ketemu

Alunan lagu My Everything milik Ariana Grande terdengar indah di telinga Marsha. Gadis itu tengah duduk manis di koridor fakultas sembari memakai headset, menunggu sosok lelaki yang sudah berjanji akan menjemput.

Awalnya, Marsha menolak untuk dijemput, ia ingin mereka bertemu di tempat pertemuan saja. Namun, Alaskar menolak. Mantan pacarnya itu ingin menjemputnya langsung, baru kemudian menuju tempat pertemuan yang ternyata dirahasiakan. Marsha mendengus pelan, jantungnya tiba-tiba berdegup lebih cepat. Terlihat, sosok Alaskar dari kejauhan perlahan berjalan menuju tempatnya duduk.

“Marsha?” sapa Alaskar begitu mereka bersitatap. Marsha hanya menaikkan alisnya, gadis itu beranjak dan membenarkan letak tas yang dibawanya.

“Kamu cantik.” puji Alaskar kemudian, ia tersenyum menatap hangat mata Marsha.

“Apa sih, yuk,” dengus Marsha, gadis itu berjalan cepat mendahului Alaskar. Dapat didengarnya tawa samar lelaki itu, membuatnya sedikit malu karna kesal.

— — —

“Alaskar?!”

“Ini...”

“KAMU NGAJAKIN AKU OUTBOND?!”

Marsha berseru heboh begitu mereka sampai di destinasi yang sedari tadi dirahasiakan Alaskar, ia bahkan tidak menyadari bahasanya yang berubah menjadi aku-kamu. Lelaki itu begitu misterius dan hanya diam sepanjang perjalanan. Hanya alunan lagu dari radio yang mengiringi mereka selama di mobil.

Alaskar yang melihat seruan heboh sang mantan pacar, hanya tersenyum. Ia begitu puas melihat reaksi Marsha, tepat sesuai dugaannya. Sewaktu mereka berpacaran dulu, Marsha kerap kali mengkode ingin diajak outbond bersama. Gadis itu ingin berkencan secara anti mainstream, katanya.

“Iya, Sha. Kamu seneng? Aku inget kalau kamu selalu pengen kita outbond bareng,” jawab Alaskar, turut ber-aku kamuan kepada Marsha.

Marsha menatap lama Alaskar, gadis itu mengangguk sembari tersenyum antusias. Ia bahkan melupakan segala kekesalannya, juga hutang penjelasan Alaskar.

Alaskar kemudian membuka bagasi mobilnya, lelaki itu mengeluarkan sepasang jaket couple dari sana, memberikan satu kepada sang gadis.

“Nanti bakalan dingin, kamu harus pake jaketnya, Sha.” ucap Alaskar.

Tanpa banyak membantah, Marsha mengambil jaket tersebut dan langsung memakainya, mood gadis itu benar-benar baik saat ini. Membuat Alaskar tersenyum hangat sembari memperhatikan Marsha.

'Bisa-bisanya gue jahatin dia kemarin,' batin Alaskar. Ia sangat menyesal.

— — —

“Kita mau naik apa dulu, nih?” tanya Alaskar begitu mereka sudah memasuki kawasan outbond.

Flying Fox, yuk, Ar! Aku penasaran bangett,” jawab Marsha penuh semangat.

“Haha, yuk, Sha. Tapi, itu sendiri-sendiri gapapa? Berani?” tanya Alaskar lagi, seolah meledek Marsha.

Marsha sontak membulatkan matanya, menatap tajam Alaskar, “Berani, dong! Kamu kali yang ga berani,” tandasnya.

Alaskar hanya tertawa menanggapi.

Setelah mengurus persoalan pembelian tiket dan keamanan, Alaskar dan Marsha pun menaiki flying fox dengan ukuran yang cukup tinggi. Mereka bersebrangan.

Alaskar dan Marsha bersitatap sekilas sebelum flying fox tersebut meluncur, jarak mereka rumayan jauh, membuat keduanya harus menyipitkan mata.

“ALASKAR JELEK!” Marsha berteriak puas sesaat setelah flying fox-nya meluncur, gadis itu tertawa dan menikmati pemandangan hijau dari atas. Ia tersenyum senang.

Alaskar hanya mampu menggelengkan kepalanya mendengar teriakan Marsha, lelaki itu kemudian turut menikmati pemandangan, semua terlihat hijau, begitu indah dan asri. Ia selalu menyukai kegiatan yang berhubungan dengan alam sedari dulu.

— — —

“Gimana, seneng gak?”

Alaskar bertanya begitu mereka duduk di cafetaria wahana outbond tersebut. Keduanya sudah cukup puas setelah mencoba beberapa wahana yang ada di sana. Kini, waktu sudah menunjukkan pukul setengah delapan malam, Marsha dan Alaskar sudah harus mengisi perut setelah lama bermain.

“Seneng banget! Makasih ya, Ar.” jawab Marsha, ia mengeluarkan senyum manisnya. Gadis itu meminum lemon iced tea yang dipesannya masih dengan senyuman yang tak juga luntur.

“Marsha,” panggil Alaskar pelan, tatapan lelaki itu berubah menjadi serius.

“Iya, Ar?” sahut Marsha, sedikit bingung.

“Aku mau jelasin yang kemarin, Sha,” ucap Alaskar lagi, membuat Marsha mengernyitkan dahinya. Sontak, gadis itu membulatkan mata, ia seakan tersadar dengan alasan mengapa ia berada di sini bersama Alaskar. Mantan pacarnya. Bisa-bisanya gadis itu melupakan fakta bahwa keduanya telah putus.

“Oh, iya, jelasin aja, Ar, aku dengerin.” jawab Marsha tegas.

Alaskar menghembuskan nafasnya pelan, ia pun mulai menceritakan satu per-satu kejadian kemarin.

Mulai dari rapat yang benar-benar tidak bisa ia batalkan, dikarenakan datangnya alumni yang begitu tiba-tiba, kemudian mengenai Luna yang ternyata bukan hanya Alaskar yang menemani, Alaskar ditemani dua anggota BEM lain yang juga menemani Luna, namun gadis itu membuat instastory seolah hanya Alaskar yang menemaninya.

Alaskar juga menginap di rumah sakit bukan karena Luna, melainkan menemani sepupunya yang sedang sakit. Mamanya mengirim pesan mendadak mengabarkan bahwa tantenya ada urusan yang kemudian meminta tolong Alaskar untuk menggantikannya. Namun, nampaknya memang kesialan menimpa Alaskar, mereka bertemu di lift saat hendak pulang, menghasilan foto yang membuat Marsha salah paham.

Marsha terdiam sembari mendengar penjelasan Alaskar, kini, gadis itu turut diserang rasa bersalah.

“Ar, maaf yaa, aku—”

“Engga, Sha, jangan minta maaf. Bukan salah kamu,”

Alaskar memotong ucapan Marsha.

“Harusnya aku langsung jelasin ke kamu kemarin, tapi aku bingung sendiri karna kamu udah salah paham, dan aku mikir buat dapetin maaf kamu dulu, baru aku jelasin.” lanjutnya.

“Maaf, ya, Sha? Harusnya aku lebih peka sama perasaan kamu, Luna bukan siapa-siapa, Sha.” ucap Alaskar lagi, lelaki itu kembali menegaskan kepada Marsha.

Marsha tersenyum hangat, rasa kesal dan marahnya menguap entah kemana. Melihat langsung penyesalan Alaskar, juga usaha lelaki itu mendapatkan maaf darinya, hingga saat ini mereka bermain outbond bersama cukup membuat Marsha sedikit melupakan kesalahan Alaskar. Gadis itu juga merasa bersalah karna main hakim sendiri, tidak mendengarkan penjelasan Alaskar terlebih dulu. Harusnya ia bersabar lebih lama.

“Udah aku maafin, Ar. Aku juga minta maaf, ya? Maaf karna ga dengerin penjelasan kamu dulu.” ucap Marsha lembut, tangannya meraih tangan Alaskar yang ada di atas meja.

“Dimaafin aja nih?” tanya Alaskar, lelaki itu menaikkan alisnya seperti menggoda Marsha membuat gadis itu kembali didera kebingungan.

“Balikan juga, yuk?” lanjut Alaskar begitu ringan membuat Marsha seketika menepuk pelan tangan yang tadi dipegangnya itu dengan kesal.

Marsha terlihat salah tingkah dan mengalihkan pandangannya, membuat Alaskar tertawa.

“Diem ih, Ar, apasih! Enteng banget bilangnyaa,” cetus Marsha lagi membuat Alaskar semakin tertawa puas. Ia senang karna telah berhasil menggoda gadisnya itu. Eh? Balikan juga belum!

“Mikir apa? Udah ah, yuk, pulang!”

Suara Marsha membuyarkan lamunan Alaskar. Ia pun beranjak dari duduknya dan menyusul langkah Marsha.

Merangkul erat gadis itu begitu mereka berjalan berdampingan. Membuat Marsha berseru kesal, namun tak menolak rangkulan si mantan pacar.

“Alaskaarr!”