tears drops.
Suasana rumah sakit yang tidak terlalu ramai disertai aroma obat yang menguar menyambut Arsena begitu ia sampai di lobi.
Gadis itu bergegas melangkahkan kaki menuju meja resepsionis, hendak menanyakan keberadaan sang ayah. Namun, belum sempat Arsena bertanya, resepsionis dengan nametag Sandra tersebut terlihat mengangkat telfon. Raut wajahnya berubah cemas dan panik seiring panggilan itu berlangsung, membuat Arsena bertanya-tanya dalam hati.
Pertanyaan itu terjawab begitu suasana rumah sakit seketika ramai. Samar-samar terdengar di telinga Arsena bahwa kecelakaan maut baru saja terjadi. Belum sempat ia membalikkan badan untuk melihat keadaan di sekitarnya, dua ranjang yang didorong tergesa oleh para perawat di rumah sakit membuatnya membatu. Arsena dapat memprediksi bahwa dua ranjang tersebut ditempati oleh korban kecelakaan yang baru saja terjadi. Kain putih terlihat menutupi kedua korban.
Arsena menghembuskan nafasnya yang seketika terasa berat, tanpa disadarinya kakinya melangkah menyusul kemana para perawat tersebut membawa korban kecelakaan.
Sebelum akhirnya, langkahnya terhenti, matanya perlahan mengabur oleh air mata, aliran darahnya terasa mengalir begitu cepat. Indra pendengarnya masih dapat menangkap dengan jelas percakapan yang barusan terjadi. Arsena mendongakkan kepalanya, ia berusaha menghalau air mata yang terus menetes, dapat dilihatnya terdapat dua orang polisi diantara para perawat tersebut. Gadis itu mendekat, mencoba kembali mencuri dengar. Memastikan kebenaran yang didengarnya sebelumnya.
“Korban merupakan suami istri, berdasarkan ktp yang ditemukan, atas nama Arfan dan Arana Wijaya...”
”...dilaporkan tewas di lokasi kejadian...”
Arsena tidak mampu lagi mendengar keseluruhan percakapan tersebut, ia merasakan kakinya tidak lagi berpijak, tubuhnya seketika lemas, air matanya terus menetes meskipun ia menahannya, gadis itu melihat samar-samar beberapa orang mendekat ke arahnya sebelum kegelapan secara sempurna merenggut kesadarannya.
“Bunda... Ayah...”
©nadswrites