nadswrites

Teh Alana melangkah pelan mendekati Arsena yang baru saja keluar dari kamar mandi. Gadis itu terus menunduk dan tidak menyadari kehadiran Teh Alana. Gerakannya begitu lesu dan tidak bersemangat, dan Teh Alana tentu mengerti alasan dibalik lesunya Arsena.

“Sen?” panggil Teh Alana kemudian, menyentuh pelan bahu Arsena.

Arsena sontak mendongakkan kepalanya, ia menatap Teh Alana lama sebelum akhirnya memeluk kakak iparnya itu, membuat Teh Alana sedikit terkejut namun segera membalas pelukan Arsena, juga mengelus lembut punggungnya.

Tak lama kemudian, isakan pelan terdengar, membuat Teh Alana semakin mengeratkan pelukan mereka, hatinya tak kuasa mendengar isakan Arsena yang begitu pilu.

“Sena udah tau, Teh...”

“Sena udah tau soal Ayah, Bunda...” lirih Arsena kemudian, berbisik di telinga Teh Alana.

Teh Alana terdiam lama, ia memikirkan kata-kata yang sekiranya tidak membuat hati Arsena semakin sedih.

Ssh, it's okay not to be okay, Sen.. Ayah sama Bunda akan selalu ada di hati kita,” ucap Teh Alana, mencoba menenangkan Arsena.

Arsena mengangguk pelan dalam pelukan mereka, sekeras apapun ia berusaha mengabaikan kenyataan, kenyataan itu tetap tidak akan bisa berubah. Yang bisa ia lakukan sekarang hanya mencoba berdamai dan mengikhlaskan kepergian sang ayah juga bundanya, bahkan tak pernah terfikirkan di otaknya bahwa orangtuanya akan meninggalkannya di waktu yang sama, dan secepat ini.

Seandainya saja ia bisa mengulang waktu, Arsena ingin sedikit saja lebih lama bersama orangtuanya. Selama dan sebanyak apapun kenangannya bersama orangtuanya sebelumnya, tentu tetap akan terasa kurang begitu ia kehilangan mereka, seperti saat ini.

'Ayah, bunda, kakak minta maaf gabisa nemuin kalian untuk yang terakhir, kakak minta maaf ga bisa nemenin kalian, kakak mohon, kalian harus lebih bahagia disana, sekarang ayah udah ga sakit lagi... ayah udah boleh makan apa aja disana, ayah ga perlu mikirin gula darah lagi, dan bunda juga ga perlu marahin ayah karna ayah makan makanan manis kaya dulu...'

'...tapi kakak cuma minta satu hal, walaupun kalian udah di tempat yang lain, kakak pengen kalian dateng ke mimpi kakak, setiap malam... kakak sayang ayah dan bunda,'

©nadswrites

Alvano memandang sendu ke arah Arsena yang kini tertidur. Ia menggenggam lembut tangan gadisnya. Sebelum tertidur, Arsena terisak begitu lama tanpa suara dalam pelukannya.

Alvano sendiri tak mampu berbuat banyak, ia tentu tidak mau memaksa Arsena untuk baik-baik saja saat kenyataannya tidak, ia tidak bisa mengatakan agar Arsena berhenti menangis saat hanya tangisan lah yang mungkin mampu membuat gadis itu sedikit lega. Alvano hanya mampu menenangkan Arsena, mengelus lama pundak gadis itu seolah berkata ia ada disini, menemani Arsena selama apapun yang dibutuhkan. Alvano tidak akan meninggalkan Arsena.

Seketika, terbayang di benaknya pesan yang diberikan sang mertua. Dulu, di hari pernikahan mereka.

“Untuk Ananda Alvano Sean Pratama, yang kini menjadi rumah dan imam anak kami, tolong jaga dan bimbinglah anak kami, bimbinglah putriku sebagai isteri sekaligus sebagai amanah yang kelak kamu dituntut bertanggung jawab atasnya.

Terimalah ia termasuk kelebihan dan kekurangannya...

Tegur apabila salah namun jangan sampai berbuat kasar...

Maka, kami harapkan kamu adalah orang yang selalu bersama dengannya hingga akhir hayat...

Pesan terakhir, untuk kalian, menikah itu adalah ibadah, persoalan-persoalan dalam rumah tangga juga bernilai ibadah, tetap sabar dan saling menghargai dengan cara terbaik...”

Alvano mengusap air matanya, air matanya merembes tanpa ia sadari. Lelaki itu menghembuskan nafasnya berat. Ia mengingat setiap pesan yang diucapkan sang ayah mertua dulu, dalam hatinya ia bertekad untuk selalu menerapkannya dan tidak akan melupakannya.

“Ayah, Bunda, izinin Alvano untuk ngambil alih tugas kalian selama ini, Alvano akan selalu jaga Arsena, kalian ga perlu khawatir,” batinnya.

Dering handphone yang terdengar berulang kali mengalihkan perhatian Alvano, lelaki itu beranjak dan melepaskan genggaman tangannya dengan Arsena untuk sementara.

Terlihat puluhan pesan masuk dari orangtua nya juga teh Alana.

“Sampai lupa kabarin mereka, papa, mama, teteh pasti khawatir,” lirih Alvano kemudian. Lelaki itupun mengetikkan beberapa kalimat di handphonenya, membalas satu persatu pesan tersebut.

©nadswrites

“Kak? Kakak nanti cita-cita nya apa?”

Bunda bertanya kepada Arsena kecil yang tampak asyik melukis gambaran random nya di dinding kamar. Ya, bunda tidak pernah melarang Arsena untuk menodai dinding tersebut, justru bunda bangga melihat kreatifitas anak gadisnya dalam bentuk gambaran itu.

“Kakak mau jadi pelukis, Ndaa.. Kakak suka mewarnai tapi gambaran Kakak jelek...” lirih Arsena kecil. Gadis berkepang dua itu berpaling memberi perhatiannya kepada bunda sepenuhnya. Raut wajahnya tampak sedih karna gambarannya sendiri.

“Kata siapa gambaran Kakak jelek? Gambaran Kakak bagus tauu, Kak, ada nilai seninya...”

“Nanti kalau Kakak udah jadi pelukis atau jadi apapun di masa depan, inget ya, Kak, Bunda ada disini buat, Kakak...”

“Bunda siap jadi tempat keluh kesah Kakak dan bantu Kakak soal apapun, okay?”

Bunda berkata lembut sembari mengelus rambut Arsena kecil. Tumbuh seorang diri tanpa saudara membuat Arsena begitu mandiri, gadis itu jarang meminta bantuan kepada orang tuanya yang terkadang sibuk. Hal itulah yang membuat bunda seringkali khawatir, anak gadisnya tumbuh dan bersikap lebih dewasa dari umurnya.

Arsena kecil mengerjapkan matanya, gadis itu mengangguk pelan, tersenyum hangat menatap sang bunda.

~~~

“Bunda...”

“Ayah...”

Bisikan lirih dari gadis yang baru saja membuka matanya membuat suster yang berjaga di kamar rawat tersebut seketika mendekat.

“Teh, pelan-pelan aja, ini minum dulu.” ucap suster dengan nametag Anisa sembari membantu gadis itu duduk di ranjangnya.

Gadis yang merupakan Arsena itu pun mengangguk pelan. Ia mencoba mengingat kejadian yang terjadi sebelum ia terbangun di rumah sakit saat ini. Raut wajah Arsena seketika berubah dan jantungnya berdegup kencang.

“Sus, tolong panggilin bunda sama ayah saya! Saya mau ketemu mereka...”

Suster Anisa terdiam mendengar perkataan Arsena. Ya, ia tahu bahwa gadis di hadapannya adalah anak dari pasangan yang mengalami kecelakaan maut yang baru saja terjadi. Keterangan dan pencarian data oleh polisi sebelumnya masih terbayang di benaknya.

“Suster, tolong panggilin orang tua saya...” lirih Arsena lagi, membuyarkan lamunan Suster Anisa.

“Yang tenang, ya, Teh. Teteh istirahat dulu—”

“Saya mau ketemu orang tua saya, Sus!” potong Arsena. Gadis itu beranjak dari ranjang, ia melepaskan infus yang terpasang di tangannya dengan nekat membuat tetesan darah mengalir seketika.

“Arsena!” panggilan yang terdengar cemas dari arah pintu membuat Arsena menghentikan gerakannya.

Suster Anisa pun langsung membantu Arsena agar kembali duduk dan segera membersihkan darah yang menetes di pergelangan tangan Arsena sembari sosok yang baru masuk mendekat ke arah mereka.

Seakan mengerti, setelah mengobati tangan Arsena, Suster Anisa pun meninggalkan kamar tersebut. Dapat dilihatnya bahwa Arsena sedikit menenangkan dirinya begitu seseorang itu datang.

“A— Alvano...”

“Ayah, Bunda, Al...”

Tanpa fikir panjang, sosok yang merupakan Alvano tersebut mendekap hangat Arsena. Ia mengelus punggung sang istri perlahan. Membuat air mata yang tadi tertahan kini mengalir deras. Gadis itu terisak di pelukan Alvano.

“Aku mau ketemu mereka, Al...”

“Aku mau ketemu mereka...”

“Aku mau lihat ayah sama bunda, aku mau peluk mereka, Al...”

Bisikan-bisikan itu membuat hati Alvano berdenyut sakit. Ia turut menyalahkan dirinya sendiri.

'Maafin aku, Na,'

©nadswrites

Suasana rumah sakit yang tidak terlalu ramai disertai aroma obat yang menguar menyambut Arsena begitu ia sampai di lobi.

Gadis itu bergegas melangkahkan kaki menuju meja resepsionis, hendak menanyakan keberadaan sang ayah. Namun, belum sempat Arsena bertanya, resepsionis dengan nametag Sandra tersebut terlihat mengangkat telfon. Raut wajahnya berubah cemas dan panik seiring panggilan itu berlangsung, membuat Arsena bertanya-tanya dalam hati.

Pertanyaan itu terjawab begitu suasana rumah sakit seketika ramai. Samar-samar terdengar di telinga Arsena bahwa kecelakaan maut baru saja terjadi. Belum sempat ia membalikkan badan untuk melihat keadaan di sekitarnya, dua ranjang yang didorong tergesa oleh para perawat di rumah sakit membuatnya membatu. Arsena dapat memprediksi bahwa dua ranjang tersebut ditempati oleh korban kecelakaan yang baru saja terjadi. Kain putih terlihat menutupi kedua korban.

Arsena menghembuskan nafasnya yang seketika terasa berat, tanpa disadarinya kakinya melangkah menyusul kemana para perawat tersebut membawa korban kecelakaan.

Sebelum akhirnya, langkahnya terhenti, matanya perlahan mengabur oleh air mata, aliran darahnya terasa mengalir begitu cepat. Indra pendengarnya masih dapat menangkap dengan jelas percakapan yang barusan terjadi. Arsena mendongakkan kepalanya, ia berusaha menghalau air mata yang terus menetes, dapat dilihatnya terdapat dua orang polisi diantara para perawat tersebut. Gadis itu mendekat, mencoba kembali mencuri dengar. Memastikan kebenaran yang didengarnya sebelumnya.

“Korban merupakan suami istri, berdasarkan ktp yang ditemukan, atas nama Arfan dan Arana Wijaya...”

”...dilaporkan tewas di lokasi kejadian...”

Arsena tidak mampu lagi mendengar keseluruhan percakapan tersebut, ia merasakan kakinya tidak lagi berpijak, tubuhnya seketika lemas, air matanya terus menetes meskipun ia menahannya, gadis itu melihat samar-samar beberapa orang mendekat ke arahnya sebelum kegelapan secara sempurna merenggut kesadarannya.

“Bunda... Ayah...”

©nadswrites

is everything okay?

Arsena memandang handphonenya dengan tatapan sedih, beberapa skenario buruk terbayang di otaknya. Gadis itu pun menggelengkan kepalanya cepat, menjauhkan bayangan mengenai skenario buruk tersebut.

Arsena kemudian mengetik beberapa kalimat di handphonenya, mengirim pesan meminta izin kepada Alvano untuk pergi terlebih dulu dalam rangka menemani sang ayah menuju rumah sakit. Dengan terburu-buru, ia memasukkan dan merapikan barang yang dibawanya ke dalam tas, sebelum akhirnya melangkahkan kaki menuju lift.

Tanpa disadarinya, surat yang masih belum terlipat sempurna itu terjatuh dari saku bajunya.

~~~

Cuaca yang mendung seperti akan hujan membuat Arsena mengernyitkan dahinya, ia masih berdiri di lobi hotel menunggu jemputan bunda yang tak kunjung datang. Gadis itu kemudian meraih handphone, mengecek apakah ada pesan baru yang belum sempat terbaca. Ternyata, benar-benar ada. Pesan dari bunda lima menit yang lalu.

'Kak, Bunda langsung ke rumah sakit yaa, kaki ayah tiba-tiba kram, bunda takut kondisinya makin parah, Kak. Kakak susul ke rumah sakit sama Alvano ya, nanti? Di rumah sakit Advent, Kak,,'

Setelah membalas singkat pesan bunda, Arsena segera memesan taxi untuk mengantarnya ke rumah sakit. Raut cemas mulai terlihat dengan jelas di wajah Arsena.

Untungnya, taxi pesanannya datang lebih cepat dari dugaan.

“Ke rumah sakit Advent, Mas. Saya buru-buru.” ucap Arsena begitu ia memasuki mobil. Mobil sedan biru itu pun melaju cepat meninggalkan hotel.

'Semoga Ayah baik-baik aja...'

©nadswrites

private place, he said.

“Tunggu disini ya, Na.” pesan Alvano kepada Arsena. Ia menyuruh gadis itu untuk menunggu di tempat pribadinya, yaitu lantai ke 39 dari hotel berlantai 40 ini.

Sementara itu, Arsena masih diam, gadis itu masih asyik dan terpesona saat melihat-lihat desain interior yang ada di lantai 39. Ada dapur, kamar tidur, kamar mandi, sofa juga peralatan-peralatan lainnya yang bahkan Arsena tidak pernah membayangkan ada tempat seperti ini. Sontak ia mengingat ucapan Alvano saat di perjalanan tadi, 'Lantai 39 itu lantai yang khusus di design buat aku, dia jantung hotel juga tempat pribadi kalau aku kesana.'

Arsena seakan tersadar bahwa sang suami bukanlah orang biasa, ia benar-benar pengusaha papan atas.

Selama ini, karna mereka sudah mengenal dan berteman dekat terlalu lama, kekayaan itu tidak begitu terlihat, Alvano pun nyaris tidak pernah membahasnya.

“Na? Aku ke meeting room dulu dibawah.” ucap Alvano lagi, lelaki itu melambaikan tangannya di depan wajah Arsena.

Arsena sontak mengedipkan matanya, lamunannya buyar. Ia tersenyum malu menatap Alvano.

“Eh, iya A' aku bakal tunggu disini, semangat ya! Ga perlu buru-buru.” jawab Arsena kemudian. Ia menepuk pelan bahu Alvano, memberi semangat.

Alvano terkekeh pelan, ia pun berlalu dari ruangan tersebut, membiarkan sang istri menikmati fasilitas disana.

Beberapa bulan menikah, Arsena nyaris tidak pernah menuntut banyak kepadanya, ia rasa ini saatnya untuk sedikit memanjakan gadis itu.

~~~

Arsena masuk ke kamar pribadi yang ada di lantai tersebut, batinnya tak henti-henti memuji keindahan interior yang dilihatnya.

'Alvano emang penuh kejutan,'

Gadis berambut panjang itu melebarkan matanya begitu melihat sebuah microphone terletak di meja kamar. Secara refleks, Arsena meraihnya dan tersenyum senang.

Ia pun menyalakan smart television yang tersedia. Mulai bernyanyi dengan volume sedang, menikmati waktunya sembari menunggu Alvano.

“We were both young, when i first saw you, i close my eyes...”

©nadswrites

Alvano terbangun, lelaki itu mengusap matanya, ia melirik Arsena yang tampak masih tertidur tenang di sampingnya, sementara ia terganggu dengan nada dering handphone yang terus berbunyi berulang kali.

Alvano pun beranjak, ia melepaskan perlahan tangan Arsena yang melingkar di perutnya. Lelaki itu menyempatkan diri mencium dahi Arsena sebelum akhirnya berjalan dan meraih handphonenya yang masih juga berdering.

“Halo?” ucap Alvano begitu sambungan telepon terhubung.

“Serius?!”

“Coba kamu lihat di meja saya,”

“Iya, saya segera kesana,”

tut tut tut

Sambungan telepon pun berakhir, Alvano menghembuskan nafasnya berat, terjadi sedikit masalah yang mengharuskannya menuju kantor sekarang.

'Baru aja pulang,' batinnya.

Lelaki itu akhirnya melangkahkan kaki menuju lemari, hendak bersiap-siap.

Alvano juga berniat untuk mengajak Arsena, ia akan membangunkannya nanti.

~~~

“A' mau kemana? Kok udah rapi lagi aja?”

Suara lembut Arsena membuat Alvano sontak mengalihkan pandangannya. Ia terkekeh melihat sang istri yang terbangun dengan muka bantalnya.

“Siap-siap, Na. Kamu ikut.” jawab Alvano sekaligus memerintahkan Arsena untuk segera bersiap. Meskipun bingung, Arsena tidak banyak berkomentar dan menuruti perkataan Alvano.

Setelah 15 menit, akhirnya Arsena pun siap pergi dalam balutan gaun berwarna kuning dengan motif bunga-bunga, gadis itu juga menggerai rambut panjangnya, terlihat begitu cantik dan elegan.

“A', aku udah siap.” ucap Arsena pada Alvano yang kini duduk di ruang keluarga, sibuk dengan iPad di tangannya.

'Pasti kerjaan,' fikir Arsena. Alvano begitu sibuk, bahkan di tanggal merah seperti hari ini.

“Ayo, Na.” jawab Alvano. Lelaki itu menatap sekilas penampilan sang istri. Selalu cantik, batinnya.

Alvano menggelengkan kepalanya sekilas sebelum terpesona lebih jauh. Ia tentu tidak lupa bahwa kini sedang dikejar waktu. Alvano kemudian menggandeng tangan kanan Arsena.

Mereka pun berjalan beriringan menuju lift.

“Ohya, aku masih inget sama janji kamu buat jelasin semuanya,”

Tiba-tiba, perkataan Alvano saat mereka berada dalam lift membuat Arsena merasakan jantungnya seketika berdegup cepat. Gadis itu mencoba mengatur nafasnya sembari menunggu perkataan Alvano selanjutnya.

“Tapi...”

“Explain it, later.”

“In a letter.” ucap Alvano, ia mengelus lembut kepala Arsena. Ia sengaja mengucapkan dalam bentuk surat, karna ia tahu Arsena lebih pandai merangkai kata-kata dalam tulisan dibandingankan ucapan. Alvano tidak mau menekan gadis itu, ia ingin Arsena menjelaskan semuanya secara tenang dan tidak terburu-buru.

“Jangan gugup gitu, Na. I'ts Okay,” lanjutnya lagi, tersenyum kepada gadis yang berdiri di sampingnya kini.

Arsena terdiam, namun sesaat kemudian ia mengangguk, turut tersenyum menatap Alvano.

'Inget, dia bukan orang lain, Na...'

©nadswrites

Arsena duduk di ranjang sembari memainkan jari-jarinya. Gadis berambut panjang tersebut menghembuskan nafasnya gugup, ia tengah menunggu Alvano yang kini berada di kamar mandi.

Entah kenapa, Arsena berharap Alvano tidak menagih dan melupakan sesaat mengenai janjinya tentang kisah masa lalu mereka. Sesungguhnya, gadis itu sendiri sudah siap menjelaskan, namun ia belum cukup siap untuk menerima bagaimana respon Alvano yang kini sudah menjadi suaminya, Arsena masih ingin waktu berhenti dan menikmati suasana yang begitu hangat saat ini, ia tidak mau merusaknya.

“Na? Melamun? Nungguin aku mandi?” tanya Alvano tiba-tiba, lelaki itu telah keluar dari kamar mandi dengan kaos oblong dan rambut basah, tidak lupa handuk yang tergantung di kepalanya.

Arsena pun melangkah mendekati Alvano, ia mengambil alih handuk yang tergantung, mengeringkan rambut sang suami sekilas sebelum akhirnya ia jemur.

“Abis ini, makan dulu A', kamu pasti laper abis perjalanan lama gitu.” saran Arsena, berdiri tepat di hadapan Alvano yang tengah duduk di ranjang.

Alvano menggelengkan kepalanya, “Tadi di bandara, aku sempet makan dulu, kok, sama Aldo. Sekarang, ayo tidur.” ucap lelaki itu, menarik Arsena hingga duduk di pangkuannya.

Arsena mengerjapkan matanya, ia bergerak tidak nyaman di pangkuan Alvano. Dapat dirasakannya muka dan suasana yang sontak memanas.

“Kenapa? You're blushing,” goda Alvano, ia menyentuh pelan pipi Arsena.

Arsena hanya menjawab dengan gelengan kepalanya, terlalu gugup untuk bersuara.

Alvano tertawa, lelaki itu mendekatkan wajahnya.

“M— mau ngapain?” cicit Arsena tepat sebelum dahi mereka bersentuhan.

Alvano tersenyum miring, “Cium.” jawabnya singkat, dan langsung membungkam bibir Arsena.

©nadswrites

Rintik hujan turun perlahan, membuat gadis yang sedari tadi sudah siap berdiri di depan pagar rumahnya kembali masuk dan berteduh.

Sahira melirik arloji di tangan kirinya, waktu sudah menunjukkan pukul 19.30 malam, namun sosok yang berjanji untuk menjemputnya belum juga menampakkan batang hidungnya.

'Javi dimana, sih? Kok belum dateng juga?' batin Sahira. Ia menghembuskan nafasnya berat.

'Macet kali ya, hujan gini...'

TINN TINN

Suara klakson mobil membuyarkan lamunan Sahira. Gadis itu pun beranjak, namun belum sempat ia melangkahkan kaki menuju pagar, sosok lelaki yang ditunggunya turun dari mobil tersebut sembari membawa sebuah payung. Sahira pun menyunggingkan senyumnya melihat pemandangan tersebut.

'Javi ngga pernah berubah,' batinnya.

“Udah lama, Ra? Sorry, gue kejebak macet dan ya, emang salah gue kenapa ga pergi lebih cepet,” sesal Javi begitu mereka berhadapan.

Sahira hanya diam, sesungguhnya ia terpesona melihat Javi yang sangat tampan malam ini.

Tanpa menunggu jawaban Sahira, lelaki itu kemudian meraih tangan kanan Sahira agar berjalan di bawah payung bersamanya. Terdengar kekehan pelan membuat Javi tersenyum, mereka pun memasuki mobil dan segera melaju menuju tempat yang masih dirahasiakan Javi malam ini.

Iringan lagu Lie to me dari 5 Seconds of Summer mengiringi perjalanan keduanya, diikuti lagu-lagu lain dari band terkenal tersebut, band yang merupakan band favorit mereka berdua.

~~~

Setelah 30 menit perjalanan, akhirnya mereka sampai di sebuah kafe yang tampak familiar di ingatan Sahira. Kafe itu merupakan tempat di mana Sahira dan Javi bertemu kembali setelah sekian lama. Saat itu, Sahira berada di kafe bersama Dinda dan lelaki itu salah paham mengira Dinda adalah anaknya.

Sahira tersenyum tipis, gadis itu melirik sekilas ke arah Javi di sampingnya.

“Yuk, turun.” ajak Javi kemudian setelah ia mematikan mesin.

Mereka berdua pun turun dan berjalan beriringan menuju kafe. Magia Cafe.

Magia Cafe malam ini tampak begitu sepi, Sahira tidak melihat pengunjung lain selain mereka berdua, sebenarnya ia sudah curiga sejak di parkiran tadi, namun begitu masuk ke dalam kafe, dugaan itu semakin menguat.

'Apa Javi nyewa gedung kafe ini? For real?'

Sahira membatin, tetapi ia hanya diam dan mengikuti langkah Javi yang kini berada di depannya.

Alih-alih masuk ke lantai utama, Javi justru melangkahkan kaki menaiki tangga, menuju rooftop kafe tersebut.

Suasana gelap diiringi indahnya bintang di langit malam ini merupakan pemandangan yang menyambut Javi dan Sahira begitu mereka sampai di rooftop.

Terdapat sebuah ayunan yang membuat perhatian Sahira teralihkan, gadis itu segera menaiki ayunan tersebut, yang kemudian diikuti Javi dari belakang.

Lelaki itu memilih berdiri di belakang ayunan dan mendorong pelan ayunan tersebut.

Javi menarik nafas dan mengeluarkannya perlahan. Setelah melakukan hal itu berulang kali guna merilekskan dirinya, Javi akhirnya membuka suara.

“Rara...”

“Maafin gue karna buang kesempatan kita, dulu,”

“Maafin gue karna ga cukup berani buat pamit ke lo di hari itu, setelah gue nurutin semua yang papa suruh, hati gue tetep ngerasa kosong, Ra. Gue ngerasa buat apa? Bahkan gue ga sempet bilang ke lo tentang semuanya,”

“Gue tau permintaan maaf ini ga akan menghapus kesalahan gue di masa lalu, Ra. Tapi disini, gue mau ngajak lo untuk ngulang semuanya dari awal lagi, bareng-bareng,”

Let's start over, Ra.”

Ucapan tersebut mengakhiri untaian kalimat Javi sebelumnya. Lelaki itu menghembuskan nafasnya lega, meskipun jantungnya serasa ingin keluar dari tempatnya, Javi akan mencoba menerima apapun jawaban yang diberikan Sahira.

Sementara itu, gadis di ayunan tersebut hanya diam. Ia mencoba mencerna rentetan kalimat yang dikatakan Javi.

Sesungguhnya, Sahira pun tidak pernah bisa melepaskan lelaki itu sepenuhnya. Selama ini, dirinya hanya mencoba ikhlas dengan keputusan Javi untuk pergi berapa tahun yang lalu. Namun kini, begitu Javi kembali menunjukkan diri di hadapannya, juga hatinya yang selalu dan tetap berdegup kencang saat bersama lelaki itu membuat Sahira tak ingin kehilangan hal seperti ini. Lagi. Tidak untuk yang kedua kalinya.

Sahira pun beranjak dari duduknya, ia melangkah mendekati Javi yang berdiri di belakangnya.

'Ngga ada salahnya nerima Javi lagi, meskipun ini semua masih terasa abu-abu,'

Begitu mereka berdua berhadapan dan kedua netra mereka bertemu, Sahira mengeluarkan senyum hangatnya. Ia menganggukkan kepalanya samar.

Let's start over, Jav.” ucap gadis itu kemudian.

Javi sontak menarik Sahira ke dalam pelukannya. Lelaki itu sangat bersyukur. Ia tidak bisa membohongi hatinya yang begitu senang. Sahira mau memulai kembali semuanya. Dari awal.

Tiba-tiba, Javi melepaskan pelukan mereka, saat itulah lampu-lampu hidup dan menghiasi rooftop kafe.

Terlihat tumbler lampu di pojok ruangan yang cukup jelas membentuk sebuah tulisan. Membuat Sahira lemas dan kehabisan kata-kata. Ia tidak menyangka Javi menyiapkan semua ini.

'WILL YOU BE MY LIFE PARTNER?'

“Javi...”

“Lo siapin semua ini?” lirih Sahira. Gadis itu merasakan air matanya mulai merembes.

Javi mendekat, ia mengangguk dan menghapus jarak di antara mereka juga menghapus air mata di pipi gadis itu.

“Gue ga mau buang-buang waktu dan kesempatan lagi, Ra.” ucap Javi.

“Will you?” tanya lelaki itu lagi, ia tersenyum menatap dalam mata Sahira.

Sahira balas tersenyum hangat, ia kembali menganggukkan kepalanya samar. Gadis itu segera masuk ke dekapan Javi, menyembunyikan muka basahnya.

Javi terkekeh pelan, ia mengelus lembut rambut Sahira. Pacarnya atau kini bisa disebut tunangannya?

'Best night ever,' batin lelaki itu.

“I love you, Ra.” bisik Javi kemudian membuat Sahira semakin mengeratkan pelukan mereka.

'I love you too, Jav.'

©nadswrites

Sahira sampai di taman kota dengan nafasnya yang tidak beraturan. Matanya mengitari seluruh taman kota, mencari sosok gadis kecil yang menunggunya. Sahira dapat merasakan dadanya yang sesak karna rasa bersalah, bisa-bisanya ia melupakan Dinda?

Kakinya pun melangkah dengan langkah lebar, terus berjalan sembari memperhatikan setiap sudut taman. Seakan tersadar, gadis itu kemudian meraih handphone nya, hendak menghubungi Javi, lelaki yang sudah menjemput Dinda. Sahira merasa sangat malu sekaligus berterimakasih kepada Javi. Ia malu akan kelalaiannya lupa menjemput Dinda.

Baru saja hendak menekan tombol call di handphone, terdengar suara gadis kecil memanggilnya diiringi dengan langkah riang yang juga mendekat.

“Nte!! Dinda nungguinn Tante kok lama bangett, untung ada Om baikk, tadi sama kakak cantik juga tapi kakak cantik udah diantel Om baik duluan,”

Gadis kecil itu adalah Dinda, ia menceritakan semuanya sebelum kemudian masuk ke dekapan hangat sang Tante.

“Maafin Nte ya, Dinn,” lirih Sahira. Ia mengelus punggung Dinda pelan.

“Dinda anak pinter, ngga nangis, ya?” ucap Javi kemudian, menyadarkan Sahira bahwa sejak tadi Javi berdiri di sana dan memperhatikan mereka berdua.

“Jav, makasih banyak yaa, gue gatau gimana jadinya kalo lo ngga ada tadi,”

“Gue lagi di cafe keasyikan sampe lupa, bener-bener yang blank ga inget kalau Dinda udah waktunya dijemput.” lanjut Sahira menjelaskan kepada lelaki di hadapannya, raut wajahnya terlihat sedih dan begitu menyesal.

Javi menggelengkan kepalanya, ia melangkah mendekati Sahira, menepuk pelan pundak gadis itu.

It's okay, Ra. Yang penting jangan terulang lagi, ya? Jangan bayangin hal yang engga-engga, Dinda udah disini and she's fine.” sahut Javi menenangkan Sahira.

“Lo pasang alarm di hape lo tiap waktunya Dinda pulang biar ga lupa, call me if you need me, Ra.” saran Javi.

Sahira menganggukkan kepalanya cepat, tiba-tiba ia merasakan pipinya memanas. “Ohya Jav, maaf kemarin gue—”

“Ga usah dibahas, Ra.” potong Javi, ia tau bahwa Sahira akan meminta maaf karna di pertemuan pertama mereka setelah sekian lama kemarin, gadis itu buru-buru dan menghindari dirinya.

“Nte, Om, ayo mam duluu! Dinda lapel,”

Belum sempat Sahira menjawab, rengekan Dinda memutus pembicaraan keduanya.

“Dinda—”

“Ayo, Din! Dinda mau makan di mana?” Javi dengan cepat kembali memotong ucapan Sahira membuat gadis itu menghembuskan nafasnya berat.

Ia pun pasrah mengikuti keduanya yang kini berjalan beriringan dan meninggalkannya di belakang.

'Yaudahlah, itung-itung ucapan terimakasih, Ra.' batin Sahira. Ia tersenyum.

©nadswrites