thankyou and sorry.

Sahira sampai di taman kota dengan nafasnya yang tidak beraturan. Matanya mengitari seluruh taman kota, mencari sosok gadis kecil yang menunggunya. Sahira dapat merasakan dadanya yang sesak karna rasa bersalah, bisa-bisanya ia melupakan Dinda?

Kakinya pun melangkah dengan langkah lebar, terus berjalan sembari memperhatikan setiap sudut taman. Seakan tersadar, gadis itu kemudian meraih handphone nya, hendak menghubungi Javi, lelaki yang sudah menjemput Dinda. Sahira merasa sangat malu sekaligus berterimakasih kepada Javi. Ia malu akan kelalaiannya lupa menjemput Dinda.

Baru saja hendak menekan tombol call di handphone, terdengar suara gadis kecil memanggilnya diiringi dengan langkah riang yang juga mendekat.

“Nte!! Dinda nungguinn Tante kok lama bangett, untung ada Om baikk, tadi sama kakak cantik juga tapi kakak cantik udah diantel Om baik duluan,”

Gadis kecil itu adalah Dinda, ia menceritakan semuanya sebelum kemudian masuk ke dekapan hangat sang Tante.

“Maafin Nte ya, Dinn,” lirih Sahira. Ia mengelus punggung Dinda pelan.

“Dinda anak pinter, ngga nangis, ya?” ucap Javi kemudian, menyadarkan Sahira bahwa sejak tadi Javi berdiri di sana dan memperhatikan mereka berdua.

“Jav, makasih banyak yaa, gue gatau gimana jadinya kalo lo ngga ada tadi,”

“Gue lagi di cafe keasyikan sampe lupa, bener-bener yang blank ga inget kalau Dinda udah waktunya dijemput.” lanjut Sahira menjelaskan kepada lelaki di hadapannya, raut wajahnya terlihat sedih dan begitu menyesal.

Javi menggelengkan kepalanya, ia melangkah mendekati Sahira, menepuk pelan pundak gadis itu.

It's okay, Ra. Yang penting jangan terulang lagi, ya? Jangan bayangin hal yang engga-engga, Dinda udah disini and she's fine.” sahut Javi menenangkan Sahira.

“Lo pasang alarm di hape lo tiap waktunya Dinda pulang biar ga lupa, call me if you need me, Ra.” saran Javi.

Sahira menganggukkan kepalanya cepat, tiba-tiba ia merasakan pipinya memanas. “Ohya Jav, maaf kemarin gue—”

“Ga usah dibahas, Ra.” potong Javi, ia tau bahwa Sahira akan meminta maaf karna di pertemuan pertama mereka setelah sekian lama kemarin, gadis itu buru-buru dan menghindari dirinya.

“Nte, Om, ayo mam duluu! Dinda lapel,”

Belum sempat Sahira menjawab, rengekan Dinda memutus pembicaraan keduanya.

“Dinda—”

“Ayo, Din! Dinda mau makan di mana?” Javi dengan cepat kembali memotong ucapan Sahira membuat gadis itu menghembuskan nafasnya berat.

Ia pun pasrah mengikuti keduanya yang kini berjalan beriringan dan meninggalkannya di belakang.

'Yaudahlah, itung-itung ucapan terimakasih, Ra.' batin Sahira. Ia tersenyum.

©nadswrites