surprised.
Arsena memasuki sebuah gedung bertuliskan 'Chemistry Coffe Shop' itu dengan langkah berat. Ya, kafe tersebut merupakan tujuannya, meskipun otaknya masih memikirkan sang pacar yang tak kunjung memberinya kabar. Kemana lelaki itu?
'Ting'
Suara bel kafe terdengar begitu Arsena membuka pintunya, gadis itu mendongakkan kepala, dan seketika ia mengernyitkan dahi.
'Kok sepi?' batin Arsena bertanya.
Sebagai pelanggan yang cukup rutin mengunjungi kafe, Arsena sangat mengetahui bahwa waktu sekarang ini biasanya merupakan waktu yang ramai di kafe. Gadis itu tidak menyangka bahwa pelariannya ke kafe ini pun disambut oleh keheningan dan suasana yang sepi. Arsena menghembuskan nafas, langkah kakinya terasa semakin berat. Ia pun mendudukkan diri di spot favoritnya di chemistry cafe.
Seorang pelayan menghampirinya begitu lima menit berlalu, memberikan buku menu kepada Arsena, lamunannya pun buyar, gadis itu mulai membaca satu per satu menu yang masih tersedia.
Tak lama kemudian, dentingan suara piano yang makin lama makin terdengar jelas berhasil membuat Arsena lagi-lagi mengalihkan perhatiannya. Gadis itu mendongakkan kepalanya kedepan sembari mengernyitkan dahi.
'Ada live music, ya, hari ini?' batinnya.
Namun, seketika Arsena membulatkan matanya sempurna, ia nyaris berdiri dari duduknya. Gadis itu tidak mungkin salah lihat. Itu Alvano. Sosok yang memainkan piano cukup jauh di hadapannya adalah Alvano. Sang pacar yang beberapa hari terakhir ini menghilang.
'Kok bisa?' batinnya lagi. Rasa-rasanya Arsena tidak bisa menahan banyaknya pertanyaan yang muncul sesaat setelah ia menginjakkan di chemistry cafe malam ini. Mencoba menahan pertanyaan-pernyataan tersebut di otaknya, Arsena akhirnya memilih mendengarkan dengan seksama penampilan yang dibawakan Alvano malam ini. Tidak bisa memungkiri bahwa gadis itu sangat merindukan lelaki yang kini tengah bernyanyi tersebut.
”... I used to wanna be, living like there's only me, But now i spend my time, thinking bout a way to get you off my mind...”
Arsena terdiam. Seketika jantungnya berdegup lebih kencang dari biasanya. Ia merasakan kupu-kupu di perutnya, namun ia juga merasakan keringat yang menetes di dahinya. Gadis itu gugup sampai berkeringat dingin. Pertanyaan-pertanyaan kembali muncul di benaknya.
'Apa maksud Alvano?'
Kenapa lelaki itu muncul setelah dua minggu menghilang dari hadapan Arsena? Muncul dengan menyanyikan lagu favoritnya dan terlihat begitu serius. Arsena tidak mampu memahami semua ini. Otaknya seakan berhenti berpikir.
“Look at me now, I'm falling... Can't even talk, still sutterin' ..... All i wanna be, yeah, is somebody to you...”
Dentingan suara piano perlahan berhenti, bersamaan dengan lagu yang berakhir, juga sosok Alvano yang kini berdiri, memegang mikrophone, lelaki itu memandang lurus tepat ke arah dimana Arsena duduk. Membuat Arsena akhirnya ikut berdiri, melangkah mendekati Alvano. Menunggu apapun yang akan dibicarakan lelaki itu, meskipun jauh di dalam hatinya, gadis itu merasa bingung dan tidak siap dengan apapun yang akan dikatakan Alvano.
“Arsena?” ucap Alvano mengawali. Terlihat ia mengusap lehernya berapa kali sebelum melanjutkan, “Aku minta maaf dua minggu ini ga ngabarin kamu, ga ketemu dan kita seakan lost contact, yang pasti aku cuma mau kamu tau kalau aku ga akan ngelakuin hal apapun yang ngecewain kamu, Na.”
“Selama dua minggu ini, aku udah mikirin ini mateng-mateng dan aku ngerasa kamu juga udah siap, kita udah kenal sejak sma, Na, bahkan kita juga mulai pacaran sejak itu, sampe sekarang, hati aku ga pernah berubah, cuma buat kamu, makanya, malem ini aku nyanyiin lagu favorit kamu, yang juga kebetulan mendukung suasana malem ini...”
“Arsena...”
“I'm ready to get settled with you, are you?”
“Are you ready to settle down with me?”
Arsena terdiam, jantungnya seakan berhenti berdetak. Ia merasa sangat terharu dengan apa yang dilakukan Alvano malam ini. Gadis itu sangat tidak menyangka. Speechless. Jadi, selama dua minggu Alvano menyiapkan sebuah lamaran? Lamaran? Yang bahkan masih jauh dari pikiran Arsena. Gadis itu baru saja mendapatkan pengumuman kelulusan s2 nya, ia hendak memberi tahu Alvano akan kabar tersebut, namun, kini, Arsena hanya bisa terpaku. Ia terlalu terkejut dengan apa yang dilakukan Alvano malam ini. Otaknya butuh istirahat dan memikirkan ini semua dengan tenang.
Tanpa sadar, gadis yang masih terpaku itu perlahan melangkahkan kakinya, bukan menuju Alvano, melainkan terus mundur kebelakang dan perlahan menghilang di balik pintu kafe. Meninggalkan Alvano yang baru saja menyatakan lamarannya balik terdiam dengan penuh pertanyaan dan kebingungan. Ia tidak mengerti.
'Kenapa Arsena berlari meninggalkannya begitu saja?'
——