Here in The Grand Palace
“Al?”
Panggilan itu membuyarkan lamunan Alvano yang tengah asik memperhatikan Arsena yang berjalan di depannya. Gadis itu begitu bersemangat dan selalu memotret sekeliling dengan kamera handphonenya. Tentu saja di tempat yang diizinkan untuk mengambil foto. Hal itulah yang menyebabkan Alvano akhirnya tertinggal selangkah dibelakang Arsena.
Alvano menaikkan alis seolah bertanya begitu Arsena membalikkan badan menatapnya.
“Kamu tau ngga? Bangunan ini tuh udah tua banget, pembangunan Menara Kencana atau menara emasnya aja dimulai sekitar April 1782, istana ini awalnya cuma beberapa bangunan kayu doang gitu, sampe akhirnya Raja terdahulu mutusin buat....”
Gadis itu terus bercerita panjang, membuat Alvano tersenyum pelan dan mengambil langkah disamping Arsena. Arsena bercerita dengan gaya khasnya yang lucu dan sangat bersemangat persis seperti yang ada di ingatan Alvano. Sama sekali tidak berubah, alisnya yang terkadang berkerut, dan bibirnya yang berucap cepat. Seperti biasa, gadis itu selalu tau banyak hal. Alvano yakin Arsena mencari tahu tepat sebelum ia mencatat The Grand Palace ke dalam list jalan-jalannya.
”...walaupun sekarang Raja ga lagi tinggal disini, tiap tahun istana ini masih jadi tempat ngadain upacara dan ritual kerajaan, Al. Kaya penobatan, pemakaman, pernikahan, dan jamuan kerajaan gituu, di dalam kompleks istananya juga ada kantor pemerintahan, Kantor Sekretaris Pribadi Raja, sama ada Insitut Kerajaan Thailand..”
“Alvano? Kamu ga dengerin, ya? Kenapa senyum-senyum sih?” Arsena menghentikan celotehannya tepat saat ia menyadari Alvano melamun dan tidak mendengarkannya, membuat pria itu segera berdeham dan menetralkan mimik mukanya.
“A – ak, Gue dengerin, kok,”
Alvano menelan ludahnya, tiba-tiba ia menyadari gaya bicaranya yang tanpa disadari berubah menjadi menggunakan aku-kamu kepada Arsena.
Arsena mengernyitkan dahi, ia menghentikan langkahnya sejenak. Seketika ia teringat pada chat tadi pagi dimana Alvano memang menggunakan aku-kamu.
'Rupanya yang tadi pagi ga sadar ya? sekarang udah gue lo lagi?' batin Arsena. Ia tersenyum pahit dan kembali melanjutkan langkahnya. Tidak memedulikan Alvano yang bingung dan kemudian menyamakan langkah mereka.
'Dasar cowok!'
~~~
“Na? Mau makan dimana?”
Setelah puas berkeliling dan berfoto di The Grand Palace, Alvano dan Arsena memutuskan untuk makan siang terlebih dahulu sebelum kembali ke hotel. Kini, mereka berdua berada di mobil yang disewa Alvano.
Arsena melirik arlojinya sekilas, waktu sudah menunjukkan pukul 2. Ia pun meraih notes yang tersimpan di tasnya, membaca rekomendasi restoran halal yang telah ia catat.
“Kita ke Sinthorn Steak House aja, ya? Aku lagi pengen steak,” jawab Arsena menyarankan.
Alvano mengangguk, membuka maps dan mengarahkan mobilnya menuju Sinthorn Steak House. Ia tidak keberatan dengan restoran yang dipilih Arsena karna sejujurnya ia bisa makan apa saja, terutama saat sudah lapar seperti saat ini.
Perjalanan di mobil tersebut hening, Arsena pun tampak mengantuk, ia memejamkan matanya sekilas. Alunan lagu yang diputar menemani suasana sepi di mobil mereka.
©nadswrites