The One

Arsena menghela napasnya panjang. Gadis itu bisa merasakan degupan jantungnya yang masih berdetak begitu cepat. Ia sudah menjelaskan semuanya sejak lima menit yang lalu. Namun, Alvano hanya diam, memandangnya tanpa kata. Lelaki itu nampak tengah memikirkan sesuatu.

“Udah aku duga...” lirih Alvano kemudian.

Ia berbisik kepada dirinya sendiri namun masih terdengar di telinga Arsena, membuat gadis itu mengernyitkan dahinya.

“Maksud kamu, Al?” tanya Arsena.

Alvano hanya tersenyum, ia mendekati sang istri dan kemudian membawanya ke dalam pelukan hangat.

“Aku udah kepikiran kalau alasan kamu karna mau lanjut s2, Na... begitu kita ketemu lagi, dan ngeliat kamu udah sukses jadi dosen, aku sempet mikir jangan-jangan ini,”

”...alasan kamu yang dulu.”

Alvano berucap panjang sembari menepuk punggung Arsena pelan. Gadis itu pun mengangkat tangannya, balas memeluk sang suami.

Arsena tersenyum, “Makasih ya, Al... selama bertahun-tahun kita ga ketemu, aku bersyukur kita bisa dipertemukan lagi... dan,”

”... kamu, kamu yang belum sama siapapun.” ucap Arsena menggantung, ia menaikkan bibirnya dan melepaskan pelukan Alvano. Arsena memandang lekat mata lelaki itu.

“Kamu itu, satu dari satu-satunya calon suami yang aku semogakan, Al.” tutur Arsena, mengakhiri ucapannya, ia tersenyum sendiri mendengar kata-kata tersebut keluar dari bibirnya.

“Kamu juga, Na, always.” balas Alvano, mendekatkan diri dan mengecup dahi Arsena.

“Jangan ada rahasia lagi mulai sekarang, ya?” Alvano berucap sembari menjulurkan jari kelingkingnya, matanya mengarah ke jari kelingking sang istri, hendak bermaksud untuk melakukan pinky promise.

Cheesy memang, namun membuat mereka merindukan hal yang kerap mereka lakukan di jaman sma dulu.

Arsena terkekeh, sebelum akhirnya mengaitkan jari kelingking mereka.

“Promise...”

Tautan jari kelingking tersebut terlepas. Arsena kemudian bertanya lirih, “Kamu ga marah, Al?”

Jauh di dalam hatinya, gadis itu sedikit bingung dengan reaksi Alvano yang jauh dari bayangannya. Lelaki itu terlihat begitu ikhlas.

Alvano menarik nafasnya perlahan sebelum akhirnya mengeluarkan rentetan kata-kata dari bibirnya.

“Buat apa? Semua udah lewat, lagian, aku juga salah karna ga ngejer kamu dulu, dan bikin keputusan ngelamar kamu secepet itu, Na, aku ga mikirin kamu yang mungkin belum siap, aku cuma mikirin nafsu masa muda aku aja,”

”... Yang penting, sekarang kita disini, sama-sama, udah cukup, kan?”

“Let's start over.”

Arsena tersenyum, ia kembali masuk ke dalam pelukan hangat sang suami.

'Iya semua udah cukup, kan? Let's start over,' batin Arsena.

Tanpa gadis itu sadari, ia telah melupakan berita penting yang sebelumnya hendak ia bagi dengan Alvano. Hasil tes kehamilan yang masih tersimpan di saku bajunya.

— —