later.

Alvano terbangun, lelaki itu mengusap matanya, ia melirik Arsena yang tampak masih tertidur tenang di sampingnya, sementara ia terganggu dengan nada dering handphone yang terus berbunyi berulang kali.

Alvano pun beranjak, ia melepaskan perlahan tangan Arsena yang melingkar di perutnya. Lelaki itu menyempatkan diri mencium dahi Arsena sebelum akhirnya berjalan dan meraih handphonenya yang masih juga berdering.

“Halo?” ucap Alvano begitu sambungan telepon terhubung.

“Serius?!”

“Coba kamu lihat di meja saya,”

“Iya, saya segera kesana,”

tut tut tut

Sambungan telepon pun berakhir, Alvano menghembuskan nafasnya berat, terjadi sedikit masalah yang mengharuskannya menuju kantor sekarang.

'Baru aja pulang,' batinnya.

Lelaki itu akhirnya melangkahkan kaki menuju lemari, hendak bersiap-siap.

Alvano juga berniat untuk mengajak Arsena, ia akan membangunkannya nanti.

~~~

“A' mau kemana? Kok udah rapi lagi aja?”

Suara lembut Arsena membuat Alvano sontak mengalihkan pandangannya. Ia terkekeh melihat sang istri yang terbangun dengan muka bantalnya.

“Siap-siap, Na. Kamu ikut.” jawab Alvano sekaligus memerintahkan Arsena untuk segera bersiap. Meskipun bingung, Arsena tidak banyak berkomentar dan menuruti perkataan Alvano.

Setelah 15 menit, akhirnya Arsena pun siap pergi dalam balutan gaun berwarna kuning dengan motif bunga-bunga, gadis itu juga menggerai rambut panjangnya, terlihat begitu cantik dan elegan.

“A', aku udah siap.” ucap Arsena pada Alvano yang kini duduk di ruang keluarga, sibuk dengan iPad di tangannya.

'Pasti kerjaan,' fikir Arsena. Alvano begitu sibuk, bahkan di tanggal merah seperti hari ini.

“Ayo, Na.” jawab Alvano. Lelaki itu menatap sekilas penampilan sang istri. Selalu cantik, batinnya.

Alvano menggelengkan kepalanya sekilas sebelum terpesona lebih jauh. Ia tentu tidak lupa bahwa kini sedang dikejar waktu. Alvano kemudian menggandeng tangan kanan Arsena.

Mereka pun berjalan beriringan menuju lift.

“Ohya, aku masih inget sama janji kamu buat jelasin semuanya,”

Tiba-tiba, perkataan Alvano saat mereka berada dalam lift membuat Arsena merasakan jantungnya seketika berdegup cepat. Gadis itu mencoba mengatur nafasnya sembari menunggu perkataan Alvano selanjutnya.

“Tapi...”

“Explain it, later.”

“In a letter.” ucap Alvano, ia mengelus lembut kepala Arsena. Ia sengaja mengucapkan dalam bentuk surat, karna ia tahu Arsena lebih pandai merangkai kata-kata dalam tulisan dibandingankan ucapan. Alvano tidak mau menekan gadis itu, ia ingin Arsena menjelaskan semuanya secara tenang dan tidak terburu-buru.

“Jangan gugup gitu, Na. I'ts Okay,” lanjutnya lagi, tersenyum kepada gadis yang berdiri di sampingnya kini.

Arsena terdiam, namun sesaat kemudian ia mengangguk, turut tersenyum menatap Alvano.

'Inget, dia bukan orang lain, Na...'

©nadswrites