private place, he said.

“Tunggu disini ya, Na.” pesan Alvano kepada Arsena. Ia menyuruh gadis itu untuk menunggu di tempat pribadinya, yaitu lantai ke 39 dari hotel berlantai 40 ini.

Sementara itu, Arsena masih diam, gadis itu masih asyik dan terpesona saat melihat-lihat desain interior yang ada di lantai 39. Ada dapur, kamar tidur, kamar mandi, sofa juga peralatan-peralatan lainnya yang bahkan Arsena tidak pernah membayangkan ada tempat seperti ini. Sontak ia mengingat ucapan Alvano saat di perjalanan tadi, 'Lantai 39 itu lantai yang khusus di design buat aku, dia jantung hotel juga tempat pribadi kalau aku kesana.'

Arsena seakan tersadar bahwa sang suami bukanlah orang biasa, ia benar-benar pengusaha papan atas.

Selama ini, karna mereka sudah mengenal dan berteman dekat terlalu lama, kekayaan itu tidak begitu terlihat, Alvano pun nyaris tidak pernah membahasnya.

“Na? Aku ke meeting room dulu dibawah.” ucap Alvano lagi, lelaki itu melambaikan tangannya di depan wajah Arsena.

Arsena sontak mengedipkan matanya, lamunannya buyar. Ia tersenyum malu menatap Alvano.

“Eh, iya A' aku bakal tunggu disini, semangat ya! Ga perlu buru-buru.” jawab Arsena kemudian. Ia menepuk pelan bahu Alvano, memberi semangat.

Alvano terkekeh pelan, ia pun berlalu dari ruangan tersebut, membiarkan sang istri menikmati fasilitas disana.

Beberapa bulan menikah, Arsena nyaris tidak pernah menuntut banyak kepadanya, ia rasa ini saatnya untuk sedikit memanjakan gadis itu.

~~~

Arsena masuk ke kamar pribadi yang ada di lantai tersebut, batinnya tak henti-henti memuji keindahan interior yang dilihatnya.

'Alvano emang penuh kejutan,'

Gadis berambut panjang itu melebarkan matanya begitu melihat sebuah microphone terletak di meja kamar. Secara refleks, Arsena meraihnya dan tersenyum senang.

Ia pun menyalakan smart television yang tersedia. Mulai bernyanyi dengan volume sedang, menikmati waktunya sembari menunggu Alvano.

“We were both young, when i first saw you, i close my eyes...”

©nadswrites