Him.
Arsena tersenyum puas memandangi berbagai masakan yang sudah terhidang rapi di meja makan. Gadis berambut panjang itu berharap dapat menebus sedikit kesalahannya karena telah berbohong.
'Semoga Alvano suka,' batinnya.
Menit demi menit berlalu, tanpa terasa kini waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam, namun sosok lelaki yang ditunggu belum juga pulang.
Arsena menghela nafas, ia pun melangkahkan kaki menuju kamar, mengambil secarik kertas dan pena.
Gadis itu memejamkan matanya sekilas sebelum akhirnya menuliskan sesuatu disana.
'Alvano, maaf ya, maaf udah bohong, maaf karna aku ga berfikir panjang dulu. Semoga suka masakannya, dimakan yaa.'
~~~
Suara berisik yang berasal dari dapur membuat Arsena terbangun.
Gadis itu mengerjapkan matanya sebelum memutuskan beranjak dan mengintip apa yang terjadi di dapur dari celah pintu kamar. Terlihat sosok Alvano sedang menghabiskan makan malam, dengan pakaian kerja yang masih menempel di tubuhnya.
Arsena menghembuskan nafas lega, ia tersenyum tipis dan kembali naik ke atas ranjang. Sebenarnya, ia ingin keluar dan menyapa suaminya itu, namun ia masih merasa malu atas kebohongan yang dilakukannya.
Perlahan, Arsena memejamkan matanya dan mencoba untuk kembali tidur.
15 menit kemudian, pintu kamar tersebut kembali terbuka.
Kali ini, sosok Alvano masuk dengan raut lelahnya. Lelaki itu tersenyum lega melihat Arsena yang sudah terlelap. Muka tidurnya terlihat begitu polos. Membuat rasa marah yang dirasakan Alvano tadi seketika meluap begitu melihatnya, ditambah masakan favoritnya yang disediakan Arsena malam ini juga membuat hatinya terenyuh.
“Gue ngerti kenapa lo bohong tadi, Na. Ga perlu khawatir lagi, bunga itu dari Teh Alana.”
“Makasih juga buat makan malamnya. Masakan lo gapernah mengecewakan, maaf karna gue belum bisa pulang lebih cepat.”
Alvano menjelaskan dengan suaranya yang terdengar berat. Walaupun ia tahu, hanya suara detak jam yang seperti menjawab perkataannya malam ini.
Tangan Alvano kemudian terulur, ia mengusap lembut rambut sang gadis yang tampak sudah memasuki mimpinya.
Setelah memandangi wajah Arsena cukup lama, tanpa sadar lelaki itu kini mendekatkan wajahnya. Ia tidak bisa menahan dirinya lagi.
'Cup'
Kecupan itu singkat namun bermakna.
'Maaf lagi-lagi gue curi kesempatan, semoga lo beneran udah tidur,'
©nadswrites