Hug
5 menit berdiri di dekat pintu belum juga membuat Arsena sadar akan atensi Alvano. Gadis itu terlihat begitu menikmati film yang tengah ia tonton.
Ehem!
Alvano berdeham dengan sengaja untuk mencuri perhatian Arsena.
“Seru banget ya, Na?” ucapnya kemudian.
Ucapan tersebut membuyarkan fokus Arsena. Ia sontak mengalihkan pandangannya ke depan, dimana sosok Alvano berdiri.
“E— eh, kamu udah pulang?” tanya Arsena gugup, seperti ketahuan melakukan suatu kejahatan.
“Udah,” sahut Alvano singkat. Lelaki itu berlalu ke kamar mandi tanpa memperhatikan ekspresi Arsena, ia mengeluarkan smirk kecil begitu menghilang di balik pintu kamar mandi.
'A' Alvano ngga marah, kan?' fikir Arsena. Gadis yang tadinya menonton itu kini sibuk mematikan laptop dan merapikan kasur mereka. Ia merasa bersalah.
'Bisa-bisanya aku keasyikan nonton!' sesalnya dalam hati.
~~~
“Ini A' tehnya diminum, biar hangat.” ucap Arsena pelan memasuki kamar mereka, ia menaruh teh hangat di atas meja.
Terihat Alvano sudah berganti baju dengan piyama. Lelaki itu baru saja mandi.
“Makasih.” jawab Alvano sembari mengambil cangkir teh tersebut dan menyesapnya sedikit, ia sebenarnya tidak marah kepada Arsena, hanya ingin menggodanya. Namun, Alvano memang sedikit kesal karena istrinya itu tidak menyadari kehadirannya saat ia pulang tadi, padahal besok ia sudah harus ke luar kota dan mereka akan berpisah untuk sementara.
“Besok jam berapa A' berangkatnya?” tanya Arsena lagi, berusaha memulai percakapan dan menebus rasa bersalahnya.
“Baju kamu udah aku siapin, nanti kamu cek lagi aja kalau ada yang ga suka atau ada yang mau ditambahin lagi, itu aku siapin buat 3 hari.” lanjut Arsena, gadis itu melangkah mendekati Alvano yang tengah berdiri di depan cermin. Berdiri tepat di belakangnya.
Alvano masih diam, belum mengeluarkan jawaban apapun, membuat Arsena semakin salah tingkah dan bingung.
“Maaf ya, tadi aku keasyikan nonton sampe ngga sadar kamu udah pulang,” lirih Arsena.
Perlahan, gadis itu mengulurkan tangannya dan memeluk Alvano dari belakang.
'Cup'
Arsena pun memberanikan dirinya, ia berjinjit dan mengecup pipi Alvano cepat membuat semburat merah muncul di telinga lelaki itu. Arsena tersenyum.
Saat ia hendak melepaskan pelukan mereka, tangan Alvano segera menggenggam tangan Arsena yang ada di perutnya, menahan agar pelukan tersebut tidak terlepas.
“Jangan kabur,” ucap Alvano.
Akhirnya lelaki itu luluh dan mengeluarkan suaranya.
“Aku besok berangkatnya jam 10 pagi, bisa 3 sampai 5 hari, Na. Ke Lampung.” lanjut Alvano, menjawab beberapa pertanyaan yang tadi di lontarkan Arsena.
'Aku?' batin Arsena. Ia sedikit salah fokus mendengar jawaban Alvano dan terdapat perubahan kata tersebut. Gadis itu tersenyum lagi, kali ini lebih lebar dari sebelumnya.
“Semoga dapet hasil yang terbaik ya, hati-hati disana, jangan sampe sakit, A'..” pesan Arsena.
“Hmm, will do, Na.” jawab Alvano.
Ia melepaskan pelukan mereka dan membalikkan badannya.
Kini mereka berdua bertatapan.
“Sekarang, ayo kita tidur, kamu pasti capek.” ucap Arsena. Ia menarik pelan tangan Alvano.
Gadis itu merebahkan dirinya di atas kasur terlebih dahulu yang kemudian disusul Alvano.
“Gonna miss you,” ucap Alvano pelan, membuat Arsena terkejut dan menatap lelaki itu.
“Gonna miss you too,” jawab Arsena. Ia tersenyum, mengelus kerutan yang muncul di dahi Alvano.
“Jangan cemberut gitu, nanti aku jadi sedih beneran karna kamu tinggal,” lanjutnya.
“Hmm.” Alvano berdeham, lelaki itu mengulurkan tangannya dan memeluk Arsena.
“Jangan dilepas,” bisik Alvano. Ia memejamkan matanya, merasakan hangat di antara pelukan mereka.
Arsena mengerjapkan mata, menganggukan kepalanya pelan.
Gadis berambut panjang itu merasakan jantungnya berdegup kencang, masih belum terbiasa dengan sikap manja yang kembali ditunjukkan Alvano. Ia menarik nafasnya pelan, menenangkan degupan jantungnya, sebelum kemudian terlelap, menyusul Alvano yang tampak sudah masuk ke alam mimpi.
©nadswrites