The Letter.

Alvano terdiam dengan rasa penasaran yang memenuhi otaknya. Ia memandang lama ke arah pintu kamar mandi yang tak kunjung terbuka. Arsena, sang istri, belum juga keluar dan membuka pintu kamar mandi setelah sekitar 15 menit berlalu.

Mulai bosan menunggu, Alvano pun melangkahkan kaki menuju lemari kamar, sebuah tas kecil yang juga dibawanya saat berkemas tempo hari menarik perhatiannya begitu pintu lemari terbuka. Ia nyaris melupakan tas kecil tersebut. Alvano kemudian membuka kancing tas itu perlahan, sebuah lipatan kertas yang mulai remuk pun terlihat dari dalam tas. Lelaki itu menghembuskan nafasnya berat, ia memandang lama lipatan kertas itu sebelum akhirnya membulatkan tekad untuk membacanya. Saat ini juga.

Lipatan kertas yang merupakan surat penjelasan yang ditulis Arsena sebelum terjadi kecelakaan yang menimpa kedua orangtuanya.

'Inget, Alvano, the past is in the past.' batin Alvano meyakinkan hatinya, apapun isi penjelasan Arsena dalam surat tersebut, Alvano harus menerimanya.

Lelaki itu mengingatkan dirinya sendiri bahwa ia bukanlah bocah kemarin sore seperti beberapa tahun yang lalu. Ia sudah dewasa, ia harus belajar menerima dan mengikhlaskan setiap kejadian yang terjadi dalam hidupnya.

Alvano kembali menarik nafas dan mengeluarkannya pelan, mencoba meredakan jantungnya yang gugup seketika. Perlahan, Alvano melangkahkan kaki menuju balkon, ia memejamkan matanya sembari tangannya membuka lipatan kertas yang mulai remuk tersebut.

Terlihat tulisan tangan Arsena yang indah menyambut matanya begitu kertas itu terbuka. Mata Alvano bergulir lambat, mencoba meresapi tiap kata yang ditulis oleh sang istri, yang juga merupakan pacar masa lalunya itu.

'Dear Alvano...'