Ketahuan.

Keira terdiam, ia nyaris menahan nafasnya. Melihat sosok salah satu gangster yang ternyata adalah pacarnya sendiri. Gadis itu perlahan berjalan menjauh, ia menyembunyikan dirinya di salah satu pohon yang ada di sana.

Dalam diam, Keira terus memperhatikan apa saja yang dilakukan oleh para gangster di hadapannya, termasuk Kevin.

Bugh!

Gue gatau!

Bugh!

Keira meringis melihat peristiwa yang terjadi di hadapannya saat ini, rasa beraninya menciut, rasanya justru ia yang ingin kabur dan pergi. Keira tidak sanggup melihat aksi yang semakin lama semakin kejam itu.

Bugh!

Keira menyipitkan matanya melihat seorang lelaki terus dipukuli oleh beberapa orang lain yang Keira yakini merupakan komplotan Kevin, pacarnya. Kevin sendiri dan yang lain tampak hanya diam dan memperhatikan. Keira berusaha mendengar apa yang mereka ucapkan, tapi nihil, mereka berbicara terlalu pelan, jarak Keira berdiri tak cukup dekat untuk mendengar percakapan mereka.

Akhirnya, Keira kembali mengeluarkan ponselnya, dengan perasaan gugup dan sedikit takut, ia pun memotret kejadian tersebut.

'Ckrek'

Suasana gang yang gelap dan cukup bersuara itu tiba-tiba sunyi sesaat, Keira membelalakkan matanya dan membeku setelah menyadarinya.

Keira lupa mematikan fitur suara di handphone-nya! Sehingga suara itu terdengar cukup nyaring dan kuat untuk mengalihkan perhatian orang-orang yang ada di gang tersebut.

Keira menutup mulutnya, ia melihat ke arah para gangster dan benar saja, kini semua mata memandang dirinya. Ia tertangkap basah.

Karena terlanjur panik dan tidak mengingat apapun lagi, Keira langsung membalikkan badannya dan berjalan dengan cepat, nyaris berlari.

Namun pada saat itu juga, dua orang bertubuh besar dengan pakaian serba hitam muncul dari ujung gang.

'Kenapa mereka ada disitu?Sejak kapan?' batin Keira.

Keira sontak berhenti, kini ia hanya mampu berdiri di tempat, gadis itu mencoba menetralkan nafasnya sendiri. Ia menarik nafas dan nembuangnya berkali-kali.

Dua pria bertubuh besar itu terus berjalan mendekat ke arahnya, membuat Keira mulai panik dan ketakutan.

Namun, di antara rasa takut yang melingkupi, Keira mendengar suara langkah kaki lain di belakangnya, disusul dengan hembusan nafas berat dan dehaman lirih yang familiar di telinga Keira.

“Stop, biarin gue yang urus.” ucap lelaki di belakang Keira tersebut, membuat dua pria bertubuh besar di hadapannya berhenti melangkah mendekatinya.

“Dia pacar gue.” ucap lelaki itu lagi, membuat Keira langsung membalikkan badannya.

Perlahan, Keira mulai bernafas dengan tenang, ia nyaris melupakan keberadaan lelaki di belakangnya tersebut. Kevin.

Tatapan mereka berdua akhirnya bertemu, Keira dengan sorot penasaran dan ketakutannya, dengan sorot bersalah dan amarah dari mata Kevin.

©nadswrites