The Dinner and The Rain II
10 menit berlalu, Sena mulai merasa bosan. Ia hanya mendengarkan nostalgia yang dilakukan oleh para orangtua tersebut, sesekali Ia tertawa pelan mendengarnya. Sena baru tau kalau ternyata orangtuanya memiliki sahabat sedekat ini, dan persahabatan sudah terjalin sejak mereka duduk di bangku SMA. Sena merasa Ia terlalu sibuk sampai tidak menyadari hal itu.
“Malem, Ma, Om, Tante,” ucap seseorang.
Ucapan tersebut memecahkan lamunan Sena, sekaligus mengagetkan jantungnya. Aliran darahnya tiba-tiba terasa mengalir begitu cepat. Sudah sangat lama sejak terakhir Ia mendengarkan suara ini. Apakah hanya suara mereka yang mirip? atau mereka memang orang yang sama?
“Kak, Kakak! Arsena!” seru Bunda sambil menepuk-nepuk bahu nya. Seketika Sena tersadar dari lamunannya. Ia mendongakkan kepala.
“Ini Alvano udah dateng, dia anaknya tante Ayana yang mau Bunda kenalin ke Kakak,” bisik Bunda menjelaskan.
'Deg'
Sena hanya bisa tersenyum kaku. Tatapan matanya terarah menatap Alvano. Mereka bertatapan begitu dalam dan cukup lama. Tersirat kerinduan yang tersimpan rapat di lubuk hati masing-masing.
Tatapan itu tentunya mengundang kecurigaan para orang tua. Tante Ayana mengernyitkan dahi, “Loh, jangan-jangan kalian udah kenal?” ujarnya.
“Iya, Tante,”
“Belum, Ma,”
Jawab keduanya berbarengan. Jawaban yang tidak kompak tersebut mengundang tawa orang tua.
“Haha, kalian lucu banget, udah duduk dulu, kenal atau belum, kita ulang lagi ya kenalannya malem ini,” ucap Tante Ayana menyimpulkan.
~~~
©nadswrites