nadswrites

Alvano terdiam dengan rasa penasaran yang memenuhi otaknya. Ia memandang lama ke arah pintu kamar mandi yang tak kunjung terbuka. Arsena, sang istri, belum juga keluar dan membuka pintu kamar mandi setelah sekitar 15 menit berlalu.

Mulai bosan menunggu, Alvano pun melangkahkan kaki menuju lemari kamar, sebuah tas kecil yang juga dibawanya saat berkemas tempo hari menarik perhatiannya begitu pintu lemari terbuka. Ia nyaris melupakan tas kecil tersebut. Alvano kemudian membuka kancing tas itu perlahan, sebuah lipatan kertas yang mulai remuk pun terlihat dari dalam tas. Lelaki itu menghembuskan nafasnya berat, ia memandang lama lipatan kertas itu sebelum akhirnya membulatkan tekad untuk membacanya. Saat ini juga.

Lipatan kertas yang merupakan surat penjelasan yang ditulis Arsena sebelum terjadi kecelakaan yang menimpa kedua orangtuanya.

'Inget, Alvano, the past is in the past.' batin Alvano meyakinkan hatinya, apapun isi penjelasan Arsena dalam surat tersebut, Alvano harus menerimanya.

Lelaki itu mengingatkan dirinya sendiri bahwa ia bukanlah bocah kemarin sore seperti beberapa tahun yang lalu. Ia sudah dewasa, ia harus belajar menerima dan mengikhlaskan setiap kejadian yang terjadi dalam hidupnya.

Alvano kembali menarik nafas dan mengeluarkannya pelan, mencoba meredakan jantungnya yang gugup seketika. Perlahan, Alvano melangkahkan kaki menuju balkon, ia memejamkan matanya sembari tangannya membuka lipatan kertas yang mulai remuk tersebut.

Terlihat tulisan tangan Arsena yang indah menyambut matanya begitu kertas itu terbuka. Mata Alvano bergulir lambat, mencoba meresapi tiap kata yang ditulis oleh sang istri, yang juga merupakan pacar masa lalunya itu.

'Dear Alvano...'

“Masih mau disini?”

Alvano bertanya pelan sembari mendekap erat tubuh gadis yang ada di sampingnya. 30 menit sudah terlewati, lampu-lampu yang begitu indah diiringi dengan lalu lintas yang lengang membuat Alvano dan Arsena begitu menikmati suasana di Big Ben malam ini.

“Belum, Al. Aku mau sampe loncengnya bunyi.” jawab Arsena, ia tersenyum senang membayangkan suara dentang jam nasional London itu yang tentu akan terdengar sangat jelas oleh mereka berdua.

“Pasti bakalan jelas banget, Na.” ucap Alvano kemudian seakan membaca pikiran istrinya.

“Iyaa, Al, pastinya! Eh, kita foto lagi dulu ajaa!” seru Arsena, ia segera mengarahkan kamera handphone nya, mengambil belasan sampai puluhan selfie dengan Alvano. Lelaki itu hanya bisa menganggukkan kepalanya, ia pasrah dengan sang istri yang memang hobi mengabadikan momen mereka berdua di dalam kamera.

~~~

Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 23.50, sebentar lagi, tepatnya pukul 00.00 lonceng Big Ben akan berdentang, Arsena tampak begitu antusias, ia tersenyum semangat sambil menikmati es krim yang ada di tangannya. Sesekali gadis itu memandang Alvano dalam diam, mengambil foto tanpa disadari sang suami.

“Na, lima menit lagi,” ucap Alvano kemudian, ia mengambil handphone nya dan merekam video Arsena. Lelaki itu tak mau kehilangan momen dimana lonceng Big Ben berdentang, juga ekspresi sang istri nanti.

“Iya, Al!! Aduh, aku deg-deg an,” jawab Arsena, gadis itu tak memalingkan pandangannya. Ia tidak sadar bahwa Alvano sedang merekam dirinya.

“AL!! LONCENGNYA!!” seru Arsena begitu dentang lonceng Big Ben terdengar, gadis itu terdiam sembari mendengarkan lonceng Big Ben yang berdentang hingga dua belas kali di pukul 12 malam ini.

Alvano pun turut terdiam, entah mengapa ia merasakan perasaan yang tengah dirasakan istrinya. Jauh di dalam hatinya, lelaki itu merasa begitu emosional dan terharu saat mendengar dentangan lonceng tersebut. Ia sangat mensyukuri keputusannya liburan di London bersama Arsena. Kebahagiaan dan memori indah yang mereka jalani saat ini, tak mampu digantikan dengan apapun.

“Yahh udah berhenti, Al...” lirih Arsena saat dentang lonceng tersebut berhenti, ia tampak sedih.

Alvano mengelus pelan kepala sang istri dengan sebelah tangannya, ia mematikan sejenak kamera handphone nya yang masih merekam sejak tadi.

“Nanti kita pasti bisa kesini dan dengerin lagi, Na, jangan sedih, ya?” ucap lelaki itu, memandang lekat mata istrinya.

“Janji, ya? Kita bakal kesini dan dengerin loncengnya lagi?” tanya Arsena, matanya balik menatap Alvano dengan penuh harapan.

Alvano mengangguk sembari tersenyum, ia mengecup bibir Arsena dan menepuk puncak kepalanya pelan, mencoba menghibur sang istri.

Arsena merasakan pipinya memerah, ia tersenyum lega, menghamburkan dirinya dalam dekapan hangat Alvano. Berterima kasih juga sangat bersyukur.

“Aku sama kamu, harus sehat dan bahagia terus kaya gini, ya, Al?” lirih Arsena kemudian, ia berbisik di telinga Alvano sebelum melepaskan pelukan mereka.

“Yes, of course, we will...” jawab Alvano, berharap dan mendoakan hal yang sama.

©nadswrites

Keira terdiam, ia nyaris menahan nafasnya. Melihat sosok salah satu gangster yang ternyata adalah pacarnya sendiri. Gadis itu perlahan berjalan menjauh, ia menyembunyikan dirinya di salah satu pohon yang ada di sana.

Dalam diam, Keira terus memperhatikan apa saja yang dilakukan oleh para gangster di hadapannya, termasuk Kevin.

Bugh!

Gue gatau!

Bugh!

Keira meringis melihat peristiwa yang terjadi di hadapannya saat ini, rasa beraninya menciut, rasanya justru ia yang ingin kabur dan pergi. Keira tidak sanggup melihat aksi yang semakin lama semakin kejam itu.

Bugh!

Keira menyipitkan matanya melihat seorang lelaki terus dipukuli oleh beberapa orang lain yang Keira yakini merupakan komplotan Kevin, pacarnya. Kevin sendiri dan yang lain tampak hanya diam dan memperhatikan. Keira berusaha mendengar apa yang mereka ucapkan, tapi nihil, mereka berbicara terlalu pelan, jarak Keira berdiri tak cukup dekat untuk mendengar percakapan mereka.

Akhirnya, Keira kembali mengeluarkan ponselnya, dengan perasaan gugup dan sedikit takut, ia pun memotret kejadian tersebut.

'Ckrek'

Suasana gang yang gelap dan cukup bersuara itu tiba-tiba sunyi sesaat, Keira membelalakkan matanya dan membeku setelah menyadarinya.

Keira lupa mematikan fitur suara di handphone-nya! Sehingga suara itu terdengar cukup nyaring dan kuat untuk mengalihkan perhatian orang-orang yang ada di gang tersebut.

Keira menutup mulutnya, ia melihat ke arah para gangster dan benar saja, kini semua mata memandang dirinya. Ia tertangkap basah.

Karena terlanjur panik dan tidak mengingat apapun lagi, Keira langsung membalikkan badannya dan berjalan dengan cepat, nyaris berlari.

Namun pada saat itu juga, dua orang bertubuh besar dengan pakaian serba hitam muncul dari ujung gang.

'Kenapa mereka ada disitu?Sejak kapan?' batin Keira.

Keira sontak berhenti, kini ia hanya mampu berdiri di tempat, gadis itu mencoba menetralkan nafasnya sendiri. Ia menarik nafas dan nembuangnya berkali-kali.

Dua pria bertubuh besar itu terus berjalan mendekat ke arahnya, membuat Keira mulai panik dan ketakutan.

Namun, di antara rasa takut yang melingkupi, Keira mendengar suara langkah kaki lain di belakangnya, disusul dengan hembusan nafas berat dan dehaman lirih yang familiar di telinga Keira.

“Stop, biarin gue yang urus.” ucap lelaki di belakang Keira tersebut, membuat dua pria bertubuh besar di hadapannya berhenti melangkah mendekatinya.

“Dia pacar gue.” ucap lelaki itu lagi, membuat Keira langsung membalikkan badannya.

Perlahan, Keira mulai bernafas dengan tenang, ia nyaris melupakan keberadaan lelaki di belakangnya tersebut. Kevin.

Tatapan mereka berdua akhirnya bertemu, Keira dengan sorot penasaran dan ketakutannya, dengan sorot bersalah dan amarah dari mata Kevin.

©nadswrites

Mandi

Arsena dan Alvano kini sudah sampai di kamar hotel. Mereka berdua duduk berdampingan di ranjang.

Tak lama kemudian, Alvano beranjak dan mulai melepaskan kancing kemejanya, lelaki itu juga melepas kaus di dalamnya. Arsena tebak, suaminya itu hendak mandi.

Arsena pun berjalan menuju walk in closet. Dia kembali setelah meletakkan tas dan aksesoris yang ia pakai tadi.

“Alvano,” panggil Arsena pelan.

Alvano yang masih berdiri di depan cermin menoleh, bagian atas lelaki itu sudah tidak tertutupi apapun.

“Iya, Na?” jawabnya.

“Makasih yaa,”

“Buat?”

Alvano menaikkan alisnya saat mendengar ucapan Arsena.

“Everything,” ucap Arsena pelan.

“Semua yang udah kamu lakuin buat aku, sampe sekarang, Al...” lanjutnya.

Alvano menghembuskan nafasnya perlahan, ia tersenyum hangat sembari melangkah mendekati Arsena. Mendekap gadis itu.

“Aku yang harusnya makasih, Na,” lirih Alvano. Ia menepuk pelan bahu Arsena, seolah mengatakan bahwa lelaki itu tulus melakukannya, tidak perlu berterima kasih.

Alvano kemudian menjauh, melanjutkan langkahnya menuju kamar mandi.

Tanpa Alvano sadari, ternyata Arsena mengikutinya ke kamar mandi. Tangan gadis itu menahan pintu kamar mandi yang hampir ditutup Alvano.

Lelaki itu menaikkan alisnya menatap Arsena seolah bertanya, Kenapa?

Arsena hanya diam, ia melepaskan tangannya yang memegang pintu kamar mandi. Perlahan, Arsena membuka bajunya sendiri.

“Aku mau ikut mandi,” ucap Arsena begitu bajunya terlepas.

Alvano tersenyum miring, jantungnya tiba-tiba berdegup kencang dan fantasinya berlarian menjauh.

Lelaki itu meraih tangan Arsena dan menariknya ke kamar mandi.

“Kunci dulu,” ucap Arsena mengingatkan.

“Udah,” jawab Alvano cepat dan langsung membungkam bibir Arsena dengan bibirnya sendiri.

©nadswrites

“Alvano! Fotoin aku disitu, yaa?” ucap Arsena riang sambil menyerahkan kameranya kepada sang suami.

Alvano mengangguk menuruti instruksi Arsena, ia tersenyum begitu memperhatikan pose yang ditunjukkan gadisnya itu.

“Kasih aba-aba dulu, itungg!” seru Arsena lagi, membuat Alvano terkekeh sejenak sebelum akhirnya menekan tombol di kamera.

'Ckrek'

'Selalu cantik,' batin Alvano.

Tanpa sadar, lelaki itu terus memberi aba-aba dan memotret belasan foto Arsena dengan berbagai pose lainnya.

___

“Eh, Al, sini gantian aku yang fotoin kamu.” pinta Arsena kemudian begitu mereka sampai di Grosvenor Square, sebuah taman dengan nuansa hijau yang begitu kentara. Grosvenor Square terletak tak jauh dari Baker Street, destinasi mereka sebelumnya.

“Kamu aja yang foto, Na. Sini,” elak Alvano, lelaki itu hendak mengambil kamera Arsena.

Arsena menggelengkan kepalanya, menolak dengan tegas.

“Enggak, Al. Kamu yang aku fotoin, cepet,” tekan Arsena.

Alvano masih diam, hingga akhirnya gadis berambut panjang yang merupakan istrinya tersebut lebih memilih mengarahkan kamera ke wajahnya tanpa persetujuan, tampak mulai merekam kegiatan mereka.

“Kalau gamau difoto aku rekam, ya. Gaada penolakan,” bisik Arsena di telinga Alvano.

“Hai guys! Yang kalian liat sekarang itu suami aku, namanya Alvano, dia orangnya emang pemalu— Nah! gitu dong senyum, haha, kenapa ga dari tadi?”

Arsena asyik melakukan monolog di kameranya sembari terus merekam Alvano. Gadis itu tampak puas melihat sang suami yang terkadang terlihat begitu pede, namun dalam sekejap juga bisa menjadi begitu pemalu.

'Gemes banget sih, suami siapa?' batin Arsena dengan senyum yang tak lepas dari wajahnya.

___

“Al, mau langsung balik ke hotel?” tanya Arsena saat mereka sudah menaiki mobil. Keduanya tampak lelah setelah cukup lama berkeliling di sekitar Baker Street. Untung saja, Alvano menyewa sopir, sehingga mereka berdua bisa duduk tenang di kursi belakang.

“Iya, Na. Kamu masih mau jalan, emangnya?” jawab Alvano balik bertanya. Lelaki itu mengelus pelan pipi Arsena. Namun, elusan itu seketika berubah menjadi sebuah cubitan halus, membuat Arsena mendelik kaget.

“Kok dicubit?!” protesnya.

Alvano tertawa pelan, ia mengecup pipi Arsena yang tadi dicubitnya sebelum menjawab, “Gemes, pipi kamu empuk.”

Arsena menggeleng-gelengkan kepalanya bingung. Ia menaikkan sebelah alisnya, “Aneh banget, ck.”

“Ohiyaa, tadi aku mau bilang aku mau beli eskrim dulu, All, sebelum ke hotel,” ucap gadis itu kemudian, kembali teringat dengan pembahasan mereka sebelumnya.

“Ya?” pinta Arsena lagi menunjukkan puppy eyes andalannya.

“Haha, iya, ayo beli eskrim dulu,” jawab Alvano, menepuk pelan paha Arsena.

Lelaki itu kemudian berkata kepada supir untuk berhenti sejenak di sebuah gerai eskrim ternama di London. Snowflake Gelato, tempat eskrim yang selalu memiliki varian rasa baru di tiap musimnya, hal itulah yang membuat Alvano yakin bahwa Arsena akan menyukainya.

“Yayy!! Makan eskrim!” ucap Arsena riang, tersenyum hangat menatap Alvano.

Sorot mata gadis itu seakan menyiratkan bahwa ia sangat berterima kasih, juga menegaskan bahwa ia baik-baik saja. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi.

Alvano balas tersenyum, ia merangkul Arsena agar kembali mendekat. Membisikkan sebuah kata-kata di telinga sang istri.

“One four three, wife...”

©nadswrites

Bangunan-bangunan tinggi khas georgian building menyambut pemandangan Alvano dan Arsena begitu mereka sampai di Baker Street.

Beberapa orang terlihat berbaris untuk memasuki rumah bertanda 221B itu, atau biasa disebut dengan Sherlock Holmes Museum. Pembelian tiket masuknya sendiri bisa dibeli melalui toko merchandise yang ada di samping museum.

Tanpa pikir panjang lagi, Alvano mengajak Arsena untuk masuk ke barisan terlebih dulu, sebelum akhirnya ia meninggalkan gadis itu sejenak untuk membeli tiket. Untungnya, ini masih pagi, antriannya belum begitu ramai.

Arsena tersenyum tipis sembari menunggu, ia berdiri dengan penuh semangat, binar bahagia senantiasa terlihat di matanya. Tak lupa, gadis itu juga mengeluarkan kamera yang sudah ia kalungkan sedari tadi, mengambil beberapa objek yang menurutnya indah.

Tidak ada larangan mengambil foto disini, para wisatawan bebas mengambil foto, bahkan beberapa orang terlihat merekam kegiatan mereka.

~~~

“Na, nih tiketnya,” ucap Alvano membuyarkan lamunan Arsena. Gadis itu mendongak dan menyambut uluran tangan Alvano yang memberinya sebuah tiket. Arsena memandang tiketnya sedikit lama, ia tersenyum senang.

“Makasih ya, Al.” jawab gadis itu kemudian. Meraih tangan kiri Alvano untuk ia gandeng.

Setelah menunggu sebentar, akhirnya giliran mereka memasuki museum pun tiba. Karena begitu bersemangat, Arsena melepaskan gandengan tangan mereka, gadis itu berdiri dan berjalan lebih cepat di depan Alvano, membuat lelaki di belakangnya itu hanya terkekeh sembari mengawasi sang istri.

“Alvano, sini!! Yampun, kamu tau nggaa? Ini ruang duduknya Sherlock Holmes, tempat dia ngobrol-ngobrol dan diskusi bareng dr. Watson...” panggil Arsena riang, gadis itu tak memperdulikan pengunjung lain yang juga memperhatikannya. Pandangannya hanya tertuju pada Alvano, bertekad keras memperkenalkan tempat impiannya yang satu ini kepada lelaki itu.

“Al!! Liat, ini cerutunya, bisa mirip banget gituu...”

“Alvano! Kamu mau nyentuh apa sih, itu jangan disentuh, bersejarah tau...”

“Alvano! Buku-bukunya banyak banget... bener-bener persis kaya yang ada di novelnya,”

“Al, nanti kita beli topi detektif kaya gini juga, ya?”

Masih banyak lagi perkataan-perkataan yang diucapkan Arsena selama mereka berada di museum. Alvano menanggapi setiap perkataan gadis itu dengan senyum antusiasnya, sesekali ia juga bertanya mengenai barang-barang replika yang berada di museum.

Tentu saja, Alvano tidak mau menyurutkan semangat Arsena dalam berkomentar dan menjelaskan dengan reaksinya yang biasa saja. Meskipun dalam hati, Alvano ingin tertawa melihat ekspresi yang ditunjukkan Arsena, gadis itu terlihat begitu serius sebelum sedetik setelahnya ia tersenyum semangat saat mengamati barang-barang antik tersebut. Tak lupa, Alvano juga kerap mengambil foto Arsena, lelaki itu tak mau melewatkan sedetikpun senyum yang ditunjukkan istrinya hari ini. Alvano akan selalu mengenang senyum itu. Juga, raut bahagia dan antusiasnya.

“Alvano!” panggil Arsena kemudian.

“Habis ini kita mampir ke toko merchandise-nya ya? Harus beli barang-barang disana, boleh kan, Al?” tanya gadis itu menunjukkan puppy eyes-nya di hadapan Alvano.

“Iya, Na. Anything you want, liburan ini khusus buat kamu.” jawab Alvano, tersenyum hangat sembari sebelah tangannya mengacak rambut Arsena gemas, belum sempat gadis itu mengeluarkan kata-kata protesnya, Alvano mengecup kilat pipi Arsena, membungkamnya.

“IHH! Alvanooo,” gerutu Arsena, melangkah mengejar Alvano yang lebih dulu keluar museum.

Begitu pandangan keduanya bertemu, baik Alvano maupun Arsena terkekeh pelan, saling tertawa sebelum kemudian memasuki toko merchandise. Membeli barang-barang yang diinginkan Arsena.

©nadswrites

“Mau kemana kita hari ini?!”

Arsena yang kini telah siap pergi dengan make up dan outfit andalannya bertanya riang kepada Alvano yang tampak masih sibuk menyisir rambut.

“Kemanapun yang kamu mau, Na. Baker street?” jawab Alvano, tersenyum menatap Arsena, lelaki itu kemudian menaruh kembali sisir ke atas meja.

Arsena membulatkan matanya, raut wajahnya terlihat semakin bersinar di hadapan Alvano.

“MAUUU KE BAKER STREET!! 143, ALL!”

Efek terlalu bahagia begitu mengetahui destinasi pertama mereka hari ini, Arsena langsung menghamburkan diri memeluk Alvano sekilas. Belum sempat Alvano mengangkat tangannya untuk memeluk balik Arsena, gadis itu sudah berlalu dengan menenteng tas yang disiapkannya sedari tadi.

Alvano hanya terkekeh pelan, ia menggelengkan kepalanya sembari terus memperhatikan setiap gerak gerik Arsena yang tampak sangat antusias, membuatnya terlihat lucu dan menggemaskan di mata Alvano.

“Let's go!!” ucap Arsena lagi begitu riang, membuyarkan lamunan Alvano. Lelaki itu yang kini juga sudah siap pergi langsung mendekat dan menggandeng tangan Arsena. Mereka berjalan berdampingan meninggalkan kamar hotel dan juga hotel tersebut. Menaiki mobil beserta supir yang sudah disewa Alvano selama mereka berlibur disini.

Perjalanan terasa begitu damai, Alvano dan Arsena kerap kali melemparkan candaan, keduanya menikmati pemandangan London menuju Baker Street yang terdapat di distrik Marylebone, Kota Westminster.

Arloji di pergelangan tangan Arsena sudah menunjukkan pukul 7 malam waktu London. Gadis itu tersenyum ceria memandang suasana di sekitarnya. Tampak tidak terlalu ramai, beberapa orang terlihat asyik bercengkrama, menimbulkan senyum terbit di wajah Arsena.

Arsena melangkah pelan, ia memalingkan pandangannya kebelakang, menggandeng tangan Alvano yang kini menelfon seseorang, sepertinya menghubungi mama mertuanya. Memberi kabar bahwa mereka sudah sampai di London dengan selamat.

“Udah dulu, ya, Ma... Daah,” ujar lelaki itu kemudian sebelum menutup panggilan.

Mereka pun berjalan beriringan sembari bergandengan tangan, tak lupa sisi tangan Alvano yang lain menyeret koper besar berisi barang mereka berdua. Keduanya asyik berbincang dan sesekali tertawa, menikmati suasana di Heathrow Airport, London.

Tujuan mereka sehabis dari bandara adalah Mandarin Oriental Hyde Park, yang merupakan hotel tempat mereka menginap selama di London, beristirahat sejenak sebelum menyambut hari esok.

“Ohya, Al, kita disini berapa lama?” tanya Arsena begitu mereka duduk di mobil dalam perjalanan ke hotel. Ia hendak bertanya mengenai hal itu dari kemarin, namun tampaknya gadis itu lupa karna terlalu senang.

Alvano melirik Arsena sekilas, tersenyum misterius.

“Rahasia,” jawab lelaki itu.

“Haha, udah, yang penting kita istirahat dulu, nikmatin malem ini.” lanjutnya kemudian sembari mengacak pelan rambut Arsena yang diakhiri elusan pelan di kepala gadis itu.

Perlakuan Alvano itu membuat Arsena tertegun sejenak. Gadis itu menetralkan nafasnya sebelum akhirnya tersenyum pelan, mengangguk menatap lelaki di sampingnya.

Mereka menikmati perjalanan malam itu dengan memandang jalanan London yang dipenuhi lampu-lampu. Begitu indah, penutupan hari yang sangat membuat mood Alvano dan Arsena terasa hangat juga bahagia.

©nadswrites

Arsena memandang cukup lama meja makan yang terlihat meriah malam ini, setelah gadis itu mengingat-ingat dan tak ada tanda-tanda peringatan apapun, akhirnya Arsena duduk dengan perasaan yang sedikit bingung.

5 menit kemudian, Arsena merasakan atensi Alvano akhirnya mendekat, lelaki itu duduk di hadapannya dan tersenyum hangat menatap Arsena. Gadis itu balas mengangguk disertai senyuman tipisnya, ia kemudian tidak mampu menahan dirinya untuk tidak bertanya.

“Ini dalam rangka apa, Al?”

“Nikmatin aja dulu makanannya, kalau kamu berhasil abisin, bakal aku kasih hadiah.” jawab Alvano kali ini dengan senyum misterius dan kedipan mata, menggoda Arsena.

Arsena hanya terkekeh pelan, ia kemudian mengangguk dan mulai makan makanan spesial yang sudah dimasak oleh sang suami.

Spaghetti Bolognese ditemani dengan dessert kesukaan Arsena yaitu, tiramisu. Dua nama yang merupakan menu dinner Alvano dan Arsena malam ini.

Keduanya menikmati makan malam tersebut dalam diam, sesekali saling mencuri pandang satu sama lain, dengan banyak ungkapan yang terpancar dari sorot mata mereka berdua.

~~~

“Abis juga...” lirih Arsena.

Gadis itu tersenyum puas menatap piringnya yang kini bersih, ia kemudian memalingkan pandangannya ke arah Alvano yang masih memakan makanannya.

“Aku menang, Al. Kamu bahkan belum selesai makan, ck. Mana hadiahnya?” ucap Arsena sembari tertawa mengejek. Ia tampak lupa dengan rasa sedih dan rasa malasnya sebelum makan tadi.

Masakan Alvano sama halnya seperti masakannya sendiri, tidak pernah gagal menggoyangkan lidah, membuat penikmatnya merasa bahagia karna kenikmatan rasanya.

Alvano balas tertawa menatap Arsena, ia merasa bahagia begitu kembali mendengar suara tawa gadis itu setelah sekian lama. Membuatnya semakin yakin misinya berhasil malam ini. Misi untuk memberi tiket liburan kepada Arsena.

“Iya, kamu menang.” jawab Alvano, ia juga sudah menghabiskan makanannya.

Lelaki itu kemudian beranjak dari duduknya dan mendekati tempat duduk Arsena.

“Sekarang, tutup mata kamu, Na.” lanjutnya.

Arsena menatap Alvano bingung, namun ia menurut. Arsena pun menutup matanya perlahan, membuat lelaki di hadapannya kembali tersenyum.

Alvano merogoh sakunya, lelaki itu membuka laman bukti pembelian tiket dari aplikasi di handphonenya. Ia meletakannya tepat di tangan Arsena yang menganggur di meja makan.

“Sekarang, udah boleh dibuka.” intruksi Alvano, membuat Arsena segera membuka matanya.

Gadis itu mengernyitkan dahi melihat handphone sang suami yang berada di genggamannya, ia menatap Alvano dan mendapat lirikan mata yang menyuruh agar ia melihat handphone lelaki itu.

Perlahan, Arsena akhirnya membuka dan menatap lama handphone Alvano, gadis itu terdiam. Ia tertegun cukup lama.

'Tiket pesawat? Ke London?'

Arsena membulatkan matanya, ia juga mengedipkan matanya berkali-kali memastikan kebenaran penglihatannya.

Namun, tulisan di layar handphone tidak berubah, terasa begitu nyata.

Gadis itu sontak beranjak dari kursi dan melompat-lompat pelan, menunjukkan kegembiraannya. Ia bahkan lupa dengan keberadaan Alvano yang masih berdiri di dekatnya.

“Ehem, Na?”

Deheman Alvano tersebut membuyarkan kebahagiaan Arsena, gadis itu seketika menghambur ke dekapan hangat Alvano. Membuat Alvano merasakan begitu banyak kupu-kupu di perutnya, lelaki itu sangat bahagia, melihat Arsena kembali tertawa dan bahagia adalah tujuannya, ia menepuk-nepuk pelan punggung Arsena. Membisikkan sebuah kata di telinga sang istri.

“Let's get away for a while and having fun, just you and me.”

“It feels so good seeing you laugh and happy, Na.”

©nadswrites

Cuaca hari itu mendung, sedikit gelap namun tidak hujan. Cuaca yang menggambarkan perasaan yang dirasakan sosok gadis bernama Arsena saat ini.

Setelah kemarin melihat kedua orangtuanya untuk yang terakhir kali, akhirnya hari ini ia menguatkan diri untuk menemani mereka berpulang. Arsena tidak bisa membohongi dirinya yang masih sangat sedih karna kepergian orangtuanya yang begitu cepat, memori kebersamaan mereka sedari kecil terus berputar di bayangannya bagaikan kaset rusak. Namun, inilah hidup, setiap pertemuan pasti ada perpisahan, Arsena tidak mau membuat khawatir orang-orang terdekatnya khawatir karna dirinya terus-terusan bersedih, mereka begitu setia menemaninya hingga saat ini.

Alvano dan juga keluarganya terus menenangkan dan memberinya semangat, tak henti-hentinya mereka mengingatkan bahwa Arsena juga merupakan bagian dari keluarga mereka. Arsena kehilangan kedua orangtuanya, namun Arsena masih mempunyai keluarga disini, yang akan selalu menemaninya melewati masa sulit dan sedih seperti saat ini.

Sahabat dekatnya, Alody, Kiara dan Gibran juga turut menemani dan menguatkannya. Mereka bertiga senantiasa memberi lelucon konyol agar Arsena setidaknya mengeluarkan sedikit senyumannya. Meskipun hal itu tidak terlalu berhasil, namun Arsena terenyuh dan bersyukur akan kehadiran mereka semua. Ia merasa tidak sendirian, setidaknya untuk sementara ini.

~~~

Pemakaman kedua orangtuanya kini telah selesai, tanah itu terlihat masih basah. Kedua orangtuanya dimakamkan berdampingan sesuai permintaan Arsena. Dengan sedikit kekuatannya yang tersisa hari ini, Arsena menaburkan bunga di makam keduanya, tak lupa ia juga memanjatkan doa tulus dari lubuk hatinya.

Hari mulai beranjak siang, beberapa peziarah sudah mulai kembali ke rumah, saat ini hanya tersisa Alvano dan Arsena di pemakaman.

Gadis itu terdiam, memandang sendu nisan kedua orangtuanya. Pipinya yang basah, kini mulai mengering, Arsena sudah terlalu banyak menghabiskan air matanya. Hari ini seperti mimpi, bahkan ia masih bisa dengan jelas mendengar suara Ayah dan Bunda di telinganya, nasihat-nasihat yang senantiasa diberikan kepada Arsena selama mereka masih hidup.

Melihat Arsena yang hendak mengeluarkan air matanya kembali membuat Alvano dengan pelan mendekap hangat gadis itu.

It's okay, Na, keluarin semuanya,” lirih Alvano.

Ia tidak mau melihat istrinya menahan air matanya yang jelas-jelas ingin keluar. Ia ingin gadis itu mengeluarkan semuanya hari ini, setidaknya sampai ia sedikit lebih lega. Alvano tidak keberatan mendengar isakan gadis itu terus menerus, selagi itu membuat gadisnya lega, meskipun hatinya sendiri terpukul mendengarnya. Namun, ini adalah satu dari sedikit hal yang bisa ia lakukan untuk Arsena.

©nadswrites