nadswrites

Arsena tersenyum puas memandangi berbagai masakan yang sudah terhidang rapi di meja makan. Gadis berambut panjang itu berharap dapat menebus sedikit kesalahannya karena telah berbohong.

'Semoga Alvano suka,' batinnya.

Menit demi menit berlalu, tanpa terasa kini waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam, namun sosok lelaki yang ditunggu belum juga pulang.

Arsena menghela nafas, ia pun melangkahkan kaki menuju kamar, mengambil secarik kertas dan pena.

Gadis itu memejamkan matanya sekilas sebelum akhirnya menuliskan sesuatu disana.

'Alvano, maaf ya, maaf udah bohong, maaf karna aku ga berfikir panjang dulu. Semoga suka masakannya, dimakan yaa.'

~~~

Suara berisik yang berasal dari dapur membuat Arsena terbangun.

Gadis itu mengerjapkan matanya sebelum memutuskan beranjak dan mengintip apa yang terjadi di dapur dari celah pintu kamar. Terlihat sosok Alvano sedang menghabiskan makan malam, dengan pakaian kerja yang masih menempel di tubuhnya.

Arsena menghembuskan nafas lega, ia tersenyum tipis dan kembali naik ke atas ranjang. Sebenarnya, ia ingin keluar dan menyapa suaminya itu, namun ia masih merasa malu atas kebohongan yang dilakukannya.

Perlahan, Arsena memejamkan matanya dan mencoba untuk kembali tidur.

15 menit kemudian, pintu kamar tersebut kembali terbuka.

Kali ini, sosok Alvano masuk dengan raut lelahnya. Lelaki itu tersenyum lega melihat Arsena yang sudah terlelap. Muka tidurnya terlihat begitu polos. Membuat rasa marah yang dirasakan Alvano tadi seketika meluap begitu melihatnya, ditambah masakan favoritnya yang disediakan Arsena malam ini juga membuat hatinya terenyuh.

“Gue ngerti kenapa lo bohong tadi, Na. Ga perlu khawatir lagi, bunga itu dari Teh Alana.”

“Makasih juga buat makan malamnya. Masakan lo gapernah mengecewakan, maaf karna gue belum bisa pulang lebih cepat.”

Alvano menjelaskan dengan suaranya yang terdengar berat. Walaupun ia tahu, hanya suara detak jam yang seperti menjawab perkataannya malam ini.

Tangan Alvano kemudian terulur, ia mengusap lembut rambut sang gadis yang tampak sudah memasuki mimpinya.

Setelah memandangi wajah Arsena cukup lama, tanpa sadar lelaki itu kini mendekatkan wajahnya. Ia tidak bisa menahan dirinya lagi.

'Cup'

Kecupan itu singkat namun bermakna.

'Maaf lagi-lagi gue curi kesempatan, semoga lo beneran udah tidur,'

©nadswrites

Arsena menghela nafas, ia menyimpan handphone di saku bajunya dengan cepat.

Tentu saja ia tidak bisa menikmati pantai ini lagi sebagaimana sebelum mengetahui berita tidak mengenakkan itu, pundaknya tiba-tiba terasa berat.

Gadis itu kemudian mengalihkan pandangannya ke depan, terlihat sosok Alvano yang masih menikmati air dan pemandangan langit pantai. Ia melangkah, mendekati Alvano dan menyentuh punggungnya, elusan lembut yang perlahan berubah menjadi dekapan hangat dari belakang.

Tanpa kata, Arsena ingin meringankan beban yang tidak bisa diungkapkan lelaki itu. Ia tidak mau menambah beban Alvano dengan banyak bertanya disaat ia sendiri masih bingung dan bertanya-tanya tentang apa yang menjadi penyebab masalah tersebut bisa terjadi.

Arsena akan berusaha mencari tahu terlebih dahulu, dan berusaha membantu setelahnya.

Sementara itu, Alvano terdiam, badannya menegang taktala gadis yang kini menjadi istrinya itu mendekapnya dari belakang begitu tiba-tiba.

“Gini dulu sebentar, Al.” suara Arsena terdengar lembut di telinga Alvano, membuat lelaki itu akhirnya merilekskan badan, mengangkat tangan dan perlahan mengelus tangan yang tengah memeluknya.

5 menit berlalu, akhirnya kedua insan itu melepaskan pelukan mereka.

Alvano membalikkan badan, matanya tidak bisa berbohong, ia menatap Arsena dengan sorot penuh kekhawatiran.

Membuat sang gadis menunjukkan senyuman hangatnya, membalas tatapan itu dengan tatapan yang mengartikan bahwa semuanya akan berjalan baik-baik saja.

Langit pagi yang kini tampak mendung, mengiringi pergerakan Alvano yang perlahan mendekatkan wajah, mengecup kening Arsena.

Alvano menyadari bahwa ia begitu mensyukuri adanya keberadaan gadis itu di sampingnya.

'Makasih udah mengerti, disaat gue bahkan belum bisa menceritakan semuanya, Na...'

'...Maaf,'

©nadswrites

“Al?”

Panggilan itu membuyarkan lamunan Alvano yang tengah asik memperhatikan Arsena yang berjalan di depannya. Gadis itu begitu bersemangat dan selalu memotret sekeliling dengan kamera handphonenya. Tentu saja di tempat yang diizinkan untuk mengambil foto. Hal itulah yang menyebabkan Alvano akhirnya tertinggal selangkah dibelakang Arsena.

Alvano menaikkan alis seolah bertanya begitu Arsena membalikkan badan menatapnya.

“Kamu tau ngga? Bangunan ini tuh udah tua banget, pembangunan Menara Kencana atau menara emasnya aja dimulai sekitar April 1782, istana ini awalnya cuma beberapa bangunan kayu doang gitu, sampe akhirnya Raja terdahulu mutusin buat....”

Gadis itu terus bercerita panjang, membuat Alvano tersenyum pelan dan mengambil langkah disamping Arsena. Arsena bercerita dengan gaya khasnya yang lucu dan sangat bersemangat persis seperti yang ada di ingatan Alvano. Sama sekali tidak berubah, alisnya yang terkadang berkerut, dan bibirnya yang berucap cepat. Seperti biasa, gadis itu selalu tau banyak hal. Alvano yakin Arsena mencari tahu tepat sebelum ia mencatat The Grand Palace ke dalam list jalan-jalannya.

”...walaupun sekarang Raja ga lagi tinggal disini, tiap tahun istana ini masih jadi tempat ngadain upacara dan ritual kerajaan, Al. Kaya penobatan, pemakaman, pernikahan, dan jamuan kerajaan gituu, di dalam kompleks istananya juga ada kantor pemerintahan, Kantor Sekretaris Pribadi Raja, sama ada Insitut Kerajaan Thailand..”

“Alvano? Kamu ga dengerin, ya? Kenapa senyum-senyum sih?” Arsena menghentikan celotehannya tepat saat ia menyadari Alvano melamun dan tidak mendengarkannya, membuat pria itu segera berdeham dan menetralkan mimik mukanya.

“A – ak, Gue dengerin, kok,”

Alvano menelan ludahnya, tiba-tiba ia menyadari gaya bicaranya yang tanpa disadari berubah menjadi menggunakan aku-kamu kepada Arsena.

Arsena mengernyitkan dahi, ia menghentikan langkahnya sejenak. Seketika ia teringat pada chat tadi pagi dimana Alvano memang menggunakan aku-kamu.

'Rupanya yang tadi pagi ga sadar ya? sekarang udah gue lo lagi?' batin Arsena. Ia tersenyum pahit dan kembali melanjutkan langkahnya. Tidak memedulikan Alvano yang bingung dan kemudian menyamakan langkah mereka.

'Dasar cowok!'

~~~

“Na? Mau makan dimana?”

Setelah puas berkeliling dan berfoto di The Grand Palace, Alvano dan Arsena memutuskan untuk makan siang terlebih dahulu sebelum kembali ke hotel. Kini, mereka berdua berada di mobil yang disewa Alvano.

Arsena melirik arlojinya sekilas, waktu sudah menunjukkan pukul 2. Ia pun meraih notes yang tersimpan di tasnya, membaca rekomendasi restoran halal yang telah ia catat.

“Kita ke Sinthorn Steak House aja, ya? Aku lagi pengen steak,” jawab Arsena menyarankan.

Alvano mengangguk, membuka maps dan mengarahkan mobilnya menuju Sinthorn Steak House. Ia tidak keberatan dengan restoran yang dipilih Arsena karna sejujurnya ia bisa makan apa saja, terutama saat sudah lapar seperti saat ini.

Perjalanan di mobil tersebut hening, Arsena pun tampak mengantuk, ia memejamkan matanya sekilas. Alunan lagu yang diputar menemani suasana sepi di mobil mereka.

©nadswrites

Arsena memandang jendela kamar hotel dengan gelisah, langit malam yang indah tidak sesuai dengan suasana hatinya kini, sedari tadi ia mencoba menghubungi Alvano, namun hanya berakhir dengan suara operator yang menandakan sang pemilik handphone tidak menerima panggilannya.

Waktu sudah menunjukkan pukul 22.00 dan sosok Alvano belum juga terlihat. Arsena yang sudah menyiapkan bunga dan bahkan berdandan cantik, hanya bisa terdiam dan menghembuskan nafasnya berat.

'Alvano, kamu dimana sih? Masa iya gugup gara gara kejadian tadi sampe begini?'

Tak lama kemudian, suara pintu kamar terbuka membuat Arsena dengan cepat membalikkan badan, ia menyembunyikan bunga yang telah disiapkannya dibalik tubuhnya. Sosok Alvano pun mendekat, lelaki itu tampak membawa bunga dan juga sekotak pizza.

Alvano meletakkan terlebih dahulu pizza tersebut di atas meja, sebelum akhirnya kembali mendekati Arsena dengan membawa bunga. Arsena menahan senyumnya, ia menunjukkan bunga yang sedari tadi disembunyikannya begitu lelaki itu berdiri dihadapannya.

Hal itu sontak membuat keduanya tertawa bersama.

“Ternyata kita sama-sama nyiapin bunga, ya,” ucap Arsena terkekeh pelan.

“Iya, Na. Yaudah, ayo tukeran bunga,” jawab Alvano, ia mengulurkan bunga yang dipegangnya.

Masih dengan tawa yang belum juga hilang, Arsena mengangguk setuju. Mereka pun saling memberi bunga yang sudah disiapkan.

Begitu bunga pemberian Alvano sampai di tangannya, Arsena terdiam. Atensinya teralihkan pada sebuah kartu ucapan yang bertengger manis di atas bunga itu.

'Im so sorry, Na. Maaf aku ga bisa kontrol,'

Alvano

Arsena tersenyum. Sejujurnya ia sama sekali tak keberatan. Toh, mereka sudah menikah. Namun, melihat Alvano begitu menghargainya hingga memberi bunga dan kartu ucapan ini membuat Arsena terharu. Entah kenapa, matanya mulai berkaca-kaca.

“Its okay, Al, aku juga minta maaf ya?” ucap Arsena kemudian. Ia mengibaskan tangannya di depan matanya. Menghalau air mata yang hendak turun.

Alvano terenyuh melihat pemandangan itu, ia tersenyum dan melangkahkan kaki lebih dekat ke arah gadisnya. Tangan Alvano terulur, mengelus pelan rambut Arsena.

“Kenapa malah nangis, sih?” tanya Alvano, ia menatap mata Arsena yang memerah.

Arsena hanya menggelengkan kepalanya, ia menahan tangannya yang sangat ingin memeluk lelaki di hadapannya.

Namun, beberapa detik kemudian, Arsena benar-benar mengulurkan tangannya, ia memeluk erat tubuh Alvano.

Alvano terdiam sesaat, ia merasakan jantungnya berdebar begitu cepat.

Perlahan, Alvano akhirnya mengangkat tangannya dan balik memeluk Arsena. Sesekali lelaki itu mengusap punggung gadis yang dipeluknya.

Arsena tersenyum lega. Ia semakin tak mau melepaskan pelukan mereka. Ia begitu menikmati dekapan hangat Alvano malam ini.

Langit malam indah yang terlihat di jendela melengkapi pemandangan hangat di kamar mereka.

©nadswrites

Arsena mendongakkan kepalanya cepat begitu Alvano menyuruhnya menunggu. Lelaki itu berdiri dan menatapnya sekilas sebelum akhirnya masuk ke ruang ganti pria di kolam renang tersebut, membuat Arsena mengikutinya dan juga masuk ke dalam ruang ganti di seberangnya yang merupakan bilik wanita. Ia mendengus dan mengganti baju renangnya yang bahkan tidak basah.

“Ayo.” Alvano langsung menarik tangan Arsena tepat setelah ia keluar dan melihat gadis itu sudah menunggu. Raut mukanya terlihat sedikit kesal memandang Alvano.

“Kenapa, sih? Aku bahkan belum masuk ke kolam.” cecar Arsena begitu mereka berjalan berdampingan menuju lift.

“Lupa, ya? Lo tuh pernah tenggelam,”

'Deg'

Jawaban Alvano itu sontak membuat Arsena memperlambat jalannya. Ia terdiam dan merutuki kejadian yang sudah lama berlalu sehingga ia lupa, sedikit tidak menyangka bahwa lelaki yang berjalan di sampingnya itu masih mengingatnya.

Mereka pun masuk ke dalam lift tanpa suara, Arsena yang merasa bersalah, dan Alvano yang tampak marah karena gadis itu menyusulnya. Genggaman tangannya mengerat, membuat Arsena menghela napas pasrah, ia hanya berharap agar cepat sampai ke lantai dimana kamar mereka berada.

~~~

'ckelk'

Pintu kamar itu ditutup cepat oleh Alvano, genggaman tangan mereka belum juga terlepas.

Arsena merasakan jantungnya berdebar begitu cepat saat ini, Alvano hanya diam dan terus berjalan membuatnya terpaksa mengikuti langkah lebar lelaki itu. Hingga akhirnya, Alvano mendudukkan Arsena di atas kasur, ia menatap tajam mata coklat itu membuat Arsena menunduk.

Sorry, Na..” ucapan maaf Alvano terdengar membuat Arsena yang tengah menunduk itu bingung dan langsung mendongakkan kepalanya. Belum sempat ia membuka mulut, sesuatu yang kenyal terasa menempel di bibirnya.

Arsena sontak melebarkan kedua mata terkejut, ia menahan nafasnya. Jantungnya bertalu begitu cepat dan aliran darahnya terasa berhenti. Bibir keduanya bersentuhan lama, membuat Arsena perlahan memejamkan matanya. Tangannya memilin-milin baju yang tengah dipakainya. Ia begitu gugup.

'Ini ciuman pertama kita, Al,'

©nadswrites

Alvano tersenyum tipis, tangannya mengelus lembut kepala Arsena yang entah sudah berapa lama bersender di bahunya. Sebenarnya, Alvano pun sudah mulai merasa pegal dan juga mengantuk, namun hati kecilnya tidak tega melihat Arsena yang nampak tertidur dengan wajah lelah.

Perjalanan dari Bandung ke Bangkok memang memakan waktu yang cukup lama, yakni sekitar 5 jam 30 menit, membuat Alvano melirik arloji di tangan kanannya, tidak terasa waktu perjalanan ini tersisa 2 jam lagi.

“Alvano?” suara serak Arsena sontak membuat Alvano memalingkan pandangannya, ia terlalu sibuk dengan lamunannya hingga tidak menyadari Arsena terbangun. Gadis itu mengerjapkan matanya lucu, memandang ke jendela pesawat sekilas sebelum kembali menatap Alvano.

“Maaf ya, tangan kamu pasti pegel, sini gantian, kamu pasti belum tidur kan, dari tadi?” sesal Arsena, ia menyentuh bahu Alvano dan memijatnya pelan.

“Gapapa, udah tinggal 2 jam lagi,” jawab Alvano tenang. Lelaki itu membiarkan pijatan Arsena di bahunya.

Arsena mengangguk, tiba-tiba ia mengulurkan tangan dan mengusap dahi Alvano, “Ini dahi kamu jangan dikerutin, nanti cepet tua,” ucapnya kemudian sembari tersenyum hangat.

Membuat Alvano hanya terdiam menatap dalam mata Arsena. Mereka bertatapan cukup lama sebelum akhirnya Alvano memutus tatapan itu dan kembali menghadap ke arah depan.

'Ini yang ga bisa gue lupain dari, lo, Na,' batin Alvano.

Hangat sentuhan tangan Arsena masih terasa di dahinya. Ia kemudian memejamkan matanya, tidak menyadari sepuluh menit setelahnya, ia yang menjatuhkan kepala di kepala Arsena membuat gadis itu tersenyum menepuk pelan kepala Alvano.

~~~

Suasana yang cukup ramai menyambut penglihatan Arsena dan Alvano begitu mereka sampai di Bandara Internasional Suvarnabhumi.

Keduanya berjalan berdampingan, Arsena dengan aura bahagia yang jelas terpancar melangkahkan kaki dengan bersemangat, meninggalkan Alvano yang berjalan pelan di belakangnya.

Lelaki itu menyusul Arsena dan menggandeng tangan kanannya cepat, “Biar ga ilang,” bisik Alvano di telinga Arsena, membuatnya mengangguk dan memperlambat langkahnya.

Mereka menuju bagasi dan menunjukkan nomor bukti penitipan bagasi yang diberikan saat proses check in ke petugas bandara.

Arsena tersenyum senang sembari membawa koper dan tasnya, ia kembali mendekati Alvano yang kali ini berjalan di depannya. Lelaki itu tampak tengah bertelfonan dengan seseorang, sepertinya ia memesan layanan antar jemput untuk mereka berdua.

Benar saja, tak lama kemudian sebuah mobil putih menunggu kedatangan mereka begitu keduanya keluar dari bandara. Arsena dan Alvano segera melangkahkan kaki mendekati mobil tersebut, terlihat sopir yang merupakan orang lokal membantu mereka menaruh barang di jok belakang.

Mobil itu pun berlalu menuju Novotel Bangkok on Siam Square. Hotel yang sudah dipesankan oleh orang tua Alvano untuk mereka selama berlibur di Thailand.

©nadswrites

I got my driver license last week just like we always talked about..

Suara nyanyian lagu terkenal tersebut perlahan membuat Arsena membuka kedua matanya. Tangannya mencari-cari letak handphone yang seingatnya ditaruh di bawah bantal. Ia pun mematikan alarm tersebut.

Arsena mengusap matanya sekilas, hendak beranjak dari kasur, namun sesuatu yang berat menahan perutnya. Sontak, ia melebarkan mata dan melihat sepasang tangan tengah memeluknya.

'ALVANO? yampun hampir lupa kalo semalem kita tidur berdua,' batin Arsena. Ia mengernyitkan dahi sejenak, berfikir mengapa mereka bisa berakhir dengan keadaan seperti ini. Gadis itu menggelengkan kepala, ia tak mau ambil pusing.

'Pasti Alvano yang meluk duluan,' fikirnya percaya diri.

Arsena memandang wajah Alvano yang nampak masih terlelap di dalam mimpi, tidak terganggu dengan pergerakan yang dilakukannya. Perlahan, ia memindahkan tangan lelaki itu.

Entah mendapatkan keberanian dari mana, Arsena mendekatkan wajahnya ke wajah Alvano, sebelum beberapa detik kemudian ia tersadar dan segera menjauh.

'Gila, Na. Barusan mau ngapain?' rutuknya dalam hati.

“Eugh..” suara lenguhan Alvano yang tiba-tiba itu sontak mengejutkan Arsena. Tangan lelaki itu dengan cepat menahan tangan Arsena yang hendak berdiri.

“Kabur, hm?” tanya Alvano. Ia tersenyum miring menatap Arsena yang hanya terdiam gugup.

“Udah, sana ke kamar mandi duluan, kita subuhan bareng.” ucap Alvano lagi sebelum Arsena membuka mulutnya. Gadis itu pun berdiri dan berlalu ke kamar mandi. Kekehan Alvano terdengar samar, membuat hatinya kesal.

Arsena merutuki dirinya sendiri yang bisa-bisanya menganggap Alvano masih tertidur nyenyak tadi.

'Na, na.. kapan ga malu-maluin depan Alvano?'

~~~

“Apa?”

Alvano bertanya begitu merasakan Arsena menyenggol bahunya, lelaki itu membalikkan badannya kebelakang dan melihat Arsena tersenyum menatapnya sembari menjulurkan tangannya.

“Salim dulu atuh A', kan abis jamaahan.” jawab Arsena masih dengan senyum manis di bibirnya. Ia menambahkan embel-embel Aa' bermaksud menggoda Alvano. Gadis itu menebalkan muka dan melupakan kejadian memalukan saat bangun tidur tadi.

Alvano mendengus, ia akhirnya mengulurkan tangan, membuat Arsena mencium tangannya.

“Nah, gini kan, enak, hehe,” ujar Arsena. Ia tersenyum puas.

Arsena kemudian membuka mukenanya, ia melipat sajadahnya dan sajadah Alvano.

“Abis ini siap-siap, Na. Kita sarapan diluar aja, mau ke rumah bunda sekalian ngambil barang-barang, lo,” ucap Alvano. Lelaki itu terlihat sedang mengancingkan sebuah koper.

“Oke, Al. Ohya, kenapa bawa koper?” jawab Arsena sembari bertanya bingung, menunjuk koper yang dirapikan Alvano.

“Kita mau ke bandara hari ini, mama papa yang ngasih tiket,” jelas Alvano singkat. Ia meraih handphone nya dan menunjukkan scan an pembelian tiket kepada Arsena.

Arsena melebarkan kedua matanya, “KOK GA BILANG DARI SEMALEM KALO HARI INI MAU PERGI, ALVANOO?!” ucapnya heboh, membuat Alvano menghembuskan nafas berat, salahnya sendiri kenapa baru memberi tahu. Semalam, ia terlalu mengantuk sesaat setelah merapikan kopernya dan menunggu Arsena masuk ke dalam kamar. Lelaki itu berakhir ketiduran tanpa sempat memberi tahu Arsena soal kepergian hari ini.

Sorry, semalem gue ketiduran duluan, yang penting sekarang udah dikasih tau, kan?” Alvano menjawab singkat sembari mengode Arsena untuk segera siap-siap.

Gadis itu mengedip-ngedipkan matanya dan mengangguk, meskipun hatinya kesal karena baru diberi tahu, namun ia senang karena mereka akan berlibur bersama.

Tak lupa, Arsena juga berniat berterima kasih kepada mertuanya itu. Ia tersenyum senang dan sangat bersemangat, membuat Alvano yang memperhatikan dari ekor matanya hanya mampu menggelengkan kepala melihat tingkah gadis yang kini adalah istrinya itu.

'Bahagia terus, Na,' batin Alvano.

©nadswrites

Arsena mengerjapkan kedua matanya. Bulu matanya bergerak dengan lembut lalu perlahan ia memandang ke atas. Gelap namun dinding-dinding langitnya berisi pantulan cahaya berbintang. Arsena seketika terbangun. Napasnya tak beraturan memikirkan dimana dia sekarang. Beberapa detik kemudian Arsena menyadari sesuatu, kepalanya sibuk merangkai kejadian sebelumnya sampai saat ini.

'Ohya, tadi abis belanja bareng Alvano, apa aku ketiduran di mobil? terus ini udah sampe di apart? Alvano gendong aku kesini?'

“Lo ketiduran.” suara berat itu membuat Arsena memalingkan pandangannya ke arah pintu. Tampak sosok Alvano masuk dengan kantong belanjaan di kedua tangannya. Cowok itu menaruhnya terlebih dahulu di dekat pintu, kemudian duduk di sofa yang ada di hadapan Arsena. Ia merapikan rambutnya sejenak.

“Gue tinggal bentar tadi buat ambil belanjaan.” jelas Alvano kemudian. Seakan paham dengan kebingungan yang tergambar jelas di wajah Arsena sebelum gadis itu bertanya.

Arsena mengangguk mengerti, Ia merasa bersalah karena ketiduran di mobil. Rangkaian acara di resepsi pernikahannya malam ini membuat seluruh badannya pegal.

“Maaf ya, Al. Aku ketiduran, makasih udah gendong kesini, pasti berat.” lirih Arsena. Ia menyentuh perlahan sebelah tangan Alvano. Cowok itu hanya berdeham singkat, sedikit menjauhkan badan dari Arsena, hingga sentuhan itu terlepas.

'Alvano ga nyaman, ya?' batin Arsena.

“Sana cuci muka,” ucap Alvano.

Arsena mengangguk, hendak berdiri, namun tiba-tiba tangan Alvano menahannya.

“Gue ke dapur dulu, baju lo di lemari,” ucap Alvano. Ia berlalu sembari membawa kantong belanjaan yang diletakannya di dekat pintu tadi, cowok itu tidak menunggu jawaban yang akan keluar dari bibir Arsena. Membuat Arsena kembali mengerjapkan matanya, Ia hanya memandang punggung Alvano yang kemudian menghilang di balik pintu.

'Ini di kamar nya Alvano?'

Seakan menyadari sesuatu, Arsena segera mencari dimana keberadaan handuk, dan langsung masuk ke dalam kamar mandi.

'Ga akan tidur sekamar sama Alvano, kan?'

~~~

“Alvano?” panggil Arsena begitu ia selesai membersihkan dirinya. Berkeliling sejenak di apartemen yang pernah dikunjunginya berapa tahun silam. Letak perabotannya sudah banyak berubah, tidak seperti yang terdapat di dalam ingatan Arsena.

Suasana di luar kamar tampak sepi, sosok Alvano belum juga terlihat.

Tak lama kemudian, suara gemericik air dari kamar mandi yang terdapat di dapur menjawab kebingungan Arsena yang tengah berkeliling. Ia mendudukan dirinya di kursi, menunggu Alvano.

15 menit berlalu, akhirnya Alvano membuka pintu kamar mandi tersebut. Cowok itu tidak memakai baju, hanya melilitkan handuk di pinggangnya. Membuat Arsena yang sedari tadi memperhatikan pintu itu sontak melebarkan mata. Ia merasakan pipinya memanas dan segera mengalihkan pandangan ke arah yang lain selain badan Alvano. Arsena tahu Alvano mempunyai badan yang bagus, tapi kenapa juga Alvano tidak menyelesaikannya terlebih dahulu sebelum membuka pintu?

Namun, Arsena teringat, tadi saat Ia mencari baju di lemari kamar yang ditidurinya, nampak baju-baju Alvano juga telah tersusun rapi di dalam lemari. Membuatnya menyadari bahwa Alvano tidak sempat mengambil baju ganti karena keberadaannya di kamar tersebut.

“Gue ganti baju dulu,” ucap Alvano.

Meninggalkan Arsena yang hanya menunduk sesaat setelah ia keluar dari kamar mandi. Gadis itu tampak salah tingkah dan sibuk sendiri dengan apa yang ada di dalam fikirannya, membuat Alvano menaikkan bibir, tersenyum tipis. Alvano kemudian tersadar dan langsung menggelengkan kepalanya. Ia segera berjalan menuju kamar. Kamar mereka berdua. Ya, Alvano tidak pernah sekalipun berfikir untuk pisah kamar dengan Arsena semenjak mereka resmi menikah malam ini.

©nadswrites

Between Two Family

Sesuai dengan apa yang direncanakan oleh Bunda di hari Senin kemarin, maka weekend ini pun diadakan pertemuan antara dua keluarga tersebut. Keluarga Arsena dan Alvano. Raut wajah yang terlihat malam ini tampak bahagia, tidak ada yang terlihat bersedih. Termasuk Arsena dan Alvano, keduanya diam namun menampilkan senyum tipis di wajah mereka.

“Ayana, ayo kita mulai, apa dulu yang mau dibahas, nih?” ucap Bunda memulai perbincangan malam ini.

“Gini, sebelumnya, Arsena, Tante seneng banget denger kalian mau nerusin ini ke arah yang serius, jujur aja Tante kaget banget waktu Alvano kemarin bilang setuju dan dia bilang terserah Tante aja mana yang terbaik, Alvano nurut dan Alvano ga ngerasa keberatan, gitu katanya kemarin, Na, padahal sebelumnya kaya yang mau nolak gitu, ihh, ternyata di prank.” Tante Ayana menjelaskan panjang lebar, Ia sedikit terkekeh. Matanya berbinar menatap Arsena.

“Ya, Tante langsung semangat dengernya, nah ga lama dari situ, Bunda kamu nelfon, bilang kalo Arsena juga setuju, kita rencanain pertemuan ini deh, lebih cepat, lebih baik, iya kan?” tanya Tante Ayana meminta persetujuan dari Ayah dan Om Saka. Ayahnya Alvano.

Arsena menaikkan bibirnya pelan, “Iya, Tante, Arsena juga ga keberatan, kok.” ucapnya. Ia memandang pelan ke arah Alvano yang juga ikut tertawa melihat sang Mama yang semangat menjelaskan. Aura bahagia para orang tua terasa menular ke dalam dirinya.

“Nah, karena semuanya sudah setuju, kita langsung mulai voting tanggal aja gimana? Arsena sama Adek eh Alvano, maunya kapan?” tanya Tante Ayana to the point mengarah kepada Arsena dan Alvano.

“Masalah gedung, catering, undangan, dan lain-lain itu gampang, biar nanti Tante sama Papanya Alvano yang ngurus, ya?” lanjut Tante Ayana melirik suaminya.

Om Arsaka atau ayahnya Alvano merupakan pemilik Hotel ternama di Bandung, cabangnya juga sudah tersebar di beberapa kota di Indonesia, oleh karena itu tentu urusan mengenai hal itu diserahkan kepada Tante Ayana dan Om Arsaka. Arsena pun baru mengetahuinya semalam setelah diceritakan oleh Bunda. Alvano semasa kuliah tidak pernah secara gamblang menceritakan tentang keluarganya yang kaya, meskipun itu sudah terlihat dari gaya hidup, dan pakaian sehari-harinya yang nampak mewah.

“Iya, nanti biar diskusi sama kita juga, ya, Ay.” jawab Bunda tersenyum.

“Alvano nurut aja sama maunya Arsena,” seru Alvano kemudian. Membuat Arsena mengernyitkan dahinya sembari menatap tidak setuju ke arah Alvano. Ia juga tidak pandai memilih tanggal dan waktu yang bagus.

“Arsena mau nya sebulan lagi, Tante, kira-kira bulan Desember nanti.” saran Arsena akhirnya setelah terdiam cukup lama. Para orang tua menganggukkan kepalanya, setuju dengan saran yang diberikan Arsena. Tante Ayana nampak sibuk mencatat obrolan penting malam itu di tablet yang dibawanya. Tidak mau ketinggalan satu pun poin penting malam ini.

“Ohya, Ma, Alvano mau ngajak Arsena keluar bentar.” pamit Alvano kepada Tante Ayana yang sontak mengejutkan mereka, Ia menghampiri Arsena yang duduk bersebrangan dengannya.

“Eh, iya, Dek. Ajak aja Arsenanya, nanti kalian taunya hasil jadi aja deh,” jawab Tante Ayana tertawa pelan. Tersenyum menggoda kepada Alvano dan Arsena.

Arsena yang sedang duduk pun hanya mengangguk, Ia beranjak dari kursi dan mengikuti Alvano dari belakang. Alvano yang merasakan Arsena berjalan di belakangnya segera menarik tangan Arsena agar berjalan di sampingnya.

“Jalan kok di belakang gue?” bisik Alvano yang terdengar berat di telinga Arsena. Arsena terdiam. Ia menenangkan jantungnya yang berdegup cepat.

'Alvano, kasih aba-aba dulu, coba, kasian jantung gue'

~~~

“Apa kabar, Na?”

Alvano menghela nafas, akhirnya pertanyaan itu terlontar juga dari mulutnya. Ia menahannya sudah lama sejak pertemuan pertama mereka malam itu. Pertemuan pertama setelah berapa tahun tidak bertemu.

Dari lubuk hatinya yang paling dalam, sejujurnya Alvano sangat merindukan Arsena, merindukan senyum dan segala tingkah laku gadis itu. Arsena berhasil membuat hidupnya begitu berwarna selama mereka bersama dulu, 5 tahun bukanlah waktu yang singkat.

Masalah besar dilanjutkan dengan pertengkaran yang kemudian terjadi di masa lalu membuat mereka harus mengakhiri hubungan. Dan hal itu masih membekas di hati Alvano. Itulah yang menyebabkannya mencoba mengeraskan hati.

Namun, pertemuan yang terjadi akhir-akhir ini membuat hatinya goyah. Ia tidak bisa menahan diri dengan hanya berdiam di hadapan Arsena. Hatinya masih memiliki degupan jantung yang sama untuk gadis itu. Tidak pernah berubah.

“Aku berusaha baik-baik aja, Alvano. Kamu gimana?” jawab Arsena mengeluarkan senyum hangatnya. Ia menggerakkan ayunan yang mereka duduki. Ayunan itu pun bergoyang perlahan.

Hati Alvano kembali berdesir melihat senyuman itu. Ia berdeham. Menghilangkan rasa gugup yang tiba-tiba menghampirinya.

“Gue baik,” balas Alvano singkat.

“Aku boleh nanya?” tanya Arsena. “Kenapa kamu jadinya mau nerusin perkenalan ini?” lanjutnya.

“Gue rasa alasan kita sama, Na.” Alvano menjawab sembari menatap dalam gadis yang ada di hadapannya.

Arsena terlihat salah tingkah, Ia mengangkat sebelah tangannya dan memegang lehernya, gugup.

'disamping karena ayah dan bunda, alesan gue mau, karna gue masih sayang sama, lo, Al, lo masih sayang sama gue?'

“Kenapa?” tanya Alvano kemudian melihat Arsena yang terdiam setelah mendengarkan jawabannya.

“Nggak papa, kok. Aku cuma lagi memproses malem ini.” jawab Arsena cepat, Ia mencoba menghilangkan kegugupannya. Tidak tahu bahwa Alvano pun sama gugupnya.

“Jangan khawatir soal tanggal, undangan dan segala macem, orang tua kita pasti mengusahakan yang terbaik.” jelas Alvano.

Arsena tersenyum mengangguk. Ia pun tahu benar akan hal itu. Orang tua nya dan orang tua Alvano pasti memberikan yang terbaik untuk mereka.

'Ini bener sebulan lagi kita nikah?' batin Arsena.

Ia kembali memandang Alvano. Mereka terdiam cukup lama sebelum memutuskan kembali masuk ke dalam restoran tempat dimana orang tua mereka berkumpul.

©nadswrites

Kepulangan Arsena dari Depok disambut dengan bahagia oleh kedua orang tua nya, terutama bunda, raut wajahnya yang bahagia begitu jelas terlihat.

Arsena terkekeh pelan, meskipun kepergian ini sudah tidak terhitung yang keberapa kali, Ayah dan Bunda selalu menyambutnya seolah ini merupakan kepulangan dari dinas luar kota pertamanya.

Arsena tentu sangat memaklumi itu, Ia adalah seorang anak tunggal di keluarga Wijaya, mungkin itu juga yang menyebabkan Ayah dan Bunda sangat menyayangi dirinya.

“Kak, gimana? lancar kan?” tanya Bunda sambil berjalan merangkul Arsena. Diiringi Ayah yang membantu membawa oleh-oleh yang dibeli Arsena dari Depok.

Arsena tersenyum. “Lancar, Bun, seperti biasa, Alhamdulillah ga ada halangan,” jawabnya.

Mereka mendudukkan diri di kursi ruang keluarga. Ayah pun menghidupkan televisi dengan suara pelan agar suasana malam ini tidak terlalu sepi.

“Yah, Bun, Kakak ke kamar dulu, ya, mandi terus beres-beres bentar, Ayah sama Bunda jangan tidur dulu, Kakak masih ada yang mau diomongin malam ini.” ucap Arsena akhirnya, mengatakan hal yang membuatnya tidak bisa tidur nyenyak semalaman.

“Oke, Kak, Ayah sama Bunda tunggu disini.” jawab Ayah mengelus rambut Arsena.

Arsena mengangguk, Ia pun beranjak menuju kamarnya. Hati nya berdegup, Ia takut untuk mengatakannya pada Ayah dan Bunda namun hal tersebut harus dikatakan. Ia butuh nasihat dan pendapat orang tua nya meskipun Arsena yakin mereka mendukung apapun keputusannya.

~~~

“Bunda,” panggil Arsena.

Ia tampak fresh dengan piyama tidur dan rambutnya yang masih basah. Bunda segera menggerakkan badan, mengode Arsena untuk duduk disampingnya.

“Jadi mau ngomongin apa, Kak?” tanya Ayah kemudian sembari minum secangkir kopi.

Arsena menghela nafas, Ia meyakinkan dirinya untuk bicara.

“Alvano, Yah, Bun. Kakak kemarin sebenarnya ketemu sama dia di Depok, kita sempet ngobrol-ngobrol,”

“Bunda kok ga kaget ya, Kak.” potong Bunda, tersenyum geli kepada Arsena. “Bahkan, kalian pergi ke Depoknya aja barengan, kan?” lanjutnya.

Arsena sedikit melebarkan matanya.

“Jadi, Bunda tau?” serunya kemudian.

Bunda tertawa pelan, membuat Arsena mengernyitkan dahi.

“Bunda nebak aja, Kak. Jadi bener kalian pergi bareng? Kok bisa?” tanya Bunda.

Arsena mendengus. Lagi-lagi Ia terjebak oleh pertanyaan Bunda. Arsena pun langsung menceritakan semua kejadian yang dialaminya di Depok. Termasuk perkataan Alvano yang menyatakan bahwa Ia akan melanjutkan perkenalan mereka ke arah yang serius. Namun, Arsena melewatkan satu hal. Ia belum menceritakan kepada Bunda dan Ayah bahwa Alvano adalah mantan pacarnya. Pacar pertama Arsena.

“Bunda seneng denger kalian setuju mau lanjutin perkenalan ini.” tutur Bunda setelah mendengarkan cerita Arsena.

“Tante Ayana juga pasti seneng banget, dia suka sama kamu, Kak, padahal kalian baru ketemu sebentar malem itu, katanya Arsena aura baiknya menguar walaupun cuma diem aja,” lanjut Bunda terkekeh pelan.

Ayah mengangguk setuju. “Iya, Kak, Ayah juga seneng dengernya, Ayah tau Kakak juga pasti udah mikirin ini mateng-mateng kan? Apa yang buat Kakak yakin untuk nerusin sama Alvano? Bener cuma karena obrolan kalian di Depok itu?”

Arsena menundukkan kepalanya. Ia bingung harus menjawab bagaimana setelah mendengar perkataan sang Ayah.

“Yah, Bun, Kakak mau liat kalian di pernikahan, Kakak. Kakak tau tujuan Ayah dan Bunda itu pasti yang terbaik, kalian selama ini ga menuntut banyak, masa Kakak ga bisa nurutin permintaan kalian?” terang Arsena. Ia tersenyum hangat kepada kedua orang tua nya.

“Lagian Ayah sama Bunda percaya kan sama Alvano? Kakak juga percaya sama dia, Yah, Bun.”

Ucapan tersebut menerbitkan senyum di bibir Ayah dan Bunda. Arsena pun turut lega melihatnya, Ia senang bisa membuat orang tua nya tersenyum bahagia seperti malam ini.

“Kalo gitu, Bunda sama Ayah bakal kabarin orang tua nya Alvano besok ya, Kak? Biar nanti enaknya gimana kita diskusiin dulu, yang jelas ga akan lama-lama, iya kan, Yah?” celetuk Bunda. Ia sangat bersemangat.

Ayah dan Arsena hanya mengangguk mendengarnya. Menyetujui perkataan Bunda.

'Bahagia terus ya, Bunda, Ayah' batin Arsena. Ia tersenyum.

©nadswrites