the funeral.

Cuaca hari itu mendung, sedikit gelap namun tidak hujan. Cuaca yang menggambarkan perasaan yang dirasakan sosok gadis bernama Arsena saat ini.

Setelah kemarin melihat kedua orangtuanya untuk yang terakhir kali, akhirnya hari ini ia menguatkan diri untuk menemani mereka berpulang. Arsena tidak bisa membohongi dirinya yang masih sangat sedih karna kepergian orangtuanya yang begitu cepat, memori kebersamaan mereka sedari kecil terus berputar di bayangannya bagaikan kaset rusak. Namun, inilah hidup, setiap pertemuan pasti ada perpisahan, Arsena tidak mau membuat khawatir orang-orang terdekatnya khawatir karna dirinya terus-terusan bersedih, mereka begitu setia menemaninya hingga saat ini.

Alvano dan juga keluarganya terus menenangkan dan memberinya semangat, tak henti-hentinya mereka mengingatkan bahwa Arsena juga merupakan bagian dari keluarga mereka. Arsena kehilangan kedua orangtuanya, namun Arsena masih mempunyai keluarga disini, yang akan selalu menemaninya melewati masa sulit dan sedih seperti saat ini.

Sahabat dekatnya, Alody, Kiara dan Gibran juga turut menemani dan menguatkannya. Mereka bertiga senantiasa memberi lelucon konyol agar Arsena setidaknya mengeluarkan sedikit senyumannya. Meskipun hal itu tidak terlalu berhasil, namun Arsena terenyuh dan bersyukur akan kehadiran mereka semua. Ia merasa tidak sendirian, setidaknya untuk sementara ini.

~~~

Pemakaman kedua orangtuanya kini telah selesai, tanah itu terlihat masih basah. Kedua orangtuanya dimakamkan berdampingan sesuai permintaan Arsena. Dengan sedikit kekuatannya yang tersisa hari ini, Arsena menaburkan bunga di makam keduanya, tak lupa ia juga memanjatkan doa tulus dari lubuk hatinya.

Hari mulai beranjak siang, beberapa peziarah sudah mulai kembali ke rumah, saat ini hanya tersisa Alvano dan Arsena di pemakaman.

Gadis itu terdiam, memandang sendu nisan kedua orangtuanya. Pipinya yang basah, kini mulai mengering, Arsena sudah terlalu banyak menghabiskan air matanya. Hari ini seperti mimpi, bahkan ia masih bisa dengan jelas mendengar suara Ayah dan Bunda di telinganya, nasihat-nasihat yang senantiasa diberikan kepada Arsena selama mereka masih hidup.

Melihat Arsena yang hendak mengeluarkan air matanya kembali membuat Alvano dengan pelan mendekap hangat gadis itu.

It's okay, Na, keluarin semuanya,” lirih Alvano.

Ia tidak mau melihat istrinya menahan air matanya yang jelas-jelas ingin keluar. Ia ingin gadis itu mengeluarkan semuanya hari ini, setidaknya sampai ia sedikit lebih lega. Alvano tidak keberatan mendengar isakan gadis itu terus menerus, selagi itu membuat gadisnya lega, meskipun hatinya sendiri terpukul mendengarnya. Namun, ini adalah satu dari sedikit hal yang bisa ia lakukan untuk Arsena.

©nadswrites