Arsena duduk tenang di kursi lobi. Hari terus beranjak malam. Orang- orang berlalu lalang, terlihat cukup ramai disebabkan sekarang merupakan jam pulang kerja. Arsena tersenyum, ia menunggu kedatangan Alvano dengan bahagia. Hatinya sungguh tidak sabar, ditambah beberapa hari ini mereka jarang bertemu dalam waktu yang lama. Oleh karna itu, undangan Alvano disertai paket yang dikirimnya sore ini tentu membuatnya terkejut sekaligus senang. Pria itu memang selalu mempunyai cara tersendiri, cara yang tidak pernah membuatnya bosan.
'Kira-kira malam ini kita mau kemana, ya?' batin Arsena.
'Tuk'
Tiba-tiba sebotol air mineral yang masih dingin menempel tepat di pipinya, senyuman gadis yang tengah menunggu itupun luntur, hendak memarahi gerangan yang menganggunya.
“Udah lama?” suara berat itu membuat Arsena mendongakkan kepalanya cepat.
Alih-alih marah, Arsena justru tersenyum dan langsung menerima air mineral yang dibawakan sosok itu. Alvano.
“Belum lama kok! Cuma sekitar 5 menitan aku duduk-duduk disini, makasih yaa Al minumnya, aku kira tadi siapaa, aku udah hampir marah,” kekeh Arsena. Gadis itu beranjak dan meraih tangan Alvano.
“Iya buat di mobil.” jawab Alvano tersenyum, menyambut genggaman tangan Arsena.
Mereka berdua pun berjalan keluar dari lobi apartemen dan menuju tempat di mana Alvano memarkirkan mobilnya.
“Ohya Al, gimana?” tanya Arsena tepat setelah mereka masuk ke dalam mobil. Gadis itu merapikan rambutnya begitu ia selesai memasang sabuk pengamannya.
Alvano yang hendak menyalakan mobil itu pun menoleh sekilas ke arah Arsena. Ia menaikkan alisnya. 'Kenapa?'
“Penampilan aku? Ini aku pakai baju yang kamu kasih.” ucap Arsena menjelaskan, matanya terlihat bersinar malam ini.
Alvano kembali mengalihkan pandangannya ke depan. Ia merasa gugup apabila memandang Arsena terlalu lama. Apakah gadis itu perlu bertanya lagi? Tentu saja penampilannya selalu cantik, seperti biasa. Pakaian itu terlihat begitu cocok di tubuhnya, sesuai yang diharapkan Alvano.
“As always, Na.” jawab Alvano singkat.
Arsena hanya menghela nafasnya pelan begitu mendengar jawaban Alvano, gadis itu menyenderkan badannya di kursi. Ia pun menoleh ke samping, memandang langit malam dari jendela mobil.
Alvano berdeham begitu tidak lagi mendengar suara Arsena. Kakinya segera menginjak pedal gas. Mobil mereka pun menjauh dari pekarangan apartemen.
Setelah sekitar 30 menit perjalanan, Alvano dan Arsena akhirnya sampai di tempat yang dituju. Sebuah restoran mewah bergaya klasik ditemani lampu2 indah di atasnya. Restoran ini terbagi menjadi dua bagian, outdoor dan indoor.
Begitu mobil mereka sudah terparkir sempurna, Alvano mematikan mesin mobilnya. Ia melepaskan sabuk pengamannya sebelum akhirnya menoleh ke arah gadis di sampingnya.
“Udah sampai, tunggu ya,” ujar Alvano.
Arsena pun tersenyum, ia mengangguk mengiyakan. Sejujurnya, ia belum paham mengapa Alvano menyuruhnya menununggu terlebih dulu.
Tak lama kemudian, sosok Alvano turun dan berjalan ke sisi kiri mobil. Pria itu membukakan pintu untuk Arsena, mempersilakannya turun.
Arsena mengerjapkan matanya, sontak jantungnya berdegup cepat. Ia belum terbiasa dengan keadaan dimana Alvano mulai bersikap seperti dulu. Seperti saat mereka berpacaran.
Arsena mengelus lehernya gugup sembari turun dari mobil. Alvano tersenyum, ia meraih tangan kanan Arsena dan menggandengnya hangat.
Mereka pun berjalan beriringan memasuki restoran tersebut.
~~~
“Silakan, diliat-liat dulu A', ini buku menunya.” ucap seorang pramusaji sembari memberikan buku menu kepada Alvano dan Arsena begitu mereka duduk.
Arsena tersenyum riang, ia menyambut buku menu itu dengan antusias.
“Oke, Mbak. Mbak tunggu aja disana, nanti dipanggil lagi,” jawab Arsena.
Pramusaji itu pun mengangguk kemudian berlalu.
15 menit kemudian, Arsena telah selesai memilih menu, ia menyerahkan buku menu itu kepada Alvano.
“Samain aja, Na.” seru Alvano, ia yakin dengan pilihan menu yang dipilih arsena dan segera melambaikan tangan hendak memanggil pramusaji, menyampaikan apa yang akan mereka pesan.
Alvano dan Arsena pun menunggu dalam diam, entah apa yang ada di fikiran mereka berdua.
“Besok udah siap, Na?” tanya Alvano kemudian, mencoba memulai obrolan.
“Udah siap kok! Aku kangen deh suasana kampus, rasanya kaya udah lamaaa banget padahal baru dua minggu,” balas Arsena ceria membuat lelaki dihadapannya tersenyum.
“Kalau butuh sesuatu kabarin gue,” ucap Alvano.
Arsena mengangguk, “Kamu gimana, Al? Perusahaan aman?” tanyanya.
Alvano terdiam. Ia tersenyum pelan, memandang Arsena.
“Aman, kok. Masalahnya udah hampir clear, gue ga langsung terjun ke lapangan, orang-orang kepercayaan gue melakukan tugas mereka dengan baik, untuk sekarang ga ada yang perlu dikhawatirkan,” jelas Alvano.
Arsena menghembuskan nafas lega mendengarnya, “Syukur, deh.”
“Ohya, Al, makasih ya, aku seneng banget bisa jalan sama kamu malem ini,” ucap Arsena melanjutkan. Mengeluarkan senyum hangatnya.
“Gue yang makasih, Na. Kemarin gue udah ngerusak liburan kita karna masalah perusahaan, berapa hari ini juga pulang selalu kemaleman. Maaf, yaa.” Alvano turut tersenyum, ia meraih tangan Arsena yang ada di atas meja makan.
Arsena menggelengkan kepalanya, “No need, Al.”
Mereka berdua bertatapan cukup lama ditambah genggaman tangan di atas meja makan belum juga terlepas. Iringan live music yang diadakan di restoran malam ini menambah suasana hangat begitu terasa.
Genggaman tangan mereka harus terlepas ketika seorang pramusaji mengantarkan pesanan mereka. Wadah hitam makanan yang berasap itu menarik perhatian Alvano dan Arsena untuk menatapnya sampai tersaji di depan mata mereka.
Sepi kembali menghampiri. Yang terdengar hanyalah suara panas mendidih dari makanan mereka. Mereka menikmati makan malam ini dengan khidmat.
Aura bahagia terpancar jelas di raut wajah keduanya.
©nadswrites