me and you
Rintik hujan turun perlahan, membuat gadis yang sedari tadi sudah siap berdiri di depan pagar rumahnya kembali masuk dan berteduh.
Sahira melirik arloji di tangan kirinya, waktu sudah menunjukkan pukul 19.30 malam, namun sosok yang berjanji untuk menjemputnya belum juga menampakkan batang hidungnya.
'Javi dimana, sih? Kok belum dateng juga?' batin Sahira. Ia menghembuskan nafasnya berat.
'Macet kali ya, hujan gini...'
TINN TINN
Suara klakson mobil membuyarkan lamunan Sahira. Gadis itu pun beranjak, namun belum sempat ia melangkahkan kaki menuju pagar, sosok lelaki yang ditunggunya turun dari mobil tersebut sembari membawa sebuah payung. Sahira pun menyunggingkan senyumnya melihat pemandangan tersebut.
'Javi ngga pernah berubah,' batinnya.
“Udah lama, Ra? Sorry, gue kejebak macet dan ya, emang salah gue kenapa ga pergi lebih cepet,” sesal Javi begitu mereka berhadapan.
Sahira hanya diam, sesungguhnya ia terpesona melihat Javi yang sangat tampan malam ini.
Tanpa menunggu jawaban Sahira, lelaki itu kemudian meraih tangan kanan Sahira agar berjalan di bawah payung bersamanya. Terdengar kekehan pelan membuat Javi tersenyum, mereka pun memasuki mobil dan segera melaju menuju tempat yang masih dirahasiakan Javi malam ini.
Iringan lagu Lie to me dari 5 Seconds of Summer mengiringi perjalanan keduanya, diikuti lagu-lagu lain dari band terkenal tersebut, band yang merupakan band favorit mereka berdua.
~~~
Setelah 30 menit perjalanan, akhirnya mereka sampai di sebuah kafe yang tampak familiar di ingatan Sahira. Kafe itu merupakan tempat di mana Sahira dan Javi bertemu kembali setelah sekian lama. Saat itu, Sahira berada di kafe bersama Dinda dan lelaki itu salah paham mengira Dinda adalah anaknya.
Sahira tersenyum tipis, gadis itu melirik sekilas ke arah Javi di sampingnya.
“Yuk, turun.” ajak Javi kemudian setelah ia mematikan mesin.
Mereka berdua pun turun dan berjalan beriringan menuju kafe. Magia Cafe.
Magia Cafe malam ini tampak begitu sepi, Sahira tidak melihat pengunjung lain selain mereka berdua, sebenarnya ia sudah curiga sejak di parkiran tadi, namun begitu masuk ke dalam kafe, dugaan itu semakin menguat.
'Apa Javi nyewa gedung kafe ini? For real?'
Sahira membatin, tetapi ia hanya diam dan mengikuti langkah Javi yang kini berada di depannya.
Alih-alih masuk ke lantai utama, Javi justru melangkahkan kaki menaiki tangga, menuju rooftop kafe tersebut.
Suasana gelap diiringi indahnya bintang di langit malam ini merupakan pemandangan yang menyambut Javi dan Sahira begitu mereka sampai di rooftop.
Terdapat sebuah ayunan yang membuat perhatian Sahira teralihkan, gadis itu segera menaiki ayunan tersebut, yang kemudian diikuti Javi dari belakang.
Lelaki itu memilih berdiri di belakang ayunan dan mendorong pelan ayunan tersebut.
Javi menarik nafas dan mengeluarkannya perlahan. Setelah melakukan hal itu berulang kali guna merilekskan dirinya, Javi akhirnya membuka suara.
“Rara...”
“Maafin gue karna buang kesempatan kita, dulu,”
“Maafin gue karna ga cukup berani buat pamit ke lo di hari itu, setelah gue nurutin semua yang papa suruh, hati gue tetep ngerasa kosong, Ra. Gue ngerasa buat apa? Bahkan gue ga sempet bilang ke lo tentang semuanya,”
“Gue tau permintaan maaf ini ga akan menghapus kesalahan gue di masa lalu, Ra. Tapi disini, gue mau ngajak lo untuk ngulang semuanya dari awal lagi, bareng-bareng,”
“Let's start over, Ra.”
Ucapan tersebut mengakhiri untaian kalimat Javi sebelumnya. Lelaki itu menghembuskan nafasnya lega, meskipun jantungnya serasa ingin keluar dari tempatnya, Javi akan mencoba menerima apapun jawaban yang diberikan Sahira.
Sementara itu, gadis di ayunan tersebut hanya diam. Ia mencoba mencerna rentetan kalimat yang dikatakan Javi.
Sesungguhnya, Sahira pun tidak pernah bisa melepaskan lelaki itu sepenuhnya. Selama ini, dirinya hanya mencoba ikhlas dengan keputusan Javi untuk pergi berapa tahun yang lalu. Namun kini, begitu Javi kembali menunjukkan diri di hadapannya, juga hatinya yang selalu dan tetap berdegup kencang saat bersama lelaki itu membuat Sahira tak ingin kehilangan hal seperti ini. Lagi. Tidak untuk yang kedua kalinya.
Sahira pun beranjak dari duduknya, ia melangkah mendekati Javi yang berdiri di belakangnya.
'Ngga ada salahnya nerima Javi lagi, meskipun ini semua masih terasa abu-abu,'
Begitu mereka berdua berhadapan dan kedua netra mereka bertemu, Sahira mengeluarkan senyum hangatnya. Ia menganggukkan kepalanya samar.
“Let's start over, Jav.” ucap gadis itu kemudian.
Javi sontak menarik Sahira ke dalam pelukannya. Lelaki itu sangat bersyukur. Ia tidak bisa membohongi hatinya yang begitu senang. Sahira mau memulai kembali semuanya. Dari awal.
Tiba-tiba, Javi melepaskan pelukan mereka, saat itulah lampu-lampu hidup dan menghiasi rooftop kafe.
Terlihat tumbler lampu di pojok ruangan yang cukup jelas membentuk sebuah tulisan. Membuat Sahira lemas dan kehabisan kata-kata. Ia tidak menyangka Javi menyiapkan semua ini.
'WILL YOU BE MY LIFE PARTNER?'
“Javi...”
“Lo siapin semua ini?” lirih Sahira. Gadis itu merasakan air matanya mulai merembes.
Javi mendekat, ia mengangguk dan menghapus jarak di antara mereka juga menghapus air mata di pipi gadis itu.
“Gue ga mau buang-buang waktu dan kesempatan lagi, Ra.” ucap Javi.
“Will you?” tanya lelaki itu lagi, ia tersenyum menatap dalam mata Sahira.
Sahira balas tersenyum hangat, ia kembali menganggukkan kepalanya samar. Gadis itu segera masuk ke dekapan Javi, menyembunyikan muka basahnya.
Javi terkekeh pelan, ia mengelus lembut rambut Sahira. Pacarnya atau kini bisa disebut tunangannya?
'Best night ever,' batin lelaki itu.
“I love you, Ra.” bisik Javi kemudian membuat Sahira semakin mengeratkan pelukan mereka.
'I love you too, Jav.'
©nadswrites