resepsionis
Arsena masih terdiam memandang Alvano yang melangkah mendekatinya. Suaminya itu tampak begitu memesona siang ini dengan jas hitam dan bahkan kacamata, sedikit berlebihan sebenarnya, namun, sebagai seorang pimpinan, tentu saja tidak ada yang berani memprotes Alvano. Bahkan, dalam jangkauan mata Arsena, beberapa karyawan justru melirik ke arah mereka dan mulai berbisik-bisik, turut terpesona dengan kehadiran Alvano di lantai bawah ini. Bisikan yang membuat Arsena sedikit kesal.
“Papapa...” suara kecil Ara membuyarkan isi fikiran Arsena, ia bahkan tidak menyadari sang suami yang sudah berdiri di hadapannya.
“Hai, Papa.” sapa Arsena akhirnya, ia melambaikan tangan Ara yang ada di gendongannya. Gadis kecil itu menggerakkan kakinya semangat, tampak sangat senang dengan kehadiran papanya.
“Mama sama Adek udah lama nungguin, ya?” ucap Alvano memandang hangat keduanya, ia mengecup sekilas dahi Arsena yang kemudian membuat Ara mengeluarkan gestur mengulurkan tangan seperti hendak meminta gendong Alvano, gadis kecil itu sepertinya protes karna ayahnya hanya mencium ibunya.
Alvano terkekeh pelan, ia lantas segera mengambil Ara untuk ia gendong. Menciumi pipi gembul gadis itu lama. “Adek juga kebagian cium, kok.” ucapnya.
Lelaki itu lantas menggandeng tangan Arsena dengan sebelah tangannya yang lain. Mereka pun berjalan beriringan menuju lift khusus pimpinan. Tentu masih dengan lirikan-lirikan para karyawan.
Namun, sebelum sampai di lift, Alvano seolah teringat dengan perbuatan resepsionisnya yang tidak membiarkan Arsena menyusulnya keatas, ia pun menyuruh Arsena agar menunggu sebentar di depan lift, sementara Ia dengan Ara yang masih berada dalam gendongannya menghampiri meja resepsionis tersebut.
Sepuluh menit kemudian, Alvano kembali dengan senyum misteriusnya membuat Arsena mengernyitkan dahi. Gadis itu penasaran dengan apa yang dikatakan sang suami kepada si resepsionis.
“Kamu bilang apa, Al?” tanya Arsena sedikit berbisik begitu mereka sudah berada di lift.
“Rahasia.” jawab Alvano singkat. Membuat Arsena membulatkan matanya, ia tidak menyerah.
“Bilang apa?” tanya Arsena lagi, kali ini dengan tekanan di setiap perkataannya.
Alvano tersenyum tipis sebelum menjawab. “Well, ternyata dia ga cukup pintar buat kerja disini, dia bahkan ga ngenalin Mrs. Pratama dan bikin kamu nunggu, padahal aku udah bilang kalau kamu mau dateng.”
Arsena terdiam, pipinya mengeluarkan semburat merah dan tersenyum malu mendengar jawaban Alvano.
'Mrs. Pratama sounds so good,' batin Arsena.
Senyumannya tak kunjung hilang sampai lift tersebut berbunyi, menandakan mereka sudah sampai di lantai yang dituju.