Teh Alana and Him.

Teh Alana segera turun dari mobil begitu melihat sosok Arsena yang menunggu di depan rumah. Rasa bersalah menyerang hatinya karena sudah datang bersama Alvano tanpa memberi tahu Arsena sebelumnya. Ia pun tidak mengerti bagaimana perasaan adiknya itu. Alvano hanya mengemudi dan tidak berkomentar selama mereka di perjalanan.

“Arsena, maafin Teteh ya, tadi mobil Teteh pecah ban di jalan, jadi terpaksa sama Alvano, kebetulan dia harus ke Depok juga.” Teh Alana menjelaskan pelan sedikit berbisik kepada Arsena. Raut wajahnya terlihat cemas.

Arsena yang masih terkejut, sontak hanya tersenyum tipis. Ia tahu bahwa Teh Alana tidak mungkin sengaja melakukannya.

'emang udah takdir buat ketemu Alvano lagi hari ini,' batinnya.

“Gapapa kok, Teh. Mau gimana lagi namanya musibah,” jawab Arsena.

Raut menenangkan yang terlihat di wajah Arsena begitu membuat hati Teh Alana lega. Ia pun segera merangkul Arsena. Membukakan pintu untuk Arsena yang duduk dibelakang. Setelah itu, Ia membukakan pintu untuk dirinya sendiri yang duduk di samping kemudi. Di samping Alvano yang hanya diam sembari mengawasi kedua gadis itu dari ekor matanya.

~~~

Suasana tegang begitu terasa di dalam mobil itu. Arsena sedikit salah tingkah melihat Alvano yang sangat tampan di matanya. Selalu tampan sedari dulu.

'Deg'

Mata Alvano yang tiba-tiba memandang kaca spion sontak mengagetkan Arsena. Ia ketahuan.

Mata mereka saling menatap selama beberapa saat melalui kaca spion tersebut. Kemudian, Alvano kembali menatap jalan di depannya. Ia tersenyum miring.

“Ehem, Dek, puter lagu ih biar ga krik-krik begini,” seru Teh Alana.

Ia menyadari kecanggungan yang menguar dari Arsena dan sang Adik.

“Puter aja, Teh,” jawab Alvano.

Iringan musik dan lagu akhirnya sedikit mencairkan suasana beku di dalam mobil itu. Arsena menghela napas lega.

'untung aja Teh Alana peka,'

©nadswrites