Home.
Kedatangan Arsena kembali ke rumah orangtua nya mendapat sambutan hangat dari sang bunda.
Mereka berdua berjalan beriringan sembari mengobrol menuju kamar dimana ayah Arsena berada, sedang beristirahat.
“Ayah udah lama tidurnya, Bun?” tanya Arsena.
“Udah lama, kok, Kak. Mungkin sekarang udah bangun, cuma masih guling aja soalnya kakinya itu, Kak,” jawab bunda menjelaskan.
Arsena mengangguk mengerti, kondisi sang ayah tersebut sudah tidak asing lagi, kaki beliau kerap kali sakit dan susah berjalan apabila penyakit asam uratnya kambuh.
“Bunda seneng Kakak ke rumah walaupun belum sama Alvano, Bunda kangen sama anak Bunda satu-satunya ini,” ucap bunda lagi sembari merangkul erat Arsena. Gadis itu menaikkan bibirnya, membalas rangkulan bunda.
Mereka pun sampai di kamar orang tua Arsena, terlihat ayah sedang duduk setengah berbaring, tangannya memegang sebuah buku.
“Ayah...” panggil Arsena pelan sembari mendudukan diri di pinggiran ranjang.
“Kak? Sini,” jawab Ayah tersenyum dan merentangkan tangannya. Membawa Arsena ke sebuah pelukan hangat, membuat gadis itu menyadari betapa ia merindukan suasana dan momen seperti saat ini.
“Apa kabar, Kak? Di rumah sepi ngga ada, Kakak.” tutur Ayah, menepuk lembut kepala Arsena.
“Kakak sehat, Yah. Ayah cepet sembuh, jangan makan makanan yang dilarang lagi, ya, Yah? Ada salam juga dari A' Alvano, dia belum sempat kesini,” jawab Arsena masih di pelukan sang Ayah.
Bunda yang memperhatikan keduanya tersenyum, langkah kakinya pun mendekat ke arah ayah dan anak tersebut.
Ayah menganggukkan kepalanya, “Ngga papa, Kak, yang penting kalian dijaga kesehatannya, kalau ada apa-apa jangan sungkan kabarin Ayah sama Bunda, Kak.” tutur Ayah melanjutkan.
Ucapan tersebut langsung mendapat anggukan bunda.
“Iya, Kak. Sekarang lagi musimnya sakit, Kakak sama Alvano jangan sampe lengah, sesibuk-sibuknya kalian, jangan sampe lupa makan, lupa istirahat, jangan bergadang ya, Kak?” pesan bunda menatap mata Arsena. Tersirat rasa khawatir dalam tatapan tersebut.
“Bunda, Ayah, jangan khawatirin kita, kita baik-baik aja kok, Bun, Yah. Bunda sama Ayah jangan sampe sakit, ini kambuh yang terakhir ya, Yah? Jangan sakit lagi,” lirih Arsena. Gadis itu menatap kedua orang tua nya bergantian, membuatnya merasa emosional.
Bunda dan Ayah menganggukan kepala mereka, memeluk erat Arsena.
'Ayah, Bunda harus sehat-sehat terus, ya...'
©nadswrites