the past.
Arsena duduk di ranjang sembari memainkan jari-jarinya. Gadis berambut panjang tersebut menghembuskan nafasnya gugup, ia tengah menunggu Alvano yang kini berada di kamar mandi.
Entah kenapa, Arsena berharap Alvano tidak menagih dan melupakan sesaat mengenai janjinya tentang kisah masa lalu mereka. Sesungguhnya, gadis itu sendiri sudah siap menjelaskan, namun ia belum cukup siap untuk menerima bagaimana respon Alvano yang kini sudah menjadi suaminya, Arsena masih ingin waktu berhenti dan menikmati suasana yang begitu hangat saat ini, ia tidak mau merusaknya.
“Na? Melamun? Nungguin aku mandi?” tanya Alvano tiba-tiba, lelaki itu telah keluar dari kamar mandi dengan kaos oblong dan rambut basah, tidak lupa handuk yang tergantung di kepalanya.
Arsena pun melangkah mendekati Alvano, ia mengambil alih handuk yang tergantung, mengeringkan rambut sang suami sekilas sebelum akhirnya ia jemur.
“Abis ini, makan dulu A', kamu pasti laper abis perjalanan lama gitu.” saran Arsena, berdiri tepat di hadapan Alvano yang tengah duduk di ranjang.
Alvano menggelengkan kepalanya, “Tadi di bandara, aku sempet makan dulu, kok, sama Aldo. Sekarang, ayo tidur.” ucap lelaki itu, menarik Arsena hingga duduk di pangkuannya.
Arsena mengerjapkan matanya, ia bergerak tidak nyaman di pangkuan Alvano. Dapat dirasakannya muka dan suasana yang sontak memanas.
“Kenapa? You're blushing,” goda Alvano, ia menyentuh pelan pipi Arsena.
Arsena hanya menjawab dengan gelengan kepalanya, terlalu gugup untuk bersuara.
Alvano tertawa, lelaki itu mendekatkan wajahnya.
“M— mau ngapain?” cicit Arsena tepat sebelum dahi mereka bersentuhan.
Alvano tersenyum miring, “Cium.” jawabnya singkat, dan langsung membungkam bibir Arsena.
©nadswrites