nadswrites

i'm home

Arsena memandang nasi goreng di hadapannya dengan tidak bersemangat, sedari tadi gadis itu hanya mengaduk-ngaduk tanpa memakannya. Ia menghembuskan nafas berat, mencoba membuang fikiran negatif mengenai Alvano yang memenuhi otaknya. Sejak semalam, lelaki itu tak kunjung memberi kabar, buruknya lagi kabar terakhir yang didapat Arsena adalah suaminya itu berada di sebuah bar hotel.

'Ga terjadi apa-apa, kan?' batinnya.

Ting Tong

Suara bel tersebut membuyarkan lamunan Arsena. Sontak saja gadis itu segera beranjak dengan dahi berkerut bingung.

'Siapa?'

Sebelum membuka pintu, Arsena mengintip terlebih dahulu dari lubang intip yang tersedia. Gadis itu semakin mengernyitkan dahinya begitu hanya mampu melihat sebuah buket yang berisi makanan. Sosok yang membunyikan bel tertutupi oleh buket tersebut. Namun, Arsena merasa tidak asing dengan bentuk tubuh juga sepatu yang dipakainya. Arsena menaikkan bibir, ia segera membuka pintu tersebut.

“A' Alvano! Udah aku duga...”

Arsena berucap riang dan langsung memeluk sang pemilik buket begitu sosok itu menurunkan buketnya. Ternyata ia adalah Alvano, sesuai dugaan Arsena saat gadis itu melihat sepatunya.

“I'm home.” jawab lelaki itu, membalas pelukan hangat Arsena. Ia merasa bersalah karena Arsena pasti khawatir dengan sikapnya semalam.

Arsena tersenyum dalam pelukan Alvano, ia menghapus air mata yang tiba-tiba merembes dari kedua matanya.

“Aku cemas banget tau, A'—”

”...takut kamu kenapa-kenapa,” lirih Arsena.

Alvano tersenyum, ia mengelus rambut Arsena perlahan.

“Maaf, Naa, semalem ngga ada apa-apa kok, aku ngga lama di bar dan langsung ke kamar hotel, sengaja ga bales chat kamu karna hari ini aku udah bisa pulang.” ucap Alvano menjelaskan, ia kemudian merenggangkan pelukan mereka.

Lelaki itu melihat wajah sang istri yang kini basah oleh air mata. Ia semakin merasa bersalah, namun di sisi lain ingin tertawa karna raut wajah yang ditunjukkan Arsena.

“Crybaby,” ucap Alvano membuat Arsena menatapnya tajam dan segera menghapus air matanya. Gadis itu kemudian mengambil alih buket yang ada di tangan Alvano.

“Ayo masuk, A', ga baik lama-lama di pintu gini.” ajak Arsena, ia melangkah masuk meninggalkan Alvano seperti tidak terjadi apa-apa sebelumnya.

Alvano menggelengkan kepalanya sembari tersenyum.

'Missing you,'

'...a lot,'

©nadswrites

Kedatangan Arsena kembali ke rumah orangtua nya mendapat sambutan hangat dari sang bunda.

Mereka berdua berjalan beriringan sembari mengobrol menuju kamar dimana ayah Arsena berada, sedang beristirahat.

“Ayah udah lama tidurnya, Bun?” tanya Arsena.

“Udah lama, kok, Kak. Mungkin sekarang udah bangun, cuma masih guling aja soalnya kakinya itu, Kak,” jawab bunda menjelaskan.

Arsena mengangguk mengerti, kondisi sang ayah tersebut sudah tidak asing lagi, kaki beliau kerap kali sakit dan susah berjalan apabila penyakit asam uratnya kambuh.

“Bunda seneng Kakak ke rumah walaupun belum sama Alvano, Bunda kangen sama anak Bunda satu-satunya ini,” ucap bunda lagi sembari merangkul erat Arsena. Gadis itu menaikkan bibirnya, membalas rangkulan bunda.

Mereka pun sampai di kamar orang tua Arsena, terlihat ayah sedang duduk setengah berbaring, tangannya memegang sebuah buku.

“Ayah...” panggil Arsena pelan sembari mendudukan diri di pinggiran ranjang.

“Kak? Sini,” jawab Ayah tersenyum dan merentangkan tangannya. Membawa Arsena ke sebuah pelukan hangat, membuat gadis itu menyadari betapa ia merindukan suasana dan momen seperti saat ini.

“Apa kabar, Kak? Di rumah sepi ngga ada, Kakak.” tutur Ayah, menepuk lembut kepala Arsena.

“Kakak sehat, Yah. Ayah cepet sembuh, jangan makan makanan yang dilarang lagi, ya, Yah? Ada salam juga dari A' Alvano, dia belum sempat kesini,” jawab Arsena masih di pelukan sang Ayah.

Bunda yang memperhatikan keduanya tersenyum, langkah kakinya pun mendekat ke arah ayah dan anak tersebut.

Ayah menganggukkan kepalanya, “Ngga papa, Kak, yang penting kalian dijaga kesehatannya, kalau ada apa-apa jangan sungkan kabarin Ayah sama Bunda, Kak.” tutur Ayah melanjutkan.

Ucapan tersebut langsung mendapat anggukan bunda.

“Iya, Kak. Sekarang lagi musimnya sakit, Kakak sama Alvano jangan sampe lengah, sesibuk-sibuknya kalian, jangan sampe lupa makan, lupa istirahat, jangan bergadang ya, Kak?” pesan bunda menatap mata Arsena. Tersirat rasa khawatir dalam tatapan tersebut.

“Bunda, Ayah, jangan khawatirin kita, kita baik-baik aja kok, Bun, Yah. Bunda sama Ayah jangan sampe sakit, ini kambuh yang terakhir ya, Yah? Jangan sakit lagi,” lirih Arsena. Gadis itu menatap kedua orang tua nya bergantian, membuatnya merasa emosional.

Bunda dan Ayah menganggukan kepala mereka, memeluk erat Arsena.

'Ayah, Bunda harus sehat-sehat terus, ya...'

©nadswrites

Setelah beberapa kali memejamkan mata namun tak kunjung terlelap, Sera akhirnya memutuskan bangun dari ranjangnya dan melangkahkan kaki menuju dapur.

Gadis dengan piyama hello kitty tersebut mengambil gelas dan minum air dingin yang sudah tersedia di kulkas.

Setelah memuaskan dahaga nya, ia pun melangkahkan kaki kembali ke kamar. Namun, langkah kakinya terhenti, Sera memandang lurus ke sebuah pintu kamar yang tertutup di dekat dapur. Kamar tamu, dimana ada seorang Arka di dalamnya.

Alih-alih kembali ke kamarnya, Sera memutuskan mendekati kamar tamu tersebut, gadis itu menempelkan telinganya ke pintu. Terdengar suara gaduh dari dalam kamar. Sera mengerutkan dahinya, ia bingung.

'Arka lagi ngapain? Belum tidur juga?' fikirnya.

Dengan ragu, Sera mengetuk pintu tersebut.

“Arka? Lo masih bangun?” ucap Sera pelan, berusaha tidak menimbulkan suara berisik.

Suara gaduh yang sebelumnya terdengar pun berhenti.

“Sera?” sahut Arka tak kalah pelan dari dalam kamar membuat Sera menghembuskan nafasnya lega. Gadis itu kemudian membuka kunci pintu kamar tersebut.

Terlihat sosok Arka sedang duduk di atas ranjang sembari memegang bantal, lelaki itu turut menatap Sera. Ternyata, suara gaduh tadi merupakan suara Arka yang tengah mengibaskan dan memukul bantal, berusaha menghindari nyamuk yang hendak menggigit badannya.

Sera tertawa pelan, ia lupa jika kamar tamu ini cukup lama kosong, tidak ditempati siapapun. Sangat wajar jika penuh akan binatang kecil penghisap darah tersebut.

“Maaf ya, Ar, lo jadi digigitin nyamuk, kamar ini harusnya disemprot dulu tadi sebelum lo kesini, tapi lo mendadak jadi ya, gimana mau disemprot, kan?” ucap Sera, sedikit menyindir Arka.

Lelaki itu hanya menaikkan alisnya, ia kemudian menggelengkan kepalanya.

“Gapapa, Raa. Maaf... gue ngerepotin lo dengan dateng kesini, gue udah biasa digigitin nyamuk, cuma ya jadi gabisa tidur.” jawab Arka menjelaskan disertai permintaan maafnya kepada Sera.

“Lo sendiri ngapain disini, Ra? Lo udah tau?” lanjutnya kemudian, sejak gadis itu mengetuk kamarnya, kepalanya sudah dipenuhi berbagai pertanyaan, ditambah sikap Sera yang tampak bersahabat. Tidak terlihat rasa curiga dan amarah seperti sebelumnya.

Sera tersenyum, ia menganggukkan kepalanya.

“Gue juga gabisa tidur, kebetulan lewat kamar lo dan ya kalau penjelasan Kak Adi itu bener, gue udah tau,” balas Sera. Gadis itu kemudian duduk di kursi yang terdapat di depan ranjang Arka.

“Gue harus gimana? Meskipun alibi gue kuat, mereka pasti bakal berusaha nyari bukti kalau itu perbuatan gue, gue cuma karyawan mereka, dan track record gue...” Arka menggantungkan ucapannya, lelaki itu mendongakkan kepalanya dan menatap mata Sera. Tampak tak yakin dengan ucapan yang akan keluar dari mulutnya setelah ini.

“Bilang aja, Ar, gapapa.” ucap Sera, berusaha meyakinkan Arka.

“Gue mantan anggota curanmor, Ra.” lirih Arka kemudian, lelaki itu menundukkan kepalanya, tak berani melihat reaksi gadis yang ada di hadapannya.

Sera terdiam, ia masih menelaah ucapan Arka. Sejujurnya ia tidak paham dengan apa yang dimaksud lelaki itu. Curanmor?

“Gue balik ke kamar gue dulu, Ar.” pamit Sera kemudian, setelah 5 menit sebelumnya mereka hanya terdiam.

Sera pun pergi dari kamar tamu tersebut dengan pertanyaan baru di otaknya. Sementara itu, Arka ditinggalkan dengan rasa bingungnya akan reaksi diam gadis itu.

©nadswrites

5 menit berdiri di dekat pintu belum juga membuat Arsena sadar akan atensi Alvano. Gadis itu terlihat begitu menikmati film yang tengah ia tonton.

Ehem!

Alvano berdeham dengan sengaja untuk mencuri perhatian Arsena.

“Seru banget ya, Na?” ucapnya kemudian.

Ucapan tersebut membuyarkan fokus Arsena. Ia sontak mengalihkan pandangannya ke depan, dimana sosok Alvano berdiri.

“E— eh, kamu udah pulang?” tanya Arsena gugup, seperti ketahuan melakukan suatu kejahatan.

“Udah,” sahut Alvano singkat. Lelaki itu berlalu ke kamar mandi tanpa memperhatikan ekspresi Arsena, ia mengeluarkan smirk kecil begitu menghilang di balik pintu kamar mandi.

'A' Alvano ngga marah, kan?' fikir Arsena. Gadis yang tadinya menonton itu kini sibuk mematikan laptop dan merapikan kasur mereka. Ia merasa bersalah.

'Bisa-bisanya aku keasyikan nonton!' sesalnya dalam hati.

~~~

“Ini A' tehnya diminum, biar hangat.” ucap Arsena pelan memasuki kamar mereka, ia menaruh teh hangat di atas meja.

Terihat Alvano sudah berganti baju dengan piyama. Lelaki itu baru saja mandi.

“Makasih.” jawab Alvano sembari mengambil cangkir teh tersebut dan menyesapnya sedikit, ia sebenarnya tidak marah kepada Arsena, hanya ingin menggodanya. Namun, Alvano memang sedikit kesal karena istrinya itu tidak menyadari kehadirannya saat ia pulang tadi, padahal besok ia sudah harus ke luar kota dan mereka akan berpisah untuk sementara.

“Besok jam berapa A' berangkatnya?” tanya Arsena lagi, berusaha memulai percakapan dan menebus rasa bersalahnya.

“Baju kamu udah aku siapin, nanti kamu cek lagi aja kalau ada yang ga suka atau ada yang mau ditambahin lagi, itu aku siapin buat 3 hari.” lanjut Arsena, gadis itu melangkah mendekati Alvano yang tengah berdiri di depan cermin. Berdiri tepat di belakangnya.

Alvano masih diam, belum mengeluarkan jawaban apapun, membuat Arsena semakin salah tingkah dan bingung.

“Maaf ya, tadi aku keasyikan nonton sampe ngga sadar kamu udah pulang,” lirih Arsena.

Perlahan, gadis itu mengulurkan tangannya dan memeluk Alvano dari belakang.

'Cup'

Arsena pun memberanikan dirinya, ia berjinjit dan mengecup pipi Alvano cepat membuat semburat merah muncul di telinga lelaki itu. Arsena tersenyum.

Saat ia hendak melepaskan pelukan mereka, tangan Alvano segera menggenggam tangan Arsena yang ada di perutnya, menahan agar pelukan tersebut tidak terlepas.

“Jangan kabur,” ucap Alvano.

Akhirnya lelaki itu luluh dan mengeluarkan suaranya.

“Aku besok berangkatnya jam 10 pagi, bisa 3 sampai 5 hari, Na. Ke Lampung.” lanjut Alvano, menjawab beberapa pertanyaan yang tadi di lontarkan Arsena.

'Aku?' batin Arsena. Ia sedikit salah fokus mendengar jawaban Alvano dan terdapat perubahan kata tersebut. Gadis itu tersenyum lagi, kali ini lebih lebar dari sebelumnya.

“Semoga dapet hasil yang terbaik ya, hati-hati disana, jangan sampe sakit, A'..” pesan Arsena.

“Hmm, will do, Na.” jawab Alvano.

Ia melepaskan pelukan mereka dan membalikkan badannya.

Kini mereka berdua bertatapan.

“Sekarang, ayo kita tidur, kamu pasti capek.” ucap Arsena. Ia menarik pelan tangan Alvano.

Gadis itu merebahkan dirinya di atas kasur terlebih dahulu yang kemudian disusul Alvano.

“Gonna miss you,” ucap Alvano pelan, membuat Arsena terkejut dan menatap lelaki itu.

“Gonna miss you too,” jawab Arsena. Ia tersenyum, mengelus kerutan yang muncul di dahi Alvano.

“Jangan cemberut gitu, nanti aku jadi sedih beneran karna kamu tinggal,” lanjutnya.

“Hmm.” Alvano berdeham, lelaki itu mengulurkan tangannya dan memeluk Arsena.

“Jangan dilepas,” bisik Alvano. Ia memejamkan matanya, merasakan hangat di antara pelukan mereka.

Arsena mengerjapkan mata, menganggukan kepalanya pelan.

Gadis berambut panjang itu merasakan jantungnya berdegup kencang, masih belum terbiasa dengan sikap manja yang kembali ditunjukkan Alvano. Ia menarik nafasnya pelan, menenangkan degupan jantungnya, sebelum kemudian terlelap, menyusul Alvano yang tampak sudah masuk ke alam mimpi.

©nadswrites

Arsena tersenyum dalam diam. Ia masih memandangi bola pemberian Alvano di tangannya. Jantungnya berdegup kencang setelah membaca tulisan yang ada di bola tersebut, semburat merah pun muncul samar di pipinya. Ia begitu salah tingkah.

“Arsena?” panggilan itu sontak membuat Arsena mendongakkan kepalanya. Sosok Alvano terlihat dengan senyum tipisnya dan sebelah tangan yang masuk ke saku celana.

“E-eh Alvano?” balas Arsena, tak bisa menyembunyikan kegugupannya.

“Ayo bareng? Dinner?” ajak Alvano, lagi.

Arsena terdiam sejenak sebelum akhirnya menganggukkan kepalanya membuat Alvano tersenyum. Lelaki itu pun menggenggam lembut tangan Arsena.

Mereka berjalan beriringan sampai akhirnya masuk ke mobil. Perjalanan itu hening, namun alunan lagu yang diputar mencairkan suasana di antara mereka berdua.

~~~

“Ini dimana, Al?” tanya Arsena begitu Alvano menghentikan mobilnya di sebuah tempat yang terlihat seperti studio musik.

“Ayo turun.”

Alih-alih menjawab, Alvano justru mengajak Arsena untuk segera turun dari mobil. Gadis itu mengernyitkan dahinya, namun ia tetap diam dan mengikuti perkataan Alvano.

Setelah sampai tepat di depan studio tersebut, Alvano mengeluarkan kunci dari sakunya dan membuka pintu. Alvano masuk terlebih dulu yang kemudian diikuti oleh Arsena.

Arsena terpesona begitu ia melihat suasana di dalam studio, terdapat berbagai macam alat musik dan beberapa foto Alvano yang terpajang di dinding.

Namun, lelaki itu terus melangkah dan menaiki tangga yang terdapat di ujung ruangan, membuat Arsena tersadar dan segera melangkah mengikuti Alvano.

5 menit kemudian, tangga tersebut mengantarkan mereka ke sebuah rooftop dengan pemandangan malam yang begitu indah. Membuat Arsena terdiam dan membeku cukup lama.

'Alvano ngajakin dinner aja, kan?' batin Arsena.

Meskipun pemandangan yang tersedia di atas rooftop ini menggambarkan jelas bahwa ajakan malam ini bukan hanya sekadar dinner biasa. Rooftop yang sudah dihias dengan lampu-lampu yang indah, ditambah cahaya lilin yang bersinar dari atas meja yang sudah disiapkan, dengan dua kursi di sisi depan dan belakangnya.

Arsena masih diam sampai akhirnya sebuah alunan musik membuyarkan lamunannya. Seketika ia menyadari bahwa Alvano sudah menghilang dari pandangan, gadis itu segera memalingkan pandangannya ke belakang. Terlihatlah sosok Alvano tengah memetik gitar yang kemudian diikuti lantunan indah suaranya.

“So I won't hesitate no more, no more, it cannot wait, I'm sure... There's no need to complicate, our time is short... This is our fate, I'm yours...”

Lantunan lagu I'm Yours milik Jason Mraz yang dinyanyikan Alvano malam ini membuat Arsena seakan terhipnotis dan tak mengedipkan matanya selama lelaki itu bernyanyi. Sedetikpun, Arsena tidak pernah membayangkan hal ini akan terjadi. Lelaki yang sudah disukainya sejak lama kini bernyanyi untuknya, ditemani pemandangan malam yang begitu indah.

“Arsena?” lirih Alvano pelan sesaat setelah selesai menyanyikan lagunya. Lelaki itu gugup, melangkah mendekati Arsena dan menatap dalam mata gadis yang ada di hadapannya.

“I fell for you..”

“Are you fall for me too?”

Perkataan Alvano tersebut terdengar begitu jelas di telinga Arsena. Membuat jantung gadis berambut panjang itu kembali berdegup begitu kencang, ia ingin segera menjawab namun dirinya terlalu gugup untuk mengeluarkan suaranya.

Akhirnya, Arsena kembali memilih untuk menganggukkan kepalanya, ia tersenyum lembut menatap Alvano yang tengah berdiri di depannya, menunggu jawaban.

Anggukan Arsena tersebut begitu melegakan hati Alvano. Rasa gugup yang dirasakannya sedari tadi perlahan mulai mereda. Lelaki itu menggenggam kedua tangan Arsena.

“Let's make it official, Na.” ucapnya kemudian, mengecup pelan dahi Arsena.

Kecupan yang menyebabkan efek kupu-kupu di perut keduanya.

Mereka melanjutkan sisa malam itu dengan penuh tawa, menikmati makan malam yang sudah disiapkan sebelumnya.

©nadswrites

us.

60 menit berlalu sejak Arsena mengantarkan teh hangat ke ruang kerja Alvano, namun belum ada tanda-tanda sosok lelaki itu akan menyusul Arsena di kamar.

Arsena masih terjaga, ia belum bisa tidur setelah mencoba memejamkan matanya beberapa kali. Gadis itu kini hanya membolak-balikkan halaman buku yang tengah dibacanya, ia sedikit tidak fokus. Masih terbayang di benaknya pembahasan mengenai 'cucu', Arsena tersenyum sendiri membayangkan betapa lucunya apabila ada sosok anak kecil yang menyerupai dirinya dan Alvano. Tak lama kemudian, ia menggelengkan kepalanya, menjauhkan pikiran tersebut.

~~~

Alvano kini telah mematikan laptopnya, lelaki itu ke kamar mandi sejenak untuk melakukan ritual sebelum tidurnya, sikat gigi dan mencuci muka. Kemudian, ia segera melangkahkan kaki menuju kamar.

Saat masuk ke kamar, yang dilihat Alvano pertama kali adalah Arsena yang tengah setengah berbaring di atas ranjang, gadis itu tampak sedang membaca buku.

'Ternyata belum tidur,' batin Alvano.

Arsena beranjak, seakan sadar akan kedatangan Alvano di kamar mereka. Ia berjalan menuju walk in closet, dan kembali ke ranjang setelah meletakkan bukunya.

“A'?” panggil Arsena pelan.

Alvano yang sudah berpindah di dekat jendela menoleh. Dia menyempatkan diri merapatkan gorden sebelum berbicara.

“Apa? Kenapa belum tidur?”

“Udah selesai? Aku mau tidur, tapi belum bisa,” jawab Arsena.

Arsena memainkan bajunya. Entah kenapa berbicara dengan Alvano kali ini sangat membuat dirinya gugup, Arsena masih terbayang dengan percakapan via chat mereka sebelumnya. Padahal, yang Alvano lakukan sekarang hanya bersandar di kaca jendela dan menatapnya.

“Udah, Na. Yaudah ayo tidur.” ucap Alvano kemudian sembari melangkahkan kaki mendekat, lelaki itu turut duduk di samping Arsena yang terlihat gugup di matanya.

'Kenapa? Gara-gara yang tadi?' fikir Alvano. Ia tersenyum tipis, nyaris tidak terlihat.

Arsena menghembuskan nafasnya berat, ia menganggukkan kepalanya dan merebahkan badannya perlahan.

Tanpa diduga, Alvano mengikuti pergerakan Arsena, membuat posisi mereka berdua kini berhadapan di atas kasur.

“May I..?” tanya Alvano kemudian, membuat Arsena yang baru saja memejamkan mata, kembali membuka matanya karena terkejut.

Belum sempat gadis itu menjawab, Alvano langsung mendekatkan wajahnya dan mencium bibir Arsena.

Arsena tersentak. Ia terdiam dan memejamkan matanya. Tangan gadis itu kemudian terulur dan memegang bahu Alvano.

Tanpa melepaskan ciuman mereka, Alvano sudah berada di atas tubuh Arsena. Lelaki itu memperdalam penyatuan bibir tersebut.

Arsena yang menerima itu hanya pasrah. Ia membiarkan Alvano. Namun tetap saja setelah beberapa menit, dirinya mulai sulit bernafas.

Alvano menyadari hal itu. Ia kini melepaskan ciumannya dan membiarkan Arsena menghirup oksigen untuk beberapa menit.

“Alvano?” lirih Arsena pelan, membuat Alvano menatapnya, “Hmm?”

“143,” lanjut Arsena, gadis itu memandang wajah Alvano begitu dalam. Memperhatikan setiap lekuk dan detail wajah suaminya.

Alvano terdiam sesaat, sebelum akhirnya perkataan itu terucap.

“143, Na. Always.

Arsena tersenyum mendengarnya, perasaan mereka sama, tidak pernah berubah.

Mereka pun menghabiskan sisa malam itu dengan begitu hangat. Saling melengkapi dan mengenal di setiap detiknya.

©nadswrites

“A', makasih yaa.”

Arsena memulai pembicaraan begitu mereka berada di mobil dalam perjalanan pulang.

“Aku seneng banget kita main ke rumah mama papa hari ini, mereka bener-bener treat aku like a family, aku ga ngerasa canggung sama sekali.” lanjutnya lagi, tersenyum hangat menatap Alvano yang tengah mengemudi.

“Iya, Na, i'm happy for us. Mama papa selalu gitu ke orang yang mereka sayang,” jawab Alvano.

“Tapi..” lirih Arsena, ia menggantungkan perkataannya.

Alvano sontak menaikkan alisnya, menoleh sekilas ke arah Arsena, menunggu lanjutan dari perkataan tersebut.

“Aku jadi kangen ayah bunda,” ucap Arsena pelan.

“Kalau ada waktu senggang lagi, kita ke rumah ayah bunda, jangan sedih.” sahut Alvano menenangkan Arsena. Ia mengulurkan sebelah tangannya yang menganggur untuk menggenggam lembut tangan Arsena, membuat gadis itu mengeluarkan senyum lega.

'Back together with him is one of the best decision that i've made,'

~~~

“Eh, kita ga langsung ke rumah?” tanya Arsena. Ia mengerutkan alisnya bingung begitu mobil mereka berhenti di sebuah record store yang bergaya klasik dan cukup mewah.

“Ada yang gue cari, sekalian jalan.” ucap Alvano menjawab kebingungan gadis di sampingnya.

Arsena tersenyum, raut bahagia seketika tergambar di wajahnya. Ia bersemangat. Alvano memang selalu penuh dengan kejutan.

Mereka berdua pun turun dari mobil dan melangkahkan kaki masuk ke store dengan hati senang, tak lupa tangan yang senantiasa bergandengan.

“Seneng banget?” komentar Alvano, tersenyum geli menatap Arsena.

“Iyaaa, seneng banget!” jawab Arsena riang, membuat keduanya tertawa pelan dan terus berjalan sembari melihat-lihat suasana di store yang tempak lengang, tak terlalu ramai.

“Gue mau cari vinyl,” ucap Alvano kemudian.

“Ciggaretes after sex?” tanya Arsena. Tentu saja ia masih mengingat dengan jelas salah satu band kesukaan lelaki itu.

Alvano tersenyum, ia menganggukkan kepalanya.

“Got the music in you baby, tell me why...”

Arsena menyanyikan sepenggal lagu ciggaretes after sex dari lirik yang masih diingatnya.

“You've been locked in there forever, and they just can't say goodbye...” sambung Alvano dengan cepat, membuat keduanya terus tersenyum dan sesekali tertawa pelan sore itu.

©nadswrites

Deru suara motor terdengar membuyarkan lamunan Sera.

'Itu pasti Gio,' fikirnya.

Dengan cepat Sera pun beranjak dari kasurnya dan membangunkan Arka yang kini tertidur.

“Ar? Arka? Bangun woii!” seru Sera sembari mengulurkan tangannya dan menepuk-nepuk pelan bahu Arka.

“Eungh—” lenguh Arka kemudian. Gerakan tiba-tiba itu membuat Sera dengan segera menjauhkan badannya.

“Adek gue udah pulang, lo pindah ke kamar tamu.” ucap Sera menjelaskan, ia memapah Arka yang masih setengah sadar itu hingga sampai di kamar tamu rumahnya.

“Kamar ini gue kunci dari luar, awas aja lo kemana-mana, inget kaki masih sakit.” perintah Sera lagi yang hanya dijawab dengan anggukan pelan Arka. Lelaki itu terlihat masih mengantuk.

“Tenang aja,” lirih Arka kemudian, membuat Sera yang hendak keluar dari kamar itu kembali memalingkan kepalanya kebelakang sesaat sebelum ia membuka pintu.

Gadis itu mengacungkan jempolnya sekilas. Ia pun segera keluar, tak lupa menutup dan mengunci pintu kamar tersebut.

~~~

“TETEH?! TETEH UDAH GILA?!”

Gio, adik dari Sera, tak bisa menahan teriakannya begitu ia mendengarkan penjelasan dari sang Kakak. Lelaki yang kini duduk di kelas 2 SMA itu tak habis fikir dengan pemikiran kakaknya. Ia menggelengkan kepalanya tidak setuju.

“Atas dasar apa teteh mikir dia cuma dijebak?” tanya Gio, ia mengerutkan keningnya begitu serius.

Sera menghela nafasnya pelan. Jujur, ia sendiri juga tidak mengerti mengapa ia dengan mudahnya goyah oleh perkataan lelaki bernama Arka tersebut. Sera begitu waspada, sebelum akhirnya Arka dengan tatapan memelasnya meyakinkannya bahwa ia bukanlah orang jahat.

“Teteh bisa liat dari mukanya, Dek,” jawab Sera, hanya itu yang bisa ia utarakan saat ini.

“Aura dia beda banget dari poster yang adek kirim,” lanjutnya lagi.

“Adek ga setuju, Teh. Dia harus keluar dari rumah kita sekarang juga,” ucap Gio, ia tidak mau membahayakan kakaknya, dan juga mereka berdua. Lelaki bernama Arka itu pasti akan membahayakan mereka.

“Gimana kalau kita cari informasi tentang dia selagi kakinya sakit, Dek?” ujar Sera menyarankan setelah berfikir beberapa menit. Ia menatap mata Gio dengan pandangan memohon.

Gio menghela nafasnya berat, apakah ia harus menyetujui perkataan kakaknya?

“Oke, tapi inget ya, Teh, adek udah ngingetin Teteh.” putus Gio akhirnya, lelaki itu dengan cepat meninggalkan ruang tamu sebelum mendengarkan jawaban dari sang Kakak.

Sera terdiam. Ia sibuk dengan fikirannya sendiri.

'Semoga ini keputusan yang tepat,'

©nadswrites

Suasana di kampus pagi ini begitu cerah. Beberapa mahasiswa asyik duduk sembari mengobrol di koridor kampus, mereka tersenyum dan menyapa Arsena saat gadis itu lewat, membuat ia menyadari betapa ia merindukan suasana seperti ini.

Arsena menarik nafasnya pelan dan terus melangkahkan kaki menuju ruangannya.

“Dek!” panggilan seseorang membuat langkah Arsena terhenti. Terlihat sosok Bu Wanda melambaikan tangannya. Bu Wanda merupakan rekan kerja Arsena dan mereka berada di ruangan yang sama.

“Eh, Ibu! udah sampai aja?” jawab Arsena begitu mereka berjalan berdampingan.

“Iya, Ibu ada kelas jam 08.30 nanti,” Bu Wanda memberi tahu Arsena sembari melirik arloji di tangan kanannya.

“Ibu mau ngasih tau kamu kalau dosen baru itu bakalan seruangan sama kita juga, Dek.”

“Namanya Pak Dio,” lanjut Bu Wanda.

Arsena menaikkan alisnya. Jadi mereka akan ditempatkan di ruangan yang sama?

“Aah, iya Bu. Pak Dio udah di ruangan?” tanya Arsena.

“Tadi belum ada, gatau kalau sekarang,” jawab Bu Wanda.

Mereka berdua terdiam sejenak sebelum akhirnya sampai di ruangan. Terlihat meja dan kursi yang sepertinya baru ditempatkan di ruangan tersebut.

“Kamu sudah sarapan, Dek?” tanya Bu Wanda lagi. Ia tampak berdiri di dekat pintu, hendak keluar dari ruangan.

“Udah, Bu.” jawab Arsena tersenyum. Ia mengeluarkan laptop dari tasnya.

“Ibu sarapan dulu, ya.” pamit Bu Wanda kemudian.

Arsena mengangguk, ia mulai menghidupkan laptopnya dan membuka power point yang akan menjadi bahan ajarnya nanti di pukul 10. Gadis itu larut dalam pekerjaannya sebelum akhirnya mendengar ketukan pintu.

'Pasti ini si dosen baru ya? Pak Dio?' fikir Arsena. Ia pun beranjak dari duduknya dan membukakan pintu.

Terlihat sosok lelaki dengan kemeja dan tatanan rambutnya yang rapi.

Arsena tersenyum tipis dan mempersilakan sosok itu masuk, “Pak Dio, ya?” tanyanya kemudian.

Sosok lelaki yang ternyata benar Pak Dio itu menganggukkan kepalanya. Ia tersenyum dan mengulurkan tangan, mereka berkenalan sekilas sebelum akhirnya kembali duduk di kursi masing-masing.

Arsena kembali larut dalam pekerjaannya. Ia tidak menyadari sosok bernama Pak Dio itu beberapa kali melirik dan memperhatikan gerak-geriknya.

©nadswrites

Arsena duduk tenang di kursi lobi. Hari terus beranjak malam. Orang- orang berlalu lalang, terlihat cukup ramai disebabkan sekarang merupakan jam pulang kerja. Arsena tersenyum, ia menunggu kedatangan Alvano dengan bahagia. Hatinya sungguh tidak sabar, ditambah beberapa hari ini mereka jarang bertemu dalam waktu yang lama. Oleh karna itu, undangan Alvano disertai paket yang dikirimnya sore ini tentu membuatnya terkejut sekaligus senang. Pria itu memang selalu mempunyai cara tersendiri, cara yang tidak pernah membuatnya bosan.

'Kira-kira malam ini kita mau kemana, ya?' batin Arsena.

'Tuk'

Tiba-tiba sebotol air mineral yang masih dingin menempel tepat di pipinya, senyuman gadis yang tengah menunggu itupun luntur, hendak memarahi gerangan yang menganggunya.

“Udah lama?” suara berat itu membuat Arsena mendongakkan kepalanya cepat.

Alih-alih marah, Arsena justru tersenyum dan langsung menerima air mineral yang dibawakan sosok itu. Alvano.

“Belum lama kok! Cuma sekitar 5 menitan aku duduk-duduk disini, makasih yaa Al minumnya, aku kira tadi siapaa, aku udah hampir marah,” kekeh Arsena. Gadis itu beranjak dan meraih tangan Alvano.

“Iya buat di mobil.” jawab Alvano tersenyum, menyambut genggaman tangan Arsena.

Mereka berdua pun berjalan keluar dari lobi apartemen dan menuju tempat di mana Alvano memarkirkan mobilnya.

“Ohya Al, gimana?” tanya Arsena tepat setelah mereka masuk ke dalam mobil. Gadis itu merapikan rambutnya begitu ia selesai memasang sabuk pengamannya.

Alvano yang hendak menyalakan mobil itu pun menoleh sekilas ke arah Arsena. Ia menaikkan alisnya. 'Kenapa?'

“Penampilan aku? Ini aku pakai baju yang kamu kasih.” ucap Arsena menjelaskan, matanya terlihat bersinar malam ini.

Alvano kembali mengalihkan pandangannya ke depan. Ia merasa gugup apabila memandang Arsena terlalu lama. Apakah gadis itu perlu bertanya lagi? Tentu saja penampilannya selalu cantik, seperti biasa. Pakaian itu terlihat begitu cocok di tubuhnya, sesuai yang diharapkan Alvano.

As always, Na.” jawab Alvano singkat.

Arsena hanya menghela nafasnya pelan begitu mendengar jawaban Alvano, gadis itu menyenderkan badannya di kursi. Ia pun menoleh ke samping, memandang langit malam dari jendela mobil.

Alvano berdeham begitu tidak lagi mendengar suara Arsena. Kakinya segera menginjak pedal gas. Mobil mereka pun menjauh dari pekarangan apartemen.

Setelah sekitar 30 menit perjalanan, Alvano dan Arsena akhirnya sampai di tempat yang dituju. Sebuah restoran mewah bergaya klasik ditemani lampu2 indah di atasnya. Restoran ini terbagi menjadi dua bagian, outdoor dan indoor.

Begitu mobil mereka sudah terparkir sempurna, Alvano mematikan mesin mobilnya. Ia melepaskan sabuk pengamannya sebelum akhirnya menoleh ke arah gadis di sampingnya.

“Udah sampai, tunggu ya,” ujar Alvano.

Arsena pun tersenyum, ia mengangguk mengiyakan. Sejujurnya, ia belum paham mengapa Alvano menyuruhnya menununggu terlebih dulu.

Tak lama kemudian, sosok Alvano turun dan berjalan ke sisi kiri mobil. Pria itu membukakan pintu untuk Arsena, mempersilakannya turun.

Arsena mengerjapkan matanya, sontak jantungnya berdegup cepat. Ia belum terbiasa dengan keadaan dimana Alvano mulai bersikap seperti dulu. Seperti saat mereka berpacaran.

Arsena mengelus lehernya gugup sembari turun dari mobil. Alvano tersenyum, ia meraih tangan kanan Arsena dan menggandengnya hangat.

Mereka pun berjalan beriringan memasuki restoran tersebut.

~~~

“Silakan, diliat-liat dulu A', ini buku menunya.” ucap seorang pramusaji sembari memberikan buku menu kepada Alvano dan Arsena begitu mereka duduk.

Arsena tersenyum riang, ia menyambut buku menu itu dengan antusias.

“Oke, Mbak. Mbak tunggu aja disana, nanti dipanggil lagi,” jawab Arsena.

Pramusaji itu pun mengangguk kemudian berlalu.

15 menit kemudian, Arsena telah selesai memilih menu, ia menyerahkan buku menu itu kepada Alvano.

“Samain aja, Na.” seru Alvano, ia yakin dengan pilihan menu yang dipilih arsena dan segera melambaikan tangan hendak memanggil pramusaji, menyampaikan apa yang akan mereka pesan.

Alvano dan Arsena pun menunggu dalam diam, entah apa yang ada di fikiran mereka berdua.

“Besok udah siap, Na?” tanya Alvano kemudian, mencoba memulai obrolan.

“Udah siap kok! Aku kangen deh suasana kampus, rasanya kaya udah lamaaa banget padahal baru dua minggu,” balas Arsena ceria membuat lelaki dihadapannya tersenyum.

“Kalau butuh sesuatu kabarin gue,” ucap Alvano.

Arsena mengangguk, “Kamu gimana, Al? Perusahaan aman?” tanyanya.

Alvano terdiam. Ia tersenyum pelan, memandang Arsena.

“Aman, kok. Masalahnya udah hampir clear, gue ga langsung terjun ke lapangan, orang-orang kepercayaan gue melakukan tugas mereka dengan baik, untuk sekarang ga ada yang perlu dikhawatirkan,” jelas Alvano.

Arsena menghembuskan nafas lega mendengarnya, “Syukur, deh.”

“Ohya, Al, makasih ya, aku seneng banget bisa jalan sama kamu malem ini,” ucap Arsena melanjutkan. Mengeluarkan senyum hangatnya.

“Gue yang makasih, Na. Kemarin gue udah ngerusak liburan kita karna masalah perusahaan, berapa hari ini juga pulang selalu kemaleman. Maaf, yaa.” Alvano turut tersenyum, ia meraih tangan Arsena yang ada di atas meja makan.

Arsena menggelengkan kepalanya, “No need, Al.”

Mereka berdua bertatapan cukup lama ditambah genggaman tangan di atas meja makan belum juga terlepas. Iringan live music yang diadakan di restoran malam ini menambah suasana hangat begitu terasa.

Genggaman tangan mereka harus terlepas ketika seorang pramusaji mengantarkan pesanan mereka. Wadah hitam makanan yang berasap itu menarik perhatian Alvano dan Arsena untuk menatapnya sampai tersaji di depan mata mereka.

Sepi kembali menghampiri. Yang terdengar hanyalah suara panas mendidih dari makanan mereka. Mereka menikmati makan malam ini dengan khidmat.

Aura bahagia terpancar jelas di raut wajah keduanya.

©nadswrites