once upon a time

“Kak? Kakak nanti cita-cita nya apa?”

Bunda bertanya kepada Arsena kecil yang tampak asyik melukis gambaran random nya di dinding kamar. Ya, bunda tidak pernah melarang Arsena untuk menodai dinding tersebut, justru bunda bangga melihat kreatifitas anak gadisnya dalam bentuk gambaran itu.

“Kakak mau jadi pelukis, Ndaa.. Kakak suka mewarnai tapi gambaran Kakak jelek...” lirih Arsena kecil. Gadis berkepang dua itu berpaling memberi perhatiannya kepada bunda sepenuhnya. Raut wajahnya tampak sedih karna gambarannya sendiri.

“Kata siapa gambaran Kakak jelek? Gambaran Kakak bagus tauu, Kak, ada nilai seninya...”

“Nanti kalau Kakak udah jadi pelukis atau jadi apapun di masa depan, inget ya, Kak, Bunda ada disini buat, Kakak...”

“Bunda siap jadi tempat keluh kesah Kakak dan bantu Kakak soal apapun, okay?”

Bunda berkata lembut sembari mengelus rambut Arsena kecil. Tumbuh seorang diri tanpa saudara membuat Arsena begitu mandiri, gadis itu jarang meminta bantuan kepada orang tuanya yang terkadang sibuk. Hal itulah yang membuat bunda seringkali khawatir, anak gadisnya tumbuh dan bersikap lebih dewasa dari umurnya.

Arsena kecil mengerjapkan matanya, gadis itu mengangguk pelan, tersenyum hangat menatap sang bunda.

~~~

“Bunda...”

“Ayah...”

Bisikan lirih dari gadis yang baru saja membuka matanya membuat suster yang berjaga di kamar rawat tersebut seketika mendekat.

“Teh, pelan-pelan aja, ini minum dulu.” ucap suster dengan nametag Anisa sembari membantu gadis itu duduk di ranjangnya.

Gadis yang merupakan Arsena itu pun mengangguk pelan. Ia mencoba mengingat kejadian yang terjadi sebelum ia terbangun di rumah sakit saat ini. Raut wajah Arsena seketika berubah dan jantungnya berdegup kencang.

“Sus, tolong panggilin bunda sama ayah saya! Saya mau ketemu mereka...”

Suster Anisa terdiam mendengar perkataan Arsena. Ya, ia tahu bahwa gadis di hadapannya adalah anak dari pasangan yang mengalami kecelakaan maut yang baru saja terjadi. Keterangan dan pencarian data oleh polisi sebelumnya masih terbayang di benaknya.

“Suster, tolong panggilin orang tua saya...” lirih Arsena lagi, membuyarkan lamunan Suster Anisa.

“Yang tenang, ya, Teh. Teteh istirahat dulu—”

“Saya mau ketemu orang tua saya, Sus!” potong Arsena. Gadis itu beranjak dari ranjang, ia melepaskan infus yang terpasang di tangannya dengan nekat membuat tetesan darah mengalir seketika.

“Arsena!” panggilan yang terdengar cemas dari arah pintu membuat Arsena menghentikan gerakannya.

Suster Anisa pun langsung membantu Arsena agar kembali duduk dan segera membersihkan darah yang menetes di pergelangan tangan Arsena sembari sosok yang baru masuk mendekat ke arah mereka.

Seakan mengerti, setelah mengobati tangan Arsena, Suster Anisa pun meninggalkan kamar tersebut. Dapat dilihatnya bahwa Arsena sedikit menenangkan dirinya begitu seseorang itu datang.

“A— Alvano...”

“Ayah, Bunda, Al...”

Tanpa fikir panjang, sosok yang merupakan Alvano tersebut mendekap hangat Arsena. Ia mengelus punggung sang istri perlahan. Membuat air mata yang tadi tertahan kini mengalir deras. Gadis itu terisak di pelukan Alvano.

“Aku mau ketemu mereka, Al...”

“Aku mau ketemu mereka...”

“Aku mau lihat ayah sama bunda, aku mau peluk mereka, Al...”

Bisikan-bisikan itu membuat hati Alvano berdenyut sakit. Ia turut menyalahkan dirinya sendiri.

'Maafin aku, Na,'

©nadswrites