nadswrites

Arsena duduk termenung di bangku kafe. Menikmati semilir angin yang membelai rambutnya pelan. Arloji di tangan kanannya sudah menunjukkan pukul delapan lewat lima belas menit, namun sosok yang ditunggu belum juga terlihat.

...sekali ini ku mohon padamu ada yang ingin kusampaikan sempatkanlah...

Iringan musik dari lagu terkenal yang diputar seolah menyindirnya. Arsena menghembuskan nafas berat. Memutuskan untuk tetap menunggu sampai satu jam ke depan. Namun, apabila melewati batas yang ditentukannya, Ia akan meninggalkan kafe tersebut.

~~~

“Arsena.”

Panggilan seseorang sontak membuat Arsena mendongakkan kepalanya.

'Alvano? Sejak kapan dia dateng?'

Tanpa memperdulikan wajah kaget Arsena, Alvano segera duduk di bangku yang ada di depannya. Raut wajahnya yang datar membuat Arsena tidak bisa menebak apa yang ada di fikiran pria itu.

“Maaf terlambat, tadi gue ada kerjaan bentar.” ucap Alvano kemudian, meminta maaf, namun matanya memandang ke buku menu yang ada di tangannya.

“Gapapa kok, aku juga belum lama,” jawab Arsena.

Ia mengeluarkan senyum hangatnya mendengar ucapan maaf yang dilontarkan Alvano. Ia tau Alvano adalah seseorang yang disipilin, tidak mungkin membiarkan orang lain menunggu lama tanpa penjelasan.

“Alvano,” panggil Arsena kemudian. Ia berdeham.

Alvano pun mengalihkan pandangannya dari buku menu, menatap Arsena. Ia menaikkan sebelah alisnya seolah bertanya. Kenapa?

“Sampai kapan di Depok?” tanya Arsena. Ia merutuki mulutnya yang meluncurkan pertanyaan basa basi itu.

“Kenapa emang?” balas Alvano yang justru balik bertanya kepada Arsena. “Langsung aja, mau ngomong apa malem ini,” lanjutnya.

Arsena mendengus. Menyalahkan diri sendiri yang berani-beraninya mengajak Alvano bertemu, hingga harus berakhir dengan obrolan kaku seperti ini.

“Apa pendapat kamu tentang perkenalan yang direncanain orang tua kita?” tanya Arsena akhirnya. Mencoba mencari tau sebenarnya apa yang dirasakan Alvano saat perkenalan itu terjadi.

Alvano kembali menaikkan sebelah alisnya, menatap mata Arsena.

“Gue nurutin apa kata orang tua aja, bener kata mereka gue udah 25 tahun, udah pas banget kalo mau nikah,” jelas Alvano singkat.

Kemudian, Ia sedikit menundukkan kepala, “Gue gatau kalo itu lo, Na.” lirihnya, berharap Arsena tidak mendengarnya.

Namun telinga Arsena masih bisa mendengar bisikan lirih tersebut. Ia menaikkan bibirnya, tersenyum.

“Alvano.” ucapan Arsena kali ini terdengar jauh lebih serius dari yang sebelumnya, Ia terus menatap mata Alvano hingga sepasang mata itu juga menatapnya.

“Berapa hari ini aku ngerasain Ayah sama Bunda keliatan beda, mereka terus nasehatin aku buat jaga diri baik-baik, mereka selalu ngingetin aku kalo mereka udah tua, ga mungkin jagain aku terus.”

Arsena mulai menceritakan kegelisahannya kepada Alvano. Ia pun merasakan suara nya yang bergetar saat bercerita. Arsena sama sekali tidak ragu untuk bercerita karena Ia sudah begitu mengenal Alvano, seseorang yang selalu menjadi tempat berkeluh kesahnya, dulu.

“Aku bukannya berfikiran negatif atau gimana, tapi kayanya ngelihat aku nikah dan dijagain orang yang tepat itu mungkin bisa jadi permintaan mereka yang terakhir.”

Arsena melanjutkan, semakin lama suaranya terdengar semakin pelan. Membuat Alvano yang sedari tadi mendengarkan, mengernyitkan dahinya, Ia tidak menyetui perkataan Arsena tersebut.

“Orang tua lo pasti bangga banget sama lo, Na. Itu bukan permintaan terakhir mereka, mereka bakal selalu ada di samping lo sampe mereka dapet cucu.” ucap Alvano, mencoba menenangkan Arsena.

Kalimat itu meluncur begitu saja, yang Ia tahu, Ia tidak mau melihat Arsena mengeluarkan air matanya malam ini.

Arsena tertawa pelan mendengar kalimat yang terlontar dari bibir Alvano. Sedih yang dirasakannya menguap.

“Ada ada aja kamu, sekalinya ngomong, ngebahas cucu.” canda Arsena, namun Ia senang, setidaknya tidak ada emosi yang begitu diperlihatkan oleh Alvano kepadanya malam ini.

'mungkin moodnya lagi bagus abis makan lava cake buatan aku,' batin Arsena. Ia terkekeh sendiri.

Menciptakan raut bingung yang tergambar di wajah Alvano, namun sedetik setelah itu raut wajahnya berubah menjadi begitu serius.

“Arsena.” suara Alvano terdengar berat.

“Gue mutusin buat nerusin perkenalan yang direncanain orang tua kita ke arah yang serius.”

Arsena terdiam. Tubuhnya terasa membeku. Apa maksud Alvano? Ke arah yang serius? Bukannya dari kemarin Alvano secara tersirat menolaknya? Ataukah hanya karena firasat buruk yang diungkapkannya tadi membuat Alvano merubah pikirannya?

“Pulang bareng, gue tau lo naik taksi.” suara Alvano kembali terdengar di tengah lamunan Arsena. Ia tampak begitu santai, mengode Arsena untuk mengikutinya ke tempat parkir.

'Aku ga ngerti apa tujuan kamu, Alvano' batin Arsena sambil melangkahkan kaki pelan dibelakang Alvano.

Ucapan Alvano terus terngiang di otaknya. Membuatnya tidak mampu memikirkan hal yang lain.

©nadswrites

Teh Alana segera turun dari mobil begitu melihat sosok Arsena yang menunggu di depan rumah. Rasa bersalah menyerang hatinya karena sudah datang bersama Alvano tanpa memberi tahu Arsena sebelumnya. Ia pun tidak mengerti bagaimana perasaan adiknya itu. Alvano hanya mengemudi dan tidak berkomentar selama mereka di perjalanan.

“Arsena, maafin Teteh ya, tadi mobil Teteh pecah ban di jalan, jadi terpaksa sama Alvano, kebetulan dia harus ke Depok juga.” Teh Alana menjelaskan pelan sedikit berbisik kepada Arsena. Raut wajahnya terlihat cemas.

Arsena yang masih terkejut, sontak hanya tersenyum tipis. Ia tahu bahwa Teh Alana tidak mungkin sengaja melakukannya.

'emang udah takdir buat ketemu Alvano lagi hari ini,' batinnya.

“Gapapa kok, Teh. Mau gimana lagi namanya musibah,” jawab Arsena.

Raut menenangkan yang terlihat di wajah Arsena begitu membuat hati Teh Alana lega. Ia pun segera merangkul Arsena. Membukakan pintu untuk Arsena yang duduk dibelakang. Setelah itu, Ia membukakan pintu untuk dirinya sendiri yang duduk di samping kemudi. Di samping Alvano yang hanya diam sembari mengawasi kedua gadis itu dari ekor matanya.

~~~

Suasana tegang begitu terasa di dalam mobil itu. Arsena sedikit salah tingkah melihat Alvano yang sangat tampan di matanya. Selalu tampan sedari dulu.

'Deg'

Mata Alvano yang tiba-tiba memandang kaca spion sontak mengagetkan Arsena. Ia ketahuan.

Mata mereka saling menatap selama beberapa saat melalui kaca spion tersebut. Kemudian, Alvano kembali menatap jalan di depannya. Ia tersenyum miring.

“Ehem, Dek, puter lagu ih biar ga krik-krik begini,” seru Teh Alana.

Ia menyadari kecanggungan yang menguar dari Arsena dan sang Adik.

“Puter aja, Teh,” jawab Alvano.

Iringan musik dan lagu akhirnya sedikit mencairkan suasana beku di dalam mobil itu. Arsena menghela napas lega.

'untung aja Teh Alana peka,'

©nadswrites

Setelah mendinginkan Choco Lava Cake yang sudah matang, Arsena dan Bunda segera memindahkannya ke piring kecil. Mereka tak sabar untuk lekas mencicipi Lava Cake tersebut.

“Bunda potong ya, Kak.” ucap Bunda sembari memotong kue tersebut perlahan.

Arsena merasakan jantungnya berdebar, tak sabar menantikan apakah coklat yang ada di dalam choco lava cake tersebut akan berhasil lumer atau tidak. Ia refleks menyipitkan matanya.

“Wahh! Kak, liat! coklatnya lumer kok!” seru Bunda senang, memperlihatan hasil masakan mereka yang ternyata berhasil.

Arsena sontak tersenyum.

“Emang ga salah lagi kalo udah bareng Bunda, selalu berhasil di percobaan pertama.” pujinya kemudian.

“Kakak bisa aja! Nih, bunda suapin, makasih ya Kak, udah tumbuh dengan baik sampai sebesar ini.” tutur Bunda sembari menyuapkan kue itu ke mulut Arsena.

Arsena terenyuh, Ia menelan kue nya dengan cepat. Merasakan suasana yang tiba-tiba terasa emosional.

“Kakak yang makasih, Bun. Makasih Bunda udah bimbing Kakak sebaik ini. Kakak ga bisa kaya sekarang kalau tanpa didikan Bunda, Ayah juga.” sendu Arsena.

Bunda mengangguk sembari tersenyum.

“Kak, soal semalem itu Bunda emang ga maksa Kakak, Bunda cuma pengen kalian kenalan, Tante Ayana itu sahabat Bunda udah lama banget, dari jaman SMA, Bunda percaya sama Tante Ayana, makanya Bunda percaya sama Alvano.” jelas Bunda menatap dalam mata anak semata wayangnya.

“Bunda ga mau nanti Kakak jatuh di tangan orang yang salah, tolong pertimbangkan dulu ya, Kak?” lanjut Bunda kemudian. Bertanya kepada Arsena. Bunda tau kalau anaknya itu membutuhkan penjelasan begitu Ia tinggalkan bersama Alvano semalam.

“Iya, Bun. Bakal Kakak pertimbangin.” jawab Arsena pelan. Ia tidak mau mengecewakan Bunda.

Meskipun sebenarnya, kini jawaban itu berasal tulus dari hatinya, bukan semata-mata karena permintaan Bunda.

Arsena bersyukur akan adanya perkenalan malam itu, Arsena juga mensyukuri bahwa orang tua Alvano adalah sahabat orang tua nya.

Entah mengapa, Arsena merasakan semesta begitu merestui pertemuan mereka.

'mungkin ini udah jalannya buat nebus kesalahan sama Alvano' ucap Arsena di dalam hati.

©nadswrites

“Pagi, Bun.” sapa Arsena begitu Ia menginjakkan kakinya di dapur. Bunda tersenyum, terlihat sudah siap dengan apron hitamnya.

“Pagi, Kak,” jawab Bunda, “Gimana semalem? Pasti tidurnya nyenyak ya, abis jalan sama Alvano?” lanjut Bunda tiba-tiba, menggoda Arsena.

Arsena memonyongkan bibir, “Bunda, ihh.” rengeknya sembari mendekati lemari, mengambil apron hitam dari dalam sana. Arsena mengenakan apron itu cepat, tak lupa Ia juga menguncir rambutnya tinggi.

“Oh, ya, bahan-bahannya ga ada yang lupa lagi kan, Bun?” tanya Sena mengalihkan pembicaraan.

“Ga ada kok, udah disiapin semua, sana kamu ambil mixer sama cup keramik tahan panas buat cetakannya nanti ya, Kak.” jawab Bunda.

“Siap, Bun!”

Arsena segera mengambil alat-alat yang diinstruksikan oleh Bunda, menaruhnya di atas meja dapur. Setelah semua alat dan bahan siap, Bunda pun memulai langkah pertama dalam proses pembuatan Lava Cake ini.

“Kak, Bunda kan lagi ngocok telur sama gulanya, nah, Kakak tolong olesin cup cetakannya pake margarin, ya terus nanti tambahin terigu tipis-tipis aja, biar ga lengket pas nuangin adonan kuenya disana.” perintah Bunda kemudian, Ia terlihat begitu konsentrasi dengan mixer di tangannya.

Arsena mengangguk, lekas melakukan perintah Bunda.

“Udah, Kak? Kalo udah, coklat yang udah Bunda lelehin tadi, tolong bawa kesini ya, Kak. Kayanya udah hanget itu.” perintah Bunda lagi.

“Oke, Bun, biar Kakak aja yang nuangin, ya.” jawab Arsena, siap dengan lelehan coklat yang dibawanya.

“Pelan-pelan, ya, Kak,” Bunda mengingatkan.

Arsena pun menuangkan lelehan coklat itu perlahan ke dalam adonan telur yang ada di mixer.

Bunda tersenyum pelan melihatnya, Arsena adalah sosok anak yang selalu membantunya dalam urusan dapur. Meskipun tidak banyak waktu yang bisa dihabiskan bersama, Bunda dan Arsena selalu menyisihkan waktu mereka. Seperti di weekend kali ini.

“Nah, udah Kak, sisanya biar Bunda aja, Kakak perhatiin aja, ya.”

Bunda mengakhiri sesi masak bersama pagi itu dengan menaruh adonan yang telah siap di cup cetakan yang telah diolesi margarin dan terigu. Adonan yang dituangkan tidak boleh terlalu penuh, untuk menjaga adonan tersebut apabila Ia mengembang sempurna seperti souffle. Tak lupa Bunda juga mengetuk-ngetuk cetakan supaya adonan merata dan tidak ada gelombang udara.

“Kakak nanti bakal bikin lagi sesuai apa yang udah Bunda ajarin.” seru Arsena tiba-tiba. Ia mengambil alih cup cetakan tersebut dan memasukkannya ke dalam oven. Memanggangnya dengan suhu tinggi dalam waktu singkat. Hal itu merupakan salah satu tips keberhasilan choco lava cake yang telah dipelajarinya.

©nadswrites

Setelah mendapatkan notifikasi pesan dari Bunda, Arsena terdiam kaku. Bingung dengan keadaan yang saat ini terjadi.

Matanya melirik ke arah Alvano, terlihat Alvano menundukkan kepala, sedang mengetikkan sesuatu di smartphone pribadinya.

Arsena menghembuskan nafas kasar. Ia beranjak dari kursi, “Sena mau cari angin dulu, Bun, Tante.” pamit Sena, lalu melangkahkan kaki tepat sebelum Bunda mendelik tidak setuju menatapnya.

“Dek, susul sana, temenin Arsena, sekalian biar lebih tau satu sama lain.”

Samar-samar suara Tante Ayana terdengar di telinga Arsena.

'Kita bahkan udah saling tau banget, Tan' ucap Sena dalam hati.

~~~

Sena mendongakkan kepala, pemandangan langit Bandung malam ini nampak begitu tenang, tidak sesuai dengan suasana hatinya sekarang.

Tatapan mata Alvano yang begitu dingin di ruangan tadi masih jelas terbayang di fikirannya.

'Well, everything has changed, Sen'

Suara ketukan sepatu membuyarkan lamunan Arsena. Ia bisa merasakan atensi Alvano yang kini berdiri tepat di sampingnya. Aura dingin begitu menguar diantara mereka. Arsena menundukkan kepala, melirik tangan Alvano yang kini begitu dekat. Jari mereka nyaris bersentuhan.

“Alvano..” lirih Sena kemudian.

Mencoba mencairkan suasana dingin malam ini.

“Sorry, ya..”

“Aku bener-bener minta..”

Alvano menghembuskan nafas kasar, terlihat menahan emosi yang tertahan sedari tadi. Ia memejamkan mata, tak mau mendengarkan ucapan Sena lebih lama lagi.

“Lupain,” potong Alvano, “Anggep aja kita ga pernah ketemu sebelumnya,” lanjutnya kemudian.

Sena tersenyum pahit. Matanya mulai terasa hangat, Ia pun mendongakkan kepala perlahan, menahan agar tetes air mata itu tidak terjatuh.

Sena segera menjauh dari atensi Alvano. Mendudukkan diri di bangku yang tersedia di taman hotel tersebut.

Alvano hanya berdiri diam. Namun, ekor matanya begitu mengawasi Arsena. Satu-satunya gadis yang berhasil mencuri perhatiannya sejak dulu.

'Apa kabar, Na? Masih aja suka nahan nangis begitu, ga pernah berubah ya, kebiasaan kamu?'

©nadswrites

The Dinner and The Rain II

10 menit berlalu, Sena mulai merasa bosan. Ia hanya mendengarkan nostalgia yang dilakukan oleh para orangtua tersebut, sesekali Ia tertawa pelan mendengarnya. Sena baru tau kalau ternyata orangtuanya memiliki sahabat sedekat ini, dan persahabatan sudah terjalin sejak mereka duduk di bangku SMA. Sena merasa Ia terlalu sibuk sampai tidak menyadari hal itu.

“Malem, Ma, Om, Tante,” ucap seseorang.

Ucapan tersebut memecahkan lamunan Sena, sekaligus mengagetkan jantungnya. Aliran darahnya tiba-tiba terasa mengalir begitu cepat. Sudah sangat lama sejak terakhir Ia mendengarkan suara ini. Apakah hanya suara mereka yang mirip? atau mereka memang orang yang sama?

“Kak, Kakak! Arsena!” seru Bunda sambil menepuk-nepuk bahu nya. Seketika Sena tersadar dari lamunannya. Ia mendongakkan kepala.

“Ini Alvano udah dateng, dia anaknya tante Ayana yang mau Bunda kenalin ke Kakak,” bisik Bunda menjelaskan.

'Deg'

Sena hanya bisa tersenyum kaku. Tatapan matanya terarah menatap Alvano. Mereka bertatapan begitu dalam dan cukup lama. Tersirat kerinduan yang tersimpan rapat di lubuk hati masing-masing.

Tatapan itu tentunya mengundang kecurigaan para orang tua. Tante Ayana mengernyitkan dahi, “Loh, jangan-jangan kalian udah kenal?” ujarnya.

“Iya, Tante,”

“Belum, Ma,”

Jawab keduanya berbarengan. Jawaban yang tidak kompak tersebut mengundang tawa orang tua.

“Haha, kalian lucu banget, udah duduk dulu, kenal atau belum, kita ulang lagi ya kenalannya malem ini,” ucap Tante Ayana menyimpulkan.

~~~

©nadswrites

Gerimis kecil baru saja bermunculan. Ayah, Bunda dan Sena berlari-lari kecil agar cepat sampai di dalam gedung pencakar langit itu,

Banana Inn Hotel,tempat dimana dinner malam ini dilaksanakan.

Sena dan kedua orang tua nya segera masuk ke dalam lobi utama hotel. Tak lama kemudian datang seseorang yang mengaku manager dan langsung mengantarkan mereka menuju restoran hotel. Tepat saat Ayah Sena menyebutkan nama sahabatnya.

'Arsaka Pratama'

Itu yang dapat terdengar samar-samar di telinga Sena. Mereka pun memasuki restoran tersebut, duduk di tempat yang sudah di reservasi sebelumnya. Terlihat sepasang orang tua yang juga sudah duduk terlebih dulu di meja tersebut.

“Rana! Apa Kabar?” sapa salah satu seseorang tersebut riang kepada Bunda.

Sena mengernyitkan dahinya, Ia ingat sosok itu adalah sosok yang ada didalam foto yang ditunjukkan bunda tempo hari lalu. Tante Ayana.

“Alhamdulillah, baik, Ayana apa kabar? lancar ya keliatannya,” jawab bunda.

Mereka berpelukan dan cipika cipiki sesaat. Di lain sisi Ayah Sena dan sosok lelaki yang dirasa Sena adalah suami tante Ayana tersebut hanya tersenyum. Memaklumi kegiatan para wanita.

“Eh, ini, Arsena kan, nak? cantik banget! keliatan udah dewasa banget ya sekarang?”

Sena tersenyum dan mengulurkan tangan, hendak bersalaman dengan sosok yang dikenalnya sebagai Tante Ayana. Akhirnya seseorang menyadari keberadaannya disini.

“Iya, Tante, Alhamdulillah, Tante juga cantik banget malem ini, ” jawab Sena tulus.

Tante Ayana hanya terkekeh mendengarnya.

Mereka pun akhirnya duduk di kursi yang telah tersedia. Mata Sena mengelilingi tempat tersebut, tiba-tiba Ia merasa ada yang kurang.

'Apa ya?'

“Eh, Sena, kamu nyariin anak Tante ya? Dia nyusul bentar lagi, gatau tuh anak, padahal udah disuruh kosongin, malah masih sempat kelayapan,” ucap Tante Ayana kemudian mengagetkan Arsena. Ia tersenyum malu.

'Ah iya, sosok yang katanya mau dikenalkan dengannya ternyata belum datang'

“Haha, engga kok, Tante,”

“Udah, jangan malu-malu, Sena,” tawa Tante Ayana. Ia menepuk pelan bahu bunda. “Sena mirip banget sama kamu ya Ran, kaya jaman sma dulu, haha,” lanjutnya.

Bunda tersenyum setuju sambil menganggukkan kepalanya.

~~~

©nadswrites

—flashback

Ayah menghela nafas berat. Matanya tampak lelah, namun tetap berusaha menampilkan senyuman di hadapan Bunda dan Sena.

“Kak, kakak kan udah 25 tahun, belum pernah Ayah lihat bawa pacar ke rumah?”

Ayah mengawali percakapan serius malam ini.

“Belum, Yah. Kakak belum sempat mikirin begituan,” lirih Sena. Ia meringis pelan.

Ayah dan Bunda hanya tersenyum pelan ke arah Sena.

“Kak, mau kan kalo dikenalin ke anak sahabat Bunda?”

Sena mengernyitkan dahi.

“Anak sahabat Bunda? Siapa, Bun?”

“Anaknya Tante Ayana, inget gak, Kak?”

Bunda menjelaskan sembari mengambil handphone di atas meja. Bunda pun menunjukkan sebuah foto.

“Ohh, Tante Ayana? Yang pernah ikut arisan di rumah kita kan, Bun?”

“Iya bener, Kak. Bagus deh kalo Kakak inget.”

Bunda tersenyum puas. Ayah pun terlihat menganggukkan kepalanya, senang dengan respon yang ditunjukkan Sena.

“Jadi, mau ya, Kak?” tanya Bunda lagi.

“Iya, Bun. Kakak mau.” jawab Sena kemudian. Ia tersenyum pelan.

'Mana tega nolak permintaan kalian, Yah, Bun' lanjutnya dalam hati.

Ayah merentangkan tangannya, hendak memeluk Sena.

Sena mendekat, Ia masuk ke dalam dekapan hangat sang ayah.

“Kakak tau kan, Ayah sama Bunda udah mulai menua, gabisa jagain dan nemenin Kakak terus.” bisik Ayah pelan ditelinga Sena.

“Walaupun Kakak udah sebesar ini, Ayah sama Bunda selalu khawatir sama Kakak, takut ada apa-apa sama Kakak.” Bunda melanjutkan sambil mendekat, ikut bergabung ke pelukan hangat ayah dan anak tersebut.

Tiba-tiba Sena merasakan matanya basah. Satu hingga dua tetes air mata perlahan membuat pandangannya mengabur. Sena semakin mengeratkan pelukannya, ia terisak. Entah kenapa suasana malam ini terasa begitu sedih. Sena ingin menghentikan waktu untuk sementara. Agar bisa sedikit lebih lama merasakan pelukan Ayah dan Bunda.

©nadswrites

a morning walks

Arsena memarkirkan mobilnya perlahan. Ia turun dan memandangi pemandangan di sekitar Lapangan Gasibu. Sasaran tempat lari paginya hari ini. Meskipun sedikit jauh dari rumah, namun tak menyurutkan semangat Sena untuk tetap berolahraga disini. Setelah memasang earphone di telinga, Ia pun mulai berlari-lari kecil di pinggir lapangan. Hiruk pikuk keramaian orang-orang dan suara cuitan burung mewarnai paginya hari ini.

“Eh, Arsena?!”

Panggilan tiba-tiba itu mengejutkan Arsena. Ia segera menoleh dan membalikkan badan.

“Teh Alana? Disini juga?”

Arsena tak bisa menyembunyikan raut terkejut dari mukanya. Sontak Ia segera menggelengkan kepala, menghindari kegugupan dan kilas masa lalu yang mulai berkelebat di otak kecilnya.

“Iya ih yampun Senn, udah lama banget ya! Teteh kangen kamu,” Alana segera merangkul Sena, Ia sangat senang bisa kembali bertemu Sena secara begitu kebetulan pagi ini.

“Udah lama Teh?” tanya Arsena beberapa saat kemudian setelah berhasil menyembunyikan kegugupannya.

“Belum lama kok, eh Sen, beli boba disana yuk, sambil jalan,” Alana menunjuk spot penjualan minuman tepat beberapa langkah didepan mereka. Arsena menganggukkan kepala, Ia berjalan beriringan dengan Alana sambil mengobrol ringan mengenai kehidupan mereka selama beberapa tahun tidak bertemu.

©nadswrites

“Dek! yaampun akhirnya setelah perjalanan panjang sampe juga ya ke rumah?!” ucap Mama setengah menyindir kepada anak bungsunya, Alvano, begitu ia memunculkan batang hidungnya di ruang tamu rumah keluarga Pratama.

Alvano hanya tersenyum tipis, menyadari bahwa selama ini dia selalu disibukkan dengan pekerjaan hingga larut malam, yang kemudian berakhir di apartemen. Bukan di rumah yang ditinggalinya bersama kedua orang tua nya.

“Ma, udah, orang baru pulang disuruh duduk dulu, cuci tangan dulu, kok malah diceramahin?” Alana terkekeh, kemudian ia melangkahkan kaki mendekati Alvano.

“Martabak Teteh, Dek, hehe.”

Alvano mendengus sembari menyerahkan kantong yang sedari tadi sudah berada di tangan kanannya. Setelah menyerahkan kantong tersebut, Alvano pun salim kepada Mama dan juga Kakaknya.

“Adek mandi dulu, Ma.” pamit Alvano sambil beranjak pergi ke lantai dua, menuju kamar pribadinya yang sudah lama tidak dihuni itu.

~~~

Denting suara piring dan sendok pun terdengar di ruang keluarga Pratama. Mereka segera menyantap makan malam begitu sang papa yang sudah ditunggu kedatangannya itu pulang ke rumah.

“Oh iya Dek, udah punya pacar belum?” tanya Mama tiba-tiba begitu makanan di piringnya telah tidak bersisa.

Alvano berdeham salah tingkah, Ia mengambil segelas air putih untuk melegakan tenggorokannya.

“Apa sih Ma, ga sempet mikir begituan,” jawab Alvano kemudian.

Papa tersenyum, begitu pun Mama, mereka saling melirik dengan tatapan yang mencurigakan di mata Alvano.

“Ada apa sih, Ma, Pa?”

Ternyata Alana pun menyadari keanehan tersebut.

“Bagus Teh, kalo adek kamu belum punya pacar, Mama mau kenalin dia ke anak sahabat Mama.”

'uhuk, uhuk'

Alvano terbatuk seketika. Matanya membulat.

“Mama sama Papa cuma mau ngenalin doang kok, ga bermaksud maksain apa apa, ya kan, Pa?”

Alvano hanya bisa menghela nafasnya berat.

'apalagi ini?' keluhnya dalam hati.

©nadswrites