It's been a while

Setelah mendapatkan notifikasi pesan dari Bunda, Arsena terdiam kaku. Bingung dengan keadaan yang saat ini terjadi.

Matanya melirik ke arah Alvano, terlihat Alvano menundukkan kepala, sedang mengetikkan sesuatu di smartphone pribadinya.

Arsena menghembuskan nafas kasar. Ia beranjak dari kursi, “Sena mau cari angin dulu, Bun, Tante.” pamit Sena, lalu melangkahkan kaki tepat sebelum Bunda mendelik tidak setuju menatapnya.

“Dek, susul sana, temenin Arsena, sekalian biar lebih tau satu sama lain.”

Samar-samar suara Tante Ayana terdengar di telinga Arsena.

'Kita bahkan udah saling tau banget, Tan' ucap Sena dalam hati.

~~~

Sena mendongakkan kepala, pemandangan langit Bandung malam ini nampak begitu tenang, tidak sesuai dengan suasana hatinya sekarang.

Tatapan mata Alvano yang begitu dingin di ruangan tadi masih jelas terbayang di fikirannya.

'Well, everything has changed, Sen'

Suara ketukan sepatu membuyarkan lamunan Arsena. Ia bisa merasakan atensi Alvano yang kini berdiri tepat di sampingnya. Aura dingin begitu menguar diantara mereka. Arsena menundukkan kepala, melirik tangan Alvano yang kini begitu dekat. Jari mereka nyaris bersentuhan.

“Alvano..” lirih Sena kemudian.

Mencoba mencairkan suasana dingin malam ini.

“Sorry, ya..”

“Aku bener-bener minta..”

Alvano menghembuskan nafas kasar, terlihat menahan emosi yang tertahan sedari tadi. Ia memejamkan mata, tak mau mendengarkan ucapan Sena lebih lama lagi.

“Lupain,” potong Alvano, “Anggep aja kita ga pernah ketemu sebelumnya,” lanjutnya kemudian.

Sena tersenyum pahit. Matanya mulai terasa hangat, Ia pun mendongakkan kepala perlahan, menahan agar tetes air mata itu tidak terjatuh.

Sena segera menjauh dari atensi Alvano. Mendudukkan diri di bangku yang tersedia di taman hotel tersebut.

Alvano hanya berdiri diam. Namun, ekor matanya begitu mengawasi Arsena. Satu-satunya gadis yang berhasil mencuri perhatiannya sejak dulu.

'Apa kabar, Na? Masih aja suka nahan nangis begitu, ga pernah berubah ya, kebiasaan kamu?'

©nadswrites