ternyata sang kakak yang menelponnya. Kakak perempuannya yang biasa ia panggil Teh Alana itu merasakan badannya hangat dan pusing, juga sedikit menggigil. Ia meminta tolong pada Alvano agar membelikannya obat penurun demam sebelum pulang, yang tentu saja disanggupi oleh lelaki itu.

Alvano pun melanjutkan perjalanannya yang tadi tertunda. Ia juga menghidupkan radio mobilnya. Alunan lagu I'm Yours milik Jason Mraz menyapa lembut telinganya.

— — —

“Ini kembaliannya, makasih, Kak.” ucap karyawan apotek tersebut yang disambut anggukan singkat Alvano. Ia memutuskan mampir di apotek yang berada dekat perumahan Juna.

Alvano pun keluar dari apotek dan masuk ke dalam mobil. Lelaki itu menghidupkan mesin, namun, ia tak langsung menginjak pedal gas, Alvano meraih ponselnya dan melihat sejenak notifikasi yang muncul. Terdapat pesan dari Mama dan Teh Alana, juga beberapa chat dari Juna yang mengingatkan tentang sekolah barunya besok.

Alvano hendak memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku sebelum suara pintu mobil terbuka disertai atensi seseorang mengejutkan dirinya. Lelaki itu lantas menoleh dengan cepat, sedikit takut mengingat ini sudah larut malam dan banyaknya rampok kendaraan di malam hari.

“Yah, obat— “

Suara seorang gadis menyambut indera pendengaran Alvano. Ia membulatkan matanya memastikan dirinya tak salah lihat. Seorang gadis berkuncir kuda mengenakan hoodie biru muda. Sosok itulah yang membuka pintu mobilnya. Alvano mengernyitkan dahi, tatapannya bertemu dengan tatapan sang gadis.

Gadis itu menghentikan ucapannya, dan Alvano masih mampu melihat semburat merah di pipinya dalam keremangan cahaya di mobil. Ia ingin tertawa melihat raut malu dari gadis itu, namun tentu saja lelaki itu mempertahankan wajah datarnya. Alvano masih ingin melihat reaksi si gadis lebih lanjut.

“Eh, maaf, ya! Maaf banget, gue kira ini mobil ayah gue...”

“Maaf sekali lagi, gue bener-bener ga sengaja maaf yaa...”

“Maaf—”

Ucapan gadis si pemilik suara itu terputus begitu tatapannya kembali bertemu dengan tatapan mata Alvano si pemilik mobil. Alvano yang kini menaikkan sedikit bibirnya mendengar ucapan maaf berulang si gadis disertai nada cemas yang kentara.

Alvano akhirnya mengacungkan jempolnya seolah berkata tidak apa-apa. Gadis yang masih menampakkan raut malu itu menundukkan kepalanya sekali lagi sebelum menutup pintu mobil.

“Arsenaa, kapan sih lo ga malu-maluin diri sendiri?!”

Gerutuan kecil itu tertangkap samar di telinga Alvano, membuatnya tersenyum tipis.

'Arsena?'

Lelaki itu menggelengkan kepalanya cepat sebelum akhirnya menginjak pedal gas dan benar-benar meninggalkan apotek.

Pada detik ini, malam hening disertai sinar sempurna bulan purnama terasa tak lagi sama dengan sebelumnya.

A'! Alvanoo? Papaa? Mikirin apa hayoo?!”

Panggilan berulang disertai lambaian tangan sang istri membuyarkan lamunan Alvano.

Ia menaikkan bibirnya, masih terbayang kejadian masa lalu yang baru saja terlintas, otaknya masih mengingat dengan jelas pertemuan pertama mereka ternyata. Pertemuan pertama yang dilanjutkan dengan jutaan pertemuan setelahnya. Tidak pernah terpikirkan di benak Alvano saat itu bahwa gadis malam itu bersekolah di sekolah yang sama dengan dirinya.

“Malah senyum?” ucapan heran dari Arsena yang kini berdiri di hadapan Alvano membuat lelaki itu mengalihkan pandangannya. Ia menatap hangat sepasang mata milik istrinya itu. Mata ini, mata yang sudah terekam di benak Alvano sejak kejadian di apotek malam itu.

“Aku inget pas pertama kali kita ketemu.” jawab Alvano, ia terkekeh dan mengacak pelan rambut Arsena begitu melihat raut malu sang istri.

“Kok masih diinget aja, sih? Itu malu-maluin banget tau, Alll...” rengek Arsena. Gadis itu membalikkan badannya sebelum dengan cepat tangan Alvano menahannya.

“Kenapa harus dilupain? Belum pernah ada yang gitu sebelumnya,”

“Kamu yang pertama.” ucap Alvano, ia tertawa, menggoda Arsena. Membuat istrinya itu mendengus kesal.

Namun, raut kesal itu tak bertahan lama. Alvano kemudian mengeluarkan ucapan yang mampu membuat Arsena terdiam.

“Perempuan yang hampir masuk mobil aku malam itu ternyata perempuan yang bakal aku liat seumur hidup, dan aku bersyukur.”

“Aku bersyukur untuk semua pertemuan kita.”

Tatapan hangat sang suami disertai ucapan yang sangat melelehkan hati kecil Arsena. Gadis itu pun berjinjit, membisikkan sesuatu di telinga Alvano.

“Aku bersyukur laki-laki itu kamu, Al.”

Bisikan yang membuat Alvano menundukkan kepalanya, mencium pipi Arsena gemas.

Keduanya bertatapan dan saling mengulum senyum, sebelum suara tangis si kecil membuat Arsena memutuskan tatapan itu dan berjalan cepat menuju sumber suara.

Pemandangan yang Alvano sukai setiap harinya. Pemandangan yang membuatnya selalu bersyukur untuk kehidupannya sampai saat ini. Lelaki itu tidak akan menyesali setiap detiknya.

Siapa yang menyangka bahwa perempuan malam itu merupakan perempuan yang akan mengisi hari-harinya seumur hidup?