You First.

Arsena tersenyum lega begitu melihat akhirnya sang buah hati tertidur nyaman. Sekitar 15 menit gadis kecil yang bernama Ara tersebut rewel menunggu sang ayah, namun, dikarenakan ayahnya yang tak kunjung pulang, ia pun lelah dan tertidur dalam gendongan Arsena.

Arsena segera menuju kamar dan meletakkan Ara di tempat tidurnya, ia juga menyelimuti sang anak dan mematikan lampu. Setelah memastikan suasana aman dan nyaman, Arsena meninggalkan kamar dan menuju ruang tengah. Ia melirik jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 8 malam, perempuan itu sedikit khawatir memikirkan suaminya yang belum juga pulang.

Namun, ternyata pemikiran itu tak bertahan lama, suara mesin mobil terdengar memasuki rumah, dapat dipastikan itu merupakan Alvano, seseorang yang sudah ditunggunya. Sebelum membukakan pintu rumah, Arsena berjalan pelan menuju dapur, ia memastikan semua masakan sudah dihangatkan dan siap disantap oleh sang suami nantinya. Arsena tersenyum puas melihat masakannya, ia pun beralih menuju pintu hendak menyambut Alvano.

“Adek dimana? Udah tidur?” Tanya Alvano saat melihat hanya Arsena yang menyambutnya.

“Iya, udah tidur, Pa. Kamu bersih-bersih dulu, abisnya makan, ya?” Jawab Arsena, ia mengambil alih tas dan jas yang dibawa Alvano. Lelaki itu menurut, ia mencuri ciuman sekilas di dahi sang istri.

Arsena tersenyum sebelum kemudian berlalu dan masuk ke kamar.

— — —

Arsena menarik napasnya perlahan, perempuan itu kini berdiri di hadapan cermin, tangannya memegang lipstick merah yang tadi dipakainya di kantor. Tentu saja ia masih mengingat percakapannya dengan Alvano via chat tadi siang.

Arsena sangat mengerti maksud dari suaminya itu, oleh karenanya, akhirnya ia pun memoles bibirnya dengan lipstick yang sedari tadi ia pegang. Perempuan itu tersenyum puas begitu melihat pantulan wajahnya di cermin.

“Na?” Panggilan itu membuyarkan lamunan Arsena. Ia membalikkan badan dan melihat Alvano yang kini tampak fresh sehabis mandi. Lelaki itu sudah memakai pakaian tidurnya.

Langkahnya pasti mendekati Arsena. Terlihat senyuman miring yang membuat Arsena menahan napas.

“Kamu pake lagi?” Tanya Alvano. Ia menaikkan alisnya menggoda Arsena.

“I— Iya, kan kata kamu tadi—”

Perkataan itu terputus. Alvano sudah mempertemukan bibirnya dengan milik sang istri. Ia sudah cukup lama menahan 'godaan' tersebut sejak tadi pagi. Lelaki itu tentu tidak mau melakukannya di depan sang anak yang masih kecil. Dan kini, gadis kecilnya sudah tertidur seolah merestui kedua orang tuanya berbuat sesuatu yang lain.

Arsena yang awalnya terkejut, kini mulai rileks dan menikmati ciuman lembut Alvano. Keduanya pun memejamkan mata. Dengan bibir yang tertaut satu sama lain, Arsena sudah sepenuhnya menopang beban tubuhnya pada dekapan Alvano. Gerakan tangan Alvano yang menghujani pinggang dan punggungnya terus menghantarkan gelora rasa hangat yang mereka rasakan berdua.

Suara nafas yang bersahutan juga kecipak basah kini memenuhi kamar mereka. Keduanya seolah berpacu dengan waktu.

Setelah puas dengan penyatuan bibir tersebut, ciuman Alvano turun ke leher jenjang Arsena. Lelaki itu juga melingkarkan kaki sang istri di pinggangnya, untuk kemudian ia gendong dan menuju ke ranjang dengan cumbuan yang tidak lepas.

“Nghh...” Akhirnya suara itu keluar juga. Arsena mendesah singkat yang begitu jelas terdengar oleh Alvano.

Setelah mendengar desahan singkat itu, pikiran Alvano semakin melambung jauh. Sebelah tangannya yang berada di pinggang perlahan merambat naik dan menyentuh bagian dada Arsena.

“All... kamu bener ga makan dulu?” bisik Arsena pelan di telinga Alvano. Membuat lelaki itu mendongakkan kepalanya menatap sang puan, ia hanya menaikkan alisnya, sebelum kemudian membuka bajunya sendiri.

Alvano mengecup bibir Arsena, “Aku mau makan kamu dulu.” jawabnya, dilanjutkan dengan tangannya yang kini kembali bergerak melepaskan pakaian Arsena.

Arsena tersenyum kecil, ia merasakan kedua pipinya menghangat. Alvano bisa saja mengatakan sesuatu yang tidak bisa ditolak Arsena, membuat perempuan itu akhirnya luluh.

Keduanya melanjutkan percumbuan panas itu sampai benar-benar tiba di puncaknya. Suasana malam yang sunyi juga sang buah hati yang lelap begitu mendukung keduanya untuk melakukan penyatuan tersebut.

Saat ini, biarkan mereka berbagi kehangatan dengan sesi-sesi yang hanya dapat mereka nikmati sendiri.

— — —