The Dinner and The Rain

Gerimis kecil baru saja bermunculan. Ayah, Bunda dan Sena berlari-lari kecil agar cepat sampai di dalam gedung pencakar langit itu,

Banana Inn Hotel,tempat dimana dinner malam ini dilaksanakan.

Sena dan kedua orang tua nya segera masuk ke dalam lobi utama hotel. Tak lama kemudian datang seseorang yang mengaku manager dan langsung mengantarkan mereka menuju restoran hotel. Tepat saat Ayah Sena menyebutkan nama sahabatnya.

'Arsaka Pratama'

Itu yang dapat terdengar samar-samar di telinga Sena. Mereka pun memasuki restoran tersebut, duduk di tempat yang sudah di reservasi sebelumnya. Terlihat sepasang orang tua yang juga sudah duduk terlebih dulu di meja tersebut.

“Rana! Apa Kabar?” sapa salah satu seseorang tersebut riang kepada Bunda.

Sena mengernyitkan dahinya, Ia ingat sosok itu adalah sosok yang ada didalam foto yang ditunjukkan bunda tempo hari lalu. Tante Ayana.

“Alhamdulillah, baik, Ayana apa kabar? lancar ya keliatannya,” jawab bunda.

Mereka berpelukan dan cipika cipiki sesaat. Di lain sisi Ayah Sena dan sosok lelaki yang dirasa Sena adalah suami tante Ayana tersebut hanya tersenyum. Memaklumi kegiatan para wanita.

“Eh, ini, Arsena kan, nak? cantik banget! keliatan udah dewasa banget ya sekarang?”

Sena tersenyum dan mengulurkan tangan, hendak bersalaman dengan sosok yang dikenalnya sebagai Tante Ayana. Akhirnya seseorang menyadari keberadaannya disini.

“Iya, Tante, Alhamdulillah, Tante juga cantik banget malem ini, ” jawab Sena tulus.

Tante Ayana hanya terkekeh mendengarnya.

Mereka pun akhirnya duduk di kursi yang telah tersedia. Mata Sena mengelilingi tempat tersebut, tiba-tiba Ia merasa ada yang kurang.

'Apa ya?'

“Eh, Sena, kamu nyariin anak Tante ya? Dia nyusul bentar lagi, gatau tuh anak, padahal udah disuruh kosongin, malah masih sempat kelayapan,” ucap Tante Ayana kemudian mengagetkan Arsena. Ia tersenyum malu.

'Ah iya, sosok yang katanya mau dikenalkan dengannya ternyata belum datang'

“Haha, engga kok, Tante,”

“Udah, jangan malu-malu, Sena,” tawa Tante Ayana. Ia menepuk pelan bahu bunda. “Sena mirip banget sama kamu ya Ran, kaya jaman sma dulu, haha,” lanjutnya.

Bunda tersenyum setuju sambil menganggukkan kepalanya.

~~~

©nadswrites