us.
60 menit berlalu sejak Arsena mengantarkan teh hangat ke ruang kerja Alvano, namun belum ada tanda-tanda sosok lelaki itu akan menyusul Arsena di kamar.
Arsena masih terjaga, ia belum bisa tidur setelah mencoba memejamkan matanya beberapa kali. Gadis itu kini hanya membolak-balikkan halaman buku yang tengah dibacanya, ia sedikit tidak fokus. Masih terbayang di benaknya pembahasan mengenai 'cucu', Arsena tersenyum sendiri membayangkan betapa lucunya apabila ada sosok anak kecil yang menyerupai dirinya dan Alvano. Tak lama kemudian, ia menggelengkan kepalanya, menjauhkan pikiran tersebut.
~~~
Alvano kini telah mematikan laptopnya, lelaki itu ke kamar mandi sejenak untuk melakukan ritual sebelum tidurnya, sikat gigi dan mencuci muka. Kemudian, ia segera melangkahkan kaki menuju kamar.
Saat masuk ke kamar, yang dilihat Alvano pertama kali adalah Arsena yang tengah setengah berbaring di atas ranjang, gadis itu tampak sedang membaca buku.
'Ternyata belum tidur,' batin Alvano.
Arsena beranjak, seakan sadar akan kedatangan Alvano di kamar mereka. Ia berjalan menuju walk in closet, dan kembali ke ranjang setelah meletakkan bukunya.
“A'?” panggil Arsena pelan.
Alvano yang sudah berpindah di dekat jendela menoleh. Dia menyempatkan diri merapatkan gorden sebelum berbicara.
“Apa? Kenapa belum tidur?”
“Udah selesai? Aku mau tidur, tapi belum bisa,” jawab Arsena.
Arsena memainkan bajunya. Entah kenapa berbicara dengan Alvano kali ini sangat membuat dirinya gugup, Arsena masih terbayang dengan percakapan via chat mereka sebelumnya. Padahal, yang Alvano lakukan sekarang hanya bersandar di kaca jendela dan menatapnya.
“Udah, Na. Yaudah ayo tidur.” ucap Alvano kemudian sembari melangkahkan kaki mendekat, lelaki itu turut duduk di samping Arsena yang terlihat gugup di matanya.
'Kenapa? Gara-gara yang tadi?' fikir Alvano. Ia tersenyum tipis, nyaris tidak terlihat.
Arsena menghembuskan nafasnya berat, ia menganggukkan kepalanya dan merebahkan badannya perlahan.
Tanpa diduga, Alvano mengikuti pergerakan Arsena, membuat posisi mereka berdua kini berhadapan di atas kasur.
“May I..?” tanya Alvano kemudian, membuat Arsena yang baru saja memejamkan mata, kembali membuka matanya karena terkejut.
Belum sempat gadis itu menjawab, Alvano langsung mendekatkan wajahnya dan mencium bibir Arsena.
Arsena tersentak. Ia terdiam dan memejamkan matanya. Tangan gadis itu kemudian terulur dan memegang bahu Alvano.
Tanpa melepaskan ciuman mereka, Alvano sudah berada di atas tubuh Arsena. Lelaki itu memperdalam penyatuan bibir tersebut.
Arsena yang menerima itu hanya pasrah. Ia membiarkan Alvano. Namun tetap saja setelah beberapa menit, dirinya mulai sulit bernafas.
Alvano menyadari hal itu. Ia kini melepaskan ciumannya dan membiarkan Arsena menghirup oksigen untuk beberapa menit.
“Alvano?” lirih Arsena pelan, membuat Alvano menatapnya, “Hmm?”
“143,” lanjut Arsena, gadis itu memandang wajah Alvano begitu dalam. Memperhatikan setiap lekuk dan detail wajah suaminya.
Alvano terdiam sesaat, sebelum akhirnya perkataan itu terucap.
“143, Na. Always.“
Arsena tersenyum mendengarnya, perasaan mereka sama, tidak pernah berubah.
Mereka pun menghabiskan sisa malam itu dengan begitu hangat. Saling melengkapi dan mengenal di setiap detiknya.
©nadswrites