Telling Him
Deru suara motor terdengar membuyarkan lamunan Sera.
'Itu pasti Gio,' fikirnya.
Dengan cepat Sera pun beranjak dari kasurnya dan membangunkan Arka yang kini tertidur.
“Ar? Arka? Bangun woii!” seru Sera sembari mengulurkan tangannya dan menepuk-nepuk pelan bahu Arka.
“Eungh—” lenguh Arka kemudian. Gerakan tiba-tiba itu membuat Sera dengan segera menjauhkan badannya.
“Adek gue udah pulang, lo pindah ke kamar tamu.” ucap Sera menjelaskan, ia memapah Arka yang masih setengah sadar itu hingga sampai di kamar tamu rumahnya.
“Kamar ini gue kunci dari luar, awas aja lo kemana-mana, inget kaki masih sakit.” perintah Sera lagi yang hanya dijawab dengan anggukan pelan Arka. Lelaki itu terlihat masih mengantuk.
“Tenang aja,” lirih Arka kemudian, membuat Sera yang hendak keluar dari kamar itu kembali memalingkan kepalanya kebelakang sesaat sebelum ia membuka pintu.
Gadis itu mengacungkan jempolnya sekilas. Ia pun segera keluar, tak lupa menutup dan mengunci pintu kamar tersebut.
~~~
“TETEH?! TETEH UDAH GILA?!”
Gio, adik dari Sera, tak bisa menahan teriakannya begitu ia mendengarkan penjelasan dari sang Kakak. Lelaki yang kini duduk di kelas 2 SMA itu tak habis fikir dengan pemikiran kakaknya. Ia menggelengkan kepalanya tidak setuju.
“Atas dasar apa teteh mikir dia cuma dijebak?” tanya Gio, ia mengerutkan keningnya begitu serius.
Sera menghela nafasnya pelan. Jujur, ia sendiri juga tidak mengerti mengapa ia dengan mudahnya goyah oleh perkataan lelaki bernama Arka tersebut. Sera begitu waspada, sebelum akhirnya Arka dengan tatapan memelasnya meyakinkannya bahwa ia bukanlah orang jahat.
“Teteh bisa liat dari mukanya, Dek,” jawab Sera, hanya itu yang bisa ia utarakan saat ini.
“Aura dia beda banget dari poster yang adek kirim,” lanjutnya lagi.
“Adek ga setuju, Teh. Dia harus keluar dari rumah kita sekarang juga,” ucap Gio, ia tidak mau membahayakan kakaknya, dan juga mereka berdua. Lelaki bernama Arka itu pasti akan membahayakan mereka.
“Gimana kalau kita cari informasi tentang dia selagi kakinya sakit, Dek?” ujar Sera menyarankan setelah berfikir beberapa menit. Ia menatap mata Gio dengan pandangan memohon.
Gio menghela nafasnya berat, apakah ia harus menyetujui perkataan kakaknya?
“Oke, tapi inget ya, Teh, adek udah ngingetin Teteh.” putus Gio akhirnya, lelaki itu dengan cepat meninggalkan ruang tamu sebelum mendengarkan jawaban dari sang Kakak.
Sera terdiam. Ia sibuk dengan fikirannya sendiri.
'Semoga ini keputusan yang tepat,'
©nadswrites