Lava Cake and Bunda
“Pagi, Bun.” sapa Arsena begitu Ia menginjakkan kakinya di dapur. Bunda tersenyum, terlihat sudah siap dengan apron hitamnya.
“Pagi, Kak,” jawab Bunda, “Gimana semalem? Pasti tidurnya nyenyak ya, abis jalan sama Alvano?” lanjut Bunda tiba-tiba, menggoda Arsena.
Arsena memonyongkan bibir, “Bunda, ihh.” rengeknya sembari mendekati lemari, mengambil apron hitam dari dalam sana. Arsena mengenakan apron itu cepat, tak lupa Ia juga menguncir rambutnya tinggi.
“Oh, ya, bahan-bahannya ga ada yang lupa lagi kan, Bun?” tanya Sena mengalihkan pembicaraan.
“Ga ada kok, udah disiapin semua, sana kamu ambil mixer sama cup keramik tahan panas buat cetakannya nanti ya, Kak.” jawab Bunda.
“Siap, Bun!”
Arsena segera mengambil alat-alat yang diinstruksikan oleh Bunda, menaruhnya di atas meja dapur. Setelah semua alat dan bahan siap, Bunda pun memulai langkah pertama dalam proses pembuatan Lava Cake ini.
“Kak, Bunda kan lagi ngocok telur sama gulanya, nah, Kakak tolong olesin cup cetakannya pake margarin, ya terus nanti tambahin terigu tipis-tipis aja, biar ga lengket pas nuangin adonan kuenya disana.” perintah Bunda kemudian, Ia terlihat begitu konsentrasi dengan mixer di tangannya.
Arsena mengangguk, lekas melakukan perintah Bunda.
“Udah, Kak? Kalo udah, coklat yang udah Bunda lelehin tadi, tolong bawa kesini ya, Kak. Kayanya udah hanget itu.” perintah Bunda lagi.
“Oke, Bun, biar Kakak aja yang nuangin, ya.” jawab Arsena, siap dengan lelehan coklat yang dibawanya.
“Pelan-pelan, ya, Kak,” Bunda mengingatkan.
Arsena pun menuangkan lelehan coklat itu perlahan ke dalam adonan telur yang ada di mixer.
Bunda tersenyum pelan melihatnya, Arsena adalah sosok anak yang selalu membantunya dalam urusan dapur. Meskipun tidak banyak waktu yang bisa dihabiskan bersama, Bunda dan Arsena selalu menyisihkan waktu mereka. Seperti di weekend kali ini.
“Nah, udah Kak, sisanya biar Bunda aja, Kakak perhatiin aja, ya.”
Bunda mengakhiri sesi masak bersama pagi itu dengan menaruh adonan yang telah siap di cup cetakan yang telah diolesi margarin dan terigu. Adonan yang dituangkan tidak boleh terlalu penuh, untuk menjaga adonan tersebut apabila Ia mengembang sempurna seperti souffle. Tak lupa Bunda juga mengetuk-ngetuk cetakan supaya adonan merata dan tidak ada gelombang udara.
“Kakak nanti bakal bikin lagi sesuai apa yang udah Bunda ajarin.” seru Arsena tiba-tiba. Ia mengambil alih cup cetakan tersebut dan memasukkannya ke dalam oven. Memanggangnya dengan suhu tinggi dalam waktu singkat. Hal itu merupakan salah satu tips keberhasilan choco lava cake yang telah dipelajarinya.
©nadswrites